
===
Frisca hari ini benar-benar emosi, dia semakin bertekad tidak akan pernah melepaskan Brian dari genggaman nya.
"Hay semua," sapa Frisca kepada Brian dan Alga.
"Dari mana kamu Fris? Sejak tadi aku tidak lihat kamu?" Tanya Brian kepada Frisca.
"Tadi habis dari kantin sama teman-teman yang lain. Oya sayang, nanti anterin aku kerumah ya, soalnya aku tidak bawa mobil hari ini,"
"Boleh, tapi langsung pulang atau kemana dulu? Soalnya aku harus kekantor papa," Tanya Brian
"Langsung pulang aja deh, aku mau langsung istirahat." Jawab Frisca tersenyum lembut seakan menutupi rasa kecewanya kepada Brian.
\===
Jam kuliah pun berakhir, sesuai yang disepakati tadi Brian mengantarkan Frisca pulang. Sesampainya di halaman rumah, Brian bermaksud untuk pamit ke kantor tapi langsung di cegah oleh Frisca.
"Kamu jangan pergi dulu ya sayang. Kamu mampir anterin aku kamar dan tungguin aku istirahat sampai aku tertidur baru kamu tinggal. please?" Mohon Frisca agar dituruti oleh Brian.
"Ya udah, aku antar kamu ke kamar. Tapi langsung istirahat ya, aku takut kesorean nanti ke kantor nya." Jawab Brian yang diangguki oleh Frisca.
Sesampainya di kamar Frisca, Brian duduk di sofa kamar, sembari menunggu Frisca dari kamar mandi. Tapi setelah kamar mandi itu terbuka sontak membuat Brian kaget bukan kepalang, karena dia melihat Frisca yang hanya berbalut handuk berjalan kearah lemari pakaiannya. Frisca masih berdiri disana, sambil memilih pakaian di dalam lemari, sesekali Frisca melihat sosok Brian di kaca pintu lemari. Frisca tersenyum puas melihat reaksi Brian.
Melihat Brian yang tergoda dengan penampilan Frisca itu, membuat Frisca melancarkan aksinya. Dia berjalan kearah sofa dimana Brian duduk. Frisca berjalan lenggak lenggok menampilkan tubuh sexy nya yang masih berbalut handuk.
Frisca duduk mendekati Brian, mencondongkan tubuhnya menuju bibir Brian. Di pagutnya bibir Brian lembut membuat sang pemilik itu kaget bukan main, tetapi karena dari awal memang Brian tergoda dengan tubuh Frisca, Brian mulai mengikuti permainan Frisca.
Ciuman panas beserta ******* itu semakin menjadi, diboponya tubuh Frisca ke ranjangnya. Brian mulai berkabut nafsu, bibir dan tangan pun tidak berhenti memainkan perannya masing-masing, tetapi di tengah-tengah aksinya entah kenapa bayangan Vanda muncul di pikiran Brian sontak membuat Brian berhenti dari aksinya.
"Sial. Kenapa aku bisa seperti ini lagi. Aku tidak boleh melakukannya lagi. Aku sudah janji kepada orang tua ku, aku tidak mau mengecewakan mereka. Vanda, terima kasih sudah menyadarkan aku." Gumam hati Brian sembari bangkit dari tubuh Frisca dan mulai merapikan penampilannya dan berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Hampir saja kamu menjadi milik ku Brian, kenapa kamu tidak melanjutkannya lagi." Gumam Frisca yang tampak kecewa karena Brian menghentikan aksinya.
Brian terlihat keluar dari kamar mandi, terlihat lebih segar karena dia habis mencuci wajahnya. Brian menuju ke sofa dan mengambil barangnya.
"Maafin aku Fris, aku lepas kontrol. Aku pastikan lain kali tidak akan terjadi lagi." Ucap Brian yang merasa bersalah kepada Frisca.
"Kenapa harus berhenti sayang, kita kan pernah melakukannya, kenapa kamu tidak melanjutkannya lagi?" Tanya Frisca menuntut yang sudah mulai menciumi bibir Brian lagi.
Brian mendorong pelan tubuh Frisca dengan kedua tangannya memegang kedua pundak Frisca.
"Awalnya kita salah Fris, jangan melakukan kesalahan lagi. Mari kita jaga semua ini sampai waktunya tiba. Aku pamit dulu." Brian berlalu dari kamar Frisca.
