Di Hpss

Di Hpss
Ada Yang Aneh Dengan Ku


__ADS_3

===


Di Kediaman Brian pun hari ini nampak berbeda, pasalnya dari bangun tidur tadi pagi Brian benar-benar merasa tidak nyaman pada perutnya.


"Hoek hoek" Brian mencoba mengeluarkan semua isi perutnya, tapi nihil karena dari tadi pagi Brian sudah memuntahkan nya belum lagi ketika perutnya diisi seakan tidak mau menerima makanan.


"Gimana sayang, apa masih mual terus perutnya? Apa perlu kita panggil dokter saja ya?" tanya mama Rita sambil memijat tengkuk leher Brian.


"Iya ma, kayaknya akan mendingan kalau sudah diperiksa dokter, karena kepala Brian juga semakin pusing," jawab Brian yang sudah terlihat pucat.


"Ya udah, ayo kembali ke tempat tidur kamu. Mama akan meminta pelayanan agar menelepon dokter keluarga kita." Jawab Rita sambil memapah Brian yang terlihat sempoyongan karena lemasnya.


Setelah ditunggu lebih dari 30 menit, dokter paruh baya pun datang.


"Selamat siang Nyonya dan Tuan muda, ada apa sampai pelayan rumah telepon saya dengan keadaan panik?" Tanya dokter Bambang yang sudah memasuki kamar Brian.


"Begini dok, anak saya dari pagi muntah-muntah terus, ketika diberi makan maka akan dikeluarkan terus. Tolong diperiksa dok, saya takut anak saya akan dehidrasi." Jelas mama Rita yang terlihat sangat khawatir karena kondisi Brian.


Dokter yang mendengar penjelasan Rita pun langsung memeriksa kondisi Brian. Karena sangat pusing dan mual, Brian sampai tidak mampu membuka matanya karena merasa kabur pandangannya.


"Setelah saya periksa mungkin tuan muda kecapekan dan telat makan. Saya akan meresap kan obat dan vitamin untuk tuan muda," ucap sang dokter dengan menuliskan resep untuk Brian dan menyerah kan kepada mama Rita.


"Terima kasih dok." Ucap mama Rita


"Sama-sama nyonya." Ucapnya sembari tersenyum. "Tetapi melihat kondisi tuan muda seperti ini malah kelihatan seperti seorang sedang mengidam saja." Lanjut sang dokter sambil tertawa.


"Deg" tiba-tiba jantung Brian seperti berhenti seketika mendengar ucapan sang dokter.


"Apa iya seperti orang mengidam, apa jangan-jangan Frisca sedang hamil anak ku?" Gumam Brian dalam hati, walau matanya terpejam tapi dia selalu mendengar kan ucapan sang dokter dan mama nya.


"Dokter ini bisa saja. Anak saya pasti cuma kecapean dokter." Jelas mama Rita yang tidak terima karena anak nya di prasangka seperti itu.


"Nyonya jangan marah begitu, saya cuma bercanda saja, jangan di masukkan dalam hati. Kalau begitu saya pamit nyonya dan tolong jangan lupa ditebus ke apotik obatnya. Semoga tuan muda lekas sembuh." Ucap sang dokter sembari membungkuk kan badannya memberi hormat.


"Terima kasih dokter." Mama Rita yang mempersilahkan dokter itu untuk meninggal kamar Brian.


"Semoga memang benar Frisca tidak hamil, kalau sampai hamil benar-benar bisa malu keluarga ku ini. Dasar anak nakal, kenapa kamu bertindak sembrono seperti itu." Sungut sang mama dalam hati, merutuki sikap anaknya yang sangat menjengkelkan.


\===

__ADS_1


Di dalam cafe, terlihat 2 orang sahabat yang sedang duduk bersama melepas rindu, karena sudah lama tidak bertemu. Terlihat mereka sedang mengobrol dan sesekali mereka tertawa lebar, entah apa yang mereka sedang bicarakan.


"Gimana penyakit kamu Fris, apakah sudah tidak pernah kambuh lagi?" Tanya Rendi kepada Frisca yang masih menikmati minuman kesukaan nya itu.


"Udah baik sekarang Ren dan jarang kambuh malahan, mungkin karena kondisi hati aku yang sedang bahagia terus makanya jarang kambuh," jawab Frisca tersenyum menampakkan gigi putih itu.


"Syukurlah kalau seperti itu Fris, aku bahagia mendengarnya. Tapi apa Brian sudah mulai membuka hati buat kamu? Karena kita tau dia dulu sangat suka dengan Vanda?" Tanya Rendi hati-hati.


"Seperti sudah menerima ku Ren, karena Brian tidak pernah menolak keinginan ku dan selalu ada buat aku." Jawab Frisca sangat antusias


"Aku ikut bahagia dengannya. Tapi Frisca, kalau sampai Brian nyakitin kamu, jangan sungkan kamu kasih tau aku, biar Brian aku kasih pelajaran." Tegas Rendi sambil menatap serius kearah Frisca.


"Tenang saja Ren, Brian tidak akan nyakitin aku. Aku yakin dia laki-laki yang bertanggung jawab." Jelas Frisca karena tidak terima Rendi memojokkan Brian.


