
Sepulang sekolah, Rachel dan Vino mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk berbelanja bulanan. ya, sesuai janji Vino, pria itu tadi menjemput sang istri. karena, pulang sekolah langsung, jadi kini Rachel masih memakai seragam sekolah.
Rachel memasukan semua belanjaan yang di butuhkan nya sedangkan Vino kini mendorong troli, mengikuti ke manapun langkah Rachel.
"Eum... Apalagi ya," ujar Rachel mengetuk ngetuk kan dagunya, dia menatap kertas yang tertulis daftar belanjaan.
"Oh iya, daging," Rachel kembali memutar arah menuju tempat daging.
Vino menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rachel, pedahal kan, tadi mereka melewati tempat daging. Tapi kenapa Rachel tidak langsung mengambilnya? Kalau begini kan bolak balik.
Dengan cekatan Rachel mengambil beberapa daging ayam untuk kebutuhan sebulan.
Setelah memasukan beberapa daging, dan troli pun kini sudah hampir penuh. Rachel berjalan ke arah kasir untuk membayar semua ini.
"Eh, bentar deh, mas," Rachel berputar arah.
"Apalagi sih?" Vino menghela nafas kasar. Bukan nya tadi sekalian ngambilnya, biar gak bulak balik.
Kini Rachel berada di tempat cemilan. Kakinya berjinjit untuk menggapai sebuah Snack yang letaknya memang paling atas.
Decakan keluar dari bibirnya, tercapai tidak, tapi pegal iya. "Lagian kenapa sih naro cemilan ko di atas," gerutu Rachel.
"Kalau gak nyampe, minta tolong. Udah tahu pendek," sindir Vino. Pria itu mengulurkan tangan nya untuk mengambil camilan yang sejak tadi di incer oleh istrinya.
Karena merasa sudah lengkap, mereka berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaan.
Sejak tadi, mbak kasir selalu mencuri pandang ke arah Vino, sehingga membuat Rachel kesal.
Rachel berdehem keras, dia memegang tenggorokan nya. "Ekhm, aduh haus banget sih," ujar Rachel menggosok - gosok tenggorokan nya.
Dengan sigap, Vino pun langsung mengambil salah satu minuman yang ada di dalam troli, yang belum sempat di hitung oleh kasir.
"Wah, mbak beruntung banget ya punya kakak kaya masnya. Dia sigap banget loh, buktinya pas mbak keselek aja langsung di kasih minum," ujar mbak kasir.
"Ah, iya, mbak. Dia itu orang nya emang paling pengertian," Rachel menggandeng tangan Vino dengan tersenyum se manis mungkin.
"Kalau gitu, boleh lah kenalin sama saya. Siapa tahu kami berjodoh, dan nanti kita iparan," ujar mbak kasir itu mesem - mesem.
"Mbak yakin, mau di kenalin? Mas ini udah punya istri, loh. Terus kalau istrinya marah itu serem banget, bahkan saking serem nya dia Suka makan orang," Rachel berusaha menakuti mbak kasir. Tapi sepertinya tidak mempan.
"Wah kanibal dong," celetuk mbak kasir. "Tapi gapapa ko,walaupun saya harus jadi istri kedua. Saya mah ikhlas lilah hita'ala," sambungnya.
Wajah Rachel merah padam kedua tangan nya mengepal erat di sertai dengan nafas yang memburu.
"Mas... Aku ke mobil duluan ya, di sini panas banget. Udah gitu aku mencium aroma bau pelakor lagi," Rachel mengibaskan rambut sepunggung nya ke belakang.
Sebelum benar - benar pergi, Rachel melayangkan sebuah kecupan terlebih dahulu pada pipi Vino. Setelah itu dia berlari keluar, sungguh dirinya merasa malu karena sudah berani nyosor duluan.
Sedangkan Vino kini dia merasakan seluruh tubuhnya terasa kaku, tangan nya terangkat mengelus pipi bekas jejak bibir istrinya.
"Adek mas lucu ya," mbak kasir terkekeh.
Seketika wajah Vino berubah datar, dia menatap tajam ke arah mbak kasir yang memakai kameja dengan belahan dada rendah, di padukan rok span selutut, dan juga rambut yang di kincir kuda.
__ADS_1
"Dia istri saya," jawab Vino datar.
Mbak kasir yang mendengar itu pun merasa kaget, dia langsung menundukan kepalanya saat merasa pipinya memanas. Rasanya dia malu sekali.
Bagaimana mungkin dia menggoda suami orang di depan istrinya. Tapi jangan salahkan dirinya yang tidak tahu. Karena Rachel masih memakai seragam SMA, jadi bagaimana mungkin dia sudah menjadi seorang istri?
"Apakah belum selesai mentotal? Tolong percepat, karena saya tidak ingin membuat istri saya menunggu lebih lama."
Sontak mbak kasir itu gelagapan, dia kembali melanjutkan total belanjaan Vino, yang memang belum selesai dirinya hitung.
"Totalnya jadi 450.000, mas," ujar nya menunduk. Dirinya tidak bisa menatap wajah Vino, karena saking malunya.
Vino mengeluarkan lima lembar uang berwana merah dari dalam dompetnya. "Kembalian nya ambil aja, buat beli baju yang lebih longgar. Biar gak ngetat amat," sindir Vino.
