DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
hukuman tambahan


__ADS_3

Setelah belajar kurang lebih enam jam, akhirnya waktu yang sejak tadi di nantikan seluruh murid pun tiba juga.


"Sampai jumpa Minggu depan, dan selamat siang anak - anak," akhir kata yang di ucapkan Bu Retno, yang merupakan guru bahasa Inggris.


"Siang, buk," jawab seluruh murid dengan serempak.


Masing - masing dari mereka, segera memasukan seluruh buku pelajaran yang  berserakan  di ata meja ke dalam tas. Sedangkan Rachel sejak tadi hanya menempelkan dagunya di ata meja dengan lesu. Tadi pak Vino benar - benar menghukumnya sampai pelajaran matematika selesai.


Zaskia yang melihat sahabatnya nampak murung pun hanya menghela napas. Biasanya Rachel lah yang paling semangat untuk pergi ke kantin. Tapi saat ini sahabatnya itu nampak masih menekuk wajahnya dengan kesal.


"Udahlah. Daripada mikirin tuh guru terus, mendingan kita pergi ke kantin, yuk?"


"Males, lo pergi sendiri aja," jawab Rachel dengan sekenaknya.


"Yah, lo mah gak asik ah!" rajuk Zaskia.


Saat sedang hanyut dengan pikirannya masing - masing. Seorang perempuan yang seperti nya kelas XI itu memasuki kelas Rachel.


"Ada apa?" Tanya Zaskia saat gadis itu kini malah menghampiri mejanya dengan Rachel.


"Kak Rachel di panggil pak Vino ke ruang guru," ucap gadis itu memilih rok abu nya.


Rachel yang mendengar namanya di sebut pun, segera bangkit. "Mau ngapain?"


"Aku juga, gak tau, kak. Yang pasti sekarang kakak di suruh ke ruang guru. Eummm... Kalau begitu permisi ya, kak," ujar gadis itu langsung ngacir keluar.


"Mau ngapain lagi coba, tuh guru?" tanya Zaskia heran.


"Entahlah," jawab Rachel mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya di sandarkan di sandaran kursi.


"Yaudah, mending sekarang lo temuin, pak Vino, gih!" titah Zaskia.


"Ogah lah, pasti dia mau nge hukum gue lagi," ucap Rachel malah kembali merebahkan kepalanya di atas meja.


"Mending di hukum sekarang, daripada nanti bertambah lagi hukumannya," Zaskia menarik tangan Rachel agar gadis itu bangun.


Dengan ogah - ogahan, Rachel pun bangkit dari kursinya. Dia harus siapin mental untuk nanti, jika sewaktu - waktu pak Vino memarahinya lagi.


"Assalamualaikum," ucap Rachel ketika memasuki ruangan guru. Saat ini ruang guru terlihat sepi, mungkin karena lagi jam istirahat.


Kepala Rachel celingukan untuk mencari meja kerja pak Vino. Matanya kini tertuju pada seorang pria yang memakai kameja biru Dongker, dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancung nya. Serta tangan yang bergerak di atas keyboard laptop.


"Kalau masuk tuh, salam dulu," sindir Vino tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop.


"Dasar, budeg. Gue udah ucap salam juga, tapi lo nya aja yang gak dengar," dumel Rachel, biarlah dirinya menjadi murid yang tidak sopan terhadap guru. Tapi sungguh dirinya sangat kesal sekali pada pak Vino.


Sepertinya pak Vino tidak dengar apa yang Rachel ucapkan, buktinya pria itu tetap fokus pada laptopnya. Rachel berpikir, pekerjaan apa yang sedang di kerjakan pak Vino? Sehingga dirinya terlihat serius, dan beberapa kali kening nya mengernyit.

__ADS_1


Pak Vino segera mematikan laptop itu, kemudian dia melipat dan menyimpan nya di atas tumpukan buku paket yang lumayan tebal.