"Semoga saja Frisca, karena kalau sampai Brian nyakitin kamu maka aku orang pertama yang akan menghajar dia karena sebenarnya aku sangat mencintaimu Frisca." Ucap Rendi menekankan kata CINTA yang sontak membuat Frisca tercengang tidak percaya.


"Apa! Kamu bercanda kan Ren?" Tanya Frisca yang sangat terkejut.


"Aku dari awal sudah cinta sama kamu Frisca, cuma aku tidak punya keberanian saja untuk mengungkapkan itu sama kamu. Tapi kamu tenang saja, aku melihat kamu bahagia itu sudah cukup, maka bahagialah Frisca agar aku mampu untuk melepasmu," ucap Rendi serius sambil matanya masih fokus menatap manik mata Frisca dengan reaksi yang masih terkejut.


"Kamu tenang saja Ren, aku pasti bahagia, jadi tolong kamu lupain aku." Ucap Frisca sembari berdiri dari kursinya yang tampak kecewa dengan pernyataan cinta Rendi. Tapi sebelum Frisca benar-benar pergi dari cafe itu, Rendi kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Frisca berhenti sejenak.


Setelah mendengar ucapan Rendi, Frisca langsung berlalu meninggalkan cafe itu.


"Aku harap kamu mau mempertimbangkan diriku Frisca, karena aku tulus mencintaimu." Gumam dalam hati Rendi yang masih melihat kepergian Frisca sampai tidak terlihat dari hadapannya.


Sedangkan diparkiran cafe, terlihat Frisca yang masih berada didalam mobil, menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Pikiran nya pun menerawang jauh setelah mendengar kata-kata Rendi di cafe.


"Kenapa aku jadi kepikiran dengan yang diomongkan Rendi. Apa nanti Brian akan ninggalin aku setelah dia tau kebenarannya." Pikiran Frisca semakin tak menentu. Ada rasa takut yang menderanya.


Karena tidak mau memusingkan apa yang dikatakan Rendi, maka Frisca memutuskan untuk pergi ke rumah Brian karena tadi pagi dia menerima kabar kalau Brian tidak bisa masuk kuliah karena sakit.


\===


Setelah beberapa menit, akhirnya Frisca sampai di rumah Brian.


"Tok tok tok" ketukan suara pintu itu membuat sang penjaga rumah keluar.


"Eh non Frisca. Silahkan masuk non, tuan muda baru istirahat sekarang." Sapa bi Darmi yang mempersilahkan Frisca masuk.

__ADS_1


"Terima kasih bi, saya langsung ke kamar Brian aja. Oya, tante ada di rumah tidak bi?" Tanya Frisca sembari mengedarkan pandangannya mencari sang calon mama mertuanya.


"Nyonya ada di kamar tuan muda nona. Silahkan nona langsung keatas saja."


Mendengar penjelasan sang pelayan, Frisca langsung naik menuju kamar Brian.


"Tok tok tok" permisi tante.


Sapa Frisca yang melihat mama Rita masih duduk di samping ranjang Brian. Dilihatnya Brian yang masih memejamkan mata menandakan dia masih tertidur.


"Masuk Frisca. Kesini sama siapa?" Mama Rita sembari tersenyum menyambut Frisca.


"Saya sendiri tante. Ini saya bawakan buah untuk Brian. Bagaimana kondisi Brian sekarang tan? " Frisca menyerahkan buah yang dia bawa tadi.


"Ya ampun Frisca, kamu repot-repot sekali. Brian sudah mendingan nak, sekarang baru istirahat setelah meminum obat tadi. Oya nak, tante boleh tanya sesuatu?" Tanya mama Rita hati-hati.


"Ingin tanya apa tan?" Jawab Frisca sembari mendudukkan pantatnya ke ranjang Brian yang sesekali melihat Brian tertidur membuat Frisca semakin gemas dibuatnya.


"Emm, apa kamu akhir-akhir ini merasa pusing atau mual gitu?" Tanya mama Rita dengan ekspresi yang sangat penasaran.


"Saya baik-baik saja tan, malah sehat lagi. Emang kenapa tan?" Tanya Frisca penasaran.


"Tidak kenapa-kenapa kok nak. Tapi kamu tidak sedang telat datang bulan kan nak?" Tanya mama Rita lagi untuk memastikan dan menuntaskan rasa penasarannya.


"Saya baru saja selesai datang bulan tan. Emang kenapa sih tan, kok tanya aneh-aneh begini?" Frisca yang semakin dibuat bingung dengan pertanyaan calon mertuanya itu.


"Tidak apa-apa nak. Oya, bagaimana kabar papa dan mama kamu?" Tanya mama Rita untuk mengalihkan rasa penasaran Frisca.


"Mama dan papa baik tan. Tadi mereka juga kirim salam dan minta maaf karena belum bisa jenguk Brian," ucap Frisca yang tanpa curiga apapun dengan pertanyaan-pertanyaan mama Rita tadi.


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Bilang kepada orang tua mu, tidak usah mencemaskan Brian karena Brian sudah baik-baik saja." Ucap mama Rita sembari memegang kedua tangan Frisca dan hanya di angguki oleh Frisca.


"Semoga Frisca tidak curiga dengan pertanyaan-pertanyaan ku tadi. Tapi kenapa aku merasa aneh disini, tapi aneh kenapa ya." Gumam mama Rita yang menepis segala prasangka didalam hatinya.



Bersambung..


Happy Reading All... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2