Di Hpss

Di Hpss
5 Tahun Kemudian


__ADS_3

===


5 Tahun kemudian.


Disebuah gedung perusahaan terlihat seorang anak kecil itu berlarian ke sana kemari, membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas dibuatnya.


"Brugh" terdengar suara tabrakan badan antara tubuh kecil dan mungil itu menabrak tubruk tinggi atletis itu yang membuat tubuh kecil itu jatuh terduduk.


Karena merasa bersalah anak kecil itu segera bangun dan meminta maaf kepada lelaki dewasa yang dia tabrak tadi.


"Maaf kan aku uncle. Aku tidak sengaja menabrak uncle." Suara Vabri terdengar bergetar dengan wajah yang menunduk takut.


"Tidak apa-apa son, lain kali hati-hati ya, jangan berlarian sembarangan. Kalau boleh uncle tau siapa nama mu dan dimana orang tua mu, kenapa kamu bermain sendirian disini?" Tanya lelaki itu sembari mengelus lembut kepala anak kecil itu.


Setelah mendengar lelaki dewasa itu berbicara, Vabri mencoba untuk memberanikan diri menatap lelaki itu.


"Deg" suara jantung Brian ketika melihat anak kecil itu.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan anak ini. Matanya seperti seseorang yang aku kenal. Tapi siapa ya? " Gumam Brian yang masih mengamati anak kecil itu.


"Nama ku Vabrian uncle, sering dipanggil Vabri. Daddy aku baru ada didalam ruangan katanya sedang rapat, kalau aku tadi kesini dijagain sama uncle Krisna. Tapi entah dia kemana sekarang. Kalau uncle siapa namanya?" Tanya Vabri polos kepada Brian.


"Nama uncle Brian. Ya udah, apa biar uncle bantu kamu untuk mencari uncle kamu itu biar ada yang jagain kamu?" Tanya Brian sembari menampakkan senyumannya.


Sebelum Vabri menjawab, terdengar langkah kaki mendekat sangat cepat.


"Maaf kan tuan muda ku tuan. Karena dia selalu ceroboh tidak pernah memperdulikan lingkungan nya ketika bermain." Ucap Krisna sembari membungkuk memberi salam kepada Brian.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali tolong lebih dijaga lagi. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Brian sopan kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Ada apa Kris, kenapa pada ramai di lobi?" Tanya Vino heran karena banyak karyawan yang berada di sana.


"Tadi tuan muda menabrak salah satu clien pak, untungnya lelaki itu tidak mempermasalahkan nya." Ucap Krisna takut tapi masih terlihat bersalah.

__ADS_1


"Kamu kemana saja sampai Vabri dibiarkan main diluar seperti ini? Pokoknya tidak ada lain kali yang seperti ini." Ucap Vino tegas.


"Baik pak." Setelah mendengar Krisna berbicara, Vino langsung mendekati Vabri dan menggendongnya.


Banyak pasang mata kagum dengan Vino, pasalnya mereka tau kalau Vino sudah punya anak tapi mereka tidak tau kalau anaknya itu bukan anak kandung dan mereka belum tau siapa ibunya Vabri.


"Kamu tidak apa-apa son?" Tanya Vino dijawab anggukan oleh Vabri.


"Good, kita langsung ketempat mommy saja ya, karena mommy mengajak kita makan siang bareng."


Mereka berdua langsung pergi meninggalkan lobi itu dan menuju ke cafe ketempat Vanda yang sedang menunggu.


\===


Cafe


"Mommy" teriakan Vabri yang memekikkan gendang telinga itu sontak membuat seisi pengunjung cafe menoleh kearahnya.


"Sayang, anaknya mommy. Apa kamu merepotkan Daddy hari ini?" Sambut kedua tangan Vanda ketika melihat Vabri turun dari gendongan Vino. Vanda langsung menciumi wajah sang anak dengan gemasnya.


"Maaf ya Van, agak lama sampai di sini, karena tadi di kantor ada problem sedikit." Ucap Vino sembari mendaratkan pantatnya ke kursi cafe.


