DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
berangkat bareng


__ADS_3

Jika Minggu merupakan hari yang paling di tunggu, maka tidak dengan hari Senin. Semua siswa maupun siswi pasti selalu berharap jika hari Senin di tiadakan saja, karena mereka malas jika harus berpanas - panasan upacara bendera di bawah sinar matahari.


Seperti seorang gadis yang berbalut seragam putih abu itu sedari tadi mulutnya tidak pernah berhenti untuk terus mengoceh.


"Kenapa sih, pake nyiptain hari Senin segala. Coba aja kalau gak ada hari Senin, mungkin gak ada tuh, acara panas - panasan di bawah sinar matahari," dumel Rachel dengan mulut yang terisi penuh oleh makanan.


"Kita melakukan upacara itu sebagai bentuk penghormatan pada pahlawan kita yang telah gugur di Medan perang. Meskipun jika tidak ada hari Senin pun, mungkin bisa aja kita tetap melakukan upacara di hari yang lain. Lagian ya kamu tuh harusnya bersyukur, kamu lahir di saat bangsa ini sudah merdeka. Coba deh, kamu bayangin kalau kamu lahir pas negara ini masih di jajah. Gimana nasib kamu?" Ujar Vino panjang lebar.


Rachel memeletakan lidahnya menye - menye. Masih pagi, sudah harus di ceramahin saja.


Saat ini mereka berdua sedang berada di meja makan untuk menyantap sarapan nya masing - masing.


Di rumah besar nan megah milik Vino, tidak ada pembantu atau asisten rumah tangga satupun. Bukan nya Vino tidak mampu untuk menyewa ART, tapi dia hanya ingin Rachel bisa hidup mandiri. Tidak melulu harus menyuruh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan nya.


Lagipula, Vino sudah terbiasa hidup sendiri. Jadi, dia juga bisa melakukan apapun dengan sendiri. Termasuk memasak, dan mencuci baju.


Bahkan kini sudah menikah pun fia tetap melakukan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Rachel. Gadis itu hanya bisa makanya langsung makan. Baju Vino mencuci nya pakai mesin cuci.


Setelah menyelesaikan sarapan nya, Rachel segera bangkit dari kursi meja makan. "Saya berangkat duluan ya, mas."


"Eh, tunggu," Rachel yang sudah berjalan pun mambalikan badan nya kembali.


Vino ikut bangkit dari duduknya, dia masih menyisakan seperempat nasi goreng di piring. Tungkainya melangkah ke arah meja ruang tamu untuk mengambil tas kerja nya.


"Yuk, kita berangkat bareng," ajak Vino.


"Eh, enggak - enggak. Gak ya, mas! Nanti kalau ada murid lain yang lihat kita berangkat bareng gimana?"


"Gak bakal ada yang lihat, percaya deh sama saya," ujar Vino berusaha meyakinkan.


"Pokonya, saya gak mau berangkat bareng."


"Ya sudah, kalau kamu gak mau. Tapi jangan salahkan saya kalau kamu terlambat ke sekolah," Vino segera berjalan keluar meninggalkan Rachel.


Rachel melirik jam yang tertempel di dinding. Jam sudah menunjukan angka 06.20, jika menunggu angkot pasti akan membutuhkan waktu sepuluh menit. Sedangkan jarak dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu tiga puluh menit.


Suara mesin mobil yang dinyalakan menyadarkan Rachel dari keterdiaman nya. Gadis itu segera berlari menuju keluar sebelum dirinya benar - benar di tinggalkan oleh Vino.

__ADS_1


"Katanya gak mau berangkat bareng," sindir Vino pada Rachel yang kini sudah duduk di kursi penumpang dengan napas ngos - ngosan akibat berlari.


"Udah, deh, mas, gak usah banyak omong. Mending sekarang jalanin mobilnya, nanti kesiangan."


Vino segera menginjak pedal gas mobil dan meninggalkan pekarangan rumah nya. Suasana di dalam mobil itu hanya di isi dengan suara penyiar radio untuk mengisi keheningan.


"Rachel," panggil Vino.


"Apa?" Jawab Rachel dengan malas.


"Kita kan, sudah menikah. Mas rasa, jika memanggil saya itu terlalu formal. Jadi gimana kalau kita ubah jadi aku aja?" Saran Vino meminta pendapat.


"Hm, terserah mas aja. Aku mah ikut aja," sebenarnya Rachel juga sedikit canggung ketika menyebut dirinya menggunakan kata saya.


Senyum di bibir Vino terukir saat Rachel menurutinya dengan mengubah cara bicaranya. Mereka berdua pun kembali saling terdiam, karena Vino tidak tahu mau berbicara apalagi. Rachel pun sepertinya malas berbicara dengan Vino.


