Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
KEDIAMAN CALON MERTUA


__ADS_3

PAGI HARINYA :


Isna sudah bersiap rapih, dimana suara tangisan bayi tidak diam sedari tadi. Amel yang sudah berangkat di temani supir, ia segera merapihkan syari, dimana mengambil tas dan mencoba menggendong Raya agar terlihat manis dan tenang di gendongnya.


"Isna kamu yakin mau antar Raya kamu sendiri loh, ibu khawatir."


"Bu, kan ibu yang bilang. Isna ga boleh dendam, dan harus berdamai dengan kenyataan. Jika Isna sempurna, mungkin Isna tidak akan mengambil jalan seperti ini bu. Lagi pula, Isna enggak yakin hidup Isna bisa berumah tangga. Meski keadaan sakit Isna pulih, ibu kan tahu. Sejatinya Isna banyak kekurangan. Sekaligus mau jenguk Alex, kalau dia kekurangan setidaknya ngomong, bagaimanapun Raya di rawat karena Isna bercerai, jadi Isna udah putuskan untuk membawa Alex tinggal di rumah ini aja, sama ibu."


"Ya ibu sih gak masalah, tapi kamu pasti bakal syok. Soalnya adik ipar kamu bernama Kinar itu malas, nambah beban kamu. Ibu takut tabungan kamu terkuras habis karena kasihan terus."


"Ibu, jangan kejam kejam sama Kinar. Gimanapun dia menantu ibu." cerocos Isna, yang tahu sifat ibunya itu.


"Ibu harap kamu baik baik ya Isna. Ibu ga mau kamu kecapean, ibu ga mau kamu sedih terus menerus. Keluasan hati kamu, semoga kamu dapat pendamping yang mengerti kamu Isna. Agar ibu pergi kamu ga sepi .. lagian soal Alex, dia cowok pasti bakal ngerti tanggung jawabnya."


"Bu, udah dong jangan bicara gitu terus. Kita terus sama sama, ibu dan Amel penguat Isna. Kinar dan Alex serta baby Raya juga keluarga ini."


Raya pun di gendong, dimana sedang meminum susu botol, Isna segera mencoba telepon Lunar yang katanya akan mengantarnya ke rumah sakit dan kontrakan Alex, sudah sampai mana.


- Kamu udah sampai mana Lunar?


...


- Apa, kamu ga bisa anter. Terus gimana alamatnya, masa mbak yang nyetir ada bayi. Kamu harus tanggung jawab loh, kamu loh yang mulai bawa bayi ini malam malam!


...


- Apa .. Lunar, kamu jangan bercanda .. masa ..?!


Di mana sosok Lunar menutup panggilan dari Isna, bisa bisanya anaknya sendiri terlihat enggan merawat, seolah Lunar ingin tahu ada apa dibalik keluarga Alex yang kakaknya diceraikan saat hamil, sehingga Alex bangkrut dan merawat bayi kakaknya.


...


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam."


Terlihat ilham datang, dengan setelan kemeja biru navy, di padu celana bahan berwarna cream. Hal itu membuat tatapan bu Inggrid menatap putrinya.


"Isna .. kenapa ilham ..?"


Isna menggelengkan kepalanya, dimana ia juga bingung dan mulai konek. Jika ini pasti ide Lunar mantan Alex dan Lina sepupu jahilnya itu yang selalu mencuri temu janji tanpa izin nya.


"Ini pasti ulah dua bocah itu bu, awas aja kalau nanti pulang."


Sang ibu hanya tersenyum dibalik kekesalan Isna. Pasalnya ilham sendiri tajir, sudah pasti akan menutup aib putrinya. Dimana Inggrid bisa mempunyai ladang keberkahan, satu menantu kaya satu lagi menantu miskin si Kinar, yang bisa ia banggakan dan di olok olokan.


"Masuk nak Ilham!"


"Makasih bu, tapi takut telat. Tadi Lunar ada kerjaan dadakan dan Lina sepupu ibu bilang ke ilham bilang, kalau ada hal mendesak. ilham dikasih alamat lokasi untuk antar Isna, yang mau anter bayi ini ke alamat temannya."


