
Sang pemimpin upacara berdiri tegak di tengah lapang memberi komando kepada seluruh siswa agar mengikuti upacara dengan khidmat.
Upacara bendera sudah di mulai sejak sepuluh menit yang lalu. Sudah beberapa kali decakan keluar dari bibir peserta upacara yang mengeluh akan panasnya sengatan matahari.
Daun kering berjatuhan dari dahan pohon akibat sepoyan angin yang berhembus kencang. Sang saka merah putih pun berkibar di atas tiang bendera. Suasana khidmat melebur dengan gerakan tali yang di tarik ke bawah oleh sang pengibar.
Suara gurusak grusuk mulai terdengar saat nasihat dari pembina upacara di mulai.
Di depan, sang pembina upacara dengan gagahnya berdiri di atas mimbar menyampaikan amanat upacara.
"Lakik lo, ganteng banget ya," bisik Zaskia saat melihat wajah Vino yang terpapar sinar matahari. Di sertai dengan keringat yang menetes dari rambutnya, membuat ketampanan pria itu berkali lipat.
Memang sangat kebetulan sekali, hari ini yang menjadi pembina upacara adalah Vino. Membuat semua murid yang biasanya mengeluh kepanasan kini sangat bersemangat untuk menjalani upacara.
"Dih biasa aja, ganteng juga Leo," jawab Rachel.
"Lo bisa bilang gini sekarang, ntar lama - lama juga pasti lo akan kepincut."
"Gak akan ya! Pokonya di hati gue cuman ada Leo seorang!"
Setelah satu jam berdiri di bawah terik matahari, kini upacara bendera telah selesai di laksanakan. Kini seluruh murid memasuki kelasnya masing - masing untuk kegiatan belajar mengajar.
Sebagian murid ada yang tetap kekeuh berbelok ke kantin, tapi para anggota OSIS bergerak cepat menyusul para murid yang berbelok ke kantin.
Rachel memasuki kelas dengan langkah gontai, Zaskia yang merasakan ada perubahan pada sahabat nya pun menatap aneh ke arah Rachel.
"Pengantin baru, ko loyo gitu si muka nya," goda Zaskia mencolek bahu Rachel saat kini mereka sudah duduk di bangku nya masing - masing.
"Pusing banget gue sama semua ini," Rachel mengusap wajahnya frustasi.
"Pusing kenapa sih lo? Udah nikah juga pusing Mulu hidup lo."
"Ya pusinglah, coba lo bayangin ada di posisi gue, gue itu udah punya pacar, dan gue sayang sama pacar gue. Tapi gue juga udah punya suami, gue bingung harus gimana."
"Yaudah sih, menurut gue mah nih ya, mending lo tinggalin yang gak pasti - pasti aja. Kan kalau sama pak Vino lo udah pasti tuh, udah nikah."
"Tau deh pusing, gue ke kamar mandi dulu ya. Kalau ada guru tolong izinin."
"Perlu gue antar gk?"
__ADS_1
"Gak usah," Rachel segera meninggalkan kelas.
Jarak dari kelas menuju toilet lumayan jauh. Harus melewati beberapa kelas dahulu.
Sedangkan di dalam kelas XII IPA 5, Leo melihat Rachel yang sedang berjalan sendirian melewati kelasnya. Tanpa menghiraukan guru perempuan yang mengejar di kelasnya, dia segera bangkit dari duduknya dan pergi tanpa izin.
"EH LEO KAMU MAU KE MANA?!" teriak Bu Ratna, guru bahasa Indonesia yang saat ini sedang mengajar di kelas Leo.
Tanpa mejawab pertanyaan dari sang guru, lelaki itu terus melangkah keluar kelas. Sedangkan Bu Ratna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah murid nya yang satu itu.
Saat sudah ke luar kelas, Leo celingukan mencari Rachel. Ke mana pergi nya gadis itu? Kenapa dia berjalan cepat sekali.
Leo segera mengejar langkah gadis yang sedang berjalan di ujung lorong.
"Rachel..."
Tubuh Rachel menegang, dia masih belum siap jika harus bertemu dengan Leo. Di tambah tadi pagi dirinya mengatakan hal yang pasti membuat lelaki itu sakit.
"Aku mau bicra sama kamu, tapi jangan di sini."
Rachel hanya menganggukan kepalanya, dia mengikuti langkah Leo yang ternyata membawanya ke taman belakang sekolah.
"Aku gak tau salah apa yang membuat kamu tiba - tiba mendimkan aku."
Kepala Rachel menunduk merasa bersalah. Ini semua bukan salah Leo. Tapi salah dirinya.
