
Di tempat Mertua, kini Kinar menatap iparnya bernama Isna, dimana dia adalah ibu dari bayi yang ia rawat, namun saat ini ia tak sengaja menguping, niat hati memberikan sembako untuk ibu mertua, kakinya tertahan di balik dinding pagar.
Terlihat kedatangan seorang pria, membuat Isna menelisik sebelah alisnya, hal itu membuat senyuman Agam yang datang tanpa memberitahu.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Eh, nak Agam, pas banget datang! Ayo masuk, sini nih kebetulan ada dua gelas teh, baru aja. Biar ibu buatkan lagi." manis sekali nampak Kinar melihat ibu mertuanya pada ipar yang sukses, tak sepertinya.
"Ga usah repot repot bu, maaf bu Agam datang kebetulan lewat. Isna, kabar kamu gimana, aku sebagai sahabat merasa ingin datang, dan maaf baru datang! Karena kantor."
Agam dipersilahkan duduk oleh Isna, setelah Isna mempersilahkan, sementara bu Inggrid terlihat masuk ke dalam, mungkin membuat teh lagi. Agam yang meletakkan keranjang buah, dan dua coklat dengan pita, membuat Isna melirik dengan tatapan pisaunya.
"Coklat ..?"
"Eh, untuk Amel. Aku tahu pasti Amel sudah berangkat kan, jadi sekalian nitip. Anak itu kan suka banget sama coklat. Gimana bayi kamu?"
"Bayi Raya, dia sedang di rawat sama adikku Alex, kebetulan juga kesehatanku kurang baik, sementara aja. Oh iya, pasti kamu sepagi ini bukan cuma mampir, ada hal apa Agam?" Isna pun disebelahnya seolah gusar, apalagi ia lebih tahu soal Agam.
"Beneran mampir aja, enggak lebih. Cuma tadinya sekalian, kamu kalau enggak bosen. Sebelum jemput Amel, biar naik mobil aku. Jadi toko ku di mall baru buka, mau ajak kamu dan Amel buat ramein. Kalau perlu ajak ibu kalau bisa."
Uhuuk .. Uhuuk.
"Eh, minum dulu Is. Pelan pelan!"
Isna hampir saja tersedak, membuat ia minum teh hangat, ketika Agam datang, benar saja. Pikiran Isna kali ini tak enak.
"Dasar kamu tuh Agam, kalau datang ada maunya. Nanti coba tanya ibu ya, mau enggak. Kalau aku jujur aja lagi senang seperti ini."
"Is, please ya! Lagi pula, ayolah sekali kali. Mall yang berdiri dua tahun ini, baru banget aku buka usaha disana loh. Kamu dan ibu, Amel udah bagian keluarga, mau ya Is!" Agam penuh harap.
"Insyallah Isna ikut, kamu nih nak, jauh jauh temen kamu datang, kok ga mau ikut ramein, sebentar aja kan? Biar ibu yang bilang setuju."
__ADS_1
Hahaha.
Tawa gelak Agam, bu Inggrid membuat Isna tidak punya pilihan, lalu meminta Agam menunggu karena dia mempersiapkan diri untuk bersiap siap. Lama beberapa saat, setelah Isna masuk, Agam sendiri lebih dekat dengan bu Inggrid.
"Lancar usaha kamu nak?"
"Alhamdulillah bu, baru buka cabang lagi dua. Semoga baik kedepannya dimudahkan."
"Amiin, ibu juga lagi enggak tega sama Isna, dia malah mau buka butik lagi, kamu tahu kan. Pasca butiknya itu dijual, hati ibu mana yang melihat Isna rela menjualnya demi jauh dari kehidupan orang yang ia sayang begitu toxic, ditambah satu toko lagi di kelola Alex Yah, emang sih cuma itu aja sih yang ke sisa setelah koleps banyak pesaing."
"Amiin bu, yang sabar suport doa Isna terus ya bu!" Agam dengan sopan, membuat bu Inggrid tertawa dengan pembicaraan lain.
Terlihat juga Isna kala itu yang melihat dari jendela, merasa tersentuh. Agam selalu akrab pada ibunya dan membuat orang tertawa dengan tingkah konyol, akan tetapi wibawanya membuat Isna yakin, jika Agam tidak ada niat lebih.
Sementara Kinar, ia kembali pulang karena tak enak akan kedatangan tamu disana, apalagi kedatangannya benar benar tidak bersama mas Alex, dimana ada pria duduk membelakangi membuat Kinar enggan bertamu ke rumah mertuanya itu.
