
===
Pagi hari di korea.
Musim semi kali ini begitu berwarna buat Vanda, kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya membuat yang memandang nya merasa kagum akan kecantikan nya.
"Hari ini aku begitu bahagia Del. Kebahagiaan ku seakan tak tergambarkan lagi. Aku yang sebentar lagi akan menjadi seorang mama diusia muda ku, tidak pernah terbayang oleh ku sebelumnya," kata Vanda sembari menengadahkan tangan nya untuk menyambut bunga yang sedang berguguran hari itu.
"Selamat ya Van, semoga kebahagiaan kamu ini tidak pernah berhenti. Bagaimana calon dedek nya, apakah rewel? Atau dia menginginkan sesuatu misalnya seperti orang ngidam pada umum nya?" Tanya Adel sangat antusias.
"Aku bersyukur anak kamu tidak rewel Del, semenjak aku di berikan obat anti mual dari dokter itu aku sudah tidak merasakan mual lagi. Tapi Van, entah kenapa dari kemarin aku pengen banget lihat wajah Brian. Tapi tidak mungkin aku menghubungi dia. Aku tidak maumerusak hubungan orang lain Del." Ucap Vanda yang terlihat begitu sedih yang jelas tergambar dari raut wajah nya.
Sejenak Adel berfikir, bagaimana cara nya dia menghubungi Brian tapi tidak mencurigakan untuk Brian, pasalnya semenjak kejadian di Villa hari itu, Adel tidak pernah menghubungi Brian maupun Frisca lagi kalau dia tidak di hubungi duluan. Sebuah ide pun terlintas. Terlihat Adel mengambil gawai nya dari dalam tas nya.
Tak berselang lama terdengar bunyi dering dari ujung negara sana.
"Hallo Unyil, apa kabar kamu? Tumben pagi-pagi udah video call sama aku, kangen ya kamu?" Jawab Alga terkekeh karena mengusili Adel.
"Iya, aku kangen sama kamu. Puas!" Jawab Adel ketus
"Kamu sekarang dimana Al? Sendirian aja atau sama siapa?" Lanjut Adel
"Aku masih di rumah Brian sekarang, mau jemput dia. Kemarin habis sakit dan sekalian aku jengukin dia. Nih liat orang nya baru sibuk makan semur jengkol," jawab Alga sembari menunjukkan wajah Brian yang sedang sibuk memakan semur jengkol yang di bawa Alga tadi.
"What? Semur jengkol? Sejak kapan Brian makan gituan? Terus kemarin sakit apa?" Tanya Adel sangat heran melihat sang sahabat yang tidak seperti biasa nya, sesekali melirik ke arah Vanda yang ikut memperhatikan Brian tetapi dengan posisi yang tidak terlihat oleh kamera.
"Sejak sekarang. Aku juga heran sama Brian, minta nya yang aneh-aneh. Kemarin sakit nya juga aneh mual, muntah dan pusing sampai-sampai tidak bisa makan karena muntahnya. Udah kayak orang nyidam aja." Gelak tawa Alga di seberang sana membuat Brian yang merasa kesindir langsung memukul kepala Alga.
"Sial dasar kamu! Siapa juga yang hamil orang Frisca aja habis selesai datang bulan kemarin mana mungkin hamil." Sahut Brian yang masih sibuk memakan semur jengkolnya.
Jawaban dari Brian sontak membuat Vanda kecewa. Seharusnya dia tidak terlalu berharap dengan Brian, karena Brian sudah ada yang punya tetapi yang membuat Vanda sakit, apakah hubungan Brian sudah sejauh itu dengan Frisca sampai dengan bisa mengatakan tentang tidak mungkin Frisca hamil.
Adel yang melihat Vanda nampak sedih pun langsung berinisiatif untuk menutup panggilan itu.
__ADS_1
"Ya udah Bri, lanjut aja sarapannya dan semoga lekas sembuh. Aku tutup dulu teleponnya jerapah, nanti kalau kamu kangen jangan lupa hubungi aku. hahaha." Goda Adel yang tanpa menunggu Alga menjawab sudah langsung dimatikan saja teleponnya.
"Kamu tidak apa-apa kan Van?" Tanya Adel sembari mengelus pundak sepupunya itu.
"Tidak apa-apa kok. Seharusnya dari awal aku tidak berharap lebih." Jawab Vanda sembari menyuguhkan senyum terpaksanya.
"Tapi kok malah Brian ya yang kayak orang nyidam? Memang perasaan kalian itu aslinya sama, sama-sama cinta dan merindukan tetapi hanya keadaan yang tidak memungkinkan. Tapi kamu jangan bersedih ya. Kasian calon anak kamu." Vanda yang mendengarkan nasehat Adel pun hanya mengangguk dan tersenyum.
