
Vino membawa Rachel ke UKS, dan di susul oleh Leo. Ada dua orang petugas Pmr. Tentu saja dua siswi yang berada di sana pun terheran heran saat melihat seorang guru kini menggendong muridnya yang tak sadarkan diri. Vino segera membaringkan tubuh Rachel di atas brankar.
"K-kakak ini kenapa, pak?" tanya seorang petugas Pmr mendekat.
"Dia pingsan setelah lari 13 putaran lapangan" jawab Vino masih dengan wajah lempeng.
Siswi ber name tag 'Gisella Anastaaya' itu pun segera memeriksa Rachel.
"Kak Rachel kayanya belum sarapan, mangkanya pingsan," ujar murid Gisel sembari menundukan kepalanya.
Vino mengangguk pertanda paham. Karena merasa sudah tidak ada urusan lagi, kedua petugas Pmr itu pamit undur diri dari ruangan yang terasa pengap.
Bukan, yang di maksud bukan UKS nya pengap, tapi aura yang di keluarkan oleh Leo dan Vino membuat tempat itu menjadi panas, dan pengap seketika.
Setelah kepergian kedua siswi itu, keadaan menjadi hening. Leo berdiri di samping kanan, sedangkan Vino berdiri di samping kiri.
Sebenarnya sedari tadi, Leo merasa heran terhadap gurunya, karena tidak biasanya Vino mau menolong orang lain, apalagi Sampai menggendongnya.
"Tolong belikan Rachel bubur," titah Vino memecah keheningan.
"Loh, kok, saya? Kenapa tidak bapak saja?"
"Kamu nyuruh saya? Mau kamu, saya beri nilai matematika kamu E di raport?" ancam Vino.
Leo mengatupkan bibirnya rapat, jika sudah begini dia tidak berani membantah lagi.
Manik hitam legam milik Vino menatap tajam ke arah pintu ketika di tutup dengan sangat keras. "Dasar, murid gak punya sopan santun!"
Tangan kekar milik pria itu terangkat mengelus Surai hitam Rachel. Mengapa istrinya bisa sampai tidak sarapan?
Perlahan, manik cokelat terang itu mulai terbuka. Samar - samar kening nya berkerut saat merasakan pening yang luar biasa, sehingga tidak sadar bibirnya mengeluarkan ringisan.
Vino perlahan mendekat, saat melihat tanda - tanda Rachel akan sadar. "Rachel, kamu denger aku?" Kedua sudut bibir Vino mengembang saat kini Rachel sadar dari pingsan nya.
Perempuan itu ingin bangun, tapi seketika dia meringis saat rasa pusing kembali menderanya.
"Eh, kamu tiduran dulu aja," Vino, menahan tubuh Rachel yang hendak bangun.
__ADS_1
Rachel yang melihat siapa pria yang ada di depan nya pun mendelik kesal, dia segera menepis lengan pria itu pada bahunya.
"Ngapain mas di sini?" tanya Rachel dengan nada yang begitu ketus.
Kening Vino berkerut dalam saat mendengar pertanyaan yang tidak bersahabat dari istrinya.
"Ya mas mau jagain istri mas yang lagi sakit lah," jawab Vino.
"Gak, usah. Aku bisa jaga diri sendiri. Mending sekarang mas pergi dari sini," ujar Rachel membalikan tubunya dengan memunggungi Vino.
Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Vino. "Kalau ada masalah tu, selesain dengan baik. Bukan nya kalah marah - marah gini," Vino berusaha membalikan tubuh Rachel untuk menghadap ke arahnya.
"Apaansih, mas, udah deh Sanah pergi! Aku males lihat wajah mas!" Rachel segera menarik selimut berwarna biru itu untuk menutupi seluruh wajahnya.
"Mas punya salah sama kamu? Kalau mas salah, ya kamu bilang, lah. Jangan diemin mas gini, kan kalau kamu diem gini mas gak tahu salah mas apa?!" Vino berusaha menahan gejolak amarahnya saat Rachel nampak tidak ingin berbicara dengan nya.
"Apakah mas tidak merasa bersalah setelah semalam mas nge bentak aku? Bahkan mas dengan tega nya gak nge bangunin aku, dan nge biarin aku kesiangan!" ujar Rachel dengan suara yang bergetar dan mata berkaca - kaca.
