
Pagi harinya, terlihat Alex setelah shalat shubuh, dimana Kinar sedang memotong bumbu dapur, dimana makanan kemarin akan ia hangatkan untuk sarapan pagi ini bersama suaminya.
Jujur Kinar merasa bersalah, karena keinginan suaminya telah di murkai pencipta, dari menolak ketakutan hingga berujung perdebatan dan Kinar menangis, namun akhirnya mereka melakukan ritual juga karena mereka memang sah.
Setelah mendengar suara keran, Alex pun bergegas mandi dan menunggu adzan subuh di musholla terdekat. Rasanya aneh, ketika suara di dalam rumah terdengar hening, tanpa sepatah katapun, apalagi tak ada bicara dan melengos seolah tak melihat ada orang.
Kinar sendiri ingin menyapa suaminya, tapi celos Alex merasa benar akan keputusannya, membuat Kinar terlihat. Kinar mencoba sabar, dimana menjelang pagi, hal ketakutan Kinar benar benar tersampaikan pagi ini, jika mas Alex ingin kembali tinggal di rumah mamanya, itu artinya Kinar akan tinggal di rumah mertua.
"Mas pergi dulu ya."
Hah!
Hati Kinar remuk, makanan pagi ini di lihat tanpa di sentuh, memang ini adalah makanan hangat sisa kemarin sore, tapi rasanya Kinar ingin berpuasa dan membuangnya, tapi jika ia buang, sungguh berdosa karena di luar sana masih banyak yang membutuhkan makanan. Tapi jika Kinar ikut mogok karena rasa sedihnya, bukan tanpa alasan air asi nya kelak akan macet, dan Kinar tak bisa memberikan gizi untuk Raya yang kini sudah berusia lima bulan.
Eeeaaak ... Eaaak.
Tangisan Raya menyadarkan Kinar kali ini, hingga dimana Kinar mencoba kembali menarik nafas, mencoba memendam rasa tangisan dan kesedihannya.
'Ah! Rasanya, jika Kinar masih ada ibu, mungkin ia akan melewati semua ini, tapi ia sendiri. Bahkan mertua nya ketika Raya tinggal bersamanya dari usia empat puluh hari, hanya beberapa kali saja menjenguk, entah apa yang terjadi pada ibu Inggrid, mertua Kinar itu.
Kinar kali ini segera meraih koran cetak, dimana ia melihat lowongan pekerjaan, namun di pikir lagi dan lagi. Jika ia bekerja, lalu Raya sama siapa? Apalagi stok ASI harus terpenuhi, dan Kinar tak memiliki kulkas, hanya termos yang di isi batu es, itu pun membeli batu es pada tetangga sebelah.
Eaaak .. Eaaak.
Kinar lagi memberikan susu, tetap saja Raya menangis. Ia membuatkan bubur bayi, tetap saja kali itu Raya enggan, namun tidak mau lagi membuka mulut dan terus saja menangis.
Kinar menggantikan popok, membuat Raya nyaman dengan baju ganti hangat, tetap saja hanya sebentar bayi Raya berhenti menangis.
Bahkan saat ini, terlihat seluruh ruangan, kamar berantakan, tidak sempat mencuci piring, ingin sekali Kinar merapihkan tapi Raya terus saja menangis, seolah tidak mau di lepas dan maunya di gendong saja. Kinar jadi penat, dan Kinar tak kuat lelahnya seperti ini, dimana mas Alex jauh dari kata berkecukupan, bahkan Kinar tak sengaja melihat cermin, dimana dirinya sudah tak terurus, kucel dan amat dekil pada umumnya.
Eaaaak ... Eaaak.
"Bisa ... Enggak ... sih nak, kamu diam sebentar .. hah?" teriak Kinar, membuat ruangan menggema, dimana bayi itu memanyunkan wajah sedih, tapi pegangannya erat.
__ADS_1
"Maafin bunda nak! Bunda lelah, tolong beri waktu bunda sejenak, kamu bisa kan diam sebentar, lihat semuanya berantakan. Bunda bingung kenapa Raya terus nangis, .. " lirih Kinar merasa bersalah, emosinya semakin tidak terkontrol.
Kinar pun menggendong Raya, dimana matanya yang sembab, bahkan air mata Kinar jatuh, menetes beberapa kali pada pipi tembam bayi mungil itu.
Entah kenapa Raya saat itu terlihat tenang, setelah menangis lama, melihat Kinar yang ikut menangis, seolah bayi itu diam menatap ibunya ikut menangis, rasa batin sedih seorang bayi hanya bisa menampakan raut sedih, hidung merah dan memeluk erat baju ibunya, ketika Kinar menangis seharian menutupi wajahnya, hingga beberapa saat ia mencari akal untuk bisa membuatkan ayunan di balik atas kayu, pintu kamar. Agar Kinar, bisa membereskan rumah dan memasak nasi, di mana saat itu hanya ada kompor sumbu.
Selang beberapa lama, Alex terlihat kembali cepat. Lalu melihat Kinar yang nampak kucel dan berantakan, bodohnya lagi melihat bayinya di buatkan ayunan yang nampak bahaya bagi Alex.
"Assalamualaikum Kinar."
"Walaikumsalam Mas! tumben udah pulang, kok tumben cepet banget?" tanya Kinar.
