
===
Hari ini, kondisi rumah oma terlihat ramai karena orang tua Vanda sedang datang berkunjung, suatu kebetulan memang setelah terbongkarnya kehamilan Vanda tiba-tiba orang tuanya datang, bukan karena suatu kebetulan tapi mungkin karena firasat orang tua itu lebih peka terhadap anaknya.
Di ruang keluarga terlihat Vanda masih menangis, sang ibu dan oma terlihat masih syok, sedangkan sang papa dengan mata memerah terlihat masih sangat emosi karena menerima kenyataan kalau anak gadisnya sedang hamil di luar nikah, terlebih lagi sang calon ayah ternyata sudah bertunangan dengan wanita lain.
"Mumpung masalah ini belum keluar dari rumah ini, maka papa putuskan agar anak itu di gugurkan saja. Papa tidak mau malu karena anak yang kamu kandung tanpa seorang ayah." Ucap papa Bima tegas sembari menatap tajam kearah sang anak.
"Tidak papa. Aku tidak akan menggugurkan kandungan ini. Tolong biarkan aku membesarkan anak ini pa." Pinta Vanda yang masih menangis dan langsung menundukkan kepalanya karena takut akan jawaban sang papa.
"Jangan bodoh kamu Van! Mau ditaruh dimana muka papa kalau sampai tahu orang luar kalau anak papa hamil tanpa seorang ayah!" Jawab Bima membentak keras
Tanpa di sangka, Vanda langsung berlari ke arah sang papa. Vanda langsung bersimpuh di kaki sang papa untuk memohon agar sang papa menarik kembali keputusan itu.
"Vanda mohon pa. Kasian anak ini, dia tidak bersalah. Ijinkan Vanda untuk membesarkan anak ini pa. Vanda berjanji akan bersungguh sungguh kuliah di sini, akan ku tujukkan aku bisa sukses pa. Bagaimana pun, ini juga cucu papa." Tangis Vanda terdengar pilu membuat siapapun yang mendengarkan akan merasa iba dan kasian.
"pa, mama mohon kasih kesempatan buat Vanda. Mama juga kecewa, tapi mama juga tidak tega kalau calon cucu ku harus di gugurkan. tolong papa pikirkan lagi keputusan papa ini." bujuk mama Dian sambil mengangkat tubuh anaknya membawa duduk ke kursi sofa.
Papa Bima duduk diam, terlihat di sana dia sangat berfikir keras. Orang yang melihat itu pun sangat cemas dengan keputusan yang akan di ambil papa Bima.
"Baiklah, papa akan ijinkan kamu untuk melahirkan dan membesarkan anak ini. Tapi kamu harus ingat apa janji kamu tadi!" Tegas sang papa membuat Vanda tersenyum seketika dan langsung memeluk sang mama.
"Terima kasih pa, Terima kasih banget. Vanda janji akan menepati janji Vanda tadi." Ucap Vanda sang sungguh-sungguh, terlihat dia sesekali mengelus perut rata nya yang belum terlihat.
"Nak, mama akan jaga kamu. Mama yakin mama bisa menjadi mama dan papa untuk kamu. kamu sehat disini ya sayang, kita berjuang bersama ya sayang, jangan pernah fikirkan bagaimana papa mu, karena cukup ada mama saja." Gumam hati Vanda sembari mengelus perutnya.
"Vanda, sesuai dengan saran dokter tadi, kamu harus periksa ke dokter kandungan jadi sekarang kamu siap-siap, mama akan menemani kamu untuk periksa kedokter kandungan," Ajak mama Dian sembari membelai rambut sang anak.
__ADS_1
"aku siap-siap dulu ma." Jawab Vanda berlalu ke kamarnya.
"Aku boleh ikut kan tan, aku juga pengen liat bagaimana kondisi ponakan lucu aku?" tanya Adel sambil telihat memohon kepada mama Dian.
