DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
Awal yang baru


__ADS_3

Hari ini merupakan hari Sabtu, hari di mana sekolah Rachel libur, saat ini dia sedang mengantarkan mama papa nya ke bandara untuk pergi ke Jerman.


"aaaa mama gak boleh pergi, gapapa deh biar papa aja yang pergi," Rachel memeluk Renata erat, seolah tak mengizinkan mama nya pergi.


"Gak bisa gitu dong, kalau mama gak ikut, nanti papa nya kedinginan siapa yang peluk?" Arman menaik turunkan kedua alisnya.


Rachel mengerucutkan bibirnya kesal. "Lagian ya, abang aja belum pulang, kalian ko malah pergi ke sana, nanti aku sama siapa."


"Lah kamu kan udah punya suami," ucap Arman.


"Rachel gak mau tinggal sama pak Vino," rengek Rachel


"Kamu itu kan sekarang udah punya suami, jadi kamu harus ikut suami," mengingat jika dirinya sudah menikah semakin membuat Rachel merasa kesal. Rachel pun segera menghamburkan pelukan pada Renata, dia pasti akan sangat merindukan mama nya sekali.


Pemberitahuan penerbangan pesawat menuju Jerman sudah terdengar, dengan terpaksaa, Renata pun mengurai pelukan Rachel. Dia terkekeh pelan saat melihat wajah putrinya yang di tekuk.


"Mama, papa berangkat dulu, ya, sayang. Kamu harus jadi istri yang baik buat Vino," Renata mencium kening putrinya.


"Vino, papa percayakan putri papa sama kamu ya."


"Papa tenang aja, Vino pasti akan jagain istri Vino," ucap Vino dengan mantap.


Renata dan Arman pun tersenyum mendengar itu. "Ya udah, kalau gitu papa sama Mama pergi sekarang ya," pamit Arman Renata.


"Hati - hati, ya ma, pa," ucap Rachel dan Vino berbarengan kemudian mencium tangan mama dan papa nya secara bergantian.


Setelah berpamitan, Arman dan Renata menarik kopernya kearah pesawat, saat berada di pintu pesawat Arman dan Renata membalikan badan nya. Mereka melambaikan tangan ke arah Rachel.


Rachel pun membalas lambaian tangan mereka degan kedua mata yang berkaca - kaca. Sebelumnya dia belum pernah tinggal jauh dengan orang tuanya, sekarang saat dia mau di tinggalkan, rasanya begitu sulit sekali.


Rachel meninggalkan bandara dengan Vino yang berada di sampingnya nya. Pria itu tahu bagaimanaa perasaan Rachel saat ini. Hari ini juga Vino niatnya mau ngajak pindah Rachel ke rumah yang sudah di siapkan nya sejak lama.


Suasana di dalam mobil itu hanya ada keheningan yang melanda. Vino sedang fokus menyetir, sedangkan Rachel menatap jalanan pagi ibu kota yang masih nampak ramai.


Hari baru dengan status baru nya sudah di mulai, saat ini dirinya harus belajar lebih mandiri.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kini mobil Vino berhenti sebuah komplek perumahan elit. Rachel pun mengikuti langkah vino yang turun dari mobil.


Kedua mata Rachel mengerjap saat melihat rumah berwana putih gading di depan nya. Rumah berlantai satu dan cukup luas. Inikah kehidupan barunya? Apakah dia akan tinggal serumah dengan pria di samping nya dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Maaf, kalau rumahnya tidak sebagus dan seluas rumah kamu," ucap Vino.


Rumah ini merupakan hasil jerih payahnya sebagai seorang guru dan rumah ini juga yang bisanya Vino tempati. Memang sih, rumahnya tidak sebesar rumah keluarga Vino dan keluarga Rachel. Tapi cukuplah jika di tinggali untuk berdua.


Rachel membuka pintu rumah barunya, dia menelisik ke seluruh penjuru rumah. Rumah ini cukup rapi dan bersih, dan juga sudah di isi oleh beberapa perabotan, mungkin nanti jika perlu Rachel hanya cukup membeli tambahan nya saja untuk memenuhi isi rumah ini.


Vino segera menarik koper Rachel untuk membantu ke sebuah kamar. "Ini kamar kita," tunjuk Vino pada sebuah kamar bernuansa abu.


"K-kita?" tanya ulang Rachel.


"Iya, kita, kan udah jadi suami istri. Jadi gak ada salahnya kan, kalau kita tinggal satu kamar?


Rachel tersenyum kecut, setelah tinggal satu rumah sekarang harus tinggal satu kamar juga? Ya sudahlah. Mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, jadi dia tidak bisa mengelak lagi.


Saat hendak menata bajunya ke dalam lemari, Vino segera menahan pergerakan nya. "Biar saya aja yang beresin," Vino segera mengambil alih baju dari Rachel.


Tentu saja Rachel pun merasa senang, karena dirinya tidak usah capek - capek membereskan baju. Vino sendiri yang menawarkan nya untuk membereskan semua baju nya.


