
Bel istirahat sudah berbunyi sejak Lima menit yang lalu. Kini kantin pun sudah terisi penuh oleh siswa yang berdesakan karena perutnya yang terasa lapar.
Di meja paling pojok, terdapat lima siswa yang sedang bercanda ria.
"Kamu mau pesan apa, ay?" tanya Leo mengelus surai Rachel dengan lembut.
"Yaelah mentang - mentang udah baikan, dunia serasa milik berdua. Yang lain mah ngontrak," sindir Agung seorang playboy cap kakap yang sialnya menjadi sahabat Leo.
Agung Mahendra, seorang playboy yang terkenal di seantero SMA Cakrawala. Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu.
Playboy bukan sikap Agung yang sebenarnya, dia dahulu pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis, yang akhirnya gadis itu ketahuan selingkuh. Dari situlah agung berubah menjadi Playboy, yang setiap Minggu nya gonta ganti pasangan.
"Bilang aja lo itu iri, kan? Dasar playboy bercap sad boy," ya memang seperti itulah julukan Agung.
"Nyess banget gak tuh ke hati," tawa lelaki bermata sipit itu menggelegar ketika melihat wajah nelangsa milik Agung.
Ade Wiratama, cowok berdarah Sunda itu mempunyai paras yang cukup rupawan. Tidak hanya itu, ketika dia tersenyum, matanya akan membentuk bulan sabit yang membuat semua orang terpesona.
"Daripada lo, punya pacar ko dapet dari anonymous," ledek Agung.
"Dih, siapa bilang gue punya pacar dari anonymous? Kan pacar gue cuman Zaskia seorang. Ya, gak, Zas?" Ade menaik turunkan kedua alisnya.
Memang bukan rahasia umum lagi Ade selalu mengejar Zaskia. Tapi sayangnya cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan, karena Zaskia tidak mencintainya.
Jadi, Ade selalu melampiaskan nya lewat anonymous, pacar virtualnya.
"Ogah gue, pacaran sama lo, pacaran aja tuh sama anonymous," Zaskia segera menepis tangan Ade yang bertengger manis di bahunya.
"Pacaran virtual gak tuh," ledek Agung.
"Sad boy cis," balas Ade kembali meledek. Semua orang yang ada di meja itu tertawa ketika melihat Agung yang menekuk wajahnya.
"Sialan lo semua!"
"Udah ih, ngobrol Mulu. Perut aku laper tahu," adu Rachel mengerucutkan bibirnya ke arah Leo.
"Utututu, pacar aku lapar ya? Yaudah kamu mau pesan apa?" tanya Leo.
"Bakso aja deh, sama minumnya Boba ya," pinta Rachel.
"No! Gak pake Boba - Boba an. Minumnya teh manis aja!" Final Leo yang membuat Rachel mencebikan bibirnya kesal.
"Leo, gue juga sekalian ya tolong beliin bakso," ujar Agung.
"Eh, enak aja. Lo ikut gue, punya kaki punya tangan tuh harus di gunain," Leo segera menarik tangan Agung menuju stand bakso.
Setelah beberapa menit berdesak - desakan di gerobak bakso. Kini, Leo dan Agung kembali ke meja. Dengan Leo membawa 5 gelas teh manis, dan Agung membawa 5 mangkok bakso.
Rachel menatap berbinar ke arah bakso itu. Cacingnya semakin berteriak kencang seolah meminta untuk segera di beri asupan.
__ADS_1
"Nih, buat kamu," Leo menyerahkan satu mangkuk bakso pad Rachel.
"Makasih."
Kening Rachel berkerut menatap bakso yang ada di depan nya. "Eh kayanya bakso aku ke tuker deh sama yang lain."
"Engga ko," ujar Leo.
"Iya ketuker, aku kan gak suka bihun, tapi yang ini ada bihun nya."
Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia meringis saat lupa bahwa kekasihnya itu tidak menyukai bihun.
"Aku lupa," Leo menyengir kuda. "Yaudah aku beli lagi ya, biar yang punya kamu nya kau makan," lanjut Leo menarik mangkuk milik Rachel.
"Eh gak usah," tahan Rachel.
"Kan kamu katanya gak suka bihun?"
"Iya gapapa biar kenyang."
Leo pun tidak jadi memesan bakso kembali. Dia segera melahap bakso miliknya, karena memang sudah lapar sejak tadi.
Rachel menatap tidak minat kecarah bakso yang ada di depan nya. Rasa apar yang tadi sempat mendera pun kini melebur begitu saja.