Sekilas, pak Vino melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Jam 10.05


"Terlambat tiga menit, apakah kamu murid yang tidak bisa tepat waktu?" tanya pak Vino setelah Rachel menduduki kursi di hadapan nya.


Rachel tentu saja menahan gejolak amarah. Padahal dirinya hanya terlambat tiga menit saja, lagian berjalan dari kelas ke kantor pu membutuhkan waktu kurang lebih satu menit. Lantas, mengapa dia harus mempermasalahkan waktu? lagian juga siapa dirinya, sehingga Aurel harus menemuinya tepat waktu?


"Cuman terlambat tiga menit, kan? Jadi bapak tidak usah mempermasalahkan waktu."


"Bukan nya saya mempermasalahkan waktu, tapi kamu harus bisa belajar di sipli, Rachel!" tegas pak Vino.


Rachel memutar bola matanya malas, apakah dirinya di suruh datang ke sini itu hanya untuk menceramahi soal waktu?


"Ngapain bapak nyuruh saya ke sini?" tanya Aurel mengalihkan topik. Dia hanya malas, Jika guru di depan nya ini terus - terusan mengungkit waktu.


"Ah, iya. Saya sampai lupa, tadi kan, kamu datang terlambat dan tidak mengerjakan tugas dari saya. Dan saya baru menghukumnya satu kali, bukan?"


Jantung Aurel berdetak dengan kencang, apakah karena dirinya membuat kesalahan dua kali, jadi harus di hukum dua kali juga? Jika iya, sekarang apalagi hukuman nya?


Pak Vino tidak langsung melanjutkan ucapan nya, dia menatap reaksi muridnya terlebih dahulu. Hampir saja, pak Vino menyemburkan tawanya ketika melihat Rachel hanya terdiam dengan wajah yang pucat.


"Ya, saya akan menghukum kamu, lagi. Kamu harus lari di lapangan sepuluh putaran!" titah pak Vino mutlak, tanpa bantahan.


Rachel pun segera bangkit dari duduknya.dia menggebrak meja pak Vino, tidak peduli jika saat ini guru itu sedang menatapnya tajam. Cukup tadi dirinya di permalukan di depan teman - teman se kelasnya. Rachel tidak akan menurut lagi untuk kali ini.


"Jika kamu menolak, jangan salahkan saya, jika saya memberi kamu nilai E di raport," tantang pak Vino sembari bersedekap dada.


Kedua tangan Rachel mengepal erat, rasanya dia ingin sekali meninju wajah pak Vino yang sok polos itu. Dengan nafas yang memburu,serta kaki di hentakan. Rachel pergi ke luar, tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Pak Vino yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia segera bangkit dari kursinya untuk mengikuti Aurel, apakah murid itu benar - benar menjalankan hukuman nya.


Karena merasa ada seseorang yang menguntit, Rachel segera membalikan tubuhnya ke belakang. Dan betapa kagetnya dia, saat mendapati pak Vino berdiri di belakangnya.


"Bapak ngapain sih, ko ngikutin saya?" Kesal Rachel.


"Saya cuman mau memastikan saja, bahwa kamu memang menjalankan hukuman nya," jawab pak Vino dengan santai.


Karena meras kesal, Rachel segera mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai di lapangan. Memangnya pak Vino pikir dirinya tidak jujur?


Sudah sembilan putaran Rachel lakukan, sesekali dia mengipasi wajahnya yang terasa panas akibat matahari begitu menyengat. Tentu saja dengan di awasi pak Vino.


Setelah menyelesaikan hukuman nya, pak Vino segera meninggalkan Rachel yang masih ngos - ngos an.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, tungkai Aurel menuju ke arah kantin. Tidak peduli bel masuk yang sebentar lagi akan berbunyi.


