
Sedangkan di dalam mobil, vino merasa kesal saat Rachel tidak kunjung masuk ke dalam mobilnya. Pedahal dirinya sudah membunyi kan klakson cukup kencang.
"Apakah kamu budeg, sehingga tidak mendengar suara klakson mobil saya?" tanya Vino saat kini sudah berdiri di depan Rachel yang masih menelungkupkan wajahnya.
Rachel segera menegakan tubuhnya saat mendengar suar yang begitu familier masuk ke indra pendengaran nya.
"PAK VINO!" teriak Rachel kaget. Apakah tidak cukup dia membuat harinya kemarin berantakan? Lantas sekarang kenapa dia harus menunjukan wajah yang menyebalkan juga!
"Pak Vino ngapain di sini?" Rachel melirik sekitar untuk memastikan apakah masih ada murid yang berada di sekitar sekolah. Karena bisa bahaya jika mereka melihat dirinya sedang mengobrol dengan Vino.
"Tentu saja saya ingin menjemput kamu," jawab Vino yang kelewat santai.
Dengan kasar Rachel menarik tangan Vino menuju mobilnya. Lalu dia mendorong tubuh guru nya itu untuk duduk di kursi kemudi. Lalu setelahnya Rachel memutari mobil dan membuka pintu penumpang agar dirinya bisa masuk.
"Bapak gila ya? ngapain bapak nyamperin saya ke halte, kalau ada murid lain yang lihat gimana?!" Cerocos Rachel.
Vino hanya bersikap acuh, dia tidak menjawab sepatah katapun. Tentu saja hal itu membuat Rachel bertambah kesal.
"Pak, bapak dengerin saya ngomong gak sih?!" lama - lama Rachel kesal sendiri dengan guru nya itu.
"Mangkanya kalau punya handphone itu pergunakan dengan baik!"
"Nih, saya sudah chatt kamu, tapi kamu hanya membaca nya saja."
Vino menunjukan layar ponselnya pada rachel. Ternyata nomor tidak di kenal yang tadi mengirimi nya pesan adalah nomor Vino.
"Ya kan, saya gak tahu kalau itu nomor, bapak. Lagian bapak ngapain sih, ajak saya pulang bareng?"
"Kalau bukan karena hari ini fitting baju, saya pun malas jika harus pulang sama bocil cerewet kaya kamu."
Karena tidak terima di katakan bocil, Rachel mencubit tangan Vino dengan cukup kencang. Sehingga membuat sang empu nya meringis.
"Terus sekarang kita mau ke butik untuk fitting baju?" tanay Rachel dengan begitu polos.
"Bukan, mau ke kebun binatang kiat kembaran kamu."
Rachel mencebikan bibirnya. "Biasa aja kali, pak, gak usah nge gas."
"Katanya mau ke butik, tapi ko mobil nya belum di jalanin sih, pak?" lanjut Rachel bertanya.
Rachel menahan nafasnya saat kini Vino merapatkan tubuhnya dengan dirinya saat ini tubuhnya terasa gugup di setau dengan dada nya yang bergemuruh dengan kencang. Jarak keduanya hanya beberapa cm saja, karena saking dekatnya Rachel bisa mencium aroma maskulin dari pria itu.
Klik
Ternyata Vino hanya ingin memasangkan seatbelt yang belum sempat Rachel Pasang. Rachel segera memalingkan wajahnya yang terasa memanas.
Seangka Vino segera melajukan mobil nya ke arah butik yang sudah di janjikan untuk nya fitting baju pengantin.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka kini tiba di sebuah butik yang terkenal di ibu kota. Butik milik Anita ini sudah terkenal sekali di berbagai mancanegara, bahkan baik model maupun para artis sering memakai gaun rancangan dari butik Anita.
Kedua sejoli itu berjalan memasuki butik dengan beriringan. Rachel melototkan matanya saat Vino menyambar kemudian menggandeng lengan nya.
"Biar terlihat mesra di depan mama," cecar Vino.
Saat hendak protes, Anita sudah menghampiri keduanya. Rachel pun hanya bisa menampilkan senyum palsu di depan calon mertua nya.
"Eh calon pengantin sudah datang," Anita tersenyum senang saat melihat kedua tangan itu saling bergandengan.
Vino segera menghampiri Anita dan mencium tangan nya, yang kemudian di susul oleh Rachel.
Seorang karyawan di butik menyerahkan sebuah gaun biru untuk di coba nya. Rachel segera pergi ke ruang ganti untuk mencoba gaun nya.
