
dokter cahaya memberikan sebuah amplop putih kepada ERSHA, dari raut wajah dokter cahaya Ersha dapat menebak kalau kabar buruklah yang tertulis dalam amplop putih yang kini berada dalam genggaman nya
dihembuskannya nafasnya kasar
tubuh nya bergetar, dadanya terasa sesak meskipun dia sudah bisa menebaknya tapi ia masih belum siap untuk kembali menerima kenyataan pahit itu lagi
"seperti yang kita khawatir kan sha, sel kanker di otak kamu ternyata tidak benar benar menghilang, kini sel kanker itu sudah menyebar begitu cepat, dan sudah memasuki ke tahap stadium 3"
dokter cahaya meraih tubuh Ersha yang tiba tiba limbung kedalam pelukannya,
dia adalah sahabat sekaligus dokter yang dulu pernah merawat Ersha saat dulu untuk pertama kalinya Ersha di diagnosa kanker otak
"kamu jangan khawatir sha, mba akan berusaha menyembuhkan mu, kita akan melakukan kemoterapi atau bila perlu kita akan melakukan operasi pengangkatan sel kankernya dan..."
"mba. cukup mba, saya tahu mba, percuma kita melakukan kemoterapi, bahkan operasi pengangkatan sel kanker, saya tidak akan pernah sembuh, saya sudah pernah mengalami semua ini mba, saya lelah mba...hiks hiks"
belakangan ini Ersha kerap sekali merasakan sakit kepala yang kerap kambuh, kadang merasakan kantuk terus menerus, nafasnya mudah terengah engah, dia sering berhalusinasi dan kebingungan, sering melakukan gerakan yang tidak terkontrol, kemampuan berpikir nya terkadang terganggu
selain kerap mual dan muntah ia juga susah menelan makanan, sehingga menghilangkan nafsu makannya dan itu membuat berat badannya turun,
lebih parahnya lagi ia sering merasakan nyeri yang begitu parah, kulitnya terasa dingin dan kering, dan jangan tanya lagi dalam satu hari berapa kali dia pingsan tak sadarkan diri, dan berapa kali darah menetes dari hidungnya
feroz terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia sering sekali keluar kota bahkan keluarga negeri untuk urusan bisnisnya,
sehingga dia tidak menyadari banyak perubahan dalam diri istrinya,
semenjak Mytha yang baru melahirkan tinggal di kediaman keluarga feroz, semua perhatian keluarga feroz tertuju untuk Mytha dan bayinya, mereka sudah jarang berkunjung ke rumah Ersha dan feroz untuk sekedar menanyakan kabar Ersha
Clarissa tak henti hentinya membuat masalah, mulai dari berita viral ia menjalin hubungan dengan tunangan orang sampai harus berurusan dengan hukum karena melanggar kontrak kerja, dan ayah Ersha yang harus menyelesaikan semuanya, sedangkan papa Clarissa bukan sejenis ayah yang bertanggung jawab, dan semua masalah Clarissa itu menyita semua waktu ayah Ersha, sehingga lelaki yang begitu Ersha cintai sudah jarang berkunjung kerumah Ersha..
sementara bumi?
, ia yang membentangkan jarak diantara dia dan bumi,
dia yang memutuskan tali silaturahmi di antara mereka
bumi yang kecewa dengan keputusan ersha untuk tidak terlalu dekat dengannya membuat dia menjauh membawa rasa kecewanya, bumi sudah benar benar tak pernah menanyakan kabarnya
kini ia sendiri, bertahan dalam sakitnya
.
.
.
.
"sha..." bumi menghampiri Ersha yang menyandarkan kepalanya pada meja taman..
dari balik mata yang terpejam mengalir butiran air bening
Ersha yang disapa bumi membuka matanya, ditatap nya wajah bumi yang penuh dengan tanda tanya dan tampak begitu panik
mata bumi memandang Ersha dari ujung kepala hingga ujung kaki
sungguh sangat menyedihkan kondisi tubuh Ersha saat ini
badan kurus, mata cekung dan wajah yang begitu pucat
hati bumi hancur jiwa nya seakan runtuh , Ersha yang dilihatnya saat ini jauh lebih memperhatinkan ketimbang Ersha beberapa tahun yang lalu, saat Ersha mengidap kanker otak,
__ADS_1
tanpa bersuara bumi terjerembab ketanah, dia kehilangan keseimbangan nya
.
.
.
.
seperti bumi, Nia dan Frans pun terpukul dengan keadaan Ersha saat ini
mereka tak menyangka penyakit itu kembali menggerogoti tubuh Ersha
"Tante jangan nangis, nanti Ersha sedih"
kini Ersha memeluk tubuh Nia yang ikut berbaring di sampingnya
"iya sayang, maafkan Tante ya, kamu harus kuat, Tante om dan bumi ada untuk kamu, kamu ngg sendiri sayang.."
sore itu setelah pertemuan bumi dan Ersha, bumi memaksa untuk Ersha ikut kerumahnya
awalnya Ersha menolaknya, tapi bumi bersikeras untuk tetap membawah Ersha bersamanya
"terimakasih Tante, Ersha sayang sama Tante, Tante nanti kalau ada apa apa dengan Ersha tante harus tepati janji Tante ya...?
"pasti sayang..."
.
.
