
"sha, kamu yakin mau pulang sekarang, kondisi kamu masih lemah sha"
"sha kuat kok Tante, sha harus pulang malam ini, mas Feroz besok pagi pulang, sha nggak mau saat mas Feroz sudah sampai rumah sha ngg ada di rumah" ersha menggenggam erat tangan Tante nya,
"kamu sama seperti mama mu, keras kepala.., ya sudah kamu pulanglah , tapi bumi yang harus antar kamu pulang, ngg ada alasan apapun, om ngg mau terjadi apa apa dengan kamu, paham" kata Frans , dan Ersha hanya mengangguk kan kepalanya
selama dalam perjalanan menuju rumah nya, Ersha terlalap begitu pulas, dan ia tak menyadari bahwa bumi menangis sepanjang perjalanan
'aku aku akan selalu bersamamu sha'
sayup sayup Ersha mendengar suara Isak tangis, dibukanya matanya perlahan,
menyadari Ersha yang terbangun dari tidurnya dengan segera bumi menghapus air matanya
"kamu menangis mas?" bumi menggelengkan kepalanya
"kita sudah sampai rumah kamu sha"
"terimakasih sudah antar sha sampai rumah..mas hati hati di jalan ya.."saat Ersha hendak membuka pintu mobil bumi menahan tangan Ersha
"kamu yakin dengan apa yang kamu bicarakan dengan mama tadi sore?"
dengan berat hati ersha mengangguk mengiyakan pertanyaan bumi
sorot cahaya lampu mobil yang berhenti tepat didepan mobil mereka menyilaukan mata Ersha dan bumi,
dan saat lampu itu padam, baru Ersha melihat jelas mobil siapa yang kini berada tepat didepan mobil mereka
"mas Feroz" ucapnya gugup
"kamu jangan khawatir, aku akan menjelaskan semuanya padanya.."
saat Ersha dan bumi turun dari mobil, Feroz yang sudah berdiri didepan mobil mereka dengan segera melayangkan tinjuan tepat diwajah bumi
bumi jatuh terduduk dengan darah yang mengalir dihidung nya
"mas..." feroz menarik paksa Ersha yang berusaha untuk membantu bumi yang jatuh akibat pukulannya
dia menarik paksa Ersha untuk masuk kedalam rumah mereka
"feroz berengs3k kamu, beraninya kamu berbuat kasar padanya..."
feroz yang tersulut emosi menghentikan langkahnya, dia kembali mendekati bumi dan perkelahian diantara mereka tak dapat dihindari
"mas cukup.."Ersha teriak tangan lemahnya menarik tubuh gagah suaminya yang telah dikuasai oleh amarah yang tak terkendali
__ADS_1
"mas bumi Ersha mohon pulang lah.." Ersha memeluk erat suaminya
"tapi sha dia harus tahu kalau kamu..."
"cukup mas,. pergilah.."
saat mobil bumi melesat dengan kencang feroz menarik paksa Ersha masuk kedalam rumah, dia tidak mempedulikan Ersha yang merintih kesakitan
"mas aku mohon lepaskan .." Ersha terus memohon
"aku tidak akan melepaskan mu.." bentak Feroz dengan nada yang tinggi, makin ketat Cengkraman pada tangan ersha
"mas lepaskan, kamu menyakiti ku"Ersha menghentakkan tangannya
dada Feroz berguncang kasar, hembusan nafasnya terdengar berat, mata bening nya memantulkan kegarangan
ditariknya tubuh ringkih istrinya rapat pada dada tegap miliknya, sepasang netra elang miliknya menikam retina sayu istrinya, gambar Ersha dalam dekapan bumi, ungkapan perasaan Ersha untuk bumi bergentayang depan matanya semakin memuncak kebencian terhadap istri tercinta nya
"aku yang menyakitimu atau kau yang menyakiti ku Ersha," hatinya benar benar terluka, cintanya yang besar kini berubah menjadi rasa benci yang tak terkira
"apa maksudmu mas?" ucap Ersha dengan suara parau
"tidak cukup jelas apa yang selama ini aku katakan,, aku tidak ingin melihat mu dekat dengan lelaki itu, aku tidak suka Ersha..." Feroz menolak kasar tubuh Ersha hingga terjerembab ke lantai
betapa terkejutnya Ersha , bagaimana bisa buku yang selama bertahun tahun menghilang kini berada di hadapanya, dan dari mana suaminya menemukan buku itu
"selama ini ternyata cinta yang terucap dari bibir mu hanya sebuah kebohongan, kau jadikan aku alat untuk menutupi hubungan terlarang mu dengan lelaki itu.." di cengkramnya bahu Ersha kuat tak dipedulikan nya suara rintihan kesakitan yang terdengar pilu menyayat hati
dikecupnya bibir Ersha kasar, dengan tenaga yang tersisa Ersha mendorong tubuh feroz, sehingga Feroz jatuh terduduk kebelakang
"kenapa?.. apa aku tidak boleh mencium istri ku sendiri? atau kau tidak ingin sisa kecupan kehangatan dari kekasih mu itu terhapus.." Ersha menampar pipi Feroz sehingga meninggalkan bekas merah pada pipi putih itu
Feroz menggosok pipinya, bibirnya tersenyum licik,
dia kembali menciumi Ersha dengan rakusnya,
"katakan seberapa sering lelaki berengs3k itu menikmati tubuh j*lang mu....?" bisikkan itu terdengar seperti suara petir yang menggelegar
Ersha merintih menangis, hatinya terluka, Maruahnya sebagai seorang wanita diinjak, dia kehilangan harga dirinya. lelaki yang dia cintai memperlakukannya hina..
.
.
.
__ADS_1
.
tubuh lemahnya terbaring polos,
calar ungu memenuhi kulit putih nya
tidak hanya menindih tubuh nya dengan kasar dan tanpa ijin
pukulan dan tendangan pun ia terima malam itu
lelaki itu, lelaki yang begitu ia cintai memperlakukannya lebih hina dari seekor bin*t"Ng
"aku membencimu Feroz..." ucapnya lirih..
ia yang ditinggal tak berdaya merangakak menggapai pakaiannya yang berserakan, dipakainya pakaiannya yang sudah robek itu,
digapainya ponselnya yang tercampak tak jauh dari pakaiannya yang berserakan..
"Tante..." air matanya runtuh...
.
.
.
selama perjalanan pulang, bumi gelisah, entah kenapa berat untuknya meninggalkan Ersha,
semua kemungkinan buruk bermain main dalam benaknya
"bodoh... kenapa aku membiarkan nya sendirian.." kesal nya pada kebodohan nya yang membiarkan Ersha bersama Feroz yang sedang marah
tok tok
pintu kamar bumi diketuk kencang
"ada apa ma.." tanya nya pada mamanya begitu pintu kamarnya terbuka
"Ersha..."
.
.
.
__ADS_1