Seketika Rachel terkesima melihat penampilan dirinya di depan cermin. Gaun ini terlihat cocok di tubuhnya. Dengan panjang yang menjuntai sebatas mata kaki, lengan 3/4 dan di tambah dengan punggung dan bahunya Ter ekkspos. Membuat Rachel terlihat **** dan cantik secara bersamaan.
Rachel segera ke luar untuk memperlihatkan gaun indah nya pada vino. Tapi sepertinya pria itu tidak menyadari ke hadiran nya, karena terlalu sibuk bermain ponsel. Sehingga Rachel pun harus berdehem dengan sangat keras untuk menyadarkan Vino.
Kedua mata Vino melotot kaget ke arah Rachel. "Kamu mau menikah dengan saya, atau mau pamer tubuh? Saya gak suka gaun itu! Ganti!" Ujar Vino dengan santai.
Masih dengan sabar Rachel mengganti gaun itu, pedahal Rachel sudah jatuh cinta sekali dengan gaun yang tadi. Rachel kembali keluar dengan gaun yang ke dua.
"Itu terlalu rame, Rachel. Saya gak suka," lagi dan lagi Vino mengomentari gaun yang di pakai Rachel ketika terlalu banyak manik - manik.
Habis sudah ke sabaran Rachel, dirinya sudah mengenakan 2 gaun pilihan nya, tapi tetap saja menolaknya. Rasanya saat ini juga Rachel ingin mengumpat Vino yang sebentar lagi akan menjadi suami nya itu.
__ADS_1
Seorang karyawan butik menyerahkan satu gaun lagi berwarna putih, dengan senyum penuh ke terpakasaan dia pun menerima gaun itu dan akan mencoba nya. Jika gaun ini tetap tidak di sukai Vino, Rachel tidak ingin mencoba gau yang lain lagi. Biarkan saja lah Vino yang memakai gaun, biar dia bisa merasakan bagaimana susah nya dia bolak - balik ganti gaun.
Rachel kembali memasuki ruang ganti, setelah gaun itu di kenakan, dia mengerjap kan matanya kaget menatap pantulan dirinya di dalam cermin. 'luar biasa' gaun ini berwana putih gading ini benar - benar indah dan terlihat simpel tapi elegan, lengan nya pun cukup panjang, jadi tidak terlalu terbuka seperti gaun yang pertama di coba nya.
Perempuan itu segera berjalan ke arah luar untuk memperlihatkan betapa indah nya gaun ini pada Vino.
Vino menolehkan kepalanya ke arah Rachel yang terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Lihatlah bahkan kini Vino tidak bisa berkedip akibat aura kecantikan yang di pancarkan Rachel.
"Wah, kamu cantik banget, chel, bahkan anak Tante aja sampe terpesona ngelihat ke cantikan kamu," Rachel yang di puji seperti itu oleh Renata pun tersipu malu.
Vino yang sadar mama nya sedang menggoda pun segera menggelengkan kepalanya. "Apaansih, ma, orang biasa aja juga," elak Vino berusaha mengalihkan perhatian nya pada ponsel.
Tapi tetap saja tidak bisa, pikiran nya terus melayang ke arah Rachel. Sesekali dia melirik ke arah gadis itu, karena akan sangat sayang sekali jika Vino melewatkan kecantikan Rachel.
...***...
Malam ini, Rachel sudah siap dengan pakaian casual nya. Dia sedikit memoles wajahnya agar tidak terlalu pucat, dan sebagai sentuhan terakhir, Rachel menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
"Pokonya malam ini gue harus ngabisin waktu bareng Leo, sebelum gue nanti resmi nikah sama si Vino nyebelin," monolog Rachel di depan cermin.
Rachel mengambil ponselnya smyang berad di atas nakas di samping tempat tidur. Dia membuka aplikasi chatt berwarna biru dengan logo pesawat kertas. Ternyata Leo sudah mengiriminya pesan satu menit yang lalu, dan dia mengatakan bahwa dirinya sudah di depan gerbang rumah Rachel.
Tanpa menunggu lama lagi dia segera meraih skin bag berwarna peach tak lupa juga dia memasukan dompet dan ponsel ke dalamnya. Rachel melangkahkan kaki nya kembali ke depan meja rias untuk memastikan bahwa penampilan nya sudah rapi.
Setelah di rasa cukup, dia keluar kamar dengan riang. Renata yang sedang menonton tv pun menatap aneh ke arah putrinya.
"Aneka mama kaya nya lagi seneng banget nih," ujar Renata tanpa mengalihkan fokus nya pada layar persegi 47 inch.
