Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
KEBINGUNGAN


__ADS_3

Alex pun meminta Kinar memahami dirinya, tetap fokus pada anaknya, mungkin satu satunya cara agar Kinar bisa hamil, dan dengan anak dari iparnya ia rawat bisa membuat keluarga Alex menerima Kinar, apalagi kakak ipar Kinar pergi bersama mertua di rumah lain, sementara Kinar dan Alex merawat bayi itu di gubuk yang sulit Kinar terima, apalagi pendapatan Alex saat ini menurun akibat koleps.


Jika ia mengulang kembali, rasanya sudah terlambat jika Kinar meminta maaf pun, rasanya mustahil apalagi pernikahannya karena hutang Ayahnya Kinar pada mendiang Ayahnya yang tak bisa terbayar, sehingga Kinar menerima segalanya.


Huhuhu .. tangisan Kinar pecah, membasahi tangisan di pipi bayi mungil, yang berada dalam pelukan Kinar dengan tatapan kosong, seolah dunia benar benar tidak berpihak, apalagi mertua selalu ikut campur.


"Bisa gak sih, jangan nangis terus. Hah?" teriak Kinar, meletakkan kasar bayi itu begitu saja.


Eaaak ... Eaaaak ... Tangisan bayi itu semakin keras, sementara Kinar ia nampak jalan ke ujung sudut, bulak balik dengan tertawa dan sedih wajahnya berubah dalam itungan detik.


Treeeth.


Suara motor bebek tahun lama, membuat Kinar nampak melihat jendela. Ia senyum dan kembali menggendong bayi mungil itu, kembali pada tatapan wajah manis dan penyayang, ketika seseorang datang dengan ucapan yang membuat Kinar nampak berlarian menggendong bayi.


Cekleg.


"Mas Alex udah pulang, sini tasnya mas." ujar Kinar.


Alex nampak syok, setiap hari perlakuan Kinar semakin jelek, seperti yang di bicarakan mamanya, jika ia harusnya tidak menerima pernikahan, pada wanita yang tidak bisa merawat diri.


Alex sendiri nampak kewalahan, ketika bayi sang kakak menangis, ia segera membuatkan air hangat dan membuat susu untuk keponakan yang ia anggap anaknya, sebagai bentuk pancingan kelak Kinar bisa hamil, dan ibunya tidak bawel karena anggap Kinar mandul.


Sehingga nampak lah pikiran Kinar membuat ia meraih ponsel suaminya diam diam.


'Tidak ada nama Lunar! sebenarnya Lunar itu siapanya, Mas Alex ya? apa kau selidiki aja, Lunar itu adik atau kekasihnya, kenapa tidak ada nomor disini,' gumam Kinar, entah pada siapa ia bicara sendiri.

__ADS_1


Alex nampak kembali, dengan telaten memberikan susu pada bayi mungil. Nampak sehat dan gembil, namun ia kaget ketika pelipisnya merah membiru.


"Dik, My baby kenapa ini kok biru, apa dia jatuh?"


"Enggak! mana mungkin anak bayi yang mama banggakan, bisa jatuh. Mas Alex lupa, anak itu kan kemauan dan keluarga. Ya pasti Kinar jagalah sepenuh hati." ketusnya, sambil membuka sambal soto.


"Hah, sudah semestinya karena kamu ibunya saat ini, ingat setelah mengasuh artinya ini tanggung jawab kita. Oh iya, ibu mas enggak jadi datang minggu ini. Nanti kalau ibu datang, tolong suruh tunggu Mas ya! tunggu sebentar kalau Mas akan pulang cepat, dari toko."


"Iya Mas. Emang kapan mama mau datang?"


"Nengokin kabar kamu, juga nengokin sekalian si baby. Senin depan katanya. Ya udah, udah bobo nih. Aku lanjut mandi dulu ya, kamu makan duluan aja!"


Kinar pun mengangguk, dan melahapnya makanan soto dengan nasi tanpa sisa, melupakan Alex untuk porsinya saling setengah.