Lagi dan lagi mbak kasir itu merasa malu. Baju yang di kenakan nya memang seragam yang di berikan oleh bos yang memiliki supermarket, tapi dengan sengaja dia merombak nya kembali dan membuat nya lebih ketat.
Vino keluar dari supermarket dengan tangan yang membawa dua kantong plastik putih yang terisi penuh. Dengan kesusahan, dirinya berusaha membuka pintu mobil.
Tanpa niatan untuk membantu, Rachel hanya tak acuh pada ponselnya.
Perlahan, mobil Vino meninggalkan supermarket. Sesekali matanya melirik ke arah Rachel yang masih fokus pada ponselnya.
Helaan nafas keluar dari mulut Vino. "Kenapa diem aja?"
"Sariawan," ketus Rachel.
Vino menggulum bibirnya berusaha untuk menahan tawa. Kenapa di saat seperti ini Rachel terlihat menggemaskan sekali? Pipi yang mengembung, dan jangan lupa kan bibir merah nya itu terus mengerucut.
"Ngapain aku harus cemburu? Aku tuh, bukan cemburu ya. Cuman kamu itu kan, udah punya istri, ko mau - mau nya sih, di goda sama si mbak kasir itu?"
"Gak cemburu ko, sampe cium pipi aku," goda Vino.
Rachel merutuki dirinya sendiri, lagian kenapa tadi dirinya malah nyosor untuk mencium pipi Vino sih? Kan,dirinya jadi malu.
"Udah deh, mas gak usah goda aku, mending fokus aja nyetir nya," ujar Rachel brusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Cieee, malu, ya?" Vino mencolek dagu Rachel.
"Mas, ih," Rachel menepis tangan Vino.
Suasana di dalam mobil kembali hening, Vino tidak lagi menggoda Rachel. Karena dia takut jika terus di goda Rachel akan marah.
Rachel mengubah posisi duduk nya yang terasa tidak nyaman, sesekali dia meringis saat perutnya terasa sakit.
"Kamu kenapa?" Tanya Vino khawatir saat melihat Rachel mencengkram perutnya di sertai dengan wajah kesakitan.
"Gak tahu, mas, perut aku sakit banget," keluh Rachel.
Mata Rachel terpejam saat tangan halus vino kini mengelus perutnya.
"Gimana? Udah baikan?" tanya Vino.
"Hm, lumayan."
__ADS_1
"Yaudah kamu tidur dulu aja, nanti kalau sampe di rumah mas bangunin."
Rachel menurut, dia mulai berselancar menuju pulau mimpi.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, kini mobil Vino berhenti di sebuah rumah berlantai satu berwarna putih gading.
Menoleh ke sebelah kiri, ternyata Rachel masih memejkan matanya. Dia tidak tega jika harus membangunkan nya.
Badan Vino mencodongkan tubuhnya ke arah Rachel, mencoba untuk melepaskan steabelt istrinya. Sepertinya Vino akan menggendong Rachel saja untuk membawanya masuk.
Merasa ada pergerakan, Rachel terusik dari tidurnya. Kedua matanya pun mulai terbuka, sesaat dia tersentak kaget saat jarak Vino dan Rachel begitu dekat.
Bahkan kini Rachel dapat merasakan debaran jatung nya yang begitu kencang saat manik kedua nya bersitatap.
"Maaf, mas cuman mau bukain steabelt doang ko, gak lebih," ujar Vino gugup. Dia menggosok hidung nya yang terasa gatal.
Lamunan Rachel buyar dia menatap ke sekeliling. Ternyata dirinya sudah tiba di depan rumah. "Eh, udah nyampe ya."
Rachel segera turun dari mobil, dia membantu Vino untuk membawa belanjaan.
"Rachel, itu di rok kamu ada apa?" Ujar Vino saat melihat noda merah di rok abu Rachel.
"Apa?" Tanya Rachel mengernyitkan kening nya.
"I- itu darah. Rachel kamu keguguran?" tanya Vino polos.
Kedua mata Rachel melotot dengan lebar, kepalanya sedikit menengok ke arah rok belakang. Ternyata benar ada noda darah!
"Mas..." Panggil Rachel.
"Apa? Beneran kamu keguguran? Kalau keguguran itu anak siapa, chel? Kan aku belum itu in kamu?" tanya Vino beruntun menggoyangkan bahu Rachel.
"Mas, ih, aku gak hamil, dan ini bukan darah keguguran," Rachel merasa kesal sekaligus malu bersamaan.
"Terus darah apa?" Rasanya Rachel ingin menggetok kepala Vino sekarang juga. Kenapa pria di depan nya ini tidak peka juga?
"Ini darah menstruasi, mas,"
"Oh," Vino manggut manggut.
What! Kenapa respon nya santai sekali? Dumel Rachel dalam hati.
"Mas, ko oh doang sih," rengek Rachel .
"Terus harus gimana?"
"Ya mas beliin pembalut lah. Mas mah gak ada inisiatif nya sama sekali."
"Tapi--"
"Udah pokonya mas tolong beliin aku pembalut ya," Rachel menyerobot kantung belanjaan yang sejak tadi depegang oleh Vino. Tanpa mendengar dari suaminya terlebih dahulu dia segara maduk ke dalam rumah, dan menutup pintu rumah dengan kencang.
Vino menghela napas pelan, jika tidak di turuti pasti Rachel akan memarahi dirinya.
__ADS_1