DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
mall


__ADS_3

Saat ini kedua sejoli itu sedang berkeliling mall dengan tangan yang saling menggenggam. Niat Rachel di hari weekend untuk bermanja di atas kasur dan cuci mata melihat artis Thailand pun harus sirna ketika suaminya itu mengajak nya berkeliling mall.


"Kamu tuh kenapa sih, ko dari tadi di tekuk terus wajahnya. Kaya gak ikhlas banget gitu saya ajak ke mall."


"Ya, abisnya bapa--" Rachel segera menutup mulutnya saat dia hampir keceplosan memanggil Vino dengan sebutan bapak lagi. Kan bisa bahaya jika Vino menyerangnya di tempat ramai seperti ini.


"Maksud saya tuh, lagian mas ko maksa banget ngajak saya ke mall. Kan harusnya hari Minggu itu waktunya saya bareng suami - suami saya" lanjut Rachel.


"Suami kamu kan, saya. Apa jangan - jangan kamu sebelum menikah tuh sudah punya suami?" tanya Vino memicingkan mata.


Rachel menepis jari telunjuk Vino di depan wajah nya. Tanpa merespon apa yang di ucapkan oleh Vino, dia berjalan terlebih dahulu dengan kaki yang di hentakan.


Mall hari Minggu nampak ramai oleh para pengunjung. Ada yang sekedar bermain Timezone, menonton bioskop, bahkan shopping.


Mata Rachel terbelalak saat melihat seorang lelaki ber jaket denim dan jeans panjang berwarna biru memasuki sebuah boneka dengan menggandeng gadis yang berkisar umur 10 tahunan.


"Eh... Kamu kenapa ko narik - narik saya," tanya Vino saat kini Rachel berbalik badan dan menarik tangan nya memasuki sebuah toko baju.


"Udah deh, mas diem aja, gak usah banyak protes," Rachel meletakan jari telunjuknya di depan bibir Vino.


Pria berusia 25 tahun itu pun mengatupkan bibirnya rapat, dia memperhatikan gerak - gerik istrinya yang terus menatap ke arah toko boneka itu dengan gelisah.


Perasaan cemas Rachel terus menyelimutinya, dia takut kalau Leo akan mengetahui dirinya ada di sini. Jika Leo melihat dirinya dengan Vino di sini, pasti lelaki itu akan curiga.


"Kamu tuh kenapa sih?" tanya Vino seraya berjongkok bersembunyi di balik manekin baju.


"Di toko boneka itu ada Leo, jadi mas diem aja deh. Saya gak mau ya, kalau Leo sampe tahu saya lagi jalan sama mas," jawab Rachel berbisik.


Vino menganggukan kepalanya mengerti. Setelah kebingungan nya terjawab,dia tidak banyak bertanya lagi, dia juga ikut memantau Leo seperti yang Rachel lakukan.


"Permisi, mas, mbak, kalian lagi ngapain ya di sini?" tegur salah satu pegawai toko baju itu saat melihat Rachel dan Vino.


"Jangan - jangan kalian berdua mau maling ya," lanjut karyawan itu menuduh Rachel dan Vino.


"Eh, engga, mbak. Saya gak maling ko, suer," jawab Rachel menunjukan jari tengah dan jari telunjuknya.


"Alah, bilang aja mbak itu mau maling kan? Mana ada sih maling mau ngaku," nyolot karyawan itu.


"Eh, mbak, kalau ngomong tuh di jaga, ya. Saya masih mampu ko kalau harus beli toko ini juga, jadi ngapain saya harus maling?!" jawab Rachel tak kalah nyolot.


"Security... Security, tolong, di sini ada maling," teriak karyawan itu memanggil keamanan.


Rachel membelalakkan matanya saat justru karyawan wanita yang ada di depan nya itu malah memanggil security.


Dia hendak menjambak rambut perempuan yang ada di depan nya, tapi tertahan saat tangan Vino menggengam. Ah, bukan, lebih tepatnya menyeret nya keluar dari toko itu.


Langkah kaki Rachel terseok - Seok, dia berusaha mensejajarkan langkah Vino yang begitu lebar. Saat sudah berada di bassement parkiran, Rachel segera menghempaskan tangan Vino.


"Mas tuh ngapain sih, pake nyeret - nyeret aku keluar dari mal?!"


"Yang harusnya nanya itu saya, kamu memangnya mau cari malu ribut dengan karyawan tadi?"


"Ya orang dianya nuduh saya maling. Ya, saya gak terimalah," jawab Rachel bersedekap dada.


