Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
SENYUM KEPALSUAN


__ADS_3

"Ibu inggrid jangan dulu sampai tahu, sebab .." terdiam Kinar, membuat Lunar senyum miring.


Lunar yang mendekat, nampak melihat Kinar yang bekeringat dingin. Dan menghampiri dari arah samping, melihat seorang Kinar kali ini dengan rok bunga hitam dan kaos krem nampak lusuh, dimana ia mengeluarkan dompet bekas toko mas, yang sering bonus ketika berbelanja emas di toko toko, itupun nampak dekil sekali.


"Sus, sepuluh juta saya enggak ada. Apa segini cukup?"


Nampak Lunar sendiri kasihan meski niatnya datang ingin sesuatu membuat onar sesuai bu inggrid minta, dimana setiap perebut akan mendapat suami hasil rebutan akan bernasib baik. Tapi ada apa sebenarnya dengan mbak Kinar, apakah Lunar harus urungkan niatnya."


"Mbak yakin Alex ga punya bpjs gak? beneran enggak ada?"


Lunar kembali mendekat, kala Kinar melihat bayinya tertidur di pangkuan wanita modis. Apakah karena ada baunya Alex, membuat Raya tenang, hingga menatap lirik ke arah suster dan uang recehan logam, serta uang berwarna biru dan hijau terlihat di loket.


"Ga ada bpjs, belum sempat urus sebab .."


"Ah, kalau begitu pakai kartu atm Lunar mbak. saya ikhlas kok, yang utama kesehatan Alex dulu."


"Ta- tapi .. Lunar."

__ADS_1


"Ga ada tapi tapian mbak, ini lebih penting."


Hingga Kinar nampak malu sekali, dimana benar benar dirinya sangat baik padanya, tapi lupa dengan pertanyaan ada apa Lunar bisa sampai ke gubuknya semalam ini, tapi jika di pikir Lunar tidak datang, Entah akan bernasib apa pada suaminya Alex.


'Bagaimana ini sesuatu yang sulit bagi Kinar terima, dimana suaminya di biaya sang mantan yang baru Kinar yakini."


Mereka pun menunggu, dimana dokter keluar dan menjawab kerisauan keluarga pasien.


"Nyonya Alex, pasien boleh pulang besok. Hanya saja, perlu observasi lebih lanjut, hasil rontgen akan keluar besok. Dimana saat ini, hanya efek kelelahan dan sebuah cidera ringan pada kepala Alex. Apa sebelumnya pak Alex pernah jatuh?"


"Mas Alex jatuh, sepertinya enggak dok."


"Terimakasih dokter."


Lunar ikut membantu Kinar yang nampak sedih, dimana raut wajah seseorang datang terlihat asam merasa membenci setiap semua pelakor, mungkin dengan cara mendekatinya saat ini ia tahu kenapa pria seperti Alex, bisa membuang dirinya pertama hanya karena alasan klise, kasihan pada gadis tak bersalah seperti Kinar.


Tapi melihat kondisi saat ini, kenapa melihat kehidupan mantannya mengenaskan, terlihat seperti kesulitan.

__ADS_1


"Mbak Kinar, kami pulang dulu ya. Apa Lunar boleh bantu, karena bayi ini ga boleh terus di rumah sakit. Apa susunya biar Lunar rawat sampai kondisi mbak Kinar dan suami mbak kembali ke rumah."


"Lunar, saya udah repotin kamu. Jangan buat saya merasa bersalah dan gimana saya harus kembalikan semuanya sebab .."


"Mbak kita kan keluarga, jadi jangan sungkan. Namanya siapa tadi .. Rr-aya ini anteng aja kok."


Kinar nampak malu, sangat tidak benar jika kondisi seperti ini, ia harus lagi lagi menyusahkan orang lain. Andai waktu bisa di putar, Kinar mungkin tidak akan membuat kesalahan melepas pekerjaannya dan kariernya dahulu, tapi astagfirullah... Pujian mengingat namanya, agar Kinar tidak lagi berkata menyesal.


"Sekali lagi makasih ya Lunar, tapi kamu kok bisa datang ke rumah gubuk mbak."


"Jangan begitu mbak, gimanapun rumah semewah apapun, tinggal dengan orang yang kita cintai akan seperti istana bukan. Lagi pula, kebetulan Lunar bawa titipan, dari pengacara pak Isan, nitip akte cerai kakaknya Alex, mbak Isna, pas telepon katanya dia ambil di kediaman Alex aja. Karena mbak Isna, enggak mungkin nerima di rumah ibu. Dimana saat itu pengacara hubungi Alex enggak ada jawaban."


"Akte cerai mbak Isna, jadi ...?" terdiam Kinar, nampak lesu atas apa yang ia pikirkan saat ini pada suaminya, dimana akte cerai itu adalah ayah biologis Baby Raya.


"Kamu pengacara?" tanya Kinar.


"Iya, soal ibu Inggrid saya gak akan kasih tahu soal Alex, dah biarin baby Raya sama saya dulu ya." senyum Lunar penuh misteri menatap Kinar.

__ADS_1


TBC.



__ADS_2