DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
hari pernikahan


__ADS_3

Tidak terasa waktu terus berputar. Menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti Minggu. Dua Minggu sudah terlewat sejak pertemuan antar kedua keluarga itu. Kini tiba di mana hari yang mendebarkan, hari yang paling di nanti kan oleh semua orang, tapi tidak dengan Rachel.


Yah, hari ini adalah hari akad nikah dirinya dengan Vino. Rachel menatap pantulan dirinya di cermin, dia terlihat sangat cantik saat ini. Tubuh yang di balut dengan gaun indah, serta wajah yang sudah di poles dengan berbagai make up sehingga membuat wajahnya terlihat begitu cantik. Tapi sayangnya, hari ini dia menjadi pengantin bukan untuk orang yang di cintai nya, tapi untuk Vino. Seorang guru yang bahkan setiap harinya mulut Rachel selalu mengeluarkan umpatan untuk nya.


Rachel bertopang dagu pada meja rias, saat ini di kamarnya sudah tidak ada siapa - siapa. Karena para make over pun sudah pergi sebab di usir oleh Rachel.


Akibat semalam tidak bisa tidur, mata Rachel kini terasa berat. Semalaman dirinya benar - benar tidak bisa tidur, karena memikirkan hari ini, Rachel takut jika Leo mengetahui pernikahan nya, dan dia akan meninggalkan semuanya. Rachel tidak ingin itu semua terjadi, walaupun dia nanti sudah menjadi istri sah Vino, tapi Rachel tetap tidak ingin kehilangan Leo.


Ah, dirinya jadi menyesali sudah menerima perjodohan ini, andai saja malam itu juga dia menolak lamaran keluarga Vino. Mungkin pernikahan hari ini tidak akan terjadi.


Tok... Tok ... Tok !


Renata mengernyitkan keningnya, saat pintu di depan nya ini tidak kunjung di buka, pedahal dia sudah mengetuknya beberapa kali. Dirinya harus memanggil Rachel untuk turun ke bawah, karena sebentar lagi ijab kabul akan segera di mulai.


Karena tidak ada tanda - tanda orang yang akan ke luar kamar, Renata pun segera membuka pintu itu, karena kebetulan pintu nya pun tidak di kunci.


"Rachel," panggil Renata celingukan saat tidak melihat putrinya.


"Rachel..."


Rachel yang sedang melamun pun terperanjat kaget saat Renata tiba - tiba ada di belakang tubuh nya. "Eh, mama. Kapa masuk, ma?" Rachel segera menstabilkan mimik wajahnya.


"Orang tadi mama panggil - panggil juga, tapi kamu nya gak denger. Malah asik melamun di depan cermin," celetuk Renata. "Eh ko kamu nangis?" Renata panik saat melihat mata Rachel berkaca - kaca.


"Enggak ko, ma. Ini Rachel cuman kelilipan aja," alibi Rachel.


"Bohong, mana ada kelilipan sampe ninggalin jejak gini," Renata mengusap air jejak air mata di pipi Rachel.


"Beneran ka, ma, Rachel gapapa."


Renata menghela nafasnya saat mendengar nada suara putrinya kini bergetar. Dia tahu bagaimana perasaan Rachel saat ini, tapi dia pun tidak bisa berbuat apa - apa.


"Pernikahan nya batalin aja ya?" Pinta Renata, sekarang dirinya sudah sadar mungkin beberapa hari yang lalu dia dan suaminya cukup egois sehingga memaksa putrinya untuk menikah dengan orang yang tidak di cintai nya.


"Eh jangan dong, ma," larang Rachel.


Rachel tidak ingin orang tuanya menanggung malu jika pernikah ini gagal, biarlah dirinya yang berkorban.


Seketika pecah tangis Rachel saat Renata memeluknya penuh dengan ketulusan. Biar bagaimanapun, usia Rachel masih terbilang muda untuk membangun sebuah rumah tangga, pasti Rachel akan sulit menerima semua ini.


"Maafin mama ya, sayang, harusnya kamu tub masih menikmati masa remaja kamu. Tapi malah harus menikah."


"Gapapa ko, ma. Mungkin ini udah jalan takdir, Rachel. Dan insya Allah Rachel pun ikhlas nerimanya," jawaban Rachel membuat hati Renata tersayat.


