
Setelah pengakuan Vino beberapa menit lalu, dan adegan berpelukan tadi. Rachel sungguh di buat dilema. Di satu sisi, dirinya menjaga perasaan Leo yang notabene nya adalah kekasihnya, tapi di sisi lain juga, ada Vino yang sebagai suaminya. Tidak mungkin dia akan terus bertahan dalam situasi seperti ini, mempunyai suami, tapi tetap menjalin hubungan dengan lelaki lain.
Vino berjalan ke arah depan, sembari mengancingkan lengan kameja nya. Ia melihat Rachel sedang duduk di sofa depan tv, dengan layar yang menyala.
Walaupun layar tv menyala, tapi Vino tau, pikiran Rachel melayang, dia tidak fokus pada tayangan yang sedang di tonton nya.
Seketika Rachel tersentak kaget, saat sebuah tangan besar mengelus Surai nya dengan halus. Ia menengadahkan kepalanya, dan kini terlihat seorang pria ber kameja putih, dengan pahatan wajah yang begitu sempurna.
"Eh, mas, udah siap?" tanya Rachel berusaha mencairkan suasana.
"Udah. Kamu sedari tadi melamun, ya?"
Refleks kepala Rachel mengangguk, tapi sedetik kemudian menggeleng. Vino yang melihat itu pun tersenyum tipis, dia mendudukan tubunya di samping Rachel.
Tangan besarnya dengan lembut menggenggam tangan mungil Rachel. Ia sedikit menarik tubuh Rachel ke samping, sehingga kini keduanya saling berhadapan.
"Mas tau ini sangat sulit untuk kamu, tapi mas akan tunggu kamu buka hati untuk mas sampai kapan pun," Vino mengelus pipi Rachel dengan sangat lembut.
Rachel merasa ini semua sangat rumit, kenapa dirinya di hadapkan dengan dua lelaki yang baik, dan mencintainya sangat tulus?
Momen berdua mereka terganggu, saat bel rumah berbunyi dengan nyaring. Rachel langsung menatap bingung ke arah pintu.
"Aku ke depan dulu," Rachel segera berdiri, dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung sepagi ini.
Pintu berwarna putih itu terbuka lebar. Kening Rachel mengernyit dalam, saat kini di depan rumahnya terdapat seorang lelaki berseragam SMA sedang bersandar pada kap mobil.
"Morning," sapa Leo segera berbalik menghadap ke arah Rachel.
"Leo, kamu ngapain di sini?"
Rachel merasa kaget, dia tidak menyangka bahwa Leo akan menemuinya. Ia segera menutup pintu itu rapat, supaya Leo tidak mengetahui di dalam nya ada Vino.
"Tentu saja untuk berangkat dengan kamu," jawab Leo tersenyum lebar.
"Tapi--"
"Ayolah, memangnya kamu gak kangen berangkat sekolah bareng aku?"
"Baiklah, aku ke dalam dulu sebentar, untuk ngambil tas," pasrah Rachel.
"Siapa?" tanya Vino saat kini Rachel sudah kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil tas.
__ADS_1
Rachel meremat kedua tangan nya dengan kepala yang menunduk.
"Leo, dia ngajak berangkat bareng."
Vino menghela napas pelan. Bibirnya di paksakan untuk menyunggingkan sebuah senyuman.
"Yaudah, kamu berangkat gih," titah Vino mengacak rambut Rachel.
Kepala Rachel mendongak menatap ke arah Vino. "Tapi, mas, gimana?"
"Untuk pagi ini, mas gak bisa antar kamu ke sekolah. Soalnya ada pekerjaan penting yang harus mas selesaikan," jawab Vino mengelus Surai Rachel lembut.
"Yaudah, kalau gitu, aku berangkat bareng Leo boleh," pinta Rachel.
Vino yang merasa gemas pun menjawil hidung istrinya. Sebenarnya, ia tidak rela jika Rachel berduaan dengan lelaki lain. Tapi Vino juga tidak bisa melarangnya.
"Boleh."
Senyum Rachel seketika mengembang, dia sedikit berjinjit, lalu mengecup pipi Vino singkat. Setelah itu ia segera berlari menuju kamar untuk mengambil tas nya.
Sedangkan Vino mematung di tempat, tangan nya mengelus pipi bekas ciuman Rachel. Jantungnya pun kini berdetak dengan kencang.
Rachel segera berlari menuju pintu, meninggalkan Vino yang masih terdiam kaku.
