Di Penghujung Senja

Di Penghujung Senja
part 18 (revisi)


__ADS_3

tok tok tok


Danu mengetuk pintu kamar hotel ayah dan ibu mertua nya


ceklek


"ayah saya sudah tahu dimana Clarissa dan ericko.." setelah kepergian Clarissa dan ericko dari hotel tempat pesta pernikahan Feroz dan Yumna mereka tidak kembali lagi ke hotel malam itu..


mereka menghilang dan tak seorang pun tahu dimana keberadaan mereka


setelah habis resepsi semua orang turut membantu mencari keberadaan Clarissa dan ericko.namun tak ada yang menemukan mereka sampai pagi menjelang.


"mereka ada dimana NU" tanya Chintya, ada rasa haru, semalam ia tidak tidur memikirkan kemana perginya kedua anaknya


"tadi saya coba hubungi kembali nomor ponsel ericko, dan ternyata aktif, ericko bilang dia dan Clarissa baik baik saja, cuma mereka minta ibu datang ke makam umum yang tidak jauh dari sini..."


"makam umum?, mereka sedang apa disana?"


"saya sudah bertanya sama ericko, buat apa mereka dimakam, tapi ericko cuma bilang mereka mau ibu datang kesana, sekarang"


"kalau gitu tunggu apa lagi, ayo kita sekarang kesana.."


Erwin dan danu mengangguk kan kepala sebagai isyarat setuju


"ayah.." Feroz memanggil Erwin yang berjalan terburu buru menyusul istrinya yang jalan terlebih dahulu dan dibelakang nya ada Danu yang berjalan tak kala terburu buru


karena teriakan Feroz mereka bertiga menghentikan langkahnya


"bagaimana udah ada kabar Clarissa dan ericko.."tanya Feroz khawatir


"tadi erikco sudah telpon, kata nya mereka sekarang ada di makam yang tidak jauh dari sini, mereka minta ibu kesana,"jawab danu


"ke makam??"


"iya, aku juga tidak tahu kenapa ericko dan Clarissa minta ibu datang kesana.."


"ya udah kalau gitu kita kesana sekarang, kami juga ikut kesana,"kata Roy dan semua keluarga nya setuju


.


.


.


Danu menghentikan mobilnya tepat di hadapan Clarissa yang duduk di bangku halte didepan area makam


"sayang.." Danu memeluk erat istrinya


"maafkan saya mas.. maaf kan mami sayang.." setelah memeluk Danu Clarissa mencium wajah putranya yang berada dalam gendongan ibu nya


"maafkan Clarissa sudah buat ibu dan semuanya khawatir..." Clarissa tahu semua orang pasti khawatir dengan keadaannya dan ericko yang tiba tiba menghilang


"bagaimana keadaan kamu dan ericko Clarissa.." tanya Feroz yang menghampiri mereka, tak ada jawaban untuk Feroz, entah kenapa setelah mendengar kabar tentang kepergian Ersha membuat Clarissa malas untuk berbicara dengan feroz, tapi dia bukan marah hanya rasa malas saja


"ohh ada om dan Tante juga.." Clarissa tidak menyadari kalau tidak hanya suami, anak, ibu mertuanya dan kedua orang tuanya yang datang ke makam tapi ada juga keluarga besar feroz


"iya sayang om Tante dan semuanya khawatir sama kamu dan ericko.." kata Maya


"maafkan kami telah membuat semua orang khawatir.."


"sebenarnya kalian dari mana saja dan mana ericko.."tanya Chintya, dari mereka sampai dia tidak melihat keberadaan putranya


"kemarin saya dan ericko pergi ke pantai, saat kita mau kembali ke hotel kita bertemu dengan Tante Nia.."


"Tante Nia?"


" iya ibu, Tante Nia, kita ikut Tante Nia kerumahnya, rumah Tante nia tidak jauh kok dari sini, kita ngobrol banyak sama Tante Nia, karena asyik ngobrol kita tidak menyadari ternyata sudah larut malam, saat kita mau pulang, hujan deras, Tante Nia larang kita pulang dalam keadaan malam dan hujan deras, jadi kita memutuskan untuk nginap dirumah Tante Nia.."


"tapi kan bisa telpon.."kata Erwin ketus, entah kenapa mendengar nama Nia membuat dia muak


"ponsel Clarissa jatuh kemarin dipantai dan rusak ayah, sedangkan ponsel ericko lowbat dan Clarissa tidak hapal dengan nomor ponsel baru mas Danu.."


"sekarang ngg usah pikiran itu dulu, yang penting sekarang dimana ericko ." Chintya menghentikan debat antara putri dan suaminya

__ADS_1


"ericko ada didalam ibu, "


"buat apa ericko ada di dalam.."


"ericko ziarah kubur om Frans ibu.."


