Di Hpss

Di Hpss
Merasa dekat


__ADS_3

===


Malam hari Brian baru sampai di rumah. Terlihatnya di parkiran rumah itu sudah ada mobil terpakir disana yang jelas itu bukan mobil milik keluarga Brian. Brian pun keluar dari mobil dan menuju kerumahnya.


Sesampainya di dalam rumah Brian terkejut di sana sudah berkumpul dua keluarga antara keluarga Brian dan Frisca. Inilah yang ditakutkan Brian, karena dia belum bisa kalau harus menikah dengan Frisca, hatinya masih menolak kehadiran Frisca.


Selama ini Frisca selalu mencoba menggodanya dengan berbagai cara, tapi Brian masih bisa keluar dari jebakan itu, karena dia tidak mau melakukan kesalahan lagi.


"Kamu sudah pulang Bri? Buruan kamu mandi dan segera turun kesini karena ada hal penting yang akan kami bicarakan dengan kamu." Ucap papa Bima ketika meilhat putra nya sudah berdiri di ujung ruangan itu.


"Baik pa, aku naik dulu. Permisi om dan Tante." Ucap Brian yang sudah melangkah ke anak tangga menuju kamarnya.


"Apa waktu nya sudah tiba. Apa mereka akan membicarakan tentang rencana pernikahan ku. Sial, padahal aku belum siap harus menikah dengan Frisca karena entah mengapa ketika melihat Vanda tadi hati ku menjadi tidak karuan." Gumam pelan Brian sembari menyugar rambutnya ke belakang, terlihat raut wajah frustasi disana.


\===


Kedua keluarga pun sedang mengobrol santai di ruang bawah, Frisca di sana sedang duduk manis hanya sebagai pendengar saja. Ketika dia mulai suntuk karena obrolan orang tua itu tiba-tiba gawainya berbunyi.


"Ting" suara pesan masuk, dilihatnya nama Rendi di sana.


("Sedang apa sayang? Aku kangen kamu, sudah satu minggu kita tidak bertemu.") pesan dari Rendi.


("Aku sedang di rumah Brian sekarang. Orang tua kita lagi membahas soal rencana pernikahan ku. Aku juga merindukan mu beb.") balas pesan Frisca.


("Apa kamu benar-benar tega meninggalkan ku untuk menikah dengan nya? Aku sangat mencintai mu sayang.") balas Rendi.


("Maaf kan aku beb. Kamu dari awal sudah tahu sendiri kalau aku sangat menyukai Brian, walau Brian selalu menolak untuk aku sentuh tapi hati ku masih untuk dia.") balas pesan Frisca.


("Bagaimana dengan ku sayang? Apa kamu tega meninggalkan aku.") jawab pesan Rendi, terlihat disana Rendi sangat sedih dan kecewa


("Tenang saja beb, aku akan tetap bersama mu walau aku berstatus istrinya Brian karena aku sudah nyaman bersamamu.") balas pesan Frisca yang terlihat menghembuskan nafas kasar membuat sang mama bertanya-tanya.


"Kamu kenapa Fris? Ap kamu lelah?" Tanya mama Rita sembari memperhatikan anaknya.


"Tidak ma, cuma agak pegal saja badan ku. Tapi tidak apa-apa kok." Jawab Frisca berbohong dan hanya diangguki oleh sang mama.


Brian turun dari tangga, dia benar-benar terlihat sangat tampan dengan pakaian casualnya berjalan ke arah sofa. Frisca selalu saja terpesona ketika melihat Brian, tapi merasa sedih karena belum bisa meluluhkan hatinya.


"Sini sayang, kamu duduk di sebelah ku saja." Ucap Frisca sembari menepuk kursi sofa di sebelahnya, Brian hanya diam saja dan mengikuti arah yang di tunjuk Frisca.


"Bri, kedatangan om dan tante kesini untuk membahas tentang kelanjutan hubungan kalian, karena waktu kelulusan kuliah dulu kamu meminta diundur 1 tahun kemudian maka kesepakatan kita dari awal harus segera dilaksanakan. Bagaimana Bim?" Tanya papa Frisca kepada Bima.

__ADS_1


"Kalau aku setuju saja, lebih cepat lebih baik karena Brian juga sudah bisa menghandle perusahaan jadi aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang masa depan perusahaan." Sahut Bima serius


"Bagaimana kalau acaranya kita adakan 3 bulan lagi?" Tanya mama Vero sangat antusias, karena dia tahu Frisca sudah sangat ingin hubungannya dengan Brian segera di resmikan.


"Bagaimana dengan kalian Brian dan Frisca?" Tanya papa Frisca


"Kalau aku siap-siap saja pa, tapi tidak tahu bagaimana Brian. Gimana kamu sayang? Kamu kan sudah janji setelah kuliah akan menikahi ku?" Tanya seolah menampilkan wajah bersedihnya.


