DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU

DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
berantem


__ADS_3

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Vino segera mengemasi barang - barangnya. Setelah selesai, dia mengambil tas nya dan keluar dari ruang guru dengan terburu buru. Vino tidak ingin Rachel bertambah marah karena membuatnya menunggu.


Saat berjalan di koridor, tidak sengaja  Vino bertemu dengan pak kepala sekolah


"Pak," sapa Vino sambil tersenyum.


"Loh, pak Vino mau langsung pulang?" tanya Bimo, kepala sekolah SMA cakrawala


"Iya, pak, kebetulan saya sudah tidak ada pekerjaan lagi," jawab Vino dengan sopan.


"Maksud saya, bapak emang nya gak ikut ke rumah saya buat acara syukuran?"


"Loh emang acaranya hari ini ya, pak?"


"Iya, pak. Hari ini"


Vino menggaruk tenguk nya yang tidak gatal, jika dia menolak ajakan pak kepsek akan merasa sangat tidak enak. Tapi jika dia datang ke acara itu dirinya harus menyelesaikan masalah tadi siang dengan Rachel.


"Sepertinya, pak Vino, siang ini sudah ada acara, ya?" tanya pak kepsek ketika melihat perubahan raut wajah Vino.


"Iya, pak, sebenarnya saya ada acara keluarga mendadak."


"Ya sudah, kalau begitu lain kali saja," ujar pak kepsek.


"Sekali lagi, saya minta maaf, ya pak, karena tidak bisa hadir," ucap Vino dengan tidak enak Vino.


"Iya tidak apa," kalau gitu saya pamit duluan," pak kepsek segera berlalu dari hadapan Vino.


Setelah pak kepsek pergi, Vino menghela nafas pelan. Ia segera berlari menuju parkiran, di mana tempat mobil nya berada.


Sekolah saat ini sudah sangat sepi, karena para murid memang sudah pulang.


Vino bergegas memasuki mobilnya dan menuju halte. Semoga saja Rachel masih menunggu dirinya di sana.


Saat tiba di halte, Vino celingukan. Ternyata saag ini halte sudah sepi. Lalu ke mana sebenarnya Rachel pergi? Jika masih berada di sekolah itu tidak mungkin, karena sekolah sudah sangat sepi sekali.


Sudah 1 jam setengah Vino menunggu, namun sedari tadi tak melihat batang hidung Rachel. Sudah mencoba di telpon, tapi ponselnya malah tidak aktif.


"Kamu ke mana sih?" Lirih Vino menatap sekitar.


Karena Rachel tak kunjung datang, Vino kembali melajukan mobilnya untuk menuju rumah. Karena siapa tau Rachel sudah pulang duluan.


Saat sudah tiba di rumah, nihil. Ternyata di rumah pun Rachel tidak ada. Jika di rumah tidak ada, lantas Rachel pergi ke mana?


...***...

__ADS_1


Saat ini jam dinding di rumah Vino sudah menunjukan pukul sebelas malam,  tapi sedari tadi Vino tak kunjung dapat tidur karena terus memikirkan Rachel yang belum pulang. Tadi siang, Vino sempat mencari Rachel kemana - mana, tapi tak kunjung ketemu. Itu yang membuatnya khawatir.


Saat ini Vino sedang berjalan mondar mandir di ruang tamu, berharap Rachel segera pulang. Suara deru motor terdengar di depan pekarangan rumahnya. Vino segera berjalan untuk mengintip sedikit dari jendela.


Terlihat Rachel turun dari motor ninja hitam, dengan helm yang di bukakan oleh seorang lelaki. Vino tahu lelaki itu.


Tangan lelaki itu terangkat mengacak rambut Rachel. Membuat emosi Vino semakin memuncak.


"Sialan," desis Vino, hatinya terasa terbakar.


Sedangkan di luar Leo menatap bingung ke arah rumah berlantai satu yang nampak asing di matanya.


"Ko kamu turun nya di sini sih?" tanya Leo.


"Iya, karena mama, sama papa aku nya belum pulang dari Jerman. Jadi, aku nginap di rumah Tante aku dulu, soalnya kalau tinggal sendiri di rumah gak berani," jawab Rachel dengan berbohong.


"Yaudah, aku masuk ke dalam dulu ya," Leo hendak turun dari motornya.


"Mau ngapain?" tanya Rachel cepat.


"Ya mau pamitan sama tante kamu lah."


"Eh, jangan," spontan Rachel menahan pergerakan Leo.


"Maksud aku... Ini kan, udah malam, pasti tante aku juga udah tidur. Jadi pamit nya kapan - kapan aja, ya?" alibi Rachel.


"Beneran? Gak ada yang kamu sembunyiian, kan?" Leo memicingkan matanya curiga.