"Hah .. anter bayi teman Isna?" Melongo sang ibu, benar aksi jahil keponakannya itu benar benar membuat Isna menutup wajah dan menunduk, pasalnya kenapa harus bicara anak temannya, sebab anak ini adalah anak nya yang tak ia harapkan.


"Isna, dari pada terlambat aku aja yang anter. Sekaligus siang nanti project busana batik, aku perlu bantuan kamu. Aku udah pernah kasih kabar kan, email sudah dibuka?" tanya ilham.


"Ga ada yang di repotin Isna."


Beberapa saat pun, mereka minum sejenak dan ilham pamit pada ibu Inggrid, dimana meminta izin. Kala dirinya membawa Isna terkait kerjaan. Tak lupa bu Nira meminta ilham dan Isna hati hati, dimana mereka pamit dan mobil ilham sudah tak terlihat di pintu gerbang.


Di dalam mobil, ilham begitu lucu kala Isna mengajak bicara bayi mungil, sebentar tertawa dan sebentar mengoceh, dimana saat ini ilham menanyakan sesuatu hal yang membuat ia refleks kaget.


"Ini bayi teman kamu yang mana isna, aku baru tahu loh. Kamu punya teman selain partner kerja?"


"Dia anak ku saat kejadian itu, yang kini di rawat adikku Alex dan istrinya."


Sriith .. rem dadakan.


"Kamu ga asal bicara kan?"

__ADS_1


"Enggak, Lunar semalam ga sengaja nolong mereka. Alex saat ini di rawat, jadi aku berniat mengembalikan Bayi ini, dan menjenguk keadaannya. Kalau kamu keberatan, biar aku aja yang turun."


"Emang kamu tahu tempatnya?"


Deg.


Menggeleng kepala Isna.


"Aku antar, aku hanya kaget maaf Isna. Entah keluasan hati kamu itu terbuat dari apa, aku sangat sulit. Andai kamu punya kembaran, aku pasti nikahin."


"Gombal." tawa Isna dan ilham kala itu, kembali menuju rumah sakit yang diberikan oleh Lunar dan Lina semalam.


Isna sendiri sebenarnya canggung, memang akte cerai mereka sudah berlangsung dua bulan, namun ia berharap kedekatan dengan ilham tidak jadi fitnah, karena bagaimanapun Isna bekerja sama dengan ilham, kala ia membuat usaha butik dengan nama 'ilham Style Fashion.'


ilham sendiri membuat itu, karena kemeja yang ia tahu dari jahitan tangan Isna, saat itu untuk suami pertamanya tapi ia pakai. Sehingga beberapa klien banyak meminta orderan, sehingga jadilah ilham Style berkat campur tangan isna.


'Udah sampai cantik.' lirih isna pada Raya.


Dan saat mereka turun dari pintu mobil, ilham mendekat dan membawakan tas yang berisi kebutuhan bayi itu, membuat beberapa suster serta orang lain yang berobat menatap ke arah Isna.


'Ya ampun dede bayinya lucu, cantik kaya ayah bundanya nih pasti. Serasi sekali, ikut cubit gemas ya tante, om." ujar seseorang, gemas melihat Raya dalam gendongan isna.


Dimana perkataan mereka tadi sekilas, membuat isna dan ilham saling pandang begitu saja.


Astagfirullah.


isna mencoba fokus, dimana ilham berdeheum gugup, meminta isna lebih dulu berjalan.


"Kamu duluan isna, aku tanya ke loket dulu ya."


"Iya, makasih." balas isna, yang melihat Ilham, entah kenapa merasa panas dingin tidak seperti biasanya.


ilham sendiri sebenarnya ingin sekali membuat trauma Isna berhenti, dan ia siap mendampingi Isna, akan tetapi perlu meroboh ketakutan Isna, atau ia harus mendekati Alex, yang dengar dengar Alex sedang kesulitan dalam fashionnya, jika ilham bantu bukankah akan sering bertemu Isna kelak.

__ADS_1


"Ah, pikiran ini menganggu sekali." batin ilham yang berharap menjadi menantu Inggrid, terkait Isna adah masa lalu cinta pertamanya, tak peduli sudah mempunyai anak sekalipun sebab ilham selalu menunggu hati isna berbunga untuknya.


TBC.


__ADS_2