"Kurang ajar kamu Bri, aku sudah sangat mengharapkan mu, tetapi kenapa kamu tidak mau dengan ku." Frisca terlihat frustasi, karena gairahnya tidak tersalurkan itu akhirnya dia mengambil gawainya dan menelepon seseorang.
"Hallo, kamu dimana? Ketemuan sekarang ya? Oke, aku menuju ke apartemen mu." selesai melakukan panggilan telepon itu, Frisca langsung bersiap untuk bertemu seseorang yang dia telepon tadi.
\===
"Kamu ada apa tiba-tiba kesini?" Tanya sang pria lembut.
Tiba-tiba Frisca langsung memeluk lelaki itu dengan sangat erat.
"Aku merasa kecewa, aku dikhianati Brian. Selama ini dia tidak pernah mencintaiku." Ucap Frisca dengan berderai air mata.
Melihat seperti itu, lelaki itu mendekapnya dengan sangat erat, serasa menyalurkan ketenangan disana.
"Udah kamu tidak usah sedih, ada kau disini disamping mu. Kamu bisa meluapkan rasa kecewa mu dengan aku." Senyum lembut sang pria itu.
Frisca mulai tenang dan melepaskan pelukannya, lelaki itu tiba-tiab menarik lembut dagu Frisca, mengecup lembut bibir Frisca itu. Frisca yang mendapat perlakuan itu pun membalas ciuman itu karena memang tadi gairahnya belum tersalurkan.
*******-******* kecil itu semakin lama berubah menjadi ciuman. Lidah mereka bertemu, saling saut menyaut dan menyesap disana dengan penuh gairah ciuman mesra itu berubah menjadi ciuman panas, keduanya saling bertukar air liur, saling menyesap dan menggigit kecil bibir sang pasangan.
__ADS_1
"Aku sudah tidak menahannya lagi sayang, bolehkah?" Tanya lelaki itu yang sudah berkabut gairah, mata sayu dengan nafas yang sudah tidak beratur lagi.
Pertanyaan itu hanya diangguki oleh Frisca. Dengan perlahan lelaki itu membopong Frisca menuju ranjang kamar, di turunkannya Frisca perlahan. Bibir mereka kembali menyatu, tangan lelaki itu tidak mau diam memainkan perannya dengan apik. Entah sejak kapan pakaian mereka sudah teronggok dilantai dan mereka sudah saling tanpa busana. Ketika sang lelaki itu sudah mengarahkan senjatanya tiba-tiba Frisca mengaduh kesakitan.
"Ugh. pelan-pelan saja, karena ini yang pertama untuk ku." Pinta Frisca yang masih merasa takut akan sakitnya hal pertama itu.
"Tenang sayang, kamu cukup nikmati saja karena aku akan melakukannya dengan perlahan." Jawab lelaki itu menenangkan, terlihat senyum kecil yang terpancar dari wajah lelaki itu.
"Aku lelaki beruntung karena akan menjadi lelaki pertama mu sayang." Gumam pelan sang lelaki itu serasa tersenyum puas akan apa yang di dapatkannya.
Adegan panas itu pun selesai terjadi, setelah lelaki itu menyemburkan cairan itu kerahim Frisca. Setelah selesai, Frisca berjalan pelan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai Frisca langsung mengambil obat yang ada di tas nya dan meminumnya.
"Apa yang kamu minum itu sayang?" Tanya lelaki itu sambil berjalan kearah Frisca.
"Ini pil kontrasepsi. Aku tidak mau hamil saat ini, karena aku masih menginginkan Brian yang jadi pendamping hidupku." Jelas Frisca yang membuat sang lelaki kecewa, tetapi dia mencoba untuk menutupinya. Lelaki itu pun memeluk mesra tubuh langsing Frisca seakan tidak ingin melepaskannya.
"Aku menurut kata kamu saja sayang, yang jelas aku akan menerima kamu apa adanya karena aku juga yang pertama untuk mu. Apapun alasan kamu berbohong tentang kejadian itu kepada Brian yang jelas aku akan tetap ada untuk mu." Jelas Rendi, ya lelaki itu adalah Rendi.
Karena Frisca merasa Rendi mampu untuk memberikannya sebuah kepuasan tanpa menuntut apapun dan tidak akan membocorkannya kepada siapa pun.
Bersambung..
Happy Reading All
.
__ADS_1
.