
setahun berlalu...
"selamat ulang tahun mba.."ericko meniup lilin diatas cup cake greentea favorit ersha
"aku merindukan mu mba" ericko menatap foto Ersha, satu satunya tentang Ersha yang bisa ia selamatkan dari lahapan api yang rakus
ayah mereka tidak hanya membuang Ersha dalam hati dan hidupnya, tapi menghilangkan semua tentang Ersha di istana mereka
semua barang barang Ersha semua yang mengingatkan tentang Ersha berakhir dalam kobaran api yang menyala
ericko mendekap erat foto Ersha, memejamkan matanya membayangkan Ersha lah yang ada dalam pelukkannya.
hari ini entah kenapa dia begitu merindukan ersha
brakkk
pintu kamar ericko didobrak
disebalik pintu yang telah terbuka lebar berdiri sosok seorang pria yang terbakar oleh api amarah, rahangnya mengeras tatapannya tajam wajahnya menegang..
"ayah.." badannya mendadak dingin, ia menggigil ketakutan
"sudah berapa kali ku katakan aku tidak mau apapun yang berkenaan dengan nya berada dalam rumah ku" Erwin merampas foto Ersha dan membawanya
"ayah jangan ayah.." tertatih ericko mengejar ayahnya,
Erwin membanting foto itu ketanah, menginjak injaknya lalu menyulut nya dengan api
"mba Ersha....." ericko terlambat foto itu tak terselamatkan
ericko menangis dihadapan api yang melahap gambar wanita yang sangat ia rindukan..
"meskipun anda membakar semua tentang nya anda tidak akan bisa menghapus dia dalam hati saya..." langkah kaki Erwin terhenti mendengar perkataan anak bungsunya
__ADS_1
"jaga bicaramu.." Erwin mengangkat tangan nya hendak memberikan tamparan pada ericko
"tampar.. tamparlah kalau dengan menampar saya adalah cara untuk dia kembali saya rela. tapi ingat saat anda menampar saya anda tidak hanya kehilangan anak perempuan anda tapi anda juga kehilangan anak lelaki anda." Erwin menurunkan tangannya dan meninggalkan ericko begitu saja, dengan marah
sementara disebalik jendela dilantai atas mengintai seorang wanita..
"pertama kali aku datang kerumah ini, kamu membuat aku cemburu sha, kamu punya ayah, lelaki yang begitu mencintai mu kamu punya ibu yang cintanya lebih besar untuk mu dibandingkan aku putri kandungnya, dulu aku berhasil menyingkirkan mu dari rumah, tapi tidak dari hati ayah dan ibu, kamu tetap ratu dihati mereka, bersusah payah aku menciptakan kebohongan agar mereka membencimu tapi selalu gagal sha, dan kini kamu dibuang sha, kamu dibenci, tapi kenapa sakit yang ku rasakan bukan bahagia" Clarissa menyeka air matanya
"kamu dimana sha.. aku merindukan mu..kenapa kamu ciptakan kisah ini sha" Clarissa dan Ersha memang selalu ribut tapi Clarissa mengenal betul siapa Ersha , Ersha tak kan mungkin melakukan hal sehina itu
"andai aku tidak menguji cinta Feroz dengan menunjukkan foto mu yang sedang dipeluk bumi ini semua tidak akan terjadi, ini semua salah ku, maafkan aku Ersha"
.
.
.
.
menghadirkan semburat jingga
melukiskan siluet seorang lelaki yang menatap kosong ke tepi pantai dan dalam pelukannya ada seorang wanita yang begitu ia cintai
senja kemarin adalah senja dengan langit jingganya yang menghadiahkan sebuah hal yang indah dan begitu bewarna
senja kemarin adalah sebuah pintu seribu kisah romantis dimulai
senja kemarin adalah sebuah kekuatan bagi manusia yang membutuhkan sebuah keindahan dalam pahitnya kehidupan
senja kemarin adalah penghapus luka
dan senja kemarin masih sama seperti senja hari ini
__ADS_1
tapi tidak untuknya
senja hari ini kelam
senja hari ini belati yang merobek relung hatinya
senja hari ini adalah kehilangan
senja hari ini adalah pemisah
"aku mencintaimu Ersha, " tubuh wanita tak bernyawa itu didekapnya dalam pelukan
***
"jangan lepaskan ya...!!" Ersha meminta bumi menggenggam tangan nya
"terimakasih sudah mencintai ku.." bumi terkejut bagaimana bisa Ersha mengetahui perasaannya
"bukan Tante, dia tidak pernah berbicara apapun.."Ersha tersenyum, dia tahu apa yang sekarang ada dalam pikiran laki laki itu
"maaf, aku tidak bisa mencintai mu, dia masih dalam hatiku.." bumi tahu Ersha tak kan pernah mencintai nya
***
.
.
."bumi hari sudah mulai gelap ayo kita pulang.."
"husssttt Ersha sedang tertidur mama.." bumi meletakkan ujung jari didepan bibirnya, air matanya mengalir deras
bersamaan dengan air mata bumi yang menetes, Nia pun ambruk
__ADS_1
sekarang dihadapannya bumi sedang memeluk Ersha yang tak lagi bernyawa, wajah itu semakin pucat, tangannya terkulai lemas, mata yang selalu menenangkan Nia tiap kali menatapnya telah terpejam rapat,
"Ersha..." lirihnya