Esok Harinya.
"Sudah bangun?"
"Mas, maaf Kinar jadi telat bangunin abang shubuh, ini sudah pukul 08 pagi, Kinar minta maaf ya bang."
"Kamu masih demam, mas bangunin kamu subuh, karena Raya nangis terus, lihat kamu panas, biar mas handle ya. Lain kali kamu harus jaga kesehatan ya."
Kinar nampak bahagia, ketika perlakuan mas Alex membuat hatinya nyaman. Kinar pamit membersihkan diri, dimana dirinya mandi dan bersiap siap, sebab semalam mas Alex bilang, akan meliburkan usaha fashion karena akan berbelanja untuk kebutuhan aqiqah. Alex juga berniat membeli kebutuhan sembako, di sebrang mall baru.
Beberapa puluh menit kemudian, nampak perut Kinar ada benjolan mirip bisul, dimana sedikit merah dan gatal. Kinar paksa untuk mengoleskannya minyak, berharap serangga yang melekat di perut bagian jahitan Kinar, itu segera hilang.
'Ini pasti serangga sih. Tapi kok sedikit sakit ya?'
Kinar minum hampir tiga gelas, entah mengapa ia enggan memberi tahu, apa yang terjadi dengannya, Kinar merasa takut di samakan dengan istri yang tak bisa berbuat apa apa, bahkan dirinya kerap dibandingkan dengan mbak iparnya yang mandiri itu, apalagi ia terlihat sedikit problem sehingga bayinya sengaja sekali di rawat Alex saat ini.
__ADS_1
"Udah siap?"
"Iya mas, udah. Kinar lagi ambil tas dulu."
Perjalanan Kinar dan Alex, menuju gedung aqiqah. Membuat Alex ingin mampir ke toko sembako, di sebrang mall yang pernah ia lewati, melihat kebutuhan di dapur banyak yang kosong, Alex berniat membeli yang diperlukan saja.
Saat itu Raya entah mengapa tidak rewel bayi itu nampak mengoceh dan tenang, dikala kesibukan Alex dan Kinar yang telah sampai proses aqiqah, rencana Alex adalah tinggal membagikannya langsung.
"Mas, Kinar lihat lihat itu ya?"
Alex menoleh, kala mata tujuan istrinya ke toko baju anak anak, pameran di depan mall pintu utama. Alex pun membolehkan, dan meminta Kinar tidak terlalu jauh dan menunggunya hingga datang.
"Iya! Tunggu mas dulu ya, jangan masuk ke dalam mall nya!"
"Hehe .. iya mas, Lagian cuma mau lihat setelan baju Raya. Iyakan sayang?" tatapan Kinar, pada bayi mungil dibalas tawa ocehan bayi riang.
Hingga dimana Kinar berjalan sampai, perutnya kembali terasa sakit saat berjalan, membuat ia terhambat dan duduk untuk minum lagi. Sejujurnya Kinar ingin tahu, tanyakan pada dokter. Tapi takut uang mas Alex habis, karena mas Alex punya rejeki untuk Raya dulu, dan selamaten kecil kecilan. Apalagi jika mas Alex pinjam lagi, bukan tanpa alasan lagi lagi Kinar akan di caci oleh ibu mertuanya ini.
"Bunda dah baik, yuk kita lihat baju baju lucu ya Raya." lirih Kinar.
Hal itu membuat ia memilih milih, tak sadar posisi Kinar hampir menghalangi ke tengah, dimana mobil ingin lewat saat parkir.
"Mbak boleh minggir dikit?" ujarnya, seorang pria dengan sopan, dari balik kaca.
"Eh iya maaf, bole .." terdiam Kinar kala menoleh ke arah belakang.
Dimana saat itu, Isna sendiri melihat Kinar dengan tampilan yang tidak dikenali, bahkan Kinar menggendong bayinya. Kinar sendiri melihat sosok Agam, yang membuat mata Agam juga tertuju.
'Ki .. Nar ..'
'Agam dan mbak Isna .. ?' lirih Kinar, yang kala itu melihat dari kaca mobil, terlihat jelas wajah mbak Isna, wajah iparnya, kakak suaminya yang benar benar membawa Kinar dalam duka dan terluka kembali karena bertemu pria bernama Agam.
__ADS_1
TBC.