"Iya dong. Ma... Mama tau gak, mama tuh ya udah kepala tiga juga ko wajahnya awet muda banget, udah gitu kulit nya mulus lagi," rayu Rachel mengelus kulit tangan sang mama.
"Kamu muji mama kaya gini, pasti ada mau nya nih," tebak Renata.
Rachel langsung menyengir ketika tebakan sang mama tepat sasaran. "Aku mau keluar bentar bareng teman. Boleh ya..." Rachel menunjukan puppy eyes nya.
Renata yang melihat itu pun hanya bisa menggelar nafas pendek. "Yaudah, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya."
"Yeay, makasih, ma. Makin sayang deh sama mama," Rachel mengecup pipi Renata kemudian dia segera berpamitan pada sang mama, karena tidak ingin membuat Leo menunggu lebih lama lagi.
Renata hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri satu - satu nya itu. Meskipun dia sudah cukup dewasa, tetapi terkada tingkahnya masih seperti anak - anak. Untung saja suaminya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota, jika Arman ada di rumah,mungkin dia tidak akan membiarkan Rachel ke luar. Apalagi sebentar lagi putri nya itu akan menikah.
"Stop di situ, Rachel," titah Leo.
Rachel yang kaget pun segera memberhentikan larinya, dia berdiri kaku di tempat. Sedangkan Leo segera turun dari motornya dia berjongkok di hadapan Rachel untuk membenarkan tali sepatu kekasihnya.
'ceroboh'
"Kamu tub kebiasaan banget, sih. Kan aku udah ilang berapa kali, kalau tali sepatu lepas tuh benerin dulu, apalagi kaya tadi pake lari- lari segala, kalau kamu jatuh gimana?" Leo berkacak pinggang di hadpan Rachel. Dia sudah seperti emak - emak yang sedang memarahi anak nya.
"Ya kan, aku gak tahu kalau tali sepatu nya lepas," Rachel mengerucutkan bibirnya.
"Maafin aku ya?" Lanjut Rachel memeluk tubuh kekasihnya. Rachel terus merengek meminta maaf saat Leo tidak merespon ucapan nya.
Leo pun terkekeh dengan tingkah gemas kekasihnya. Dia pun mengurai pelukan nya. "Loh, ko kamu nangis?" tanya Leo kaget saat melihat kedua mata Rachel berkaca - kaca.
"Ya abisnya kamu gak mau maafin aku sih," ujar Aurel dengan bibir yang mengerucut.
"Ya udah iya aku maafin."
"Ikhlas gak nih maafin nya?"
"Ikhlas ko, sayang."
"Beneran?" tanaya Rachel memastikan.
Ya Tuhan. Tolong Leo sekarang juga, kenapa makhluk di depan nya ini nampak menggemaskan sekali. Tolong jangan sampe kamu khilaf buat nerekam dia sekarang juga Leo!
"Beneran, memang nya siapa sih yang berani marah sama princess nya Leo yang cantik ini, hm?" Leo mencubit pipi tembam Rachel dengan gemas.
"Ya udah kita jelan sekarang aja, yuk? Takut nanti nya ke buru malam," ajak Leo.
"Yuk," Rachel mengaitkan jari jemari mungilnya pada tangan kekar Leo.
Leo menyerahkan sebuah helm yang sudah dia siapkan untuk Rachel. Leo juga membantu Rachel untuk naik ke atas motornya yang tinggi.
__ADS_1
Setelah Rachel duduk dengan nyaman, Reno pun langsung menancapkan gas motornya untuk membelah jalan ibu kota di malam hari.
Karena cuaca malam ini cukup dingin, Rachel memeluk tubuh tegap Reno dari belakng, dia juga menyebderkan kepalanya pada punggung lelaki itu. Rachel memejamkan matanya saat angin malam menerpa wajahnya karena kaca helmnya tidak dia tutup.
Rasanya Rachel nyaman sekali ketika berada di dekat Leo, dia ingin menikmati kenyamanan ini lebih lama dan lalu bisa dia juga ingin pernikahan itu tidak terjadi, agar nanti nya Rachel tidak menyakiti hati laki - laki sebaik Leo.
Motor ninja hitam Leo berhenti di salah satu restaurant mewah. Bisa di lihat dari luar, restaurant ini tidak pernah sepi oleh pengunjung. Karena selain mewah, restaurant ini juga tee kenal dengan makanan nya yang begitu lezat.
Karena merasa Rachel yang tidak kunjung turun, Leo pun mengernyitkan kening nya bingung. Apakah gadis itu tertidur di belakang nya?
"Sayang," panggil Leo yang tidak mendapat respon.
