
"Dari 35 siswa di kelas ini. Apakah tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab soal yang saya buat?!" Sontak seluruh siswa di kelas itu pun menggeleng dengan kompak.
Vino berdecak. "Kalian itu bagaimana sih, kalian sudah kelas XII, dan sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian. Tapi untuk mengerjakan soal yang bersifat dasar saja kalian tidak bisa! Jika begitu percuma saja kalian datang ke sekolah setiap hari!"
Mereka semua menundukan kepalanya saat nada suara Vino yang mulai meninggi. Sumpah, demi apapun, jika sedang marah Vino akan terlihat dua kali lebih menyeramkan di banding biasanya.
Vino menarik napas dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. Pria itu berusaha untuk mengontrol emosi nya, agar tidak mengeluarkan sumpah serapah terhadap muridnya.
Entahlah, sejak kejadian tadi pagi, pikiran Vino menjadi bercabang. Dia mudah sensitif, dan melampiaskan semuanya pada orang yang tidak bersalah.
Bel pergantian pelajaran sudah berbunyi, maka dari itu Vino segera membereskan buku - bukunya yang berserakan di atas meja guru.
Sebelum keluar, Vino menatap muridnya bergantian. Lalu kini tatapan nya terpaku pada netra cokelat terang milik seorang gadis yang duduk di meja tengah di deretan ketiga.
"Karena kalian tidak ada yang bisa mengerjakan soal yang saya buat. Kalian, saya kasih tugas untuk mengerjakan soal latihan halaman 100 - 150, dan harus terkumpul besok pagi!" ujar Vino tidak memperdulikan jika nantinya ada yang akan protes.
"Baiklah, karena jam pelajaran saya juga sudah habis. Saya pamit undur diri, sampai jumpa di minggu depan," lanjut pria itu meninggalkan ketegangan yang terjadi di dalam kelas XII IPA 2.
Setelah Vino keluar dari dalam kelas, kelas mulai gaduh, banyak yang mengeluh karena di berikan tugas sampai 50 halaman. Ah, bukan tugas, tapi lebih tepatnya hukuman.
Mereka segera berbondong - bondong menghampiri siswa berprestasi, dan menawarkan diri untuk menuruti apapun yang dia mau. Tapi dengan imbalan harus di beri contekan.
"Suami lo, benar - benar kebangetan ya, chel. Gimana bisa coba, 50 halaman bisa selesai dalam waktu satu malam?" Keluh Zaskia merasa frustasi.
"Lah, gue waktu itu 3 buku paket harus selesai dalam semalam. Masih mending 50 halaman doang mah," ucap Rachel kesal ketika mengingat dirinya waktu itu pernah di hukum untuk mengerjakan tugas dalam tiga buku paket.
"Mending Kata lo? Gila ya lo," Zaskia berdiri dari duduknya lalu menggebrak meja dengan keras.
"Berisik, Zaskia!" tegur Danu sang ketua kelas.
Zaskia yang merasa seluruh teman di kelas nya menatap dirinya dengan tajam pun hanya bisa menyengir. Dia menampilkan jari telunjuk dan jari tengah. Peace.
"Kenapa sih, perasaan seluruh orang pada sensi banget," ujar Zaskia kembali mendudukan tubuhnya di kursi.
"Ya lagian lo, orang lagi pada pusing ngerjain tugas. Lo malah bikin kegaduhan."
"Lo tuh gak ngerasain apa yang gue rasain, sih. Kepala gue tuh pusing banget, saking pusingnya berasa mau meledak," Zaskia menyentuh keningnya dramatisir.
__ADS_1
"Lebay," Rachel menoyor kepala sahabatnya.
Zaskia mengelus kepalanya dengan bibir yang mengerucut. Tapi, sedetik kemudian, bibirnya menyungging ke atas, saat dia mengingat sesuatu.
"Lo itu kan istrinya pak Vino. Minta pak Vino isi in aja, terus nanti gue contek deh," Zaskia menjetikan hatinya, merasa senang karena mendapat sebuah ide.
"Ogah!" tolak Rachel mentah mentah. Kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Ayolah, chel," Zaskia terus menggoyangkan tubuh sahabtnya.
Tapi Rachel tetap pendirian dirinya, sampai kapanpun, dia tidak akan pernah meminta bantuan pada suaminya.
...***...
Vino memasuki rumah dengan langkah tegap, dia sedikit melonggarkan dasi nya yang terasa mencekik.
Saat ini jam sudah menunjukan pukul delapan malam, dirinya baru saja pulang dari kantor karena ada meeting dadakan yang harus di hadiri oleh nya.