"Apa kamu sudah melupakan aku Bri. Apa nanti kalau kamu tau anak ini darah daging mu kamu akan bahagia. Tapi aku percaya kalau Frisca bisa membuat kamu bahagian dan membuat kamu jatuh cinta padanya." Gumam hati Vanda yang mencoba menenangkan pikirannya.
\===
Sesampainya di kampus, Vanda dan Adel di sambut dengan kehadiran Vino.
"Selamat pagi my princess. Selamat pagi Adel." Sapa Vino kepada mereka sembari tersenyum lebar.
"Pagi Vino." Sahut Vanda dan Adel bebarengan.
"Gimana princess, apakah baby menginginkan sesuatu kali ini?" Tanya Vino sangat antusias.
Mulai sejak hari itu dia tetap bertekad akan mendekati Vanda dan akan menjadi papa angkat untuk sang calon bayi.
"Tidak kok Vin, anak ku sangat penurut. Dia sangat tidak ingin membuat sang mama kerepotan." Jawab Vanda tersenyum bahagia karena dia dikelilingi dengan orang-orang yang sangat menyayanginya beserta sang anak.
"Padahal aku sudah sangat senang kalau misal anak kamu menginginkan sesuatu, karena pasti aku akan sangat senang untuk menurutinya." Jawab Vino yang tampak kecewa.
"Kapan-kapan kalau anak ini menginginkan sesuatu pasti aku akan mengabari kamu." Jawab Vanda yang menenangkan sembari tersenyum lembut kepada Vino.
"Melihat senyum mu membuat aku semakin menyukai mu my princess. Seandainya kamu menerima ku, pasti aku akan sangat bahagia dan pasti aku akan sangat menyanyangi anak mu." Gumam hati Vino yang masih memandang senyum indah yang terukir di bibir cantik Vanda.
"Vin, kita masuk duluan ya. Kamu sekarang ada kelas tidak?" Tanya Adel yang membuyarkan lamunan Vino.
"Aku ada kelas kok. Ya udah, kalian masuk kelas sekarang, aku juga mau menuju kelas ku." Jawaban Vino yang diangguki oleh Vanda dan Adel.
Setelah obrolan itu selesai mereka langsung menuju ruangan masing-masing.
__ADS_1
\===
Di tempat Brian saat ini, terlihat dia sedang melamun. Entah mengapa setelah tadi pagi Video Call dengan Adel, dia merasa kalau Vanda ada di situ karena tidak sengaja waktu Adel akan mematikan telepon tadi kamera gawainya menangkap sosok Vanda yang terlihat bersedih.
"Apa aku masih menyukai Vanda, kenapa ketika melihat keberadaan Vanda jantung ku masih berdetak kencang." Gumam hati Brian.
"Woi, kenapa kamu melamun saja dari tadi? Kesambet setan tau rasa kamu," kedatangan Alga yang benar-benar membuyarkan lamunan Brian.
"Sialan kamu Al. Alu lagi tidak kesambet setan, tapi ada yang mengganjal di pikiran ku!" Jawab ketus Brian yang tidak terima karena Alga yang datang-datang membuyarkan pikirannya.
"Emang ada apa lagi Bri? Perasaan hidup kamu baik-baik saja." Tanya acuh Alga sembari memainkan gawainya.
"Kamu tadi lihat tidak waktu Adel telepon, aku seperti melihat bayangan Adel yang memperhatikan kita tadi." Tanya Brian dengan rasa penasarannya.
"Perasaan kamu aja kali Bri. Apa jangan-jangan kamu masih suka sama dia makanya kamu selalu kebayang-bayang dia?" Tanya Alga curiga
"Tidak tau persis seperti apa perasaan ku Al, tapi melihat bayangan Vanda tadi, hati ku masih bergetar." Jelas Brian dengan tatapan kosongnya.
"Busyet dah, kamu udah Frisca, masih aja mau ngembat cewek lain. Jangan serakah kamu jadi lelaki. Jangan jadi playboy, cukup aku saja yang playboy. hahaha." Jawab Alga dengan rasa kaget nya dilanjutkan dengan kekehan kecil dari bibirnya.
"Aku tidak serakah, tapi kenyataan soal perasaan." Brian membantah sembari menepuk kepala Alga yang membuat sang empunya mengaduh.
Disela-sela obrolan mereka, ternyata Frisca mendengar dan memperhatikannya. Frisca mengepalkan tangannya mendengar itu semua.
"Kurang ajar kamu Van. Sudah tau Brian adalah milik ku, tetapi kenapa kamu masih selalu mencoba mendekati nya. Kamu juga Del, aku sudah tidak mau berteman dengan kamu lagi karena kamu sudah mengecewakan ku." Gumam hati Frisca yang terlihat sangat emosi.
Bersambung...
Happy Reading All
.
__ADS_1
.