
Langkah Rachel memasuki sekolah terlihat begitu santai, hari ini dia tidak akan takut telat lagi. Karena jam di tangan nya pun masih menunjukan setengah tujuh.
Saat sedang asik bersenandung sembari menikmati udara segar di pagi hari, Rachel tersentak kaget saat mendapati seseorang yang sedang dia hindari nya kini malah berdiri di tengah koridor dengan wajah andalan nya.
Rachel memutar bola matanya malas, kenapa orang ini selalu saja merusak moodnya yang saat ini sedang bagus? Rachel melangkahkan kakinya ke arah kiri, pria yang di depan nya pun mengikutinya. Begitupun demikian, saat dia melangkah ke arah kanan dia tetap mengikutinya.
Decakan malas keluar dari bibir mungil Rachel, sebenarnya apa sih mau nya pria itu? Tidak cukup puas kah, dia sudah merusak masa depan nya.
"Permisi, pak, saya mau lewat," ucap Rachel berusaha se sopan mungkin.
"Mana," pak Vino mengadakan kedua tangan nya, seolah meminta sesuatu.
Kening Rachel mengernyit bingung, apa yang sedang di lakukan guru gilanya itu?
"Bapak mau minta uang?" tanya Rachel polos.
Vino berdecak kesal, saat murid sekaligus calon istrinya itu malah meletakan selembar uang kertas berwarna hijau di telapak tangan nya. Maksud dia kan, bukan itu.
"Saya sudah kaya, jadi ngapain kamu ngasih saya uang 20 ribu," ujar pak Vino sombong.
"Ya terus, bapak ngapain ngadahin tangan kaya gitu?" Rachel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kenapa gurunya itu susah di tebak sekali.
"Ck, maksud saya, mana tugas yang saya suruh kerjain kemarin?!"
Kedua mata Rachel melotot dengan sempurna, mampus. Dirinya baru mengerjakan beberapa lembar saja, itu pun jawaban nya hanya asal - asalan.
Lagian kenapa sih, ingatan pak Vino itu kuat banget. Kan Rachel itu calon istrinya, masa dia tetap nagih tugas sih!
Alis pak Vino terangkat sebelah saat melihat murid yang ada di depan nya itu malas cengengesan tidak jelas.
"Kenapa? Gak ngerjain lagi?" tanya pak Vino dengan wajah yang datar.
"Yaelah, pak, gak usah di jutekin juga kali tuh muka. Tenang aja, saya udah kerjain tugas nya ko," Rachel menyerahkan paperbag yang berisikan tiga buku paket di dalamnya.
"Bagus," pak Vino pun segera menerima paperbag yang di serahkan oleh Rachel.
"Tapi, jangan marah ya, karena saya mengerjakan nya baru beberapa halaman," Rachel segera ngacir lari, sebelum telinga nya panas mendengar ocehan dari gurunya itu.
Pak Vino hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah murid yang satu itu.
Zaskia menatap aneh ke arah Rachel yang nampak ngos - ngosan. Apakah teman nya itu berlarian sepanjang koridor sekolah?
"Lo kenapa dah, ko kaya di kejar setan gitu?" Zaskia meletakan ponselnya di atas meja.
"Gila, ini beneran gila," jerit Rachel frustasi seraya mendudukan bokongnya di kursi.
"Lo kenapa sih? Terus siapa juga yang lo maksud gila?" tanya Zaskia penasaran.
"Lo tahu gak? Pak Vino masa nge jegat gue di koridor sekolah, dia tuh udah kaya patung selamat datang tahu gak," Rachel menggoyangkan bahu Zaskia karena saking kesalnya.
"Ya terus?"
"Terus lo bilang? Ya pasti sebentar lagi gue bakalan dapat hukuman lagi dari tuh guru. Soalnya gue gak kerjain semua."
"Ya lagian kenapa lo gak kerjain semua?"
"Lo gila ya! Gimana caranya gue ngerjain soal dalam tiga buku paket itu dalam waktu satu malam. Ya lagian ini salah dia juga ngapain semalam dia ke rumah gue, pake ngajakin nikah segala."
Rachel segera mengatupkan mulutnya rapat. Dia merutuki kebodohannya sendiri, kenapa mulutnya gak bisa di rem sih, kalau gini kan jadi ribet urusan nya.
"Tunggu, pak Vino datang ke rumah lo dan ngajakin nikah? Maksud lo gimana sih?" tanya Zaskia yang tidak faham apa yang di katakan Rachel.
"Euummm.... Sebenarnya gue..."
"Sebenarnya lo kenapa?" Zaskia merasa semakin penasaran karena Rachel menggantungkan kalimatnya.
"Gue..." Rachel menghembuskan nafasnya kasar, mau tidak mau dia harus berbicara jujur denga Zaskia, karena biar bagaimanapun juga Zaskia sahabatnya.
__ADS_1
"Gue di jodihin dengan pak Vino," lanjut Rachel berbisik di telinga sahabatnya.
"Hah? lo di jodohin dengan pak Vi--" Rachel segera membekap mulut sahabatnya yang ember itu.
