
kaki ku terpaku
langit ku seakan runtuh
dunia ku lenyap ditelan gelap malam yang kelam
wanita ku
insan yang paling ku cinta
meringkuk, menggigil ketakutan
luka lebam menghiasi tubuh kurusnya
lidah ku keluh, air mata ku mengalir tanpa ku pinta,
ku rasakan sesak pada dada ku, dada ku terasa dihantam dengan pukulan yang keras sehingga untuk menarik nafas pun rasanya harus bersusah payah
dia merintih kesakitan..
kulihat mama ku memeluk nya sambil menangis tersedu,
sedangkan papa ku, beliau sama seperti ku hanya berdiri mematung, pandangan nya kosong, dari mata beningnya yang memerah aku tahu perasaan papa ku saat ini benar benar hancur benar benar terpukul dengan apa yang kini dilihatnya, keponakan tersayangnya anak yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya dalam kondisi yang sangat menyedihkan..
"sakit Tante.."ucapnya tertatih
rasa amarah membakar ku
__ADS_1
"ber3ngsek" upat ku
"ku Bun*uh kau Feroz" teriak ku sebelum aku berlari menghampiri mama dan Ersha yang sudah tak sadarkan diri
"kita bawah Ersha ke apartemen saja" hanya itu kalimat yang diucapkan mama yang dapat ku dengar, selebihnya hanya seperti dengungan saja ditelinga ku
sepanjang jalan tak putus aku berdoa untuk tidak terjadi apa apa pada Ersha,
sungguh aku tak sanggup dan aku akan hancur bila sesuatu terjadi padanya
"mas Feroz..." dalam keadaan tidak sadar dia masih menyebutkan nama lelaki b*jingan itu
"mamp*s kau ditangan ku Feroz beraninya kau melukai Ersha ku...."
.
.
.
beberapa kali dinding yang tak bersalah jadi pelampiasan kemarahan ku, tak peduli aku dengan darah yang sudah mengalir dari tanganku, rasa sakit ditangan ku tak sebanding dengan rasa sakit yang ada dalam hati ku yang kini aku rasakan
Ersha kini tengah di tangani oleh dokter keluarga yang tak lain adalah keponakan mama
dari tadi mataku tak luput dari terus memandang kearah kamar,
aku dan keluargaku membawa Ersha ke apartemen yang dulu ditempati Ersha sebelum menikah dengan feroz,
__ADS_1
sebelum Ersha kehilangan kesadaran nya dia berpesan kepada mama untuk dibawah ke apartemen bukan kerumah sakit, meskipun tak terucap dari bibirnya Ku tahu apa yang menjadi alasannya. Ersha tak mau apa yang dia alami sampai ke telinga kedua orangtuanya,dan para awak media..
"secara fisik tiada luka serius, dia hanya mengalami luka lebam dan ada sedikit luka sobekkan pada **** ***** nya.. tapi secara psikis saya rasa dia akan mengalami trauma yang berat, saya sarankan setelah kondisinya membaik ajak dia untuk berkonsultasi dengan psikiater ataupun psikolog," pikiran ku melayang, aku tak pasti dengan apa yang ku dengar, yang dapat ku tangkap hanya saat kak Ameera menyarankan agar kami membawa Ersha bertemu dengan psikiater ataupun psikolog.
diantara aku mama dan papa, cuma mama yang tampak tenang menghadapi ini semua, mama yang berasal dari keluarga broken home keluarga hancur, mental nya sudah tertempah untuk semua kondisi ini
aku sama papa sama sama terpukul dengan semua ini..
tangan ku mengepal kuat, yang ada dipikiran ku saat ini hanya bagaimana caranya menghancurkan feroz..
"Tante kuat kan Ersha, yakinkan dia bahwa Tante dan keluarga ada bersamanya, saat ini dia butuh orang orang yang mencintai nya,.." perkataan kak Meera mengalikan perhatian ku
"Meera..."
"Tante jangan khawatir, tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi malam ini. Ersha butuh ketenangan jadi saya tidak akan beritahu siapapun dimana keberadaan Ersha.. saya pamit dulu Tante.."
"kak Meera, biar bumi yang antar kak Meera pulang.." aku harus mencari Feroz
"bumi.."
"iya pa!"
"jangan tambah masalah, saat ini bukan waktu nya untuk menghukum nya,"
"tapi pa..!"
"bumi. papa mohon.."
__ADS_1