"Mas minta maaf, kalau semalam mas udah nge bentak, Lia. Tapi jujur, mas gak ada maksud buat seperti itu. Mas kaya gitu tuh karena mas cemburu melihat Lia pulang bareng Leo, di tambah dengan pulang tengah malam."
"Dan untuk masalah tadi pagi, mas bukan maksud nya gak bangunin, Lia. Mas udah ko, nge bangunin Lia, bahkan mas gedor pintu kamar beberapa kali, tapi Lia nya tetap gak bangun."
"Ya kan, mas bisa tunggu aku sampe bangun, jangan malah tinggal gitu aja," sentak Rachel membuka selimutnya.
"Yaudah iya, mas minta maaf. Mas salah."
Rachel langsung menarik tangan nya saat Vino hendak menggenggam nya.
"Mending mas pergi deh, aku gak mau lihat wajah mas," Rachel kembali memunggungi Vino.
"Tapi--"
"Mas pergi, atau aku tambah marah?" Ancam Rachel.
Vino menghela napas pelan. "Yaudah, mas pergi dulu ya, kamu cepet sembuh, dan jangan lupa kalau nanti Leo sudah datang, buburnya di makan sampai habis,"di akhiri dengan kecupan singkat di puncak kepala Rachel.
Kaki jenjang Vino segera melangkah berjalan keluar, meninggalkan Rachel sendiri di ruang UKS. Dia sadar betul, dirinya hanya suami yang di jodohkan, sumai yang mungkin tidak di inginkan oleh Rachel.
__ADS_1
Dia juga bisa melihat sorot mata Leo yang begitu tulus, dan khawatir pada istrinya. Vino tidak tahu apalagi yang akan terjadi ke depan dalam rumah tangga nya. Tapi yang pasti, ia tidak akan membiarkan pernikahan ini berakhir begitu saja, karena Vino tetap berpegang teguh pada prinsip menikah hanya satu kali seumur hidup.
Pintu UKS terbuka dari luar, membuat Rachel yang akan menutup kembali matanya itu berdecak kesal.
"Udah aku bilang, mas, kamu pergi dari sini. Aku gak mau lihat muka kamu," ujar Rachel tanpa membalikan badan nya.
Sedangkan seseorang yang baru memasuki UKS itu menatap ke arah Rachel dengan bingung."kamu ngusir aku?"
Seketika mata Rachel terbelalak kaget saat mendengar suara seseorang yang begitu familier di telinga nya. Dia pun segera membalikan badan nya.
Kini terlihat Leo sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang membawa nampan, yang di atasnya terdapat semangkuk bubur, dan se gelas teh manis.
"Leo, aku kira siapa."
Leo yang melihat Rachel hendak bangun pun segera berjalan ke arah brankar untuk membantu cewek itu.
"Emang kamu kira siapa?" tanya Leo.
"Eumm aku kira orang lain."
"Tadi kamu sebut kata - kata, mas. Mas, siapa?" tanya Leo memicing curiga.
Rachel gelagapan sendiri. "Itu... Ah, mas tukang pembersih. Iya, mas yang suka bersih - bersih sekolah. Abisnya aku kesel, masa aku di gangguin terus."
"Beneran?" tanya Leo tidak percaya.
"Iya ih, udah buruan mana buburnya, aku laper nih."
Leo terkekeh pelan, tangan nya segera mengambil bubur yang tadi sempat di letakan di atas nakas.
Mata Rachel melirik ke arah bubur yang sedang di pegang oleh Leo. "Ko pake saledri?"
"Lah, emang kamu gak suka sama saledri?" tanya Leo, pasalnya dia tidak tahu jika kekasih nya tidak menyukai saledri.
Kepala Rachel menggeleng pelan, bibir nya sedikit di tekuk ke bawah. Lagi dan lagi, Leo tidak mengingat apa yang di sukai dan tidak di sukai nya.
Bukan masalah apa, tapi mereka sudah menjalin hubungan yang cukup lama. Apakah lelaki itu tidak bisa terus mengingatnya?
__ADS_1