"Udah ih, jangan nangis. Mending kita turun ke bawa yuk, pasti para tamu udah nungguin kita," ajak Rachel.


Renata pun segera mengurai pelukan mereka. Tapi sebelum ke bawah, Renata meminta untuk kembali membenarkan make up Rachel yang sedikit berantakan akibat terlalu banyak menangis.


Sebelum keluar dari kamar, Rachel berulang Kaling menarik nafas dan menghembuskan nya untuk menstabilkan rasa gugup yang luar biasa. Dan beberapa kali juga dia merafalkan kata - kata maaf untuk Leo.


'maafin aku, leo.'


Seluruh pasang mata menatap ke arah tangga saat mendengar suara ketukan heels. Dan lihatlah di sana, terlihat seorang gadis cantik dengan balutan busana pengantin adat Sunda sedang menuruni tangga di gandeng oleh sang mama.


Semua tamu merasa tersihir oleh ke cantikan nya. Bahkan Vino pun sampai tidak bisa berkedip ketika melihat ke cantikan istrinya. Ah! Ralat, maksudnya calon istri.


"Woyy, mingkem. Itu air liur sampe netes!"


Vino menatap horor ke arah sahabatnya. Wiliam Alexander, lelaki belasteran indo - Amerika itu merupakan sahabat karib Vino. Sifat bobrok yang mendarah daging nya itu menutupi rupa Wiliam yang tampan.


"Kaya nya dia udah gak sabar buat malam pertama nanti malam," celetuk Dimas prasetya, yang mempunyai sifat sama bobrok nya dengan William.


Saat hendak kembali memelototi Dimas, suara pak penghulu menginterupsi Vino, bahwa ijab kabul akan segera di mulai dan ternyata Rachel pun kini sudah duduk di samping nya.


Jantung Vino berdetak dengan kencang dan rasa grogi pun pulai menghinggapinya saat Arman, wali nikah Rachel mulai menjabat tangan nya.

__ADS_1


"Ananda Alvino Rakha Satyawidjaya bin Adrian Satyawidjaya saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Rachelia Amora Dirgantara binti Arman Dirgantara dengan nasakawin emas 100 gram dan seperangkat alat solat di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawin nya Rachelia Amora Dirgantara binti Arman Dirgantara dengan maskawin tersebut, tunai," ucap Vino dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH," seisi ruangan menjawab dengan serentak.


Tidak terasa setetes air mata membasahi pipi Rachel. Dirinya tidak menyangka di usia nya yang baru 17 tahun itu kini telah berganti status, dia sudah menjadi istri dari seorang Alvino Rakha Satyawidjaya.


Selanjutnya, pak penghulu mengiterupsi kan kedua pengantin itu untuk memasangkan cincin nya. Setelah selesai memasangkan cincin, Rachel mencium tanggan Vino yang kini telah menjadi suaminya.


Hati Vino berdesir, debaran jantung nya pun kini kian menggila saat sebuah bibir mungil mencium telapak tangan nya. Begitupun Rachel, dia merasakan perasaan aneh menjalaninya saat Vino mencium kening nya dengan lembut.


...***...


Sepasang pengantin yang baru saja mengucapkan ijab kabul itu kini sedang berdiri di ata pelaminan dengan raut wajah yang berbeda. Vino dengan raut datar andalan nya, sedangkan Rachel dia berusaha untuk memaksakan senyum pada tamu yang datang.


Acara pernikahan ini walau secara tertutup, tapi di gelar dengan mewah. Rata - rata tamu yang datang adalah kolega bisnis Arman dan Adrian. Sedangkan Rachel hanya mengundang satu teman nya saja, yaitu Zaskia.


"Woyy bro! Selamat ya, akhirnya lo punya bini juga," dengan tidak tahu malunya Wiliam menekuk tubuh Vino, dan berdrama seolah sedang menghapus air mata.


"Sebenarnya gue patah hati liat lo nikah, tapi kalah nikah nya sama cewek cantik gapapa ko, gue ikhlas," ujar Wiliam di akhiri dengan mengedipkan sebelah mata ke arah Rachel.


Seketika Vino menatap horor ke arah Wiliam karena telah menggoda istrinya. Dengan possesive Vino pun segera merangkul pinggang Rachel.