"Astagfirullah Kinar, ayunan seperti inikan bahaya. Kamu di rumah ngapain aja sih, kalau Raya jatuh gimana, kamu lupa dan yakin enggak pernah buat baby Raya jatuh?"
Deg.
"Maaf Mas, tapi Kinar tadi .."
"Kamu harus tetap rapih! Apapun itu, pandai waktu waktu kamu, beda jauh kamu sama ipar kamu yang sibuk, tapi bisa merapihkan dengan semuanya sendiri. Sekarang siap siap, dandan yang rapih! Kita mau kunjungi rumah ibu."
"Iya, ibu mas, cepat ya! Raya bisa mas gendong, lepasin aja dulu itu sapu, nanti mas bersihin sisanya, nanti aja setelah kita pulang!"
"Iya mas, maaf." lirih Kinar, yang kali ini ia benar benar menahan tangisan, dan rasa sesaknya, benar benar menusuk ke ulu hati.
Celos kata kata Alex kembali menusuk pikiran dan jantung Kinar. Mengatakan dirinya di rumah ngapain saja, bahkan setengah rumah berantakan baru bisa ia kerjakan, karena sibuk membuat ayunan, mengakali ayunan agar Raya bisa berhenti menangis, padahal Kinar sudah cukup untuk membuatkan susu, dan memberi Raya makan, memastikan popoknya tidak penuh.
Beginilah perlakuan mas yang sering berubah mood jika bertemu ibu mertua pada Kinar. Hanya karena Kinar seorang istri penebus hutang yang hanya dibutuhkan, rasanya tidak adil dibandingkan terus.
Tanpa pikir panjang, Kinar meraih gamisnya, rasanya aneh karena gamisnya, terlihat kecil. Sudah beberapa gamis ia coba, tapi sedikit sesak bagian PD, apalagi tidak masuk ke pangkal bahunya.
'Ya ampun, apa aku benar benar gemuk?' batin.
"Kinar ayo cepat dikit!"
__ADS_1
"Mas maaf, tapi gamisnya kekecilan, maafin Kinar ya!"
"Ya udah pakai yang ada saja, kok ribet banget sih."
Kinar mau tidak mau, memakai daster lengan panjang, dibalut cardigan dan pashmina panjang menutupi bawah diatas perut. Terlihat Alex mengunci pintu, bahkan cucian piring terlihat berantakan, bahkan Alex melihat lagi apakah ada kabel dan listrik yang belum dimatikan.
Dengan motor bebeknya, Kinar sendiri merasa sakit ketika dibonceng, bahkan Kinar ingin berbicara sakit, tapi rasanya ia takut mengatakan, alhasil rasa sakitnya itu membuat Kinar menahan hingga ke rumah mertuanya.
"Assalamualaikum, bu." ujar Alex, yang kala itu ibu inggrid sudah ada di depan rumah sedang duduk, selesai menyapu.
"Kamu jadi datang Alex! Bawa Kinar juga?"
"Iya sekalian jenguk ibu, bukannya mau lihat Raya, kalau enggak sama Kinar, terus siapa yang bonceng?"
"Bu .." mencium tangan ibu mertua, Kinar namun mendapat tatapan tak senang.
"Ya udah masuk yuk!"
Kinar melangkah masuk, rasanya berbeda terbalik saat Kinar berada di rumah mertuanya, megah benar benar sempurna tidak seperti gubuk yang ia tinggal bersama Alex.
Tapi memang keputusan Alex adalah tinggal dengan sesuai kemampuannya, dan disinilah Kinar berusaha tegar, karena cintanya pada sosok Alex, ia akan tinggal kemanapun meski tak layak asalkan tidak kebocoran dan bisa untuk berteduh. Namun sejak semalam Alex bicara akan tinggal di rumah mamanya sungguh Kinar harus lebih ekstra sabar dan kuat menghadapi mulut mertuanya itu.
"Jadi kamu mau pinjam uang berapa Alex?"
Deg.
Celos ucapan ibu mertua, membuat Kinar menggendong Raya kaget, bahkan Kinar sendiri tidak tahu, jika kedatangan suaminya adalah meminjam uang.
"Alex pasti gantiin uang ibu, Alex mau kontrol Kinar bu, lusa harusnya kembali. Ditambah Alex mau sunat dan tindik Raya, kalau perlu aqiqah kecil kecilan, dimana aqiqah itu hanya di bagikan saja, di panti. Lagi pula kakak udah kasih uangnya ke ibu kan, Alex janji kalau toko udah stabil beli mobil yang ibu mau.'
Inggrid sang mertua, meminta Kinar untuk berfikir logis.
"Lihat ya Kinar, semenjak Alex mempertahankan pernikahannya, hidupnya sulit. Jadi istri tuh pembawa rejeki lancar bertubi tubi dong, bukannya nyusahin. Ada istri kok, malah tambah susah. Ini pasti karena kamu Kinar, bapak kamu punya utang banyak bukannya diganti uang, malah diganti sama kamu. Tambah sulit lagi." cercah ucapan mertua, membuat Kinar menunduk, sementara Alex sendiri hanya diam tanpa berkata kata lagi, karena posisinya sulit untuk ia pilih dibela, antara pasangan dan mamanya.
__ADS_1
TBC.