
Sesampainya di supermarket, Vino menatap rak di mana tempat pembalut berada. Supermarket ini bukan supermarket yang tadi dirinya dan Rachel kunjungi.
Pria itu menatap bingung ke arah jajaran pembalut. Tidak Vino sangka ternyata begitu banyak merk pembalut, ada pembalut siang dan malam. Itu semua membuat Vino pusing tujuh keliling.
"Rachel, kamu bikin saya pusing aja. Kalau kamu bukan istri saya mungkin sudah saat buang ke kutub selatan," gumam Vino. Cukup lama pria itu berdiri di rak pembalut, dia hanya bisa menatap ke arah semua pembalut itu tanpa melakukan apapun.
"Ada yang bisa saya bantu, mas?" Tanya seorang karyawan perempuan.
"Eum... Saya mau cari pembalut, mbak," jawab Vino berbisik.
Sial! Pipi hingga telinga nya memerah. Jika Wiliam dan Dimas tahu dirinya beli pembalut, bisa di ejek habis - habisan dirinya.
Lagian kenapa sih Rachel pake nyuruh dirinya beli pemablut segala! Seumur - umur dirinya baru sekarang beli pembalut
Karyawan perempuan berhijab itu menglukum senyum melihat tingkah Vino. "Buat pacarnya ya, mas?"
"Buat istri saya," jawab Vino dengan datar.
Karyawan perempuan itu manggut - manggut, tidak heran sih, pria yang di sampingnya itu sudah menikah. Karena jika di lihat - lihat dia memang tampan, dan sudah mapan pula. Jadi, wanita mana yang tidak mau menikah dengan nya?
"Biasanya istri mas pake yang gimana?" Tanya karyawan itu.
"Saya gak tahu, mbak," vino merasa bodoh. Kenapa tadi tidak di tanya dahulu pada Rachel, sekarang mau nelpon pun posnsel nya ketinggalan.
"Pemablut itu ada berbagai macam. Ada pembalut siang, malam, dan ada pembalut ada sayap nya, dan gak ada sayapnya" jelas karyawan itu.
"Sayap? Emang pembalut bisa terbang ya?" tanya Vino polos menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
Tawa karyawan perempuan itu pecah seketika. Dia tidak dapat menahan tawanya lagi ketika melihat wajah komuk pria yang ada di depan nya.
Vino menatap datar ke arah karyawan yang ada di depan nya. Sial! Gara - gara Rachel dia malah mempermalukan dirinya sendiri. Tidak akan pernah mau lagi dia jika di suruh membeli pembalut.
"Maaf... Maaf," ujar karyawan itu di sela tawanya. Dia berdehem sesaat untuk menetralkan suaranya.
"Tapi, biasanya kebanyakan orang pakai yang ada sayapnya karena lebih lebar dan lebih enak di pakai," lanjut mbak karyawan menjelaskan.
"Saya beli semua," ujar Vino datar.
__ADS_1
Mau malam kek, mau siang kek. Mau ada sayapnya kek, gakada sayapnya. Semua pembalut sama aja!
Setelah mendapat apa yang di cari, Vino segera berjalan ke arah kasir untuk bayar. Saat ini keadaan kasir cukup panjang, jadi Vino harus mengantre dulu.
Ibu - ibu yang berada di situ saling berbisik ketika melihat tangan vino menenteng karinjang dengan di penuhi pembalut. Sementara pria itu tetap menpertahankan wajah datarnya.
Tok...Tok...Tok
Saat sudah tiba di rumah Vino segera mengetuk pintu kmar berwarna cokelat yang ada di depan nya.
Rachel yang sedang menungging sembari meremas perutnya yang terasa sakit pun segera bangkit saat mendengar suara ketukan pintu.
"Mas dari mana aja sih? Gak tahu apa aku udah bocor banyak. Lagian ya, beli ginian aja ko lama banget sih," cerocos Rachel saat mampangkan wajah Vino di depan pintu.
Vino hanya bisa mengelus dadanya sabar saat menghadapi tingkat hormon yang tidak stabil saat datang bulan.
"Harusnya kamu tuh berterimakasih sama, mas, bukan nya malah ngomel," Vino menyodorkan satu kantung kresek putih yang terisi penuh oleh pembalut.