Tubuh lelah Rachel di lempar ke atas kasur, dia memejamkan matanya sebentar saat akhirnya dia bisa menyentuh kasur empuk. Setelah acara kemarin selesai, Rachel malam nya tidak bisa tidur dengan nyenyak, di tambah lagi hari ini dia mengurus - ngurus kepindahan nya. Sehingga membuat tenaganya semakin berkurang banyak.

__ADS_1


Vino membalikan badan nya ke belakang. Bibirnya menyungging tipis saat melihat kedua mata Rachel sudah tertutup. Melihat tidur Rachel yang menggantungkan kakinya ke bawah, tentu saja Vino tidak tega. Dia pun segera membetulkan letak tidur Rachel dan menutupi tubuhnya dengan selimut sebatas dada.


...***...


Matahari menyingsing perlahan - lahan di ufuk barat. Di gantikan dengan sinar jingga yang menyinari.


Hawa dingin akibat hujan reda beberapa saat lalu menusuk melalui pri - pori. Membuat seseorang yang masih di atas kasur kembali mengeratkan selimutnya.


Saat akan kembali menuju pulau mimpi, sebuah suara dari perutnya mencuri atensi. Aroma masakan yang terbawa angin menusuk Indra penciuman nya, membuat suara dari perutnya bertambah nyaring.


Jika sudah begini dia tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi. Karena asupan perut lebih penting. Rachel turun dari kasurnya dengan mengenakan sendal beludru rumahan berwarna pink.


Rachel mengikuti aroma yang menggiurkan di hidungnya itu. Saat sudah tiba di dapur, Rachel melihat seorang pria berbadan tegap sedang berkutat di depan kompor beserta wajan di atasnya.


"Lagi masak apa tuh?" Tanya Rachel.


"Eh, Rachel kamu sudah bangun? Ini saya lagi masak nasi goreng, pasti kamu lapar kan?" tanya Vino sambil menuangkan nasi goreng itu ke atas piring.


"Wah pasti enak tuh, apalagi perut saya sudah keroncongan sejak tadi."


Vino hendak menjauhkan jangkaun piring saat Rachel hendak menggapainya. Dia menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Kamu tuh, baru bangun jadi gak bisa langsung makan, Sanah mandi dulu," tunjuk Vino pada pintu kamar mandi yang ada di dapur.


"Tapi saya udah laper banget, pak. Nanti saja Jani deh mandi, tapi sekarang saya mau makan dulu ya," Pinta Rachel dengan wajah yang memelas.


"Kamu tuh ko jadi cewk jorok banget, nanti kalau makanan nya ke campur sama iler kamu gimana?"


"Saya gak ileran ko, pak," Rachel mengusap ujung bibirnya menggunakan ujung baju.


"Kamu mandi sekarang, atau gak makan sama sekali?!"ancam Vino.


Belum sampai 5 menit, Rachel sudah keluar lagi dari kamar mandi, kini dia sedang duduk manis di kursi meja makan. Vino yang melihat itu pun menyegrnyit bingung, apakah istrinya itu benar - benar mandi?


"Ko ceper banget mandinya?" Tanya Vino.


Rachel menampilkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "Saya cuman cuci muka doang, abisnya saya udah keburu lapar. Kalau nanti saya mati kelaparan gimana?" Rachel mendramatisir.


Kepala Vino hanya bisa menggeleng melihat tingkah murid yang merangkap menjadi istrinya itu, tapi tak urung dia pun memberikan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi goreng.


Tangan Rachel menyendokan nasi goreng itu kedalam mulut. Dia memejamkan matanya beberapa saat untuk menikmati rasa nasi goreng itu.


"Gimana?" Tanya Vino was - was.


"Enak banget," ujar Rachel dengan mata yang berbinar. Dia pun kembali memakan nasi goreng itu dengan lahap.


Tanpa sadar kedua sudut bibir Vino tertarik ke atas, rasanya sangat bahagia sekali ketika mengetahui Rachel menyukai masakan nya.


Sedangkan Rachel dia masih santai memakan masakan Vino, dia tidak peduli jika di katain istri tidak bertanggung jawab, karena tidak bisa memasak. Karena memang kenyataan nya seperti itu. Siapa suruh juga di umurnya yang ke 17 tahun ini dirinya sudah di nikahkan.


Rachel meneguk air mineral di dalam gelas itu sampai tandas, lalu dia bersendawa dengan cukup kencang. Rachel tak menyangka jika masakan Vino akan se enak ini, jika tau begini dia pasti akan meminta untuk di masakan setiap hari.


Vino hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh ya, udah makan tuh bukan nya di cuci piring kotornya tapi malah leha - leha begini," omel Vino.


"Loh,ko saya sih,ya bapak lah yang cuci piring!" Rachel memencet remote tv untuk memindahkan channel.


Ujung - ujung nya Vino cuman bisa mengalah, dan berakhir dia lah yang mencuci piring bekas keduanya.


