
Hari ini di kelas Rachel merupakan jam olahraga. Hampir seluruh siswa menyukai pelajaran ini. Mungkin pengecualian Rachel. Baginya semua mata pelajaran yang ada di sekolah, sangat membosankan.
Setelah pemanasan, semua siswa di kelas murid Rachel bebas untuk melalukan apapun, kecuali meninggalkan lapangan. Karena saat ini pak Joshua yang notabene nya guru olahraga, tidak dapat hadir.
"Ini bola bener bener ya, rasanya pengen gue gibeng," Rachel menatap Nyalang ke arah bola berwarna oranye itu.
Sedari tadi bibir mungil Rachel terus menggerutu ketika tidak dapat memasukan bola basket itu ke dalam ring.
"Lo yang salah, tapi malah nyalahin bola," Zaskia segera merebut bola itu dari tangan sahabatnya. Kemudian di lemparkan nya ke dalam ring.
Mulut Rachel menganga, bahkan hanya satu kali percobaan saja pun Zaskia sudah berhasil memasukan bola basket itu ke dalam ring.
"Ko bisa?" tanya Rachel.
"Bisa lah, gue gitu loh," Zaskia menepuk dadanya dengan sombong. "Mangkanya kalau punya badan tuh jangan terlalu boncel," lanjutnya terkekeh.
Bagaimana Rachel tidak di sebut boncel? Tinggi badan nya dengan tinggi Zaskia pun sangat berbeda jauh berbeda. Ah, lebih tepatnya bukan Rachel yang boncel, tapi tubuh Zaskia yang memang terlalu bongsor.
Pernah suatu hari Rachel menyuruh Zaskia untuk jadi kapten basket putri. Karena bakat nya yang cukup bagus, serta tinggi nya yang ideal. Tapi sahabatnya itu menolaknya mentah - mentah.
Tangan Zaskia merangkul bahu Rachel saat kini wajahnya di tekuk dengan masam.
"Usah gak usah ngambek gitu, mending kita ke kantin yuk?" ajak Zaskia karena memang bel istirahat sudah berbunyi dua menit yang lalu.
Saat Rachel, dan Zaskia hendak ke kantin, mereka menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang yang memanggil nama Rachel.
"Chel,"
Rachel menolehkan kepalanya ke arah belakang. Terlihat kini Leo sedang berlari ke arahnya dengan membawa sebotol air mineral.
Setelah sampai di depan Rachel, Leo menetralkan deru nafasnya yang memburu dengan tangan yang bertumpu pada lutut.
Para siswi yang melihat Leo menjerit. Walaupun Leo merupakan seorang badboy, tapi parasnya yang begitu rupawan dapat memikat hati para kaum hawa. Tapi sayang, di hatinya itu kini sudah tertahata sebuah nama yaitu 'Rachel."
"Kamu kenapa sih? Kamu abis lari ya?" tanya Rachel beruntun.
Leo yang mendapat pertanyaan seperti itu pun terkekeh. "Iya aku dari kelas ke sini itu lari, soalnya takut kamunya keburu ke kantin. Kan kalau kamunya ke kantin nanti air yang aku beli jadi mubazir," Leo menyodorkan sebotol air mineral dingin.
Rachel yang mendengar itu tersenyum haru. Jika begini, Rachel pasti akan susah untuk meninggalkan Leo, apalagi ketika melihat ketulusan di mata lelaki itu.
__ADS_1
"Makasih ya," Rachel menerimanya.
Segel tutup botol itu Rachel buka. Saat hendak meneguk minumnya, seseorang tiba - tiba merampas botol itu dari tangan nya.
"Bapak apaansih," protes Rachel tidak terima saat Vino merampas minumnya begitu saja.
Leo pun sama, dia menatap bingung ke arah guru matematika itu. Kenapa tiba - tiba dia merampas minum kekasihnya begitu saja?
Dan tentu saja itu mengundang perhatian para murid yang berada di lapangan pula. Ada apa gerangan, sehingga guru yang terkenal judes dan dingin itu harus ke lapangan?
"Bapak mau minum? Kalau mau minum ya beli lah, jangan mengambil yang bukan hak milik, bapak," ujar Rachel dengan menggebu - gebu.
Zaskia mengusap pundak Rachel berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang saat ini sedang emosi. Dia hanya takut jika Rachel akan mengatakan yang sebenarnya, dan seluruh murid mengetahui hubungan Rachel dengan Vino.
Vino berusaha menyembunyikan minum itu di balik punggung nya saat Rachel berusaha mengambil alih.
"Pak, kembalikan minum saya," pinta Rachel masih berusaha untuk mengambil minum nya.
