Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
MASA LALU SUAMIKU


__ADS_3

"Abang bisa jelaskan semua tentang Lunar, kenapa ibu kerap kali membandingkan Kinar, hanya karena Kinar menantu dari keluarga banyak hutang?"


Alex terdiam, dimana Alex menatap Raya si baby mungil sudah terlelap, dimana saat ini Alex menceritakan kisah Lunar yang tidak jadi Alex pilih, sehingga Kinar mampu mendengarkan kenyataan, dalam semalaman mereka kurang tidur bercerita.


Sejak semalam Alex terdiam, diam nya membuat Kinar nampak merasa bersalah. Bahkan pagi ini, saat Raya masih tertidur dalam pelukannya, masih mode menggendong, Alex nampak tidak menatap ke arahnya seperti biasanya.


"Mas, maafin Kinar. Mas pasti masih marah ya?"


Kinar nampak meletakkan teh tawar hangat, lengkap dengan singkong rebus. Dimana ia melayani sarapan Alex, dengan menggendong sang bayi.


"Mas ga marah, lagi pula keadaan seperti apapun kamu jangan malu, dan jangan merasa tersaingi. Bagaimana pun Mas ingin bertemu, terkait Lunar pergi dan kembali karena kamu hadir, meski tanpa dia hadir, mas tidak akan kembali padanya. Karena kamu istri mas Alex satu satunya."


Gleuk.


Kinar nampak membeku dan terdiam, bagaimanapun ia baru tahu. Kinar pikir mbak Lunar kembali, karena tahu ingin mencari keberadaan Alex dan kami semua, sungguh benar benar pikiran Kinar yang egois dan ketakutan jika kedatangan masa lalu suaminya, akan membuat sikap Alex kembali acuh padanya.

__ADS_1


"Maaf Mas. Kinar hanya malu akan keadaan ini semua. Gara gara Kinar hadir, mas Alex tidak jadi menikah dengan Lunar."


"Bukan salah kamu Kinar. Kalau Tuhan saja tidak malu, kenapa kamu malu Kinar. Atau kamu merasa takut .. jika mas membandingkan. Kamu istighfar ya, jangan cemburu berlebih. Mas tidak akan melakukan kesalahan seperti dahulu, hanya saja memang diri Mas yang salah, Mas yang tidak peka dan tegas pada ibu, sehingga kamu tinggal bersama ibu merasa tidak aman."


Benar, perkataan Alex ada benarnya. Lalu kenapa harus ia cemburu, namun meski aku yang pertama, tetap saja kisah manis Alex dan Lunar pasti begitu indah. Jika bukan karena promil Kinar, mungkin Kinar tidak akan bisa mengambil kesempatan memiliki Alex yang selalu full ada disisinya.


Sruput.


"Raya ga pernah anteng ya, apa enggak sebaiknya di taruh di kasur?"


"Maaf ya Kinar, gak apa kalau pekerjaan rumah berantakan jangan dijadikan beban, Mas kayaknya harus buka ojek motor, kamu jangan panik dan banyak sabar di rumah. Jagain raya jangan dibikin panik, doakan Mas di toko hari ini ramai, sekaligus mau daftar online motor biar bisa narik buat tambahan."


"Iya Mas, makasih."


Alex pamit, dimana Kinar nampak dikecup keningnya. Bahkan mengantar sampai pagar rumah, ketika tak terlihat Kinar pun menutup pintu dan menguncinya. Dimana ia akan membereskan yang kecil kecil sambil menggendong.

__ADS_1


Apalagi uang pinjaman ibu mertuanya, membuat Kinar kepikiran dan semakin takut jika sang mertua mengungkit. Dimana Alex meminjam pada ibunya, sudah pasti akan datang kapan saja menagihnya.


Hal yang membuat Kinar tenang hari ini adalah, menatap Raya yang lelap dalam gendongannya terus menerus, dimana Alex membawanya ke dokter psikiater. Dimana Kinar tidak boleh panikan, dan pasca melahirkan memang rentan emosi, maka Kinar harus pandai mengontrol, dan tidak membuat beban berlebih. Jika seharian mendengar tangisan Raya, maka Kinar rasanya lelah dan tak sanggup, ingin ikut berteriak sekencang mungkin dari tangisan Raya.


Maka dari itu, Kinar menggendong Raya, agar rasa kepanikan mendengar tangisan, tidak terjadi. Terkadang lepas kontrolnya, membuat Kinar menyesal. Dan takut jika Alex atau orang lain melihatnya, yang kadang Kinar pikir terasa aneh pada dirinya.


Kinar nampak melihat berita, ia mencari berita tentang health. Dimana mencari seputar ibu pasca melahirkan, hal itu membuat Kinar ingin banyak tahu, untuk bisa menjadi ibu yang baik bagi Raya. Kinar tidak ingin lepas kontrol lagi, jika ia pernah berteriak pada bayi mungilnya, di saat dirinya meninggalkan sebentar ke samping rumah, memetik daun sayuran. Apalagi melihat Raya sudah jatuh di usia satu bulan, membuat rentan takut bayinya kenapa kenapa.


Jam pun semakin maju, membuat nampak sore terlihat. Dimana Raya senyum seolah tahu, jika sang ayah sudah datang.


"Raya, lihat ayah pulang." senyum Kinar, di iringi bocah itu, ikut senyum meski belum bisa merangkak.


Namun Kinar terkejut, seperti mobil iparnya dan ibu mertuanya datang di belakang mas Alex.


TBC.

__ADS_1



__ADS_2