"Eh mau ke mana, pak?" tanya Rachel saat Vino sudah selesai mencuci piring lalu melewatinya begitu saja.

__ADS_1


"Ke kamar," mata Vino melirik k arah Rachel yang kakinya di tumpang. Seperti nyonya besar saja. Sedangkan dirinya yang laki - laki harus masak dan juga membereskan rumah ini.


"Duduk dulu sini lah, pak," Rachel menepuk sofa kosong samping nya.


Vino mendudukan tubuhnya di spring Rachel, tapi tidak ada satu katapun yang kunjung keluar dari bibir mungil gadis itu.


"Kamu mau ngomongin apaan? Buruan, saya masih banyak pekerjaan yang harus di urus!"


Sebelum memulai, Rachel berdehem terlebih dahulu untuk membasahi kerongkongan nya yang terasa kering. "Gini pak, kita kan, menikah karena terpaksa, dan bapak juga pasti sudah tahu dong, kalau saya sudah punya pacar."


"Terus?" tanya Vino saat Rachel tak kunjung melanjutkan perkataan nya.


"Kita buat perjanjian gimana?" Tawar Rachel.


"Perjanjian yang kaya gimana?" tanya Vino.


"Gini, kan saya gak cinta sama bapak, terus bapak juga pasti gak cinta kan, sama saya? Jadi, gimana kalau kita tetap jalanin rumah tangga ini, tapi di antara kita gak boleh ada yang protes, kalau kita punya pacar masing - masing?"


Vino nampak terdiam beberapa saat, lalu kemudian akhirnya dia menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan perjanjian yang telah Rachel buat.


"Oke kalau gitu, berarti saya bebas ya pacaran sama Leo, dan saya juga gak akan larang ko, kalau bapak mau ngehabisin waktu berdua bareng pacar bapak."


"Tapi sebelum itu, saya punya satu permintaan," ucap Vino.


"Permintaan apa?" tanya Rachel mengernyitkan kening nya bingung.


Vino merapatkan duduknya dengan Rachel, sedangkan Rachel menatap was was kearah pria itu, dia tidak bisa lebih mundur lagi, karena jika terus mundur tubuhnya aka terjatuh ke lantai.


"Panggil saya mas," bisik Vino di telinga Rachel, membuat sejujur tubuhnya meremang. Bahkan kini jantung nya berdetak abnormal.


"Ya gak bisa dong,kan andar guru saya," protes Rachel gugup.


"Di sini status saya sebagai suami kamu. Jika kamu ngebabtah, kamu akan tahu akibatnya!"


"Tap--" seketika mata Rachel melotot kaget, saat dengan cepat Vino membungkam mulutnya menggunakan mulut Vino.


Tangan Rachel langsung mendorong dada bidang Vino, namun pria itu malah semakin memperdalam ciuman nya.


Setelah merasa pasokan oksigen semakin menipis, Vino melepaskan pangutan itu. Tangan vino terangkat mengelus binie ranum Rachel yang membengkak karena ulahnya.


"MAMA! BIBIR RACHEL UDAH GAK SUCI LAGI," gadis itu menutup wajahnya yang memerah.


Perasaan nya saat ini sungguh campur aduk. Antara malu, seneng, dan mau lagi. Jujur, sebelumnya Rachel belum pernah melakukan hal yang semacam itu. Walaupun dirinya sudah berpacaran lama denga Leo, tapi lelaki itu tidak pernah menuntut nya.


"PAK VINO JAHAT! PAK VINO UDAH NYURI FIRST KISS RACHEL," teriak Rachel menjambak jambul Vino, membuat sang empu meringis kesakitan.


"Kalau kamu tetap Jambak rambut saya, saya akan cium lagi bibir kamu sampe dower," Vino memajukan wajahnya dengan bibir yang di monyongkan.


Sontak Rachel berlari ke arah kamar sambil berteriak. "DASAR PAK VINO, UDAH TUA, NYEBELIN, BANGKOTAN, MESUM LAGI!"


"Heh kalau kamu sebut saya tua dan bapak lagi saya bikin kamu gak bisa jalan ya!" Ancam Vino.


Brak.


Pintu kamar tertutup dengan kerasa, membuat Vino mengelus dadanya karena merasa kaget. Tapi bukan nya marah, pria itu malah tertawa melihat tingkah Rachel yang sangat menggemaskan. Sepertinya mulai saat ini, menggoda istrinya adalah hobinya.


Sedangkan di dalam kamar, Rachel menggigit bantal karena saking gemasnya. Dengan kaki yang di hentakan di atas kasur, dia terus menggerutu.


"Ini kenapa jantung murahan banget sih. Kenapa udah kaya dugem aja detaknya kenceng banget. Lagian pak Vino juga, main nyosor aja," gerutu Rachel menelungkupkan wajahnya di atas bantal dengan posisi badan tengkurap.

__ADS_1


__ADS_2