"Kamu ternyata jadi pacar begitu buruk sekali." Leo merasa heran, apakah dirinya melakukan kesalahan? Sehingga dirinya di cap sebagai pacar yang buruk.
"Punya otak tuh, di pake sedikit. Jika orang habis olahraga, jangan di kasih air dingin. Otak kamu itu dangkal banget, ya," ujar Vino dengan datar.
"Pak, bapak gak punya hak ya, buat ngatain pacar saya," Rachel membela Leo.
Zaskia dan Rachel saling berpandangan beberapa saat. Zaskia mengkode Rachel untuk menerimanya saja, daripada nanti urusan nya semakin ribet.
"Gak mau, saya cuman mau minum air dari pacar saya," tolak Rachel mentah - mentah.
Dengan paksa Vino menyerahkan minum itu pada tangan Rachel. Setelah minum itu berada di tangan Rachel,Vino berjalan ke arah tong sampah, lalu membuang air yang tadi sempat di berikan Leo pada Rachel.
"Pak, bapak tuh bener - bener gak nge hargain banget ya?" Sentak Rachel.
"Jika bapak membuang minum dari pacar saya, maka saya juga harus membuang minum dari bapak," lanjutnya melemparkan minum itu hingga menggelinding mengenai ujung sepatu Vino.
Seluruh siswa berbisik melihat aksi nekat Rachel. Tapi sepertinya Rachel tidak memperdulikan itu semua, walaupun dirinya harus mendapat hukuman dari Vino, Rachel tidak peduli.
"Sayang, mending kita ke kantin aja," ajak Rachel dengan mesra bergelayut di tangan Leo.
Leo menganggukan kepalanya, mereka bertiga segera meninggalkan lapangan, dan berjalan menuju kantin.
__ADS_1
Vino yang melihat itu mengepalkan kedua tangan nya. Di dalam hati dia tertawa miris, apakah sebagai suami dirinya tidak begitu berarti bagi Rachel?
Pria itu segera meninggalkan lapangan dengan penuh kekecewaan. Mungkin memang terlalu cepat dirinya jatuh cinta pada Rachel. Tapi biar bagaimanpun Rachel itu istrinya, karena dia punya prinsip untuk menikah hanya satu kali seumur hidup.
Jadi, meskipun Rachel tetap memilih kekasihnya, Vino akan tetap mempertahankan rumah tangganya. Dia tidak akan membiarkan Rachel pergi dari hidup nya begitu saja, karena biar bagaimanpun, Vino lah yang memiliki hak kuasa Rachel seutuhnya.
Leo, Rachel, dan Zaskia sudah tiba di kantin. Mereka memilih duduk di meja yang paling pojok.
"Tuh guru bener - bener ngeselin banget," ujar rachel mengepalkan kedua tangan nya di atas meja.
"Udahlah, lagian cuman masalah air minum doang ko di ributin, orang aku nya juga gapapa," Leo mengusap bahu Rachel berusaha untuk menenangkan perempuan itu.
"Tapi aku kesel banget sama tuh guru. Terus kamu juga kan, udah berjuang, capek - capek lari dari kelas sampe lapangan cuman buat ngasih minum. Tapi minum nya malah di buang gitu aja," Rachel mengerucutkan bibirnya.
Leo terkekeh melihat tingkah Rachel yang menurutnya sangat menggemaskan. Tangan nya terangkat mengacak rambut panjang Rachel.
"Woyy, ke kantin gak ajak - ajak. Gak like ah," ujar seseorang menepuk pundak Leo lumayan kencang.
"Lo gak usah maen keplak aja dong. Kan, kasihan Leo nya jadi sakit," Rachel menepis tangan Agung dari pundak kekasihnya.
"Yaelah, lebay banget lo, cel. Dia mah udah biasa, tulang nya juga terbuat dari besi," seloroh Agung.
"Eh, ada, neng Kia," sapa Ade mengedipkan sebelah matanya.
Zaskia menggeser duduknya saat Ade duduk di sampingnya.
"Neng Kia ko duduknya pindah sih?" tanya Ade.
"Males gue berdekatan sama korban virtual kaya lo," ketus Zaskia.
Tawa agung menggelegar saat melihat wajah melas Ade.
"Berisik ih," Rachel menatap tajam pada Agung.
"Mending lo pada pesan makanan gih!" titah Leo pada Agung dan Ade.
"Males ah," ujar kedua nya berbarengan.
Leo segera mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dari dalam dompetnya," sisanya beli apa aja yang kalian mau.
__ADS_1
"Siap, paduka raja," ujar Agung sedikit membungkukkan tubuhnya. Lelaki itu segera mengajak Ade menuju stand makanan.
Kepala Leo menggeleng. Dasar! Kalau di kasih uang aja langsung gercep