Zaskia langsung menyengir kuda saat bekapan nya terlepas dan Rachel menatapnya dengan mata yang melotot.
"Lo bisa gak sih, gak usah teriak," kesal Rachel. Untung saja teman teman di kelasnya tidak ada yang mendengar. Jadi mereka tidak akan curiga.
"Ya sorry, lagian lo kaya gak tau aja gimana mulut gue ," ringis Zaskia.
"Eh, tapi lo beneran di jodohin sama pak Vino? terus lo mau nikah sama dia gitu?" lanjut Zaskia yang kali ini berbisik.
"Ya begitulah," ujar Rachel mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas nya.
"Ko bisa?"
"Ternyata nyokap bokap gue udah jodohin gue sama tuh guru."
"Kalau gitu enak dong," ucap Zaskia.
"Enak gimana?" Rachel heran dengan sahabatnya. Enak dari mana nya sih? Yang ada dia tekanan batin terus karena tinggal dengan pria yang super ngeselin.
"Ya enak, lah. Lo kan nikah sama guru yang jadi rebutan semua kaum hawa. Terus nih ya, cerita lo tuh udah kaya cerita novel yang sering gue baca. Mungkin kalau kisah lo di buat novel judulnya itu 'di jodohkan dengan pak guru', beuh baguskan judulnya?"
Rachel menoyor kepala Zaskia dengan kesal. Kenapa saat di situasi seperti ini sahabatnya itu masih bisa - bisa nya menghayal. Pake bawa dunia halu lagi, itu kan cuman dunia halu yang tidak akan jadi kenyataan.
Dan biar bagaimanpun Rachel menerima perjodohan ini pun karena terpaksa.
"Lo tuh ya, gue lagi serius juga malah di bikin bercanda," kesal Rachel.
"Ih gue juga serius kali."
"Tau lah, kesel gue sama lo," rajuk Rachel.
"Kalau lo di jodohin sama pak vino, terus nasib Leo gimana dong?" tanya Zaskia serius.
Tangan yang sejak tadi mencurat - coret di atas kertas pun mendadak berhenti. Saking banyak masalah yang menimpa dirinya, dia bahkan sampai melupakan Leo yang berstatus sebagai kekasihnya.
Kening Rachel mengernyit saat mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal, tanpa menunggu lama lagi dia pun segera membuka pesan itu.
0857 xxxx xxxx
Nanti plng brng saya
***
Saat ini bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kelas pun sudah nampak sepi, karena semua murid sudah pulang ke rumah nya masing - masing.
Di kelas XII IPA 2 hanya tersisa lima orang siswi yang saat ini sedang piket kelas. Di SMA Cakrawala memang di buat peraturan untuk melakukan piket kelas saat siang hari di jam waktunya pulang. Karena jika di pagi hari, kelas akan kotor lagi oleh injakan sepatu murid yang mulai berdatangan. Jika besok pagi nya kotor lagi karena hujan pun mereka harus melakukan piket dua kali.
Tugas Rachel Minggu ini adalah menyapu bersama Zaskia. Sedangkan dua teman pel lantai dan satu lagi lap kaca. Rachel menatap sekitar, teman - teman yang lain nya terlihat sibuk mengerjakan tugasnya masing - masing, dia rasa ini waktu yang tepat untuk bicara dengan Zaskia.
"Zas," panggil Rachel.
"Ya?" Jawab Zaskia seadanya.
Memang sejak Rachel memberi tahu bahwa dirinya di jodohkan dengan pak vino, Zaskia terlihat seperti mendiaminya. Bahkan saat jam istirahat pun Zaskia menolak ajakan nya untuk pergi ke kantn. Rachel yang merasa perubahan sikap Zaskia pun merasa bingung. Apakah dirinya telah melakukan kesalah yang tidak di sadarinya?
"Lo marah sama gue?" tanya Rachel kembali melanjutkan menyapu debu di lantai.
"Ngapain gue harus marah sama lo, terus emang lo nya ngerasa berbuat salah sehingga membuat gue marah?"
Rachel menggelengkan kepalanya, emang sih dia tidak merasa bahwa dia sudah berbuat salah. Tapi kenapa Zaskia mendiamkan nya.
"Emang sih, gue gak ada salah sama lo, tapi ko lo kaya diemin gue gitu."
"Perasaan lo aja kali," Zaskia mengedikan bahunya acuh.
__ADS_1
Mungkin benar apa yang di katakan Zaskia, karena terlalu banyak pikiran yang bersarang di kepala Rachel, sehingga membuatnya berpikir yang aneh terhadap sahabatnya.
"Zas, cuman lo satu - satunya orang yang tahu tentang pernikahan gue dengan pak Vino. Jadi, gue mohon jangan sampe berita ini tersebar, ya. Apalagi kalau sampe ke telinga nya Leo, gue gak mau nyakitin dia," mohon Rachel.
Zaskia terdiam beberapa saat. "Lo tenang aja, kaya sama siapa aja sih, gue itu kan sahabat lo. Jadi gue akan jamin rahasia lo akan aman sama gue."
"Makasih ya, Zas. lo emang sahabat terbaik gue," Rachel memeluk erat tubuh sahabatnya.
