DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
Baikan


__ADS_3

pagi ini Vino sudah berada di meja makan, ia sengaja bangun lebih pagi, karena agar bisa memasak dahulu, sebagai permintaan maaf


Tidak hanya memasak, pagi ini juga Vino membereskan rumah. Kini di atas meja makan itu terdapat banyak sekali makan. Vino sengaja memasak banyak, karena sekalian untuk membujuk Rachel. Tak lupa juga, dia tadi sempat menanyakan resep ayam rica - rica, yang termasuk makanan kesukaan Rachel pada mertuanya.


Setelah menunggu lama, akhirnya Rachel pun datang dengan wajah yang nampak segar, dan rambut hitam terurai yang basah sepertinya habis di keramas.


"Sarapan, Lia," ajak Vino, ia segera menarik kursi meja makan untuk Rachel duduk.


Sebenarnya, Rachel tidak ingin bertemu dengan Vino dulu untuk saat ini. Tapi, perutnya tidak bisa di ajak kompromi, sedari tadi cacing di perutnya terus meronta ronta meminta di isi.


Rachel mendudukan tubuhnya di kursi meja makan. Dengan sigap, Vino menuangkan nasi serta lauk pauk ke dalam piring Rachel.


Mungkin keadaan nya terbalik, harusnya Rachel lah yang memasak, dan menyiapkan sarapan untuk Vino. Tapi biarkan saja toh, siapa suruh Vino menikahi anak SMA seperti dirinya, yang belum bisa melakukan apa - apa.


Rachel mulai menyendok makanan itu ke dalam mulutnya. Seketika matanya berbinar begitu bumbu nya terasa pas di lidahnya.


Vino menatap raut Rachel yang berubah - rubah. Ia berharap - harap cemas dengan rasa masakan nya. "Bagaimana, enak?" tanya Vino.


Sontak Rachel menormalkan mimik wajahnya kembali. "Biasa aja," bohong, Rachel berbohong. Masakan Vino itu sangat enak. Tapi, Rachel terlalu gengsi untuk jujur.


Kepala Vino menunduk lesu, dia segera memakan sarapan nya dengan tak berselera.


"Mungkin mas perlu belajar lagi sama mama," ujar Vino tersenyum masam.


Sebenarnya Rachel merasa tidak enak hati saat melihat wajah melas Vino. Tapi dirinya masih marah terhadap suaminya. di tambah, ternyata Vino lah yang mengerjakan tugas - tugasnya semalam.


Setelah menyelesaikan sarapan, Rachel segera bangkit dari duduknya. Tapi Vino menahan nya.


"Jangan langsung berangkat, mas mau bicara penting," ujar Vino.

__ADS_1


"Bicara apa sih, mas. ini udah siang, takut nanti ke sekolah nya terlambat," ucap Rachel sedikit kesal.


"Cuman sebentar Ko, bentar ya, mas mau beresin piring kotor dulu," Vino segera membawa piring kotor yang ada di meja makan, lalu membawanya ke wastafel.


Rachel berdecak, dia berjalan menuju ke arah sofa ruang tv. Ia akan menunggu Vino di sana.


Setelah selesai mencuci piring, Vino bergegas menghampiri Rachel yang berada di ruanv tv. Vino mendudukan tubuhnya tepat di samping Rachel.


"Mas, mau bicara," ucap Vino.


"Kalau mau bicara, ya langsung bicara aja," jawab Rachel cuek, sambil terus memainkan ponselnya.


Vino menghela napas pelan. "Kalau ada orang yang berbicara itu, hargain dulu, ponselnya di simpen."


"Mas, bawel banget, deh," dengan kasar Rachel menyimpan ponsel ya di atas meja.


"Sekarang lihat, kan, ponsel nya udah di simpen. Jadi buruan mas mau bilang apa?" tanya Rachel ketus.


"Mas,aku tuh gak labil--" perkataan Rachel terpotong saat Vino meletakan jari telunjuk nya di depan bibirnya.


"Dengerin dulu, mas belum selesai bicara," ujar Vino dengan datar. Rachel pun seketika mengunci bibirnya rapat - rapat.


"Mas tahu, Lia masih membutuhkan kebebasan, dan mas juga tahu, Lia masih ingin menikmati masa SMA Lia sama kaya teman - teman yang lain, kan?" tanya Vino.


Refleks kepala Rachel mengangguk. Memang benar, dirinya masih ingin bermain bebas dengan teman - teman nya. Tanpa ada sebuah ikatan yang mengukungnya.