"Udah?" tanya Leo mengusap surai Rachel dengan lembut.
"Udah, yuk berangkat sekarang," ajak Rachel segera menarik tangan Leo.
"Bentar."
Rachel kembali membalikan tubunya dengan kening yang mengerut. "Apalagi? Ada yang ketinggalan?"
"Engga, aku lupa belum ketemu sama Tante kamu, jadi mumpung sekarang aku ada di sini, aku mau kenalan, sekaligus pamit ke tante kamu."
Mampus! Rachel bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia membawa Leo keadalam, dan mempertemukan nya dengan Vino. Bisa terbongkar semua dong, rahasianya.
Manik mata Rachel bergeriliya untuk mencari alasan yang tepat. "Eh iya, Tante aku tadi pagi ke pasar. Tapi aku udah pamit ko, dan aku juga udah bicara ke dia, kalau aku berangkat sekolah nya bareng kamu."
"Bener?" tanya Leo memicingkan matanya untuk memastikan.
Dengan pasti kepala Rachel mengangguk pelan.
__ADS_1
"Yaudah kita berangkat sekarang," ujar Leo.
Leo segera mengapit lengan Rachel, dan menggiring tubuh kekasihnya menuju mobil.
"Silahkan masuk, tuan putri," Leo membuka kan pintu penumpang untuk Rachel, tubuh yang sedikit di bungkukan, serta tangan kanan di depan, dan yang kiri di belakang tubuh.
Senyum Rachel tercetak jelas. "Terimakasih," ujarnya segera masuk ke dalam mobil. Pedahal Rachel bisa melakukan semuanya, tanpa harus di perlakukan layang nya putri kerajaan.
Setelah Rachel masu ke dalam mobil, Leo menutup pintu penumpang. Kemudian dia memutari mobil, dan masuk ke dalam mobil, Dudu di jok bagian pengemudi.
Rachel mengernyitkan kening nya saat Leo tidak kunjung menjalankan mobilnya.
"Buruan jalan, nanti keburu kesiangan," titah Rachel.
Leo menghela napas pelan, ia melirik ke arah samping di mana tempat Rachel berada.
"Gimana aku mau ngejalanin mobil? Orang seatbelt kamu aja belum di pasang."
Dengan cekatan Leo memasang seatbelt itu pada tubuh Rachel, terakhir dia mengusap surai sepunggung Rachel dengan lembut.
"Maaf," Rachel menundukan kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri, akibat banyak masalah yang menimpanya beberapa hari belakangan ini, membuat dirinya jadi tidak fokus.
"Tidak apa. Jangan menunduk, nanti mahkotanya jatuh," Leo mengangkat dagu Rachel menggunakan jari telunjuk nya.
Rachel menegakan kepalanya, Rachel tersenyum samar ke arah Leo. Lelaki itu pun langsung membalas dengan senyuman tulus pula.
Leo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin terlalau ngebut, karena Rachel akan ketakutan.
Sedangkan di dalam rumah megah berlantai satu, tanpa di sadari oleh mereka, seseorang sedari tadi sedang mengintip mereka di balik jendela. Kedua tangan nya mengepal erat.
"Cih, sangat menggelikan," decaknya, dia segera mengambil tas kantornya, yang sejak tadi tergeletak di atas meja ruang tamu.
Lamborgini Aventador berwarna merah mencolok itu kini membelah jalanan ibu kota yang terlihat begitu padat.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan satupun, Leo sedang fokus menyetir, sedangkan Rachel menatap jalanan yang padat dengan kendaraan melalui jendela.
Lagu kekasih bayangan yang di putar melalui radio kini mengalun indah merasuk ke dalam gendang telinga kedua manusia yang sejak tadi hanya menutup mulutnya rapat. Hawa dingin dari AC yang menyala, menambah suasana dingin yang tercipta dalam mobil itu.
Sesekali Leo melirik ke arah Rachel yang sejak tadi mengunci mulutnya rapat. Leo tau, ada sesuatu yang mengganjal pada pikiran gadis itu, tapi dia tidak ingin menanyakan nya. Biarkanlah saja, jika Rachel sudah siap bicara, maka tanpa di tanyakan lebih dahulu pun Rachel pasti langsung bicara.
Leo mengecup punggung tangan Rachel dengan lembut, sedangkan tangan kirinya di gunakan untuk menyetir.
__ADS_1