Manik mata Aurel mengedar ke seluru penjuru kantin yang terlihat sepi, karena pastinya murid lain sudah pada masuk kelas. Rachel menghampiri meja paling pojok dekat jendela. Di sana terdapat Zaskia dan Leo yang sedang berbincang. Entahlah, mereka membicarakan apa,  yang pasti sahabat dan kekasihnya itu sering terlihat mengobrol berdua.

__ADS_1


Tentu saja itu membuat perasaan cemburu kembali muncul di hati Aurel. Tapi dia segera menggelengkan kepala menepis semua hal negatif yang bersarang di otak nya.


"Holla, guys, lagi ngobrolin apa nih? Kaya nya serius amat," sapa Rachel ketika sudah tiba di depan meja tadi.


"Eh, sayang. Sini, duduk," Leo menepuk bangku kosong yang berada di sampingn nya.


Leonel Grestavio, seorang badboy yang menjadi langganan BK, dan merupakan kekasih Rachel.


"Minum dulu," Leo menyodorkan segelas es teh yang memang sudah dia pesankan untuk Rachel.


"Makasih, pacar aku pengertian banget sih," Rachel menerima gelas yang di sodorkan oleh kekasihnya.


Leo mengusap keringat Rachel menggunakan telapak tangan, tanpa rasa jijik sedikit pun. "Kasihan banget sih pacar aku keringetan gini."


"Pak Vino itu emang guru yang tidak punya hati banget ya. Pedahal kan Lo udah di hukum di depan kelas, masih aja di suruh keliling lapangan," cerocos Zaskia.


Rachel mengangguk membenarkan Zaskia. "Beber banget, dia tuh guruh yang paling nyebelin, so cool, so ganteng lagi. Rasanya pengen gue tonjok tuh, muka so kegantengan nya," ujar Rachel menggebu - gebu.


"Sabar, sayang," Leo merangkul pundak Rachel untuk menenangkan kekasihnya.


Sedangkan Zaskia melototkan kedua matanya saat melihat siapa yang di belakang Rachel. Dia terus memberi kode pada sahabatnya lewat lirikan mata.


"Kalau dia tau kita di sini, nih, pasti dia akan kasih hukuman lagi. Dasar guru gila hukuman, gak punya ha--"


"Kalau ngomongin seseorang itu di depan orang nya," potong sebuah suara yang begitu familier di telinga Rachel.


Dengan kaku, Rachel membalikan tubuhnya jea arah belakang, untuk memastikan apakah benar tidak orang itu?


"Eh, pak Vino. Mau makan, pak? Kalau gitu saya yang pesanin ya?" Rachel berusaha merayu pak Vino.


"Tidak usah!" Tolak pak Vino dengan datar,membuat Rachel meringis.


"Saya hanya ingin ngasih hadiah untuk kamu," pak Vino menyerahkan sebuah paperbag yang entah apa isinya. Tapi yang pasti perasaan Rachel sudah tidak enak.


Dengan ragu - ragu, Rachel pun menerima paperbag yang di serahkan oleh pak Vino, tapi tidak langsung membukanya.


"Sebentar lagi bel masuk, jadi lebih baik kalian masuk kelas," setelah mengatakan itu, pak Vino segera keluar dari kantin.


Leo dan Zaskia pun segera merapat pada Rachel, untuk mengetahui apa isi hadiah yang di berikan pak Vino.


Mulut Rachel menganga,matanya mengerjap kecil, saat melihat apa di dalam totebag itu. Ternyata itu tiga buah buku paket matematika.


"Eh ada tulisannya, nih" ujar Zaskia heboh.


'jangan lupa kerjakan, dan besok pagi harus sudah ada di meja saya'


Begitulah kata - kata yang tertulis di sebuah kertas putih di dalam papaerbag tadi.

__ADS_1


Sedangkan Rachel terduduk lemah di kursi kantin. Gurunya sudah benar - benar gila, bagaiman mungkin tiga buku paket bisa di kerjakan dalam waktu satu malam?


__ADS_2