"Rachel!" Leo memangil lebih sedikit keras dari yang tadi.
Rachel yang mendengar suara tinggi Leo pun langsung gelagapan, dia melirik ke arah sekitarnya seperti orang linglung.
"Kita udah sampe ya?" tanya Rachel kikuk.
"Udah nyampe sejak tadi,"
Rachel meringis mendengarnya. "Maaf."
"Udah gapapa, yang paling penting itu kita harus segera masuk ke dalam, karena sejalan tadi perut aku sudah keroncongan" Leo menepuk perutnya yang rata.
"Utututu... Kacian banget cih pacar aku kelapalan," Leo terkekeh mendengar nada berbicara Rahel yang di buat cadel.
Saat mereka memasuki restorant itu, semua pasang mata kini tertuju ke arah Rachel dan Leo . Tentu saja mereka semua tahu kalau Rachel dan Leo itu ketrunan dua keluarga kaya, banyak menyebut mereka pasangan sempurna. Padahal mereka belum tahu saja bahwa Rachel sudah di jodohkan yang dapat merusak hubungan itu kapan saja.
Restoran ini cukup luas dan berlantai dua. Lantai satu indoor, dan lantai dua outdoor. Rachel memilih untuk di lantai dua saja, karena dengan begitu dia bisa menatap langsung langit malam.
Meja di lantai dua terlihat hampir penuh, banyak pasangan muda mudi bahkan satu kelurga yang sedang dinner bersama. Rachel dan Leo berjalan ke arah meja yang masih kosong yang letak nya di paling pojok.
Rachel langsung mendudukan bokong nya di kursi, dia menatap ke sekeliling nya. Jika terlihat dari atas sini, jalanan ibu kota terlihat indah di hiasi dengan kerlap kerlip lampu dan gedung pencakar langit yang menjulang tingi.
"Kalau malam di sini lebih indah ya," Rachel menyelipkan helaian rambutnya yang berterbangan akibat tertiup angin.
"Tapi ada loh yang lebih indah dari pemandangan ibu kota," ucap Leo.
"Apa?" tanya Rachel penasaran.
"Kamu," sontak Rachel langsung menutupi pipi nya yang terasa panas. Sudah dapat di pastikan pasti saat ini pipi nya sudah mereh seperti kepiting rebus.
"Udah ih buruan pesen, tadi katanya lapar. Lapar ko malah godain anak orang."
Leo terkekeh, tangan nya melambai bermaksud untuk memanggil seorang waiters.
"Silahkan,mau pesan apa, kak?" Tanya waiters itu menyerahkan daftar menu nya ke Leo.
Waiters itu pun mencatat pesanan apa saja yang di sebutkan oleh Leo. Setelah selesai dia pun pamit.
"Baik kalau begitu, di tunggu sebentar ya kak."
Setelah kepergian waiters itu, keheningan terjadi di antara ke duanya. Rachel yang sedang meng scrol sosmed idola Thailand nya sedangkan Leo sedang bergelut dengan pikiran yang ada di otak nya.
"Rachel," panggil Leo serius. Rachel yang masih fokus pada ponsel nya pun hanya menjawab nya dengan deheman.
"Apakah ponsel mu itu lebih menarik daripada pacar mu ini?" tanya Leo sedikit merajuk.
"Baiklah, kamu mau ngomong apa?" Rachel menyimpan ponselnya dan mendengarkan apa yang akan Leo ucapkan.
"Aku pengen deh kita kaya gini terus deh."
Maksud kamu?" tanya Aurel yang tidak mengerti.
"Ya, aku pengen bareng - bareng terus sama kamu, sampai nanti kita punya anak dan cucu."
Deg!
Seketika jantung Rachel berdetak dengan kencang. Dia tidak tahu harus jawab apa. Karena jika dia mengatakan iya, itu sama saja berbohong dan memberikan harapan yang tidak akan terjadi. Tapi jika mengatakan yang sejujurnya Leo pasti akan sangat sakit hati.
Rachel merasa saat ini dirinya menjadi orang jahat yang sedang memainkan perasaan Leo. Bahkan laki - laki itu tidak tahu apa pun.
Saat hendak menjawab, seorang waiters mengantarkan pesanan mereka. Berulang kali Rachel mengucap syukur dalam hati, karena dengan kedatangan waiters itu dia tidak perlu menjawab perkataan yang Leo lontarkan.
__ADS_1
Leo yang sudah lapar pun segera menyantap makanan nya. Sedangkan Rachel hanya termenung menatap makanan nya tanpa minat, bahkan rasa lapar nya kini telah sirna akibat pekataan tadi.