"Sekarang juga kamu masuk mobil!" tidak Vino mutlak.


"Loh, kan tadi, mas, yang maksa - maksa saya untuk ikut ke mall. Masa sekarang udah harus pulang sih?"


"Ya karena kamu tuh cuman bisa bikin malu saya aja."


"Yaudah, kalau mas malu pulang, pulang aja. Saya mau tetap di sini," Rachel melangkahkan kakinya meninggalkan vino di bassement parkiran sendirian.

__ADS_1


Vino hanya bisa berdecak kesal melihat tingkah keras kepala Rachel. Dia pun segera berlari menyusul langkah istrinya.


"Ngapain mas ngikutin saya? Katanya saya cuman bisa bikin malu mas doang?!" tanya Rachel dengan wajah jutek.


"Oke, saya gak akan ngajak pula. Tapi, saya minta kamu jangan buat keributan kaya tadi lagi."


"Hm," jawab Rachel berdehem singkat.


Mereka berdua memasuki mall kembali dengan tangan saling bergandengan. Vino dan Rachel menuju ke lantai tiga tempat di mana bioskop berada.


Saat sampai Vino bertanya terlebih dahulu. "Mau nonton apa?"


Rachel nampak berfikir sambil mengetuk dagu. "Film horor aja, deh."


"Kamu yakin?" tanya Vino memastikan. Pasalnya dia tahu bahwa Rachel takut dengan hantu.


"Ya yakin lah, mas takut?" goda Rachel.


"Ya enggak lah, Kenap juga saya harus takut. Yaudah, oke, kita nonton film horor."


Akhirnya mereka menonton film dengan genre horor, dan pilihan nya jatuh pada film jailangkung sandekala.


Setelah mengantre cukup lama untuk membeli tiket, kemudian mereka membeli popcron dan minuman untuk cemilan nanti di dalam.


Lima menit lagi film akan segera di mulai, Vino dan Rachel bergegas memasuki teater. Mereka duduk di kursi paling pojok baris belakang. Vino sengaja memilih tempat itu, biar sekalian modus.


Lampu bioskop pun mulai di matikan. Belum apa - apa, tubuh Rachel sudah menegang saat mendengar sound yang cukup menyeramkan memasuki gendang telinga nya.


...***...


Sepanjang film di putar, Rachel terus menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan. Sedangkan Vino menatap fokus pada film yang ada di depan nya dengan sesekali memasukan popcorn ke dalam mulutnya.


"Kalau takut gak usah di tonton!" Sindir Vino.


"Siapa bilang saya takut? Saya gak takut ko, kan saya berani," bantah Rachel saat di bilang dirinya penakut. Karena tidak ingin di ledek penakut lagi oleh Vino, dia pun membuka telapak tangan nya dan fokus menonton.


Saat melihat adegan yang menyeramkan Rachel langsung berteriak, refleks Rachel memeluk tubuh Vino dan meremas kuat jaket yang di kenakan oleh pria itu.


Mendapat serangan mendadak seperti itu Vino pun tak kalah kaget sekaligus senang. Karena merasa menang banyak.


Bahu Rachel bergetar hebat, dia menyesal karena sudah so berani ingin nonton film horor. Pedahal aslinya penakut. Vino yang merasa tidak tega segera membalas pelukan Rachel, dia mengusap punggung gadis itu berusaha untuk menenangkan.


Sampai film selesai, Rachel terus memeluk Vino dengan erat. Entah ia sadar atau tidak. Vino tidak ingin menyadarkan Rachel, karena kapan lagi bisa mudus kaya gini?


Karena merasa sedikit lebih tenang, Rachel mengurai pelukan nya. Dia menatap sekeliling, ternyata saat ini sudah sepi tersisa hanya Rachel dan Vino.


"Udah merasa baikan?" tanya Vino menyelipkan anak rambut Rachel yang menghalangi wajah cantik nya.


Hanya anggukan yang membalas pertanyaan dari Vino. Merekapun keluar dari studio dua itu dengan tanga yang saling bergandengan.


Setelah dari bioskop, kini kedua sejoli itu berkeliling dahulu. Rachel meminta untuk ke Gramedia terlebih dahulu, karena katanya ada peluncuran novel terbaru dari penulis favoritnya.


Kedua mata gadis itu berbinar saat melihat jejeran novel yang berada di deretan rak yang menjulang tinggi.


Kini Rachel sedang berdiri di sebuah rak fiksi, di tangan nya terdapat dua novel. Ia bingung harus membeli yang mana, karena dua - duanya ceritanya bagus dan dari penulis favoritnya pula.