"Engga ko. Udah, mending kamu sekarang pulang, nanti keburu malam," ujar Rachel.


"Yaudah aku pulang dulu, ya," pamit Leo tangan terangkat mengacak rambut Rachel.


"Ati - ati," Rachel melambai tangan nya


Setelah motor Leo tak terlihat dari pandangan nya lagi, Rachel segera masuk ke dalam rumah.


"Masih inget jalan pulang ternyata," suara dingin milik seseorang lah yang menyambut kedatangan nya, menusuk kedalam gendang telinga.


Di ujung ruang tamu, terlihat Vino sedang bersidekap dada dan menatap nya dengan datar.


"Darimana?" Pertanyaan yang begitu dingin di lontarkan dari mulut Vino.


Rachel tidak menanggapi pertanyaan dari Vino, dia menganggap seolah pria itu tidak ada. Saat hendak berjalan kearah kamar, tangan nya tiba - tiba di tarik.


"Lepas, mas," kesal Rachel.

__ADS_1


"Saya tanya kamu darimana?" ulang Vino dengan pertanyaan yang sama.


"Gak usah kepo, deh, mas!"


"Saya bukan nya kepo, tapi saya itu suami kamu. Sebagai seorang suami saya berhak tahu kamu pergi kemana  dan sama siapa."


Rachel menelan ludahnya saat Vino merubah kosa katanya, dengan tatapan yang begitu membunuh. Tapi dia harus berani, dia tidak boleh takut terhadap Vino.


"Habis jalan - jalan sama Leo. Udah, puas?" Jawab Rachel dengan males.


"Jadi, sekarang tolong lepaskan tangan saya," Rachel melirik ke arah tangan nya yang masih di tahan oleh Vino, dengan mengubah cara kosa katanya mengikuti Vino.


"Saya belum selesai bicara, Rachel!"


"Boda amat, capek pengen istirahat," Rachel kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Kenapa kamu malah pergi dengan Leo sampa tengah malam, Rachel? harusnya kamu menghargai saya sebagai suami kamu!"


Langkah Rachel terhenti, dia membalikan tubuhnya ke belakang, ke arah Vino. "Iya mas tuh suami, aku, tapi suami hasil perjodohan. Terus, bukan nya kita juga udah sepakat ya, buat ngejalanin hidup masing - masing dan gak akan di permasalahkan lagi.


Vino mengepalkan tangan nya rahangnya mengeras emosi. Dirinya dan Rachel memang hanya di jodohkan dengan orang tuanya, tapi apakah istrinya itu tidak dapat menghargai perasaan nya?


"SAYA TAU, SAYA DAN KAMU, ITU MEMANG HASIL PERJODOHAN. TAPI SETIDAKNYA KAMU HARGAI SAYA SEBAGAI SUAMI. SEHARIAN SAYA MENG KHAWATIRKAN KAMU, BAHKAN SAYA MENUNGGU KAMU DI SEKOLAH SELAM SATU JAM LEBIH!" teriak Vino dengan mata yang memerah dan dada naik turun.


Rachel tersentak kaget saat mendengar bentakan Vino yang begitu menggelegar. Seumur - umur dirinya belum pernah di bentak oleh siapapun, bahkan sekalipun orang tuanya.


Kedua mata Rachel berkaca - kaca. Tapi dia segera memalingkan wajahnya, agar Vino tidak mengetahui.


"Aku capek, mas, jadi gak usah cari ribut," ujar Rachel segera berjalan meninggalkan Vino.


"Aku gak cari ribut, sebagai suami kamu, aku cuman mau ngingetin kamu. Kamu itu sekarang sudah jadi istri, jadi kalau pergi kemanapun harus izin dulu sama aku. Apalagi kamu perginya sama cowok, dan tengah malam baru pulang," Vino mengejar langkah Rachel, dia berusaha mensejajarkan langkahnya.


Rachel tak menghiraukan nya. Dia justru semakin mempercepat langkahnya untuk sampai di kamar.


"Lia, kamu dengar ma--"


BRAK


pintu kamar di tutup dengan begitu kencang oleh Rachel, tepat di hadapan Vino.


Pria itu menghela napas. Kemudian dia menghampiri Rachel ke dalam kamar. Tapi saat Vino ingin membuka pintu, ternyata pintunya di kunci dari dalam kamar oleh Rachel.


"Lia... Buka pintunya, mas belum selesai bicara," vino mengetuk pintu kayu berwarna cokelat di depan nya. Berharap Rachel akan membuka pintu, tapi nyatanya nihil. Sudah 15 menit dirinya berteriak dan mengetuk pintu, tapi tetap saja tidak di buka.


Vino mengacak rambutnya kasar, dia kembali berjalan ke arah ruang tamu dan merebahkan tubunya di atas sofa yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2