"mas Frans?" tanya Chintya dengan rasa terkejut


"iya ibu, om Frans sudah meninggal dua tahu yang lalu, meninggal dalam tidurnya.. maka itu saya minta mas Danu bawah ibu kesini, kita ziarah makam om Frans ya ibu, bagaimana pun om Frans kan Kakak nya mama athira, "


"iya sayang, apa Tante nia juga ada di dalam.." Clarissa mengangguk kan kepalanya, dan tanpa ijin Erwin suaminya Chintya dan Clarissa masuk ke dalam area makam


Erwin mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan kabar yang baru ia dengar, tapi karena ego yang tinggi dia tetap memilih untuk tidak ikut istri nya ziarah ke makam kakak iparnya


sementara Feroz dan keluarga nya mereka memilih untuk menunggu diluar diarea makam.


.


.


.


"itu Tante Nia ibu..." Clarissa menujuk kearah seorang wanita paru baya dan seorang pria muda yang berdiri di depan salah satu makam


"mba Nia.."begitu jaraknya dan Nia sudah dekat, Chintya langsung memeluk wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri


"apa kabar mba, maafkan saya, saya tidak tahu tentang kepergian mas Frans.." kata Chintya dengan rasa bersalah


"tidak apa apa kami yang salah, kami yang menjauh dari semua orang..kamu apa kabar Chintya?"


" saya baik kok mba..mba bagaimana?" dan Nia hanya menjawab dengan senyuman yang sulit diartikan, Chintya mencoba mengabaikan senyuman yang penuh tanda tanya itu. dia membacakan doa untuk almarhum Frans


setelah membaca kan doa untuk Frans, ingin rasanya ia bertanya pada Nia di mana Ersha putrinya, dia melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaan putrinya, dia berpikir mungkin saat ini Ersha sedang bersembunyi tidak ingin


menemui siapapun


"kamu cari Ersha.?"tanya Nia yang menyadari gerak gerik Chintya. dan Chintya memberikan senyuman sebagai jawaban


"kenapa kamu pertanyakan lagi, bukankah kamu tahu betul bagaimana rindunya ibu sama Ersha.."


tanpa memberikan jawaban Clarissa menggenggam tangan ibunya dan berjalan mendekati makam yang terletak tak jauh dari makam Frans,


dengan rasa bingung Chintya terus berjalan mengikuti kemana Clarissa membawanya, jantungnya berdetak tak menentu saat dia melihat ericko menangis saat Clarissa menggenggam tangan nya, dalam hatinya dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi


"ini makam siapa Clarissa?"tanya nya pada Clarissa yang membawanya kemakam yang dipenuhi dengan buket bunga mawar putih


Clarissa memeluk nya erat, mencium dahinya sebelum Clarissa berjalan ke arah batu nisan yang tulisannya tertutup dengan buket bunga mawar putih,


dengan berat dan air mata yang tak lagi tertahan Clarissa mengangkat buket bunga yang menutupi tulisan dibatu nisan itu


dan seketika mata Chintya membulat, jantung nya berdegup kencang, nafasnya seperti tertahan dadanya sakit, dia terkulai lemas, dia terduduk tak berdaya di depan makam


"Ersha...." teriaknya keras


di batu nisan itu tertulis nama yang tak pernah ia inginkan tertulis dalam nisan itu


"Ersha Inara binti Erwinsyah"


.


.


.


teriakkan keras Chintya terdengar hingga keluar area makam


ekspresi berbeda beda dari semua orang yang berada di luar area makam, yang mendengar nama Ersha.


ada rasa rindu yang tiba tiba meledak, tapi ada juga rasa marah dan kecewa yang menahan itu semua.


Erwin rindu putrinya, tapi ego nya terlalu tinggi, dia marah, kenapa Ersha tak pernah sekalipun datang meminta maaf padanya, dan malah memilih menghilang, kini setelah lima tahun kenapa Ersha muncul dalam keadaan seperti ini.


berbeda dengan Erwin, Feroz tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia tampak tenang dan tidak mempedulikan suara teriakkan Chintya, sementara keluarga nya juga berbeda, mereka semua seperti ingin masuk ke area makam, melihat Ersha yang sudah lama menghilang Ersha yang mereka rindui, tapi demi menjaga perasaan putra mereka, mereka hanya bisa diam dan hanya menunggu apa yang telah terjadi didalam area makam.