"Iya. Yaudah, buruan nyapu nya biar kita bisa cepat pulang," ujar Zaskia melerai pelukan.
Rachel pun menurut, dia segera melanjutkan menyapunya yang tadi sempat tertunda. Setelah beberapa saat, akhirnya pekerjaan Zaskia dan Rachel selesai juga.
"Teman - teman, gue sama Zaskia pulang duluan ya," pamit Rachel menyampaikan tasnya di pundak sebelah kiri.
"Yoi, hati - hati," balas ketiga murid yang masih mengerjakan piket.
Kedua teman itu pun saling berjalan beriringan di koridor sekolah, banyak sekali hal yang mereka obrolkan. Terutama tentang idol mereka yang tidak bisa di gapai. Bagaimana bisa menggapai artis idol, sedangkan mereka tahu kita nafas saja tidak, sungguh menyedihkan.
Zaskia pamit lebih dulu pada Rachel saat melihat mobil supir nya sudah terparkir di depan gerbang.
"Lo bener nih, gak mau ikut sama gue aja?" tanya Zaskia untuk yang ke sekian kalinya.
"Lo udah nanya itu berapa kali, dan jawaban gue tetep enggak," Rachel memutar bola matanya malas.
"Ya kan daripada lo nungguin taxi yang gak jelas kapan datangnya,mending lo ikut sama gue aja deh," paksa Zaskia.
"Enggak, Zas. Lagian rumah kita kan beda arah, gue gak enak sama pak Yadi harus muter lagi buat nganterin gue," pak Yadi merupakan supir keluarga Zaskia. Terkadang Rachel merasa kasihan di usianya yang sudah memasuki 70 tahun itu masih harus tetap bekerja. Berbeda dengan supir di keluarganya yang masih berusia 50 tahun.
"Gapapa lah, lagian pak Yadi nya juga gak keberatan ko. Ya kan, pak," Zaskia meminta pendapat dari supir nya.
"Bener atuh, non, justru saya merasa seneng kalau di repotin," jawab pak Yadi.
"Tuh, kan lo denger sendiri, orang pak Yadi nya juga gak keberatan," ucap Zaskia.
"Gak bisa, Zas, lagian gue nya juga masih ada urusan ko," Rachel berusaha berbohong pada sahabatnya. Karena jika tidak begitu, pasti Zaskia akan terus memaksanya.
"Urusan apa?" tanya Zaskia curiga.
"Pokonya urusan penting."
Rachel menatap aneh ke arah Zaskia yang sedang tersenyum tidak jelas. "Kenapa lo senyum - senyum gak jelas?"
"Jangan - jangan lo mau pulang bareng, pak Vino, ya?" Zaskia mencolek dagu Rachel dengan genit.
"Apaansih siapa juga yang mau pulang sama orang ngeselin kaya dia," ketus Rachel.
"Ngeselin - ngeselin juga kan calon suami lo," goda Zaskia.
"Makin gaje deh lo, udah deh Sanah lo pulang," usir Rachel.
"Iya deh, iya yang mau pulang sama calon suami mah emang beda," Zaskia segera membuka pintu penumpang, sebelum sahabatnya bertambah ngamuk.
Zaskia sialan! Kenapa dia terus menggoda dirinya? Dan ini juga kenapa pipinya merona saat di goda oleh Zaskia.
"Pas pulang , langsung ke rumah. Jangan baba las ke kamar hotel," ujar Zaskia sedikit menurunkan jendela mobil.
"ZASKIA LALUBIS!" teriak Rachel saat mobil Zaskia perlahan berjalan. Lihat saja besok, Rachel akan memberi pelajaran pada sahabat laknat nya itu.
Sedangkan di dalam mobil Zaskia cekikikan sendiri, dia merasa puas ketika berhasil menggoda sahabatnya. Di tambah lagi dengan pipi Rachel yang merona, membuat Zaskia merasa lucu.
Rachel berjalan ke arah halte dengan menendang - nendang krikil kecil. Kenapa taxi yang di pesan nya belum datang juga? Pedahal dia memesan nya sejak tadi, tapi sampai Zaskia pulang pun taxi itu tidak kunjung tiba.
Beginilah akibat supir keluarganya mengantar mama nya yang katanya sedang ada keperluan mendadak. Rachel merogoh ponsel di saku seragamnya ketika suara bunyi notifikasi dari ponselnya.
Rasanya Rachel ingin berteriak dengan se keras mungkin. Kenapa dua hari ini dirinya begitu sial sekali? Bahkan setelah dia menunggu cukup lama taxi yang di pesan nya, dengan sekenak nya taxi online itu meng cancel nya.
Kepala Rachel di telungkup kan di antara kedua lututnya. Kakinya dia hentak - hentakan di atas aspal dengan kesal.
__ADS_1
Tin... Tin... Tin
Kepala Rachel mendongkak saat bunyi nyaring spion yang di tekan. Di depan nya kini terdapat sebuah Mercedes Benz putih. Karena tidak mengenali mobil itu, Rachel tidak terlalu peduli pada orang yang berada di dalam mobil.