"Kenapa?" tanya Vino menghampiri Rachel yang nampak kebingungan.


"Ini saya bingung banget mau beli yang mana, soalnya dua duanya ceritanya bagus semua."


"Yaudah, tinggal beli aja semuanya," jawab Vino enteng.

__ADS_1


"Ya gak bisa dong, mas, duit saya kan, gak ada lagi," keluh Rachel.


"Kamu kan, ada saya. Jadi tenang aja nanti saya bayarin, kan saya punya banyak duit," ujar Vino menepuk dada nya sombong.


Rachel mencibir pelan Vino. Dia berjalan kearah kasir dengan menenteng kedua novel yang tadi. Rachel bukan orang jaim seperti yang lain nya jika di berika pura - pura menolak, pedahal dalam hati mau.


Jika sudah di beri, yang langsung terima aja toh. Karena kapan lagi kan dapat gratisan?


Antrian kasir saat ini cukup panjang, sehingga membuat Rachel mengeluh karena kakinya mulai terasa pegal.


"Kenapa?" tanya Vino tiba - tiba yang mengagetkan Rachel.


"Antrian nya banyak banget, saya pegel tahu!"


"Yaudah, kamu duduk aja di bangku itu, biar saya yang ngantri di sini," tunjuk Vino pada salah satu bangku yang terdapat di depan Gramedia.


"Beneran?" Rachel memastikan.


"Iya, bener."


Dengan senang hati, Rachel pun langsung menyerah kefua novel yang ada di tangan nya itu pada Vino. Biarlah Vino saja yang mengantre.


Setelah Rachel pergi, seorang ibu - ibu pun bertanya pada Vino."itu adek nya ya mas? Adeknya beruntung banget ya punya kakak kaya mas, udah ganteng baik pula mau mengantre agar adek nya gak kecapean."


Vino yang mendengar itu pun hanya tersenyum. "Itu istri saya, buk."


"Oalah, istri toh. Memang ya, pacaran anak zaman sekarang tuh pada ngeri. Masih SMA juga udah pada nikah, karena hamidun duluan," ujar ibu - ibu yang satunya lagi. Dia mengira bahwa Rachel hamil duluan. Karena jika tidak hamil duluan, mana mungkin di usianya yang masih muda itu dia mau menikah.


Vino tidak langsung menanggapi ucapan yang di lontarkan oleh ibu - ibu tadi. Pria itu menyerahkan barang belanjaan nya pada kasir dan menanyakan berapa total nya.


"Totalnya jadi 250.000, mas," ujar kasir itu yang sejak tadi terus memperhatikan Vino.


Mbak kasir itu menerima tiga lembar uang berwarna merah yang di berikan oleh Vino. Setelah mendapatkan kembalian nya, Vino pun segera bergegas pergi.


Tapi sebelum benar - benar pergi Vino pamit terlebih dahulu pada ibu - ibu tadi. "Saya dulun ya, Bu. Oh iya, soal yang tadi, istri saya tidak hamil duluan ko, kami nikah muda itu karena kami di jodohkan oleh kedua orang tua kami."


Setelah mengatakan itu, Vino pergi meninggalkan kedua ibu tadi yang sedang terdiam kaku. Mereka merasa malu karena sudah berbicara asal nyeplos.


Manik mata Vino mengedar menatap keseluruh toko yang berada di Gramedia. Ke mana Rachel pergi? Bukan nya dia sudah menyuruhnya untuk menunggu si kursi, tapi kenapa gadi itu tidak menurutinya?


Tangan Vino merogoh saku celana jeans nya untuk mengambil ponsel. Dia berdecak kesal,saat ponsel Rachel ternyata tidak dapat di hubungi.


"Kamu ke mana sih, Rachel?" Panik Vino.


Saat sedang fokus pada ponselnya, seseorang dari belakang menepuk bahunya.


"Kamu tuh dari mana sih, Rachel, saya tuh khawatir sama kamu!"


"Tadi saya habis dari kamar mandi, mas," jawab Rachel sembari menyengir kuda.


"Ya kan, kamu bisa kasih tahu saya dulu."


"Orang namanya kebelet, mana sempet ngasih tahu mas!"


Vino hanya bisa menghela napas kasar. "Ya udah habis ini kita mau makan atau mau ke mana?


"Kita pulang aja, ya mas, makan nya di rumah aja, di masakin mas."


"Yaudah yuk."


Keduanya berjalan meninggalkan mall dengan beriringan, dan tangan Vino yang bertengger manis merangkul tubuh Rachel yang lebih pendek darinya.

__ADS_1


__ADS_2