.
di kamar Ersha semasa kecil, di rumah ayah dan ibunya
feroz terbaring dikasur empuk Ersha
sudah sebulan Feroz tinggal di rumah ayah dan ibu ersha
selama tugas kerja d kota yang sama dengan mertuanya Feroz diminta untuk tinggal bersama mereka..
meskipun sudah sebulan ia tidur dikamar ersha hari ini untuk pertama kalinya dia menelusuri setiap sudut kamar Ersha
semuanya tampak tersusun rapi, meskipun sudah bertahun lama nya Ersha tidak pernah lagi pulang kerumah orang tuanya
buku buku jaman Ersha sekolah hingga berbagai novel dan komik kegemaran nya masih tersusun rapi di raknya
diambilnya satu persatu buku buku yang tersusun rapi itu
di lihatnya, di bacanya, dan dikembalikannya ketempat semula
namun ada satu buku kecil, yang terselip diantara buku buku yang tersusun rapi, buku yang bersampul coklat tua itu dari tadi mencuri perhatiannya seakan mengusiknya, hatinya kuat meminta nya untuk mengambil buku yang sampulnya terbuat dari bahan kulit itu
tersungging sebuah senyuman dibibir nya tak kalah ia menyadari bahwa buku yang ada di genggaman nya saat ini adalah buku catatan harian istrinya
lembar demi lembar dibacanya .
setiap lembar menceritakan tentang kehidupan Ersha kecil,
tentang kerinduan nya terhadap wanita yang telah melahirkan nya yang telah pergi meninggalkan nya untuk selamanya, hingga rasa bahagia nya saat kehadiran seorang wanita dalam hidupnya yang ia panggil dengan nama ibu..
__ADS_1
serta sang pangeran penyelamat nya yang ia sebut dengan nama HERO..
*Ersha rindu mama, kenapa mama tinggalkan ersha, Ersha ingin ketemu mama*
*hari ini Ersha bertemu dengan Hero, dia melindungi Ersha dari teman teman Ersha yang nakal*
*Ersha sedih hari ini hari terakhir Ersha bertemu Hero. Hero jangan lupakan Ersha dan tunggu Ersha kembali ya*
*Ersha bahagia sekali, akhirnya Ersha punya ibu, Ersha sayang ibu, tapi Ersha juga sayang mama,*
kisah hidup Ersha kecil tidak hanya diselingi rasa bahagia dan kesedihan, tapi juga ada rasa kerinduan yang teramat besar kepada sosok wanita yang telah melahirkan nya
feroz pun ikut terhanyut dalam cerita kehidupan istrinya, tak jarang ia meneteskan air matanya dan tak sekali juga tersimpul senyum di bibirnya .
catatan harian Ersha loncat ke saat dirinya sudah memasuki bangku SMA, karena setelah lembar yang mengisahkan perpisahan nya dengan HERO tidak lagi ada kisah kecilnya yang tertulis, kisahnya berlanjut pada kisah untuk pertama kalinya dia memakai seragam putih abu abu, dan saat bendera peperangan nya Dengan Clarissa berkibar tinggi, semua tertuang dalam buku bersampul coklat itu
dia terus membacanya hingga pada lembar terakhir, lembar yang isinya tak pernah terbayangkan oleh Feroz, lembar yang isinya begitu menyakitkan untuk nya..
*aku mencintaimu mas bumi,*
lembar terakhir dari buku catatan harian Ersha bertuliskan tentang perasaanya terhadap pria yang bernama Bumi Daniel
perasaan yang secara diam diam telah menguasai hatinya , perasaan yang dulu dia anggap sebagai rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, perasaan yang tak kan mungkin pernah terucap dari bibirnya
*aku akan tetap mencintaimu meski nantinya aku telah menjadi milik orang lain* satu kalimat yang menjadi tamparan untuk nya
"berengs3k.." Feroz mencampakkan buku itu kelantai
matanya memerah, rahangnya mengeras, api amarah berkobar dalam dirinya
"penipu,, kau telah berani mempermainkan ku Ersha...."
tok tok tok
pintu kamar nya diketuk saat amarahnya belum padam, dia mencoba untuk mengkawal perasaan marahnya
Clarissa tampak tersenyum memamerkan gigi nya yang tersusun rapi
"ada apa?" tanya Feroz ketus
"jangan galak galak sayang"
feroz menepis jari jemari Clarissa yang sudah merabah liar dada bidangnya
"aku kesini ingin nunjukin sesuatu ke kamu," Clarissa memberikan ponselnya kepada Feroz
feroz merampas ponsel itu dari tangan Clarissa, mata nya membulat dengan apa yang dilihatnya
tertera foto Ersha yang tengah dipeluk bumi
"itu foto asli sayang, diambil lima menit yang lalu, orang kepercayaan ku mengirimkan nya pada ku, jadi terjamin keasliannya" Clarissa tersenyum sinis, dia tahu pasti saat ini Feroz sudah terbakar api kemarahan
"ternyata istri mu tak lebih baik dari ku, munafik. dia mengucapkan cinta di telinga mu tapi membiarkan lelaki lain memeluknya, " Feroz menatapnya tajam
"jangan jangan selama ini dia sudah membiarkan selain suaminya menikmati keindahan tubuhnya..." feroz mencengkram leher Clarissa hingga wajah Clarissa memerah
"tutup mulut busuk mu itu.." Feroz melepaskan cengkraman nya, mengembalikan ponsel Clarissa, sebelum dia pergi meninggalkan Clarissa yang terbatuk batuk
dalam kemarahan yang memuncak Feroz melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
.
__ADS_1
.
.