"Iya, tidak apa-apa. Apakah masalahnya serius?" Tanya Vanda sembari mendudukan Vabri di kursi cafe.


"Sudah selesai kok. Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Vino


"Sudah, sesuai yang kamu minta di telepon tadi." Jawab Vanda tersenyum lembut.


Vino selalu berharap kalau Vanda bisa membuka hatinya untuk dia. Karena Vino sangat menyayangi Vanda dan Vabri. Sudah beberapa kali Vino menyatakan cintanya ke Vanda, tetapi selalu di tolaknya bahkan sampai detik ini pun Vino tidak pernah diberi tahu siapa daddy kandung Vabri. Tapi Vabri tidak pernah ingin tahu siapa daddy kandung Vanda karena dia tidak ingin menyakiti Vanda dengan membuka masa lalu nya lagi.


Setelah makanan datang, mereka langsung menyantapnya yang terkadang mereka tertawa gemas akan kelakuan Vabri. Ketika orang melihat nya mereka pasti akan bilang kalau mereka adalah keluarga harmonis, sungguh membuat iri.


Di ujung ruangan itu, ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan dari tadi, dengan tatapan yang sulit diartikan orang itu terus menatap kebahagiaan Vanda.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah melupakan aku Van? Sedangkan aku di sini masih sangat mengharapkan mu, aku selalu menunggu mu. Apakah cinta ku bertepuk sebelah tangan. Sedangkan kamu sudah bahagia dengan keluarga kecil mu. Ternyata suami mu adalah rekan bisnis ku dan anak mu, ketika aku bertemu pertama kali dengan nya aku selalu ingat seseorang ternyata mata itu adalah mata kamu." Gumam hati Brian seakan menangis mengetahui kalau Vanda sudah bersama lelaki lain dan bahkan sudah memiliki seorang putra.


"Woi bro, ngapain dari tadi kamu melamun terus. Emang apa yang kamu lihat?" Tanya Alga penasaran sembari mengikuti arah tatapan Brian.


"Oh pantas saja sampai tak berkedip yang melihat, ternyata ada sang pujaan hati di sana. Tapi siapa laki=laki itu Bri? Dan anak kecil itu? Mereka terlihat seperti keluarga cemara saja." Ucap Alga dibarengi dengan kekehan kecil, karena dia pasti tahu kalau Brian sangat cemburu di buatnya.


"Ada apa hubungan mereka bukan urusan ku." Ucap Brian ketus. Brian terlihat sangat tidak suka, air muka nya terlihat tidak tenang, jelas membuat Alga semakin yakin kalau Brian masih memendam rasa dengan Vanda.


"Apa perlu kita pergi ke sana? Karena sudah lama kita tidak pernah bertemu dan sejak kapan Vanda pulang ke Indonesia? Kenapa Adel tidak pernah cerita." Ucap Alga yang sangat penasaran dengan apa yang dilihat sekarang.


"Kalau Vanda memang sudah menikah, tetapi kenapa Adel tidak pernah bercerita dengan ku. Apa benar Vanda secepat itu melupakan Brian, karena dengan cerita Adel tempo hari jelas banget kalau Vanda masih mencintai Brian. Ah sudahlah, lebih baik nanti aku tanyakan Adel saja." Gumam hati Alga mencoba untuk tenang walau di selimuti rasa penasaran.


Tak berselang lama Vanda, Vino dan Vabri pun meninggalkan bangku cafe, terlihat Vabri yang manja kepada Vino membuat Brian sangat iri.


"Harusnya aku yang disana membuat mu dan anak kita bahagia. Apa memang aku tidak pantas untuk mu. Kenapa rasa ku masih sama seperti dulu." Ucap lirih hati Brian seakan ingin berteriak memanggil nama Vanda dan memeluknya erat karena sangat merindukannya.


 


 


 


 


 



Bersambung...


Happy Reading All


.

__ADS_1


.


__ADS_2