Tapi sedetik kemudian kening Rachel berkerut dalam, saat menyadari panggilan Vino pada dirinya. "Lia? Siapa itu Lia?" tanya Rachel penasaran.


"Lia itu, Rachelia. Nama Lia, mas ambil dari nama terakhir kamu, dan itu khusus panggilan sayang dari mas buat kamu," ujar Vino mengelus Surai hitam Rachel yang sudah mulai mengering.

__ADS_1


sesuatu yang membuncah di hatinya, yang tak dapat ia  ungkapkan. Entahlah, mengapa saat Vino mengatakan bahwa dia memanggil dirinya dengan nama kesayangan, hatinya terasa menghangat. Dan debaran jantung nya pun terasa sangat kencang.


Vino mengecup lembut punggung tangan gadis sekaligus istri yang ada di depan nya. Kemudian, Vino mengarahkan tangan kanan Rachel ke arah jantung nya yang sejak tadi berdetak dengan kencang.


Kepala Rachel mendongak ke atas menatap Vino, Rachel bisa merasakan jantung pria itu berdetak dengan sangat kencang.


"Kamu bisa merasakan nya, kan?" tanya Vino dengan sangat lembut.


Kepala Rachel mengangguk pelan, matanya tidak berkedip sama sekali. Ia masih mencerna situasi yang terjadi sekarang.


"Itu lah yang, mas, rasakan ketika bersama kamu. Kamu tau kenapa kemarin mas marah terhadap, Lia?" Rachel menggelengkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Vino. kedua matanya terpejam rapat, saat merasakan sensasi halus saat tangan kejar suaminya mengelus pipinya dengan lembut.


"Mas cemburu, hati mas sakit saat melihat Lia pulang tengah malam dengan cowok lain, selain mas. Mas tahu, Leo itu pacar Lia, tapi di sini posisi mas itu sebagai suami Lia, yang berhak atas segalanya."


"Tapi mas--" bibir Rachel kembali terkatup saat Vino meletakan jari telunjuknya kembali.


"Mas tau, sudah ada nama Leo yang terukir di tahta Lia paling tinggi. Tapi, tolong izinin, mas, untuk bersaing secara sehat dengan, Leo. Izinin mas, untuk rebut hati kamu dari, Leo. Mas tau, mungkin ini terbilang jahat, tapi cuman cara ini yang bisa mas lakukan untuk mempertahankan rumah tangga kita," ujar Leo panjang lebar. Ia menjeda ucapan nya sesat, guna menarik napas dalam.


"Kamu tau? Kenapa mas selalu menghukum kamu, bahkan mas kerap mencari ribut dengan kamu. Semua mas lakuin itu, agar mas selalu bisa dekat dengan kamu," lanjut Vino. Matanya memicing saat melihat hal yang janggal di atas rambut Rachel.


Sedari tadi Rachel diam tanpa kata - kata. Ia tidak menyangka jika pria yang berstatus suami perjodohan nya itu menaruh rasa terhadap dirinya.


Manik cokelat terangnya menatap manik hitam legam milik Vino, berusaha untuk mencari kebohongan di mata pria itu. Tapi, nihil. Rachel tidak menemukan kebohongan itu, itu artinya Vino mengatakan yang sejujurnya.


"Mas..." lirih Rachel dengan mata yang memburam akibat air mata menumpuk yang berdesak - desakan untuk di tumpahkan.


Saat ini Rachel berada di dalam ke galauan. Ia bingung harus bagaimana. Leo, lelaki yang sudah bertahta selama dua tahun di hatinya, dan Vino pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Udah, kamu gak usah pikirin apa yang aku ucapin tadi, ya? anggap saja itu hanya angin berlalu" Vino segera bangkit dari duduknya, dan segera bersiap untuk menuju kamar. Ia paham, mungkin Rachel masih membutuhkan waktu untuk menerima dirinya.

__ADS_1


Rachel yang melihat Vino akan pergi pun segera berlari menyusulnya, ia menubrukan tubuhya pada punggung tegap Vino, dan menumpahkan tangisnya di sana. Terbukti dengan kameja belakang Vino yang kini menjadi basah.


Vino membalikan tubunya ke belakang, sehingga kini mereka berdua saling berhadapan. Tangan kekar Vino menangkup wajah Rachel yang sudah di basahi oleh air mata. Vino menundukan wajahnya, lalu menyatukan kening nya dengan Rachel.


__ADS_2