
Matahari pagi mulai menyorot melalu ventilasi. membuat seorang gadis yang terbalut oleh selimut tebal kini mulai terusik dari tidurnya akibat sang matahari.
Kedua mata itu mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Tangan nya menutup mulut yang menguap lebar.
"Jam berapa sih?" Monolog Rachel menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
Seketika kedua manik berwarna cokelat terang itu membulat ketika melihat jam di atas nakas menunjukan angka 6.40.
Rachel segera meloncat ke bawah, dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, serta gosok gigi.
Jika sudah mepet begini tak perlu mandi pun tidak apa, karena menurut Rachel mandi, atau tidak mandi wajahnya tetap sama, tidak akan berubah.
"Kenapa mas Vino gak nge bangunin sih, kan jadinya kesiangan," gerutu Rachel di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
Setelah di rasa rapi, Rachel bergegas keluar kamar. Tapi saat tiba di depan pintu, kening nya mengernyit. "Ko pintunya di kunci dari dalam sih?"
"Oh iya, semalam kan, gue ribut sama mas Vino. Terus gue kunci pintunya agar mas Vino gak bisa masuk ke dalam kamar," ucap Rachel setelah mengingat apa yang terjadi.
"Apa jangan - jangan mas Vino juga belum bangun?" Rachel segera membuka pintu kamarnya.
Saat tiba di luar kamar, kepala Rachel celingukan, rumah ini terlihat sepi. Seperti tidak ada kehidupan.
Kaki Rachel melangkah ke arah ruang tamu, di sana pun sudah tidak ada siapa - siapa.
"Apa mas Vino udah berangkat ya?" tanya nya pada diri sendiri. "Ah bodo lah, ngapain juga gue harus mikirin orang itu," lanjutnya segera berlari keluar rumah.
Tidak peduli jika belum sarapan, karena sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk sarapan.
Sudah sepuluh menit Rachel menunggu angkutan umum di depan gerbang rumahnya. Tapi tidak ada yang lewat satupun.
Rachel berdecak kesal di buatnya, kenapa seolah - olah takdir tidak memihak nya. Pedahal jika pagi biasanya banyak sekali angkutan yang lewat, tapi kenapa sekarang tidak ada.
Helaan nafas lega keluar, saat melihat sebuah taxi berjalan ke arahnya. Tangan nya terulur melambai ke depan untuk memberhentikan taxi itu.
Saat berada di dalam taxi pun Rachel masih merasa tidak tenang, karena supirnya menyetir dengan lambat, di tambah dengan jalanan pagi yang begitu macet.
"Pak, cepetan dong, pak. Saya udah terlambat nih," Rachel melirik jam yang kini sudah menunjukan angka 7, yang artinya dia sudah terlambat. Karena bel masuk pasti sekarang sedang berbunyi.
__ADS_1
"Sabar, neng, ini di depan nya macet banget," jawab sang supir taxi.
Rachel menatap ke arah depan, memang benar jalanan begitu macet sekali. Entahlah apa yang membuat jalanan ibu kota setiap pagi selalu macet.
"Saya turun di sini aja, pak. Ini ongkos nya," Rachel menyerahkan uang selembar berwarna biru.
"Tapi kan, masih jauh, neng."
"Gapapa. Saya mau lari aja, daripada nanti saya tambah telat," Rachel keluar dari taxi itu.
Menatap sekitar, jalanan padat oleh kendaraan yang berlalu lalang. Cuaca pagi ini pun lumayan terik.
Rachel menarik napas perlahan, dan di hembuskan nya melalu mulut. Jarak dari sini menuju sekolahnya 5 km. Meskipun lumayan jauh, mau tidak mau Rachel harus berlari.
Perempuan berseragam putih abu itu kini berlari membelah kemacetan. Sesekali tangan mengelap keringat yang membasahi pelipis.
Napas nya nampak ngos - ngos an, dia menumpukan kedua tangan nya di atas lutut untuk berhenti sejenak, dan kembali menormalkan napas nya yang memburu.