"Iya deh, makasih," ujar Rachel.
"Karena aku gak tau kamu biasa pake yang mana, jadinya aku beli semua pembalut yang ada," ujar Vino menyengir.
"Ya Allah, mas, kamu tuh pemborosan banget, sih," keluh Rachel.
"Ya kan, mas--"
BRAK!!
pintu kamar di tutup dengan begitu kencang, membuat Vino yang masih berdiri di depan pintu pun berjengit kaget.
"Udah mah di beliin, gak tau terimakasih lagi!" Vino berjalan kearah ruang tv. Dia mendudukan tububnya nya di sofa berwarna cokelat yang ada di sana.
Tangan nya menekan tombol merah pada remote untuk menyalakan televisi.
Vino saat ini fokus pada tayangan yang menyiarkan berita selebriti yang saat ini sedang Viral. Sesekali tangan nya memasukan kripik pisang ke dalam mulut.
"Lagian ada - ada aja. Udah numpang hidup sama istri, malah kdrt lagi. Dasar, suami tidak tahu terimakasih," dumel Vino.
__ADS_1
Fokus Vino teralih saat Rachel kini berdiri di depan nya sembari mondar mandir tidak jelas. Lama kelamaan Vino merasa kesal karena Rachel menggangu penglihatan nya.
"Kamu bisa diem gak, sih? Gak usah mondar mandir gitu. Udah tahu mas lagi nonton berita juga," Vino berdecak kesal.
"Diem deh, mas. Lagian Ko nonton berita gituan, kaya perempuan aja," sentak Rachel.
Rachel mendudukan tubuhnya di samping Vino sembari meremas perutnya yang terasa sakit.
Vino hanya bisa menghela nafas pelan, jika sudah begini nonton pun tidak akan fokus.
Langkah kaki Vino mengarah ke dapur. Sedangkan Rachel yang melihat itu berdecak kesal.
"Bini lagi sakit juga gak ada perhatian nya sama sekali," Rachel merebahkan tubuhnya di sofa. Dia memejamkan kedua matanya saat perutnya kembali terasa sakit.
Hari pms pertama memang Rachel selalu merasakan sakit luar bias di perutnya. Biasanya jika saat sedang begini, mama nya selalu memberi air hangat untuk meredakan rasa sakit.
Sedangkan si dalam dapur Vino menatap ke sekitar dapur untuk mencari benda yang di cari.
Tangan Vino membuka laci rak yang ada di ujung dapur, setelah mendapatkan apa yang di dapat, dia segera mengisinya dengan air hangat.
Rachel tersentak kaget saat ada sesuatu yang menempel di atas perutnya. Mata yang tadinya terpejam kini terbuka kembali.
"Diem, tadi katanya sakit perut. Cara ini ampuh untuk meredakan rasa nyeri," Vino menahan Rachel yang hendak bangkit dengan tangan nya yang meletakan hot water bag pada bagian perut Rachel.
Karena memang merasakan sakit, Rachel kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lama kelamaan netra cokelat terang milik Rachel itu terpejam erat.
Vino menghela nafas saat melihat Rachel tertidur, jika di biarkan tidur di atas sofa dia tidak tega. Karena pasti besoknya seluruh tubuh Rachel akan terasa sakit.
Pria itu bergerak untuk mematikan televisi yang masih menyala. Vino menggendong Rachel ala bridle style menuju kamar, karena hari pun sudah cukup larut.
Rachel menggeliat dalam tidurnya, dia semakin menelusup kan kepalanya ke dalam dada bidang Vino.
Senyum di bibir Vino terbit seketika saat melihat Rachel tertidur dengan wajah damai. Berbeda dengan ketika perempuan itu bangun, pasti sudah seperti singa yang siap akan menerkamnya.
Vino meletakan Rachel dengan hati - hati si atas kasur, kemudian menarik selimut sebatas bahu.
Karena sudah merasa ngantuk,Vino pun masuk ke dalam selimut, tidak lupa tangan nya bertengger manis di pinggang Rachel. Mumpung Rachel sudah tidur, jadi bisalah dia curi - curi kesempatan.
__ADS_1