Di Hpss

Di Hpss
Rasa Ku, Rasa Mu


__ADS_3

===


Perbincangan mereka pun mulai ke hal-hal yang lebih pribadi, mulai dari kisah cinta Alga dengan mantan-mantannya, Adel yang sudah mulai berpacaran dan terakhir dengan masalah pribadi Vanda menyangkut ke anaknya.


"Van, kenapa kamu tidak undang kita yang di indonesia waktu acara nikahan kamu sama Vino itu? Padahal Vino kan juga orang Indonesia?" Alga mencoba memberanikan diri untuk bertanya hal ini kepada Vanda.


"Siapa yang bilang aku nikah sama Vino?" tanya Vanda heran.


"Lah, bukannya kalian udah sampai punya anak sama Vino? Apa kalian tidak menikah, terus anak kamu kenapa panggil Vino daddy?" pertanyaan Alga yang semakin menuntut.


"Itu bukan anak Vino, cuma karena dari kecil aja sama Vino makanya dia panggilnya daddy." jawab Vanda santai.


"Terus anak itu anak kamu sama siapa? Jangan-jangan kamu kumpul kebo ya selama di Korea?" Alga semakin penasaran.


"Ngawur kamu, kumpul kebo sama siapa. Udah ah jangan ngaco. Mending buruan makan, jangan kayak burung beo aja kebanyakan ngoceh terus." Vanda yang mulai terpancing emosi, karena dia tidak mau kalau ada orang yang tau kalai Vabri anak dari Brian.


Alga hanya mengangguk saja, tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Tak berselang lama Vanda dikagetkan dengan kehadiran seseorang.


"Hai, sudah lama?"


"Udah lama, buruan duduk sini, mau pesen apa kamu?" tanya Alga sembari menyodorkan menu.


"Samain saja sama kalian. Hai Adel, Hai Vanda apa kabar?" tanya Brian sambil mendudukan pantatnya ke kursi.


"Baik Bri. Gimana kabar kamu? Kapan nikah sama Frisca, katanya habis lulus kuliah tapi sampai sekarang belum ada undangan," ucap Adel sembari menyesap minumannya.


"Rencana sih 3 bulan lagi kalau tidak ada halangan lagi." jawab Brian malas, karena hatinya untuk Frisca yang sampai sekarang masih abu-abu.


Jawaban dari Brian pun membuat Vanda penasaran, karena Vanda kira Brian sudah menikah sejak lama tapi kenapa sampai sekarang mereka belum menikah.


"Gimana kabar kamu Van? Udah nikah ternyata." Ucap Brian seakan menyindir Vanda karena rasa cemburu nya ketika melihat Vanda bersama laki-laki lain.


"Kabar aku baik. Siapa yang udah nikah? Aku masih sendiri saja." Ucap Vanda cuek.

__ADS_1


"Tapi aku lihat sendiri, waktu itu kamu bersama anak dan suami mu di cafe." Brian yang mulai penasaran.


"Itu memang anak ku tapi laki-laki itu bukan suami ku, dia cuma teman ku."


"Terus anak itu anak siapa, tidak mungkin kan anak itu anak...." Ucap Brian berhenti karena takut Vanda merasa sakit hati.


Karena Vanda mulai tersulut emosi karena Brian selalu penasaran dengan sang anak dan ayah nya, Vanda juga mulai hilang kendali.


"Anak itu sudah cukup ada aku sebagai mommy nya, tidak butuh daddy tidak tanggung jawab seperti kamu!"


Sontak pernyataan Vanda membuat Alga dan Brian kaget.


"Apa maksut kamu aku bukan laki-laki tidak bertanggung jawab? Apa hak mu menilai aku seperti itu?" Brian yang tidak terima dengan ucapan Vanda.


"Apa kamu benar-benar laki-laki brengs*k sampai tidak mengakui perbuatan mu?" Vanda menarik nafas dalam dan mulai berkata lagi.


"Vabri adalah anak kamu! Apa kamu melupakan malam di Vila pada saat itu? Kenapa tidak ada etikad baik dari kamu untuk mencari aku dan malah bertunangan dengan Frisca?" Vanda bicara seakan berapi-api.