"Boleh Del, ya udah kamu juga siap-siap sana, tante juga mau siap-siap." Jawab mama Dian yang juga mulai berdiri dari tempat duduknya dan berlalu menuju kamar
\===
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Mama Dian segera mengambil antrian dan mendaftarkan nama Vanda untuk mengantri. Terlihatnya banyak pasangan suami istri hadir disana, banyak para suami yang perhatian kepada istrinya. Pemandangan itu membuat dada Vanda sesak, karena harusnya di saat dia hamil harusnya juga diperhatikan seperti oleh suami nya.
"Sabar ya sayang, kamu jangan iri kepada mereka. Banyak orang yang sayang sama kamu, tanpa seorang papa pun kamu pasti tidak kekurangan kasih sayang." Gumam Vanda sembari tersenyum getir meratapi hidupnya saat ini.
Adel yang melihat Vanda yang terlihat sedih setelah melihat ibu hamil disampingnya pun merasa kasian.
Ketika pintu ruangan periksa itu dibuka terlihat seorang perawat keluar dari ruangan.
Mendengar nama nya dipanggil maka Vanda langsung berdiri diikuti sang mama dan Adel. walau sang perawat hanya mengijinkan pasien dan 1 orang pengantar pasien tetapi Adel memaksa untuk masuk. Sempat terjadi adu pendapat akhirnya Adel pun di ijinkan untuk masuk menemani Vanda.
"Selamat siang Nyonya Vanda, perkenalkan saya dokter Amel. Baik mari saya periksa, silahkan Nyonya berbaring ditempat tidur." Sapa sang dokter ramah
Ketika Vanda sudah berbaring, perawat pun mulai menyingkap baju Vanda, diolesnya perut datar Vanda dan diberikannya cairan gel disana. Dokter mulai menaruh alat diperut Vanda. Terlihat disana dilayar monitor sebuah gambar kecil, mirip seperti berudu kecil.
Ketika dokter mulai mendengarkan detak jantung nya yang sudah terdengar, seketika air mata bahagia keluar dari mata Vanda. Makhluk kecil sang calon bayi itu terlihat sangat lucu.
"Baik, coba nyonya Vanda perhatikan, makhluk kecil ini adalah calon anak anda dan suara ini adalah suara detak jantung calon anak anda. Kondisinya sangat sehat dan bagus. Usia kandungannya sekarang 9 minggu." Penjelasan sang dokter yang semakin membuat Vanda semakin terlihat bahagia.
Sang mama dan Adel pun tak kalah bahagianya..
__ADS_1
"Ya ampun tan, kecil banget calon bayinya Vanda. Jadi tidak sabar nunggu lahirnya," ucap gemas Adel kepada sang mama Dian
"Tante juga sangat bahagia Del, tapi kamu jangan ikut-ikutan kayak Vanda. Inget, kamu masih kuliah jangan macem-macem!" sang tante memberi nasihat yang hanya di balas anggukan dan jempolan dari Adel.
"Saya kan resepkan Vitamin dan tolong jaga kondisinya karena sekarang masih Trimester pertama jangan sangat riskan. Kalau ada apa-apa langsung dibawa kedokter."Jelas sang dokter sembari menyerahkan resep vitamin itu kepada sang mama.
"Terima kasih dok. Kami permisi dulu." Pamit mama dia kepada sang dokter
Setelah mereka keluar dari ruangan sang dokter sang mama langsung memberi wejangan untuk anaknya.
"Dengarkan kata dokter tadi Van, jangan capek-capek. Kuliahnya juga jangan sampai kecapean, kalau ada apa-apa nanti Adel biar membantu. Bisa kan Del?" tanya mama Dian sambil menatap kearah Adel
"Siap tante, aku pasti akan jagain Vanda dan calon ponakan ku ini." Jawab Adel sembari mengelus perut datar Vanda
"Makasih ya Van, selalu menyemangati dan jagain aku." Seru Vanda memeluk Adel
Vanda merasa sangat bahagia, walau awalnya ditentang sang papa tapi akhirnya mereka semua bisa menerima dan mendukungnya. Vanda yakin, kehadiran anaknya ini diusianya 19 tahun, tetapi itu tidak akan mengurangi kasih sayang untuk anaknya. Dia akan berubah menjadi wanita dewasa agar bisa membesarkan anaknya.
Bersambung..
Happy Reading All
.
.
__ADS_1