
"apa kabar pak Roy..."Erwin merangkul besannya
"Alhamdulillah baik, baru sampai?.."
"iya pak, tadi ada kecelakaan lalu lintas, jalan terpaksa dialihkan, jadi harus mutar jauh.."
saat dua keluarga saling menyapa pintu rumah Feroz dan Ersha terbuka, tampak Feroz yang terlihat kacau, seperti seseorang yang tak terurus.."
"silakan masuk.." Feroz mempersilakan tamunya masuk
hening, semua masih menanti kabar apa yang akan di sampaikan Feroz,
awalnya mereka mengira mereka akan mendapatkan kabar bahwa sekarang Ersha tengah hamil, tapi melihat keadaan Feroz sekarang mematahkan anggapan mereka
"sebelumnya saya minta maaf, semua ini atas kesalahan saya, "Feroz menghentikan ucapannya, dia menghembuskan nafasnya kasar
"Ersha pergi.."
"apa maksudmu.." Erwin memberikan tekanan pada ucapannya
dengan berlinang air mata, Feroz menceritakan segalanya
sebuah tamparan mendarat di pipi nya
"papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi lelaki dayus, "kemarahan Roy meledak, Maya myhta dan eyang Tantri tampak kewalahan menenangkan nya,
"sudah berapa lama Ersha pergi..?"tanya Erwin dengan penuh emosi, tangannya sudah mencekram bahu Feroz
"seminggu ayah.." Feroz hanya tertunduk tak mampu dia menatap kilatan amarah pada kedua bola mata bapak mertuanya, dan tanpa disadarinya sedari tadi erikco menatap nya dengan penuh kebencian
"sabar mas, .." Chintya memeluk tubuh suaminya, menenangkan suaminya, dia tahu pasti apa yang akan terjadi bila amarah telah menguasai suaminya
"kamu sudah mencari kerumahnya om Frans"tanya Chintya, dan Feroz hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban
"kalau ke apartemen sudah cari..??" tanya Chintya lagi
"apartemen??"
"kamu tidak tahu Ersha punya apartemen?"Feroz menggelengkan kepalanya
"dia pasti ada disana.. sebaiknya kita kesana sekarang"
.
.
.
.
sudah entah keberapa kalinya Ersha muntah..
__ADS_1
dua hari belakangan ini kondisi Ersha memburuk
dia terbaring lemah tak berdaya..
"mama sama papa pulang dulu, baju bersih Ersha sudah tidak ada, jadi mama mau ngambil dulu ke rumah, kamu jangan masuk ke kamar Ersha, dia sedang tidak pakai baju, mama hanya menutupi tubuh nya dengan selimut, baju kamu juga basah, sebaiknya kamu buka saja, biar nanti sekalian mama Bawah kan baju bersih kamu.."
"hati hati ma..."
bumi membaringkan tubuhnya di atas sofa, badannya terasa lelah, semalaman dia tidak tidur, dia merawat Ersha yang meraung kesakitan
praaangggg.....
suara pecahan kaca mengejutkan bumi yang baru saja terbuai dalam tidur nya
"Ersha.." teriaknya
"mas bumi.."begitu saja dia sampai di depan pintu kamar, Ersha memanggilnya dengan ibah
"ada apa sha?" tanya bumi dari pintu kamar
"hikss hikss, kenapa untuk menggenggam sebuah gelas saja tangan sha nggak sanggup.."
'ku mohon jangan menangis sha' batin bumi pilu
"arrrgghh" Ersha memegang kepalanya yang tiba tiba terasa sakit
melihat Ersha yang merintih kesakitan, bumi tak pedulikan lagi larangan mamanya
dia berlari, kearah Ersha, di ambilnya obat yang sudah terletak diatas nakas
"terimakasih mas.."Ersha memeluk tubuh bumi,
bumi tahu semua ini salah, tak sepatutnya dia membiarkan Ersha memeluk nya, apalagi dengan keadaan mereka seperti ini, bumi yang bertelanjang dada dan tubuh polos Ersha yang hanya ditutupi oleh selimut
"astaghfirullahaladzim.." Ersha dan bumi melihat kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat didepan pintu sudah ada banyak orang
tanpa berkata apa apa, Feroz menarik tubuh bumi menjauh dari Ersha
beberapa pukulan telak mendarat ditubuh bumi
dan kini bukan hanya Feroz Erwin pun turut memukuli bumi
"hentikan... hentikan..." teriak Ersha
dengan susah payah Ersha akhirnya berhasil menolak tubuh ayah dan suaminya,
"mas bumi" Ersha mengguncang guncang tubuh bumi yang sudah tergeletak tak sadarkan diri
"apa yang sudah kamu lakukan Ersha.." dengan tanpa belas kasihan Erwin menarik rambut Ersha dan menyeretnya menjauh dari bumi
"astagfirullah mas.." Chintya berteriak, sungguh ia tidak pernah melihat suaminya berbuat seperti itu
__ADS_1
"aku mohon lepaskan mas, Ersha kesakitan mas.." bukan hanya Chintya yang memohon untuk Erwin melepaskan Ersha tapi semua orang yang berada di tempat itu kecuali Feroz,
"ayah..." ericko menarik paksa tangan ayahnya, dia memeluk tubuh kakaknya.
dia paham kakak nya bersalah, tapi kenapa sekejam itu ayah nya memperlakukannya
"Ersha Inara binti Erwinsyah bersaksikan kedua orang tua mu dan kedua orang tua ku, jatuhlah talak ku kepada mu, mulai hari ini kau bukan lagi istri ku.." setelah talak terlafaz Feroz pergi dengan hati yang hancur
"kamu dengar baik baik Ersha Inara, hari ini kamu bukan hanya tidak lagi menjadi istri Feroz, tapi juga bukan lagi anak ku, aku haramkan kaki mu menginjak rumah ku, sampai mati pun aku tidak mau melihat wajah mu lagi.."
deg
detak jantungnya seakan berhenti
..
jiwanya seakan mati
..
dunianya gelap
sakit...
pedih ...
"ayah..." cuma kata itu yang mampu terucap
orang orang yang berada di kamar itu hanya bisa menatapnya iba
tanpa ada yang membelanya atau sekedar memeluknya,
satu persatu mereka pergi meninggalkannya
"mba..."ericko memeluknya erat,
"aku percaya mba nggak bersalah, aku janji akan membuktikan kesemua orang kalau mba ngg bersalah.."
ersha hanya menatap wajah adiknya,tanpa ada sepatah katapun yang terucap
"ericko..."teriak ayahnya dari arah luar
dan ericko yang dia pikir akan bersamanya pun pergi meninggalkannya
sesaat setelah kepergian keluarga Ersha dan Feroz, Nia dan Frans sampai ke apartemen
begitu pintu dibuka, dia sudah langsung disambut dengan suara Isak tangis
"Ersha mas.." dia dan franz berlari ke kamar ersha
"Ersha kaaammuu..." langkah kaki Nia dan Frans terhenti mendadak
__ADS_1
bumi tergeletak tak sadarkan diri dengan luka memar dan darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang pecah, Ersha yang menangis meraung seperti anak yang kehilangan ibunya
"Tante,, ayah buang Ersha dari hidupnya.."