Sungguh Kinar memang mencintai amat dalam pada suaminya itu karena kebaikan mas Alex yang sering baik, tapi suka berubah ketika ibu nya datang, dan itu adalah hal terbahagia Kinar yang kadang buyar.


'Aih, benar benar istri rakus, apa tidak sedikit dia sisakan makanan itu.' gerutu Alex kesal, tapi dipendam.


"Mas udah mandinya, Mas udah makan belum?" menoleh Kinar, ke arah hordeng pintu.


"Udah tadi pagi, Mas mau ajak kamu jamaah shalat isya."


Eeeugh!


Berdahak Kinar, membuat Alex sendiri tampak kaget, apakah setiap istri akan berubah sikap karena bawaan lelah ia mengurus bayi.

__ADS_1


"Lain kali shalat dulu, jangan makan dulu."


"Iya mas, maaf ya." lirih Kinar begitu saja.


"Makan kaya kesurupan, pantes ibuku protes ngedumel terus, kamu harusnya jadi istri dari kampung, lebih elegant dikit. Istri itu pandai cari perhatian ibu mertua, gimana sih kamu Kinar."


Deg.


Terdiam Kinar, dimana mulai lagi sikap suaminya menyebalkan, mulut jahatnya mirip sang ibu mertua. Apa dia lupa, semenjak tinggal di rumah ibu mertua, ia sering kekurangan makan, ambil apapun makanan, memasak bahan apapun, selalu diagungkan harus uang keringat sendiri, padahal seluruh bahan bahan dapur dibelikan mas Alex, otomatis istri berhak juga, seolah julukan menantu bagi Kinar tidak ada.


"Kamu paham ga sih?"


"I- iya mas. Maaf, kalau gitu Kinar ke kamar kecil sekarang, kalau mas Alex lapar. Aku belikan di luar ya, tapi uangnya Kinar minta."


Menarik nafas Alex, hal itu membuat wajah Kinar serba salah.


Namun setelah Kinar masuk ke kamar kecil, menyalakan air keran. Tidak ada yang tahu, wajah Kinar disana menangis, sementara Alex menatap keponakannya yang ia asuh sebagai anaknya saat ini, seolah ingin sekali mempunyai anak kandung dari benihnya, hanya saja Kinar belum juga diberikan amanah sehingga kehidupannya semakin ada saja masalah berkelit.


"Maafin papa ya nak! papa belum bisa berikan yang terbaik, yang terpantas untuk kamu." menetes Alex, sesaat bayi itu dalam pelukan Alex sangat pulas dan merasa nyaman, tak menangis.


Alex kembali shalat, dimana sujud syukurnya ia meminta Tuhan, memberikan kemudahan di setiap langkahnya untuk membahagiakan keluarga kecilnya.


Memohon ampunan semua dosa yang mungkin ia lewati tak sadar, telah menyakiti dan inilah balasan atau bentuk hukuman Alex yang akan ia terima, sampai masa hukuman darinya telah habis.


'Ya rabb, ampuni kesalahan dosa saya sebagai pria yang tidak tau aturan, mudahkan urusan saya mencari rejeki untuk anak dan buah hati saya, bahkan sembuhkan luka serta kesedihan sepekan lalu. Saya yakin, Kinar sangat terluka dan kebingungan karena tidak ada ibunya lagi saat ini, tunjukan saya menjadi imam yang lebih baik untuk keluarga saya. Apalagi saya menerima pernikahan ini karena ikhlas, meski sangat sulit membuat Kinar dan Ibu berdamai.' batin Alex, kala itu bersujud, berjanji dalam keadaan apapun tidak akan meninggalkan Kinar.

__ADS_1


Entah dari mana, Alex sebenarnya tidak mencintai Kinar, namun seiringnya waktu ia kasihan, dan berusaha mendamaikan ibunya dan Kinar, layaknya sebagai menantu dan mertua yang akur, hanya saja posisi Alex adalah putra yang tidak ingin durhaka pada ibunya sendiri, sehingga kondisi ini masih saja Alex kebingungan, harus membela siapa.


TBC.


__ADS_2