Mata Rachel menatap ke arah teman - teman nya yang sedang menikmati bakso masing - masing. Sedangkan dia hanya bisa mengaduk - aduk baksonya.
Ponsel yang berada di saku rok abu Rachel bergetar. Dia segera membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Mas Vino ganteng
Kedua mata Rachel membelakak ketika melihat nama sang pengirim. Perasaan, dia tidak pernah menyimpan nomor Vino dengan mama seperti itu. Ini pasti kerjaan nya Vino. Karena kesal Vino merubah nama kontaknya sembarangan, Rachel pun mengabaikan pesan itu.
Decakan kesal keluar dari mulut Rachel saat kini lagi dan lagi ponselnya bergetar ada pesan masuk.
Mas Vino ganteng
Ke sni skrg / aku smprin kmu k kntin
Semua pasang mata yang ada di meja itu menatap ke arah Rachel saat suara bangku berderit di dorong.
"Lo mau ke mana, chel?" tanya Zaskia saat Rachel sudah berdiri dari duduknya.
"Gue baru inget, kalau gue ada janji sama pak Vino buat ulangan susulan," alibi Rachel.
"Kamu makan dulu aja, tuh bakso kamu juga masih utuh," tunjuk Leo pada mangkok bakso milik Rachel yang belum di makan sama sekali.
"Gak usah, aku buru - buru banget. Aku duluan ya," ucap Rachel pada Leo. "Guys, gue duluan," lanjut Rach pada semua orang yang ada di meja.
Rachel segera bergegas menuju stand siomay. Tadi Vino mengiriminya pesan kembali jika pria itu menginginkan simoay. Mau tidak mau, Rachel pun menurutinya. Karena daripada nanti nyamperin ke kantin, kan lebih bahaya.
__ADS_1
Saat tiba di rooftop Rachel celingukan ketika tidak melihat siapa pun di sini. Mata Rachel terpaku saat melihat tubuh tegap seorang pria di balut dengan kameja cream sedang berdiri di pembatas dengan membelakanginya.
Tungkai Rachel berjalan ke arah pria itu. Dia berdehem untuk menyadarkan Vino daeibketeelamuann nya.
"Ngelamun Mulu, mas," sindir Rachel.
Vino langsung membalikan badan nya, dia duduk di sofa usang yang ada di rooftop sekolah.
"Mana pesenan aku?" Vino mengadahkan tangan nya ke depan.
"Nih," Rachel menyerahkan sterofom yang berisi siomay pada Vino.
Karena merasa kakinya pegal, Rachel pun mendudukan tubuhnya di samping Vino. Dari atas sini, dia dapat melihat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Vino menyerahkan sterofom yang berisi simoay itu pada Rachel saat ponsel nya bergetar. Vino merogoh ponselnya. Melihat nama sang pemanggil.
"Bentar, mas angkat telepon dulu ya," Rachel mengagukan kepalanya. Vino segera menjauhkan diri.
Setelah beberapa menit berbincang di telepon, vino kembali ke tempat semula.
"Siapa?" tanya Rachel penasaran.
"Papa, dia nyuruh mas untuk ke kantor."
Selain menjadi guru, Vino juga memimpin sebuah perusahaan milik ayahnya.
"Terus sekarang mas mau ke kantor?"
"Iya, soalnya ada dokumen yang harus mas tanda tangani."
"Yaudah mas ke kantor, gih" usir Rachel.
"Kamu ngusir mas?"
Rachel memutar bola matanya malas. "kan tadi mas sendiri yang mau bilang ke kantor. Kan takutnya papa nunggu kelamaan."
"Yaudah mas ke kantor dulu ya," ujar Vino.
"Iya, hati - hati," Rachel mencium tangan Vino.
Saat langkah ketiga, Vino membalikan tubunya kembali. "Ada yang ketinggalan," ujar Vino.
"Apa?" tanya Rachel mengernyitkan dahinya bingung.
Dengan secepat kilat Vino mengecup kening Rachel. Seolah tersengat oleh aliran listrik, Rachel hanya bisa terdiam bak patung. Kedua matanya mengerjap - ngerjap kecil.
"Nanti kalau pulang tinggal chatt aja ya, mas pasti jemput ko," ujar Vino mengacak puncak kepala Rachel.
Rachel masih terdiam, dia bahkan tidak sadar bahwa Vino sudah pergi. Kedua tangan Rachel terangkat untuk memegang dadanya yang berdegup dengan kencang.
__ADS_1
"Jantung gue," gumam Rachel.