"Kamu gak salah, aku yang salah," setelah sekian lama keheningan melanda, kini akhirnya Rachel membuka suara.
Leo menghela nafas pelan, dia merapatkan tubuh nya pada Rachel saat kini jarak keduanya cukup berjauhan.
"Kamu ada masalah? tanya Leo membelai pipi Rachel lembut.
Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, rasanya dia tidak sanggup jika harus berbicara sekarang. Dia tidak ingin Leo membencinya.
"Aku punya salah ya? Kalau aku emang ada salah aku minta maaf."
Rachel segera menghambur ke dalam pelukan Leo, dia tidak bisa menatap manik Leo yang penuh dengan ketulusan. Sedangkan dirinya malah mengkhianati hati Leo.
Leo yang mendapatkan pelukan mendadak pun tersentak kaget, dia hendak melepaskan pelukan nya, tapi Rachel malah semakin mengeratkan pelukan itu.
__ADS_1
"Biarkan gini dulu," Rachel meletakan kepalanya di dada bidang Leo. Jantung cowok itu kini berdetak dengan sangat kencang.
"Kamu kenapa sih? Aku bingung sama sikap kamu," Leo merasa frustasi dengan tingkah Rahel hari ini.
"Aku gapapa ko," Rachel mengurai pelukan nya dengan mata yang sembab akibat menangis.
Manik mata mereka bertemu, kedua lengan kekar Leo menangkup pipi Rachel. Dengan gerakan yang sangat lembut dia menghapus air mata yang membasahi pipi Rachel.
Sedangkan Rachel menyelami manik mata milik Leo. Manik cokelat itu, yang membuat dirinya pertama kali jatuh cinta pada lelaki yang ada di depan nya. lelaki yang saat ini menjadi cinta nya, lelaki yang pertama kali mengenalkan nya sebuah cinta.
Biarkan Rachel egois untuk saat ini, dia tidak ingin kehilangan lelaki yang sudah bertahta di hatinya. Jika urusan Vino, Rachel akan mengurusnya nanti. Lagi pula mereka sudah membuat kesepakatan, walaupun sudah menikah, mereka di bolehkan untuk memiliki kekasing masing masing.
Rachel menggengam tangan lelaki yang ada di depan nya. Leonel Grestavio, seorang lelaki badboy yang memiliki cinta tulus untuknya, yang telah membuat nya jatuh terlalu dalam pada sosok seorang Leo.
"Apapun yang terjadi, aku mohon kamu jangan pernah tinggalin aku ya?" Pinta Rachel.
Dengan penuh kelembutan, Leo mengecup punggung tangan kekasihnya. Sorot matanya itu memancarkan penuh cinta terhadap Rachel. Dia beruntung bisa menjadi orang yang terpilih untuk di jadikan Rachel kekasih.
"Promise. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Senyum haru terukir di bibir Rachel, kedua matanya berkaca - kaca.
"Cantiknya Leo, gak boleh nangis," Leo mengecup mata Rachel yang merah.
Leo menyatukan kening nya dengan kening Rachel. Mata Rachel terpejam saat ibu jari milik Leo mengusap bibirnya dengan sangat lembut.
"Kalau yang ini, nanti aja kalau kita sudah halal," bisik Leo menyentuh bibir Rachel.
Pipi Rachel bersemu merah mendengarnya, walaupun mereka sudah berpacaran selama 2 tahun lebih, tapi Leo belum pernah mencium bibirnya.
Ketika Rachel bertanya mengapa dia tidak ingin mencium bibirnya Leo selalu menjawab nya dengan kata - kata yang menghangatkan hati Rachel.
'aku pacaran sama kamu itu, bukan ingin menikmati tubuh kamu. Walaupun ciuman bibir sudah hal yang lumrah, tapi aku tetap ingin menjaga bibir ini juga sampai nanti kita sudah halal.'
Ah, kalau begitu bagaimana bisa Rachel melepaskan Leo? Bukan nya melepaskan, tapi Rachel malah semakin jatuh pada sosok Leo. Lelaki yang penuh kelembutan scan ketulusan.
Rachel segera memeluk tubuh tegap Leo, rasanya dia beruntung bisa mengenal lelaki seperti Leo. Leo pun membalas pelukan Rachel tak kalah erat, sesekali dia menjatuhkan kecupan pada kening gadis yang ada di pelukan nya.
Tanpa di sadari oleh mereka, seseorang yang sejak tadi berdiri di ujung taman sekolah sedang mengepalkan kedua tangan nya erat.
__ADS_1