"Dasar pocecive," ledek Wiliam.


"Ya lo lagian, udah tahu udah nikah masih aja di goda," Dimas menoyor kepala Wiliam.


"Selamat ya, vino, Rachel, semoga kalian jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warhnah," ucap Dimas.


"Terimakasih kak!" Jawab Rachel.


"Woyy buruan dong! Lo kira yang mau ucapan selamat itu lo doang. Masih banyak tamu yang antri nih," protes Zaskia. Dia menggeplak bagian kepala Dimas menggunakan tas nya.


"Rachel... Selamat ya," Zaskia memeluk tubuh sahabatnya dan menggoyangkan nya ke kanan dan ke kiri.


"Makasih ya, udah mau datang."


"Ya, iyalah gue datang, masa kawinan sahabat gue, gue gak datang," ucap Zaskia bersungut sungut.


"Selamat ya, pak Vino," ucap Zaskia beralih mengucapkan selamat pada Vino.


"Hm," hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir Vino.


Zaskia pun berdecak kesal, dia menuruni pelaminan dengan bibir terus menggerutu karena jawaban singkat yang di berikan Vino.


"Kiw, cewek," goda Liam.


"Apa cewek - cewek?!" tanya Zaskia melototkan matanya.


Sedangkan Wiliam meneguk ludahnya kasar, baru juga di godain udah Kena mental.


Sementara di atas pelaminan, Rachel mengeluh pegal akibat kelamaan berdiri memakai heels. Dia kesal sendiri, kenapa tamu nya harus sebanya ini sih?


"Rachel, ini Abang kamu katanya mau bicara," Renata menyerahkan ponselnya yang ternyata sedang tersambung panggilan video call dengan Lingga.


"Abang," lirih Rachel saat wajah Lingga ada di layar ponsel.


Perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia adalah lima jam. Jika saat ini di Indonesia pukul sepuluh pagi. Maka di Jerman pukul lima subuh.


"Wih, adik Abang udah jadi istri. Ckngrats ya, dek."


Kedua mata Rachel berkaca - kaca. " Abang kenapa pas nikahan aku gak pulang?"

__ADS_1


"Aduh sorry ya, soalnya di sini tuh lagu bener - bener gak bisa di tinggalin."


"Ih jahat," Rachel mencebikan bibir nya


"Udah jangan nangis. Vin, gue titip Aek gue ya. Awas aja kalau lo berani nyakitin Rachel," ucap Lingga pada Vino.


"Siap, bang," jawab Vino.


Setelah itu pun panggilan di matikan, karena masih banyak para tamu.


...***...


Akhirnya, setalah berjam - jam berdiri di atas pelaminan menyambut semua tamu yan datang. Kini Rachel bisa merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Rachel memejamkan matanya sesat dengan kaki yang menggantung ke bawah.


Saat mendengar suara pintu di buka, Rachel segera menegakan tubuhnya. Ternyata yang masuk adalah Vino, pria yang kini berstatus menjadi suami nya itu terlihat lebih segar setelah mandi.


"Aaaaa," spontan Rachel langsung menutup matanya berteriak dan menutup matanya. Bagaimana tidak? Vino keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada saja.


"Kenapa kau berteriak seperti itu? Apakah kamu ingin membangunkan semua orang?" Ujar Vino menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Rachel meneguk ludahnya saat tetesan rambutnya itu berjatuhan mengenai keramik. Kenapa di saat seperti ini ke ruangan Vino berkali lipat? Apalagi di tambah dengan rambut nya yang basah dan acak - acakan membuat Rachel merasa panas dingin di tempat.


"B-bapak, mau ngapain?" tanya Rachel panik saat Vino kini berjalan mendekat ke arahnya.


Rachel saat ini terpojok, dia tidak bisa memundurkan tubuhnya lagi karena sudah mentok dengan dinding kamar. Sedangkan Vino, dia menyeringai menatap wajah gadis yang ada di depan nya itu kini pucat pasi.


"Pak, jangan macam - macam ya, atau gak saya teriak," ancam Rachel.


"Teriak aja, lagian mereka juga tahu kalau kita itu pengantin baru."