"Baik pa, aku menurut saja." Jawab singkat Brian


\====


Ke esokan harinya Brian berangkat ke kantor menyetir sendiri mobilnya, ketika di pinggir jalan dia melihat ada anak kecil yang sedang menangis, setelah di dekati betapa kagetnya anak kecil itu adalan Vabri anak yang di jumpai di lobi kantor sekaligus anak dari Vanda.


"Kamu kenapa menangis di sini son?" Tanya Brian sembari menenangkan Vabri yang masih sesenggukan menangis, karena merasa ada yang mengajak berbicara Vabri langsung mengangkat wajahnya dan langsung memeluk Brian.


"Uncle, tolong bantu aku. Aku tersesat tidak tahu arah pulang. Tadi aku bermain dan keluar dari rumah untuk mengejar kucing, tapi setelah sampai di sini aku tidak tahu arah pulang." Jawab Vabri yang masih menangis di pelukan Brian.


"Ya udah, kamu sama uncle dulu terus nanti uncle coba telepon daddy mu." Ucap Brian dan langsung mengangkat tubuh kecil Vabri.


Brian menggondang Vabri dan membawanya ke dalam mobil.


===


Karena Brian tidak tahu dimana rumah Vino, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantornya Vino saja. Ketika mobil sudah sampai di kantor Vino, Vabri langsung turun dan berlari kearah daddy nya.


"Daddy. Vabri takut. Hiks hiks hiks." Vabri yang langsung memeluk erat Vino membuat Vino kaget, kenapa pagi-pagi seperti ini sudah berada di kantor dan di antar oleh Brian.


"Vabri, kenapa kamu kesini di antar bersama uncle Brian?" Tanya Vino sembari menyapa Brian dan menyalaminya.


"Tadi aku  tersesat dad, untung ada uncle itu." Jawab Vabri sembari menunjuk kearah Brian.


"Terima kasih pak, sudah mengantarkan anak saya ke ke sini." Ucap tulus Vino kepada Brian


"Sama-sama pak, lain kali lebih di jaga saja putra nya jangan sampai hilang lagi. Maaf karena tidak tau rumahnya jadi saya bawa kesini saja."


"Sekali terima kasih, lain kali kami akan lebih memperhatikan lagi. Untuk ucapan terima kasih bagaimana kalau kita pergi ngopi dulu karena masih ada beberapa menit sebelum jam masuk kantor," ajak Vino


"Terima kasih untuk tawarannya tapi saya harus segera ke kantor karena ada meeting pagi ini, kalau begitu say permisi dulu." Ucap Brian menatap gemas Vabri dan sekali mengelus kepalanya.


\====

__ADS_1


Sedangkan dirumah Vanda sekarang masih dalam keadaan cemas karena sang anak tidak ditemukan pagi ini.


"Bagaimana mbak, apa Vabri sudah di temukan?" tanya Vanda kepada pengasuh Vabri.


"Maaf kan saya Nyonya muda, saya sudah mencari sekeliling rumah tapi tidak menemukan tuan muda Vabri." Jawab takut mbak pengasuh.


"Ya ampun, dimana kamu sayang, mommy takut kamu kenapa-kenapa." Lirih Vanda yang sangat panik.


Tak berselang lama gawai Vanda berbunyi.


"Halo Vin, ada apa?" tanya Vanda.


"Aku cuma mau kasih tau kalau Vabri dikantor ku sekarang. Kamu jangan bingung nyarinya ya." Ucap Vino lembut, dia tau kalau Vanda pasti sekarang sedang kebingungan mencari Vabri.


"Ya ampun, ternyata Vabri di kantor kamu! Aku panik banget dari tadi nyari tidak ketemu, tapi kenapa bisa sampai di kantor kamu? Apa tadi kamu culik?" tanya Vanda menyelidik.


"Tidak, katanya tadi abri main keluar rumah dan tersesat, untung ada teman clien yang menemukannya dan membawanya ke kantor ku." Jelas Vino


"Terima kasih ya Vin, nanti biar Vabri di jemput sama supir ku. Maaf karena merepotkan mu." Ucap Vanda tulus.


"Iya sama-sama. Tidak usah buru-buru menjempunya, karena aku masih kangen sama Vabri."


"Iya, tapi aku takut kalau nanti merepotkan mu."


Panggilan itupun terputus. Vanda merasa lega karena putranya sudah di ketemukan.


"Kamu harta ku yang paling berharga sayang, mommy takut jauh dari kamu." Gumam hati Vanda sambil mengelus foto Vabri di layar kaca gawainya.


 



Bersambung..


Happy Reading All


.


 


.

__ADS_1


__ADS_2