__ADS_1


sementara Danu segera masuk ke area makam, bagaimana pun dia juga merindukan ersha Inara wanita yang pernah mencuri hatinya


Danu menghentikan langkahnya,ketika dia melihat ibu mertuanya menangis meraung didepan sebuah makam, dan dia yakin itu bukan makan Frans, karena saat ini dia berdiri tepat dimakam Frans yang dimana Nia berdiri disisi makam suaminya..


dengan perlahan dia mendekati ibu mertua dan istrinya. makam siapa yang mereka tangisi, kenapa ibu mertuanya menyebutkan nama ersha, air matanya jatuh begitu saja, segala kemungkinan bermain main dalam benaknya, dia berharap nama yang tertulis pada nisan itu bukan nama Ersha dan ia terus meyakinkan dirinya itu bukan makam Ersha,


"Ersha..."tangisnya pecah.


makam itu memang makam Ersha


dengan langkah yang lunglai dia keluar dari area makam,


"ada apa Danu.." pertanyaan Roy menyambut kehadiran nya, dan dia hanya diam dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan


Danu menghampiri ayah mertuanya, tepat dihadapan ayahnya dia menghentikan langkahnya. bagaimana cara nya menyampaikan ini semua kepada ayah mertuanya


ditariknya nafasnya kasar.. diseka nya air mata yang mengalir


"ayah.. Ersha kita sudah meninggal ayah..." kalimat itu terdengar pelan, tapi begitu tajam merobek hati


seketika hening, semua orang terdiam mereka tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengar


"kamu bicara apa Danu.." teriak Erwin


tanpa mendengarkan jawaban dari Danu Erwin berlari masuk ke area makam


"kamu pasti berbohong kan Danu.." tanya Maya


"Ersha sudah meninggal empat tahun yang lalu Tante.."


"Ersha..." Maya runtuh mendengar kabar itu, bagaimana pun ia begitu menyayangi Ersha, dan kabar itu bukan ia yang ia harapkan


feroz dia diam seribu bahasa, dia begitu membenci Ersha, tapi kenapa dia merasakan sakit yang luar biasa ketika mendengar kabar itu


Yumna yang melihat raut wajah Feroz yang tadi tampak tenang berubah menjadi raut kesedihan segera mendekati suaminya, tanpa berkata sepatah katapun dia memeluk suaminya, dia tahu kabar kepergian Ersha sedikit banyak nya pasti berpengaruh pada suaminya


dalam dekapan istrinya wajah Ersha bermain main dalam benaknya, suara Ersha seperti nyata terdengar jelas di telinga nya, semua memori kebahagiaannya dengan Ersha terputar secara otomatis di benaknya


"Ersha... " Erwin mendekati makam Ersha


dia menangis sejadi jadinya, hatinya hancur. dia menyesali kebodohannya yang telah membuang putrinya.


"mas Ersha kita mas" lirih Chintya menyambut kedatangan suaminya


"Ersha kenapa kamu tinggalkan ayah sayang, apakah kamu begitu membenci ayah sayang.. aku ayah buruk empat tahun sudah putri ku pergi tapi aku sama sekali tidak mengetahui nya.. aku ayah yang buruk..maaf kan ayah sayang" Erwin hancur,


'ayah ...' Erwin masih ingat jelas bagaimana putri kecilnya memanggilnya


dia ingat jelas bagaimana bahagianya dia dan putri kecilnya yang berlari lari di taman


dia masih ingat jelas bagaimana dia membujuk putri kecilnya yang merajuk


dia masih ingat jelas ketika dia menggandeng tangan putri cantiknya ke sekolah


dia masih ingat jelas momen saat dia menjadi wali nikah putri cantik nya


dan yang paling disesali nya disaat saat dia membuang putrinya dari hidupnya..


feroz menatap nanar makam Ersha, dia tidak tahu apa yang kini ia rasakan, sedih kah marah kah kecewa kah.. dia tidak tahu..


semua ini begitu mengejutkannya


"siapa kalian, kenapa kalian semua disini..." tanya seorang pria yang baru saja datang. pria itu tampak marah melihat orang orang yang menangis dan berkumpul dimakam Ersha


"mereka semua keluarga kita bumi, mereka ingin mendoakan Ersha.." kata Nia pada pria itu yang ternyata adalah bumi


"anda berbohong dokter, saya dan Ersha tidak mengenal mereka, mereka bukan saudara saya. minta mereka pergi dokter, saya tidak mau siapapun mengganggu tidur Ersha.." kata pria itu dengan suara yang penuh dengan amarah,


dan semua orang yang berada disana bingung apa yang telah terjadi dengan bumi, kenapa bumi seperti tidak mengenali mereka


"sebaiknya kita bicara dirumah saya saja, saya akan menceritakan semuanya, apa yang telah Ersha alami setelah kalian buang dan apa yang telah Ersha alami jauh sebelum dia menikah dengan kamu feroz.. dan kamu harus tahu apa yang Ersha alami selama Ersha menjadi istri kamu.." kalimat itu terdengar begitu pahit


'apa yang selama ini terjadi Ersha.. ' batinnya

__ADS_1


__ADS_2