Rasanya saat ini Rachel ingin sekali menangis ketika melihat seringai Vino yang di layangkan pada nya, pria itu seakan - akan ingin menerkamnya. Jujur saja, Rachel belum siap jika harus melakukan kewajiban nya sekarang.


Saat ini jarak keduanya semakin mendekat, saking dekatnya Rachel Spain bisa mencium aroma sabun yang menguar dari tubuh Vino. Saat jarak nya tinggal 1 cm lagi, Rachel memejamkan matanya, tapi anehnya dia tidak merasakan apa - apa.


Rachel pun kembali membuka matanya, ingin melihat apa yang sudah Vino lakukan barusan.


"Apa? Kamu harap saya akan menyentuh kamu? Gak usah ge'er deh! Saya tuh cuman pmau ngambil ponsel kamu yang ada di belakang tubuh kamuu."


Astaga! Rasanya Rachel malu sekali. "Y-ya mana saya tahu! Saya kira kan..."


"Kamu kira saya nyentuh kamu malam ini?" tanya pak Vino menaikan sebelah alisnya.


"Ya enggak lah! Udah ah Sanah minggir," Rachel segera berlari ke arah kamar mandi untuk menutupi pipinya yang memerah. Lagian kenapa dirinya bisa berharap seperti itu sih?


Saat sudah memasuki kamar mandi, Rachel mengacak rambutnya frustasi. "Bodoh lo Rachel! Kenapa Lo bisa - bisa nya mikir kaya gitu sih! Kan jadinya malu, mau di taruh di mana muka gue!" Ujar Rachel mencak mencak tidak jelas masih menggunakan gaun penganti.


Saat membuka baju, Rachel terus menggerutu karena resleting di velanmkang baju nya itu terlalu susah di buka. Dia sekarang bingung harus bagaimana, jika dia minta bantuan pada Vino pasti akan sangat malu sekali, tapi jika tidak, maka dia tidak akan mandi dan akan terus berdiri di kamar mandi.


Rachel membuka pintu kamar mandi sedikit, dia ingin mengintip apa yang sedang di lakukan oleh Vino. Ternyata pria itu sedang bermain ponsel seraya menyenderkan tubuh nya ke kepala ranjang. Baiklah, untuk saat ini mungkin dia harus mengalah.


"Pak Vino, bukain baju saya dong!" Pinta Rachel. Bukan nya menurut, tapi Vino hanya menatap ke arah Rachel sembari menaikan sebelah alisnya.


"Ck! Pak Vino buruan ih,badan saya udah lengket banget pengen mandi," rengek Rachel.


"Coba pinta nya dengan lembut, dengan penuh rayuan," ujar Vino.


Rachel mengelus dadanya sabar untuk menghadapi makhluk se jenis Vino. "Pak Vino yang baik, yang manis ya ngalahin gula, tolong bukain resleting baju saya ya, karena saya gak nyampe bukanya."


Vino pun bangkit dari kasurnya, dia berjalan ke arah Rachel dan membuka kan resleting gaun gadis itu. Saat reseleting sudah terbuka, Vino tidak berkedip menatap punggung mulus milik Rachel. Biar bagaimanapun dirinya itu laki - laki normal, apalagi kini gadis yang ada di depan nya itu sudah halal baginya.


Rachel memekik kaget, saat dengan iseng nya vino hampir melorotkan gaun nya, untung segera Rachel tahan, jika tidak mungkin Kini gaun nya terlepas. Dia menatap tajam ke arah Vino, sedangkan sang empu hanya cengengesan.


Setelah 20 menit berada di dalam kamar mandi, Rachel keluar dengan wajah yang lebih segar. Sesekali dirinya melirik ke arah Vino yang lsaat ini sedang fokus bermain ponsel.


Saat Vino menoleh ke arahnya, Rachel langsung melompat dan menyelimuti seluruh tubuhnya, dia tidak ingin kejadian tadi terulang kembali.

__ADS_1


Rachel membuat batasan dia atas kasur menggunakan guling. "Pak, ini batas wilayah kita ya, awas aja kalau bapak lewatin," ancam Rachel.


Sedangkan Vino hanya menjawabnya dengan deheman singkat, dan dia tidak mengalihkan fokusnya pada ponsel sedetik pun.


__ADS_2