DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
Guru killer


__ADS_3

Seorang gadis berlari tergesa di lorong kelas XII. Dia tidak mempedulikan penampilan nya yang begitu acak - acak an, baju kusut, rambutnya yang berantakan, bahkan ikat rambut yang semula mengikat nya pun kini sudah terlepas. Entahlah, jatuh di mana. Matanya beberapa kali melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Jarum jam itu ternyata menunjukan angka tujuh lebih sepuluh menit, mampus. Dirinya sudah terlambat, ia merafalkan doa dalam hati semoga guru matematika yang harusnya mengajar itu tidak masuk.


Manik mata berwarna cokelat itu kini berbinar, saat hanya beberapa langkah lagi menuju pintu kelasnya. Dengan terburu, dia mendobrak pintu kelas itu.


Semua murid beserta guru yang mengajar di kelas XII IPA 2 itu kini menolehkan kepalanya, saat mendengar suara pintu yang di dobrak.


"Rachelia Amora Dirgantara," panggil guru itu dengan suara yang rendah.


Sedangkan gadis yang bernama Rachel itu kini menelan ludahnya gugup, kedua telapak tangan nya bahkan sudah berkeringat.


Seluruh murid yang di kelas pun merasakan perasaan yang sama, pasalnya guru itu terkenal killer, dan tidak pandang bulu untuk menghukum siswa yang terlambat, apalagi cara masuk Rachel yang sangat bar - bar.


'mampus gue!' batin Rachel menjerit.


"I-iya, pak," jawab Rachel gugup saat guru yang sedang menerangkan materi itu menatapnya dengan tajam.


"Terlambat, hm?"


"Iya pak," jawab Aurel menundukan kepalanya gugup. Sungguh, guru di depannya ini terlihat menyeramkan, dia bagaikan dewa pencabut nyawa.


Guru itu terlihat menganggukan kepalnya, tangan kanan nya di masukan ke dalam saku celana. "Duduk."


Entah Rachel yang terlalu lola, atau gurunya yang terlalu berbicara singkat, sehingga kata - katanya tidak dapat di serap oleh otak Rachel yang terlalu minim.


"Maksudnya, pak?" tanya Rachel mengerjakan matanya polos.


"Saya yakin kamu tidak budeg!"


Rachel mencebik kesal ketika mendapatkan jawaban dari gurunya. Dia berlari kecil ke arah bangkunya dengan kepala yang menunduk saat kini teman - teman di kelasnya memperhatikannya.


Mungkin mereka merasa aneh, karena tidak biasanya murid yang terlambat bisa lolos begitu saja.

__ADS_1


Rachel merasa kan aneh sama seperti yang lainnya, tapi tidak urung hembusan napas lega keluar dari mulutnya saat ia berhasil mendudukan bokongnya di kursi.


"Lo tuh kenapa sih bisa terlambat? Udah tau ini pelajaran si guru killer!" tanya Zaskia lalubis, yang merupakan teman sebangkunya.


"Biasa," jawab Aurel menyengir kuda.


Zaskia hanya menggelengkan kepalanya, sudah biasa sahabatnya itu terlambat akibat marathon drama Thailand. Kadang Zaskia berpikir, di saat orang lain lebih menyukai drakor, tapi sahabatnya itu hanya menyukai drama Thailand.


"Zaskia, Rachel, kalian mau belajar atau terus bergosip?" tanya guru itu sembari mengetukan penghapus pada bor.


Sontak kedua gadis itu menutup mulutnya rapat, mereka menundukan kepalanya masing - masing, saat tatapan guru itu bagaikan laser yang mematikan.


Saat guru itu kembali menolehkan kepalanya ke arah bor. Rachel menatapnya dengan berang, dia meletakan lidahnya seolah meledek guru itu. 'dasar guru nyebelin!'


Alvino Rakha SatyaWidjaya, guru  muda yang mempunyai wajah datar, serta jutek. Siapa sih, yang tidak mengenal dirinya? Bahkan mungkin seluruh orang di penjuru sekolah pun mengenalnya. Dia mempunyai julukan guru yang super duper killer.


Entahlah, mengapa seluruh murid si sekolah ini sangat mengidolakan parasnya yang rupawan, tapi tidak dengan Rachel. Menurutnya, pak vino itu guru yang paling menyebalkan, guru yang tidak mentorerir jika muridnya berbuat kesalahan.


Sontak, tubuh Rachel menegang. Otaknya bekerja keras untuk mengingat tugas apa yang guru itu berikan?


"Tugas yang mana?" tanya Rachel berbisik sambil menyenggol lengan sahabatnya.


"Tugas yang semalam di share di grup, ege!" jawab Zaskia dengan berbisik pula.


"Ko, gue gak tahu?"


"Lo nya terlalu asik nonton drama sih, jadinya gak nyadar kan, bada chatt masuk dari grup."


Seketika Rachel menelan ludahnya yang terasa pahit. Mampus sudah, pasti sekarang pak Vino tidak akan memaafkan nya.


"Ah, tugas ya..." Rachel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bola matanya bergerilya menatap ke sana, kemari untuk mencari jawaban yang pas.


Sedangkan pak Vino menaikan sebelah alisnya untuk menunggu jawaban dari murid yang jarang sekali mengerjakan tugas.

__ADS_1


"Saya... Gak tau, pak, kalau bapak ngasih tugas," jawab Rachel menyengir tidak berdosa.


"Loh, bukan kah, Saya sudah menyuruh kalian untuk meng share nya di grup?"


"Dani, kamu sebagai ketua kelas, bukan nya saya sudah menyuruh kamu untuk memberitahukan nya pada seluruh teman sekelas mu?" tanya pak Vino pada Dani, ketua kelas XII IPA 2.


"Sudah saya share ko, pak," jawab Dani mantap, yang membuat wajah Rachel semakin pias.


"Tuh, kan, kamu dengar sendiri. Lalu apa alasan yang akan kamu berikan kali ini, Rachelia?"


"Saya ketiduran, pak. Karena tugasnya di berikan terlalu malam," Rachel berusaha mengelak.


"Benar, itu?" Seluruh murid di kelas pun menggeleng ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari pak Vino.


"Bukan nya, sebelum Maghrib juga sudah di share, ya?" Celetuk Agnes, yang merupakan bendahara kelas XII IPA 2.


Sontak Rachel langsung menatap tajam ke arah Agnes. Sedangkan sang empu hanya cengengesan sembari menunjukan jari telunjuk dan jari tengah.


"Maju," titah pak Vino dengan suara yang begitu datar.


Karena tidak ingin membuat gurunya lebih marah lagi, Rachel pun maju. Dia berdiri di depan seluruh murid . Sungguh rasanya malu sekali, jika Rachel bisa memilih, lebih baik dia membersihkan WC. Ketimbang harus di hukum di hadapan seluruh teman nya.


"Kaki kanan angkat!" Rachel pun menuruti perintah pak Vino.


"Angkat juga kedua tangan kamu, lalu tempelkan di telinga," karena merasa telah di kerjain, Rachel pun hendak protes.


"Kamu protes, saya tambah hukuman nya!" Pak Vino menunjuk Rachel dengan pengagaris panjang, yang biasanya di gunakan untuk bor.


Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Rachel pun terpaksa menuruti perintahnya.


"Bagus. Tetap seperti ini sampai jam saya habis, ya?"


Kedua mata Aurel langsung membulat. Apakah dia sudah gila? Dia ingin menghukumnya berdiri di sini selama tiga jam? Rasanya ingin sekali Rachel mengumpati pak Vino.

__ADS_1


__ADS_2