"Apa? Jadi wanita malam itu adalah kamu? Apakah benar apa yang kamu katakan?" ucap Brian


"Sialan kamu Bri, kamu hanya ingin menghancurkan aku saja. Bukannya tanggung jawab malah bertunangan dengan Frisca. Mulai malam ini kita bukanlah orang yang saling mengenal!" Setelah selesai berbicara itu Vanda langsung mengambil tas dan berlalu dari tempat itu dengan tangis yang mulai pecah.


"Sebentar Bri, kenapa aku jadi mulai meragukan pengakuan Frisca kalau dia yang kamu perkosa di Villa waktu itu?" Alga pun berkomentar.


"Apa? Jadi Frisca mengaku kalau dia di perkosa sama Brian? Jahat sekali Frisca." Ucap Adel emosi.


"Iya Fris, itulah alasannya kenapa aku harus secepatnya bertunangan dengan dia. Aku juga takut kalau Vanda sampai tahu masalah itu." lirih Brian.


"Bod*h! wanita malam itu Vanda, bukan Frisca! Kenapa kamu mau di manfaatkan sama Frisca?" Ucap Adel dengan nada tinggi.


"Apa! Jadi benar malam itu adalah Vanda. Sial*n Frisca, ternyata selama ini dia hanya pura-pura sebagai korban." Geram Brian.


"Sudah, kita harus cari cara agar Frisca mau mengakui semua ini. Aku juga emosi dengan Frisca, kenapa dia tega melakukan itu." Alga menengahi


"Berarti anak laki-laki yang Vino anggap anak adalah anak ku? Kenapa Vanda tega membiarkan laki-laki lain menjadi daddy anak ku."

__ADS_1


"Karena Vino adalah laki-laki yang sangat tulus dan sangat mencintai Vanda." Ucap Adel.


"Tidak akan aku biarin ada orang lain yang mengambil milikku." Ucap datar Brian dengan senyum simpul diujung bibirnya.


\===


Sedangkan di belahan ujung sana terlihat dua insan yang sedang memadu kasih, mengeluarkan gairah di dalam tubuhnya. Tanpa henti mereka menyebutkan nama pasangannya. Gelora yang membara membawa klimaks yang memuaskan.


"Kamu makin nikmat sayang. eegggh." Rendi yang terus semangat menggenjot Frisca di bawahnya. Terlihat peluh keluar dari tubuhnya semakin menambah kenikmatan tersendiri.


"Kamu juga sayang, aku selalu puas di bawah kungkungan mu." Frisca yang terus terus menyebut nama Rendi malam itu seakan lupa dengan rasa cintanya untuk Brian. Frisca yang awalnya hanya untuk mencari kesenangan kini malah menjadi candu ketika dia berhubungan dengan Rendi.


Setelah pertempuran panas itu, mereka kelelahan dan saling membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Sayang, apakah kamu benar-benar akan menikah dengan Brian?" tanya Rendi yang masih memeluk erat ditubuhnya.


"Terus aku harus bagaimana? Aku sangat mencintainya, dari awal kamu juga sudah tau. Kenapa sekarang malah mempermasalahkannya." Frisca yang mulai malas dengan pertanyaan-pertanyaan Rendi.


"Tapi aku tidak bisa kalau harus kehilangan mu Fris, aku sangat mencintai mu." Ucap Rendi yang mencoba untuk membuat Frisca percaya.


"Tapi aku tidak mencintai mu Ren. Kita masih tetap bisa seperti ini, karena aku juga puas dengan mu." Jawab Frisca sambil mencium bibir Rendi.


Rendi yang mendapat ciuman itu pun mulai memanas lagi, awal ciuman Frisca hanya untuk menyenangkan Rendi, kini menjadi gairah yang sangat menggebu.. Ciuman ringan berubah menjadi *******, suara deru nafas dan ciuaman dari mulut itu membuat gairah nya memuncak lagi, mereka pun melakukan lagi, tanpa menghiraukan getaran ponsel Frisca yang dari tadi bergetar.


 


 


 



Bersambung...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2