
===
"Sial! Kemana Frisca sekarang. Kenapa telepon tidak di angkat. Aku sudah muak, aku harus membuat perhitungan dengannya." Geram Brian dengan segala kebohongan Frisca selama ini.
Bayangan Vanda pun menari nari di pikiran Brian, terlihat sosok Vanda yang sedang bercanda dengan sang anak yang membuat Brian ingin segera menemui mereka.
"Kenapa aku sebahagia ini ketika mengetahui kalau Vabri adalah anak ku. Ah, kenapa aku tidak menelepon Vanda saja. Tapi aku kan tidak punya nomor Vanda. Oh ya, Adel, aku harus tanya Adel." Brian berbicara sendiri seperti orang beg*. Brian langsung mengambil gawainya dan mulai menghubungi seseorang.
"Halo Bri, ada apa malam-malam telepon?" jawab Adel malas karena tidurnya terganggu.
"Sorry aku ganggu, aku boleh minta nomer teleponnya Vanda tidak? aku benar-benar pengen tahu keadaan Vanda dan anak ku," Brian berbicara memelas.
"Buat apa kamu malam-malam begini mau ganggu mereka? besok pagi kan bisa datang kerumah Vanda,"
"Tolonglah Del, please! Setelah aku mengetahui kebenarannya tadi, aku benar-benar ingin minta maaf kepada Vanda dan ingin dekat dengan anak ku"
"Saran ku jangan ganggu Vanda kalau urusan mu dengan Frisca belum selesai. Tolong jangan tambah beban hidup Vanda lagi, dia bahagia dengan hidupnya sekarang, jangan kamu kacaukan lagi. Sudah, aku tutup teleponnya, kalau kamu pengen membuka hubungan baik dengan Vanda maka segera selesaikan urusan mu dengan Frisca." Ucap Adel panjang lebar karena tidak mau sepupunya itu menderita lagi.
Brian pun menghempaskan tubuhnya di ranjang, pikirannya pun menerawang. Dia ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Frisca, tapi bagaimana keluarga karena sejauh ini hubungan mereka sudah diketahui publik, bagaimana kalau sampai Brian mengecawakan orang tuanya.
"Bedeb*h kamu Frisca, gara-gara kamu Vanda menderita dan aku sampai tidak tahu keberadaan anak ku. Lihat saja bagaimana aku akan membongkar sifat asli mu agar sampai kamu bisa mengakui dan memutuskan hubungan ini." Brian berbicara dengan menahan emosi, segera dia mengambil gawainya dan melihat wallpaper disana, terlihat foto Vanda dengan senyum manisnya terpampang di layar. Setelah puas memandang foto Vanda, Brian segera tertidur.
\===
Esoknya di kediaman Vanda sangat heboh karena Vabri sudah membuat ulah, Vanda pun merasa kerepotan karenanya.
"Sayang, sini dulu nak pakai baju mu, kalau kamu lari-larian terus kita nanti akan telat sampai sekolahnya," ucap Vanda yang masih berlarian untuk menangkap Vabri.
"Sini mom, kejar Vabri, Mom harus bisa tangkap Vabri baru Vabri mau pakai baju." ucap Vabri yang masih berlari karena tidak mau sampai tertangkap sang Vanda.
__ADS_1
"Huft huft. Udah Vabri, sekarang mom nyerah, mom udah tidak kuat lari lagi, buruan kamu kesini," pinta Vanda kepada Vabri dengan terduduk lelah dibawah kursi ruang tamu.
"Tidak mau mom. Mom harus kejar Vabri. Ayo mom." Vabri yang masih berlari dan membuka pintu rumah tak sengaja menabrak tamu yang pernah dia kenal.
"Bugh"
"Auh, sakit." Ucap Vabri meringis ketika tubuh kecilnya menabrak tubuh kekar dihadapannya, tak pelak bokong kecil itupun mendarat langsung ke lantai membuat sang pemiliknya meringis sakit.
"Kamu tidak apa-apa son? maaf karena dad... maksutnya uncle tidak sengaja," ucap Brian sembari mengangkat tubuh kecil Vabri.
"Tidak apa-apa uncle, Vabri minta maaf karena sudah menabrak uncle." jawab Vabri yang masih memegangi bokongnya yang sakit.
Karena mendengar anaknya mengaduh, Vanda pun berlari keluar karena panik akan keadaan Vabri.
"Sayang, kamu kena..pa.." Vanda kaget karena melihat laki-laki yang ada di hadapannya itu. "Ngapain kamu pagi-pagi kesini?" tanya Vanda heran karena sudah melihat Vabri digendongan Brian.
"Maaf, silahkan masuk." Vanda mempersilahkan Brian masuk, terlihat di wajah Brian tergambar senyum bahagia karena akhirnya bisa berkumpul dengan sang pujaan hati dan sang anak.
"Silahkan duduk." Ucap Vanda.
"Mbak, tolong bawa Vabri kedalam dan segera gantikan baju nya." Vanda meminta pengasuh Vabri dan segera menyerahkan Vabri ke dia.
"Maaf Vabri tadi menabrak mu. Oya, mau minum apa? Biar ku buatkan,"
"Terserah kamu saja." Jawab Brian
Tak berselang lama Vanda pun datang membawa nampak berisi kopi panas.
"Silahkan diminum kopinya," ucap Vanda mempersilahkan.
__ADS_1
"Terima kasih." Brian merasa senang karena bisa dibuatkan minum oleh Vanda.
"Kalau boleh tau ada apa kamu kesini? dan dari mana kamu tahu rumah ku?" Vanda penasaran dan kaget karena kehadiran Brian yang tiba-tiba.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan dan sampaikan. Kalau boleh tahu, apakah kamu sudah menikah?" tanya Brian yang seolah olah belum mengetahui kebenarannya.
"Belum. Kenapa kamu menanyakan hal seperti kepada ku?" Vanda semakin penasaran.
"Apa benar kalau Vabri adalah anak ku?" tanya Brian sembari memberikan tatapan tajam kepada Vanda.
*"Kenapa Brian tiba-tiba bertanya seperti ini dan dari mana dia tau kalau Vabri adalah anak ny." Gumam hati Vanda*.
"Kenapa kamu menanyakan ini?"
"Kamu jawab saja, aku hanya ingin memastikan saja."
Vanda terdiam, pikirannya kalut."Dari mana Brian tau tentang kondisi sebenarnya Vabri, dan apa yang akan di lakukan kalau sampai dia tau Vabri adalah anaknya. Aku tidak mau kalau sampai Brian mengambil Vabri dari ku." Gumam Vanda cemas dengan apa yang Brian tanyakan.
Bersambung..
Maafkan Othor, beberapa hari tidak bisa up karena ada sesuatu hal..
Happy Reading All..
__ADS_1