Kening Vino mengernyit saat tak mendapati Rachel di ruang tv. Tumben sekali, karena biasanya jika jam segini Rachel sudah stand bay di depan tv untuk menonton sinetron favoritnya.
Karena merasa tubunya sudah terlalau lelah, Vino segera berjalan menuju ke arah kamar. Sepertinya berendam air hangat di bathub akan membuat tubuhnya sedikit rileks.
Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ternyata orang yang sejak tadi dirinya cari berada di sini. Pria itu berjalan menghampiri Rachel yang masih fokus pada buku di depan nya.
"Ternyata kamu di sini, pedahal mas dari tadi nyari kamu, loh," ujar Vino berdiri di samping Rachel.
Rachel mengacuhkan kehadiran suaminya, dia tetap fokus pada rumus yang saat ini sedang dirinya kerjakan. Bahkan, tangan Vino sedari tadi menggantung, tapi Rachel tidak menghiraukan nya.
"Seorang istri yang tidak mencium tangan suaminya sehabis pulang bekerja, pasti akan di laknat oleh malaikat," ucap Vino menakuti.
Dengan gerakan kasar, Rachel segera mencium punggung tangan Vino, lalu kembali ke aktivitas semulanya lagi.
Vino menggulum bibir melihat tingkah gemas istrinya. Tangan kanan nya terangkat mengacak surai Aurel.
"Mas!" Rachel segera menepis tangan Vino karena kesal.
"Istri, mas, kenapa sih marah - marah mulu, hm?" tanya Vino menarik pipi Rachel ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Sakit ih," ringis Rachel mengusap pipinya yang memerah.
"Mau mas obatin gak?" goda Vino menunjuk bibirnya yang di monyong - monyongkan.
"Mas, ih, diem deh. Aku tuh lagi ngerjain tugas tau, gak?!" Garang Rachel. Pedahal di dalam sana jantung nya sedang dangdutan. Tapi, Rachel terlalu gengsi, karena dia masih marah pada suaminya.
"Yaudah, oke, mas gak akan ganggu kamu lagi," ujar Vino mengalah.
"Ada yang gak di mengerti gak? Mau mas bantu?" lanjut Vino menawarkan diri. Sesekali dia melirik Rachel yang nampak kesusahan mencari rumus.
"Gak perlu," tolak Rachel dengan ketus.
Vino mengangguk kan kepalanya pelan. "Yaudah kalau gak mau di bantuin, mending mas mandi, terus tidur yang nyenyak di kasur empuk," Vino berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Mas!" Nah, kan. Baru juga tiga langkah, tapi Rachel langsung memanggilnya.
"Ndalem, istriku," jawab Vino denga begitu lembut, sehingga Rachel di buat meleleh.
"Mas gak usah ge'er ya, aku minta bantuan mas juga, karena soalnya rumit banget," ucap Rachel.
"Iya, emang yang mana yang gak kamu mengerti?" tanya Vino kembali menghampiri Rachel di meja belajar.
"Semua," jawab Rachel tanpa dosa. Sebenarnya sedari tadi dia hanya menyibukan dirinya sendiri saja.
"Yaudah, mas jelasin, ya? Biar kamu nya paham," Vino meraih buku paket yang berada di hadapan Rachel.
Vino pun kembali menjelaskan materi yang tadi siang di sampaikan nya. Sedangkan Rachel kini merebahkan kepalanya di atas lipatan kedua tangan dengan sesekali dirinya menguap.
Rasanya bukan seperti sedang di jelaskan, justru Rachel merasa dia sedang di dongengi oleh angka - angka. Lihatlah kini, matanya terlihat sudah memerah menahan kantuk.
"Sekarang kamu udah paham?" tanya Vino pada Rachel.
Sejetika dirinya terbengong. Vino sudah panjang lebar menjelaskan, tapi Rachel malah tertidur dengan wajah yang polos. Kepala Vino menggeleng melihat itu.
Karena tidak tega, Vino segera memindahkan Rachel ke kasur. Karena jika tidak, besok paginya seluruh badan Rachel pasti akan terasa sakit akibat tidur sambil terduduk.
Setah menyelimuti tubuh sang istri, Vino kembali berjalan kearah meja belajar. Dia mulai mengerjakan semua tugas yang ada di buku matematika itu.
__ADS_1
Vino meregangkan ototnya yang terasa pegal. Dia melirik yang ada di sampingnya, ternyata sudah jam setengah sebelas malam. Mengerjakan 50 soal matematika dalam beberapa jam, ternyata cukup membuat kepalanya pusing, pantas saja murid - murid nya selalu mebgeluh jika di berikan tugas.
Karena merasa lelah, dia pun segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk, dan di samping nya terdapat Rachel, sang istri.