Hanya tinggal beberapa meter lagi, sudah tiba di sekolahnya. Semangat Rachel!
Rachel menatap pagar hitam menjulang tinggi yang kini sudah tertutup rapat. Kepalanya celingukan untuk mencari seseorang, tapi tak ada satu orang pun di luar gerbang.
"HEI! KAMU KAMU TErLAMBAT YA?!" teriak pak Budi yang merupakan guru BK. Dia segera berlari menghampiri Rachel sebelum muridnya itu kabur.
"Adu, mampus, gue, mana pak Budi lagi," gerutu Rachel.
"Hayoloh! Mau kabur ya?" Pak Budi segera menahan tas Rachel yang hendak lari.
"Enggak ko, pak," Rachel menyengir kuda.
Pak Budi segera memerintahkan dua orang anggota OSIS untuk membuka gerbangnya.
Rachel menekuk wajahnya masam, jika sudah begini habislah riwayatnya, karena pak Budi pasti tidak akan mentorerir murid yang telat.
"Kenapa kesiangan?" tanya pak Budi datar saat kini Rachel sudah berdiri di depan nya.
"Kesiangan, Pak," jawab Rachel menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Alasan yang sangat klise. Pokonya saya tidak mau dengar alasan kamu lagi, sekarang juga kamu lari keliling lapangan 10 puteran."
"Tapi, pa--"
"15 puteran," pak Budi memotong protestan Rachel.
Rachel menghela nafas. Pak Budi dan Vino itu memilik sifat yang sama, semakin kita protes, maka hukuman nya semakin bertambah dan sama pula kejam nya.
Jadi, tidak ada pilihan lain, selain Rachel menuruti perintah dari pak Budi. Rachel berjalan gontai ke arah lapangan. Dia melempar tas nya sembarangan ke pinggir lapang.
Rachel segera memulai hukuman nya, dan mulai berlari mengelilingi lapangan.
Tanpa di sadari olehnya, seseorang yang berada di ujung lorong terus memperhatikan Rachel, semenjak dirinya datang, bahkan sampai kini dia menjalankan hukuman.
Pagi ini matahari bersinar sangat terik. Peluh sudah membanjiri wajah serta seragam yang Rachel kenakan.
Pada saat putaran ke 13, Rachel merasa tubuhnya lemas, dan kepalanya terasa pusing. Mungkin karena efek belum sarapan, di tambah sekarang dia harus menjalankan hukuman berlari mengelilingi lapangan.
Rachel berhenti sejenak, dengan kedua tangan yang menumpu pada lutut, dengan terus mengatur deru napas nya. Rachel benar - benar sudah tidak bertenaga. Tapi masih harus melanjutkan dua putaran lagi.
Saat baru beberapa langkah kembali melanjutkan hukuman, pandangan nya mendadak memburam. Tubuhnya ambruk di tengah lapang begitu saja.
Sosok seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Rachel pun kaget saat mendapati gadis itu tak sadarkan diri. Ia segera berlari ke tengah lapang untuk menghampirinya.
Dari arah yang berbeda juga, seorang siswa dengan seragam acak - acakan, dan dua kancing teratas di buka, berlari menghampiri kekasihnya yang tergeletak.
"Pak, bapak ngapain gendong pacar saya?" tanya Leo saat guru nya itu menggendong Rachel.
"Kamu pikir kalau jika saya melihat seseorang pingsan di depan saya, saya akan diam saja, begitu?" tanya Vino menatap Leo sinis.
"Tapi sekarang sudah ada saya, kekasihnya. Jadi, biarkan saya yang mengantarkan Rachel ke UKS."
"Tidak bisa, kamu harus masuk kelas untuk belajar!" Perintah Vino.
"Tapi, pa--"
"Jangan meributkan sesuatu yang tidak penting. Saat ini Rachel lebih membutuhkan pertolongan pertama," ujar Vino saat baru menyadari Rachel yang masih tak sadarkan diri di dalam gendongan nya.
__ADS_1
Leo berdecak kesal. Akhirnya dia mengikuti Vino dari belakang untuk menuju UKS.