Saat jarak ke sekolah tinggal beberapa meter lagi, Rachel memikirkan sesuatu.


"Kalau gue turun di sekolah, yang ada murid lain pada curiga dong," batin Rachel.


"Mas, stop!" Ujar Rachel saat tiba di halte sekolahnya.


"Aduh! Mas, kalau nyetir tuh hati - hati, dong," Rachel mengusap kening nya yang sedikitĀ  merah.


"Ya maaf, abisnya kamu sih ngagetin mas."


"Udahlah, aku mau turun di sini aja," Rachel meraih ransel nya yang berada di kursi belakang.


"Ko turun di sini sih?"


"Nanti kalau Sampai sekolah, yang ada murid lain pada curiga. Jadi, aku turun di sini aja," ucap Rachel turun dari mobil.


Kepala Vino mengangguk mengerti. Bener juga sih. Pria itu kemudian menyodorkan telapak tangan nya ke depan wajah Rachel.


"Apaan" tanya Rachel tidak mengerti.


"Salim dulu sama suami," Lantas Rachel menerima uluran tangan itu, dia mengecup punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Ya udah, saya duluan ya," Vino mengacak rambut Rachel terlebih dahulu sebelum dirinya benar - benar pergi meninggalkan Rachel.


Rachel langsung mematung di tempat, dia memegang dada nya yang berdetak kencang.


"Tong gue, kayanya gue punya penyakit jantung," monolog Rachel masih dengan memegang dadanya yang masih terasa berdebar.


Sepersekian detik, Rachel menggelengkan kepala nga. "Gak! Lo gak boleh sampe suka tuh sama si Vino. Inget Rachel, o itu udah punya Leo," Rachel segera melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.


Untuk saja tidak ada murid lain yang melihatnya turun dari mobil Vino. Jika ada, mungkin mereka akan curiga.


"Chel... Rachel," panggil seseorang di koridor.


Merasa suara itu familier, Rachel bergegas mempercepat langkahnya. Dia belum siap jika harus bertemu saat ini.


Leo terus mengejar langkah Rachel yang tertinggal. Dia merasa bingung sendiri, apakah dirinya berbuat salah sehingga Rachel menghindarinya? Tapi Jika memang dirinya ada salah, kenapa Rachel tidak langsung menegor nya saja?


"Chel, tunggu," Leo menahan tangan Rachel saat akhirnya berhasil mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.


Kepala Rachel terus menunduk dengan kedua tangan yang terus menggengam ts biru laut nya. Untuk saat ini dia bener - bener belum siap jika harus bertemu dengan Leo, dirinya belum siap melihat binar mata kekasihnya tergantikan dengan sorot redup saat mendengar berita menyakitkan bahwa dirinya sudah menikah.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Leo mengangkat dagu Rachel menggunakan jari telunjuknya. Sehingga yang tadinya menunduk kini jadi mendongkak.


"Aku gapapa ko," Rachel menarik ujung bibirnya untuk memaksakan tersenyum.


"Bohong!" Leo tahu bahwa ada yang di sembunyikan oleh Rachel. Tapi gadis itu tidak ingin mengungkapkan nya.


"Bener, Leo, udah ya, aku ke kelas dulu."


"Terus kenapa kamu gak ada kabar selama tiga hari belakangan, ponsel kamu juga gak aktif.


Rachel kembali menghentikan langkah kakinya. Dia ingat betul, tiga hari yang lalu adalah hari di mana pernikahan dirinya dengan Vino. Hari yang akan merubah semuanya, dan karena itu pula rach yang tadi nya tidak berbohong pada Leo kini berani berbohong.


"Aku sibuk, terus ponsel aku lupa di charger," jawab Rachel tanpa membalikan badan nya.


"Memangnya kamu gak bisa ngabarin aku? Emang berapa lama sih waktu yang terpake jika kamu ngabarin aku? Gak sampe satu jam kan? Apa emang aku gak se berarti itu buat kamu?" tanya Leo menggebu.


"Cukup, ya Leo! Aku sudah cukup di pusingkan dengan semua permasalahan yang menimpa aku, jadi kamu tolong jangan bikin aku bertambah pusing. Jika kamu terus seperti ini, lebih baik kita break," setelah mengatakan itu, Rachel pergi meninggalkan Leo yang masih mematung di tempat.

__ADS_1


Sebenarnya Rachel tidak berniat untuk mengatakan semua itu, dirinya hanya terpancing emosi ketika Leo terus menanyainya. Pedahal kan, dia sudah bicara baik - baik. Tapi Leo terus bertanya seolah memojokan nya.


Ah, rasanya Rachel menyesal sekali telah melontarkan kata - kata tadi, pasti Leo sangat sakit hati. Biarkah nanti pas istirahat menemuinya, sekaligus meminta maaf pada Leo.


__ADS_2