Di Penghujung Senja

Di Penghujung Senja
part 17 (revisi)


__ADS_3

empat tahun berlalu


sudah empat tahun Ersha Inara meninggal dunia, dan tak seorang pun dari keluarga besar Erwin maupun keluarga Roy yang mengetahuinya


Erwin masih saja bertahan dalam egonya


baginya Ersha Inara tak pernah wujud, dan dia pungkiri yang ia begitu merindukan putrinya


Chintya adalah ibu yang begitu merindukan putrinya, tapi ia terpaksa harus menuruti perintah suaminya, ia tutup serapat rapat nya rasa rindunya, meski tiap malam ia menangis karena rindunya


Clarissa tak lagi seperti dulu, banyak perubahan besar dalam dirinya, perkenalannya dengan danu memberikan dampak baik dalam hidupnya, meskipun awalnya ia tak suka dengan tingkah konyol Danu tapi akhirnya dia takluk pada cinta Danu, kini dia menjadi istri Danu dan mereka memiliki seorang anak lelaki berusia 2 tahun


ericko masih terus menunggu kepulangan kakaknya, dia dan ayahnya seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap, baginya ayahnya adalah orang yang bertanggung jawab atas kepergian kakaknya. dan Feroz adalah orang yang paling dibencinya


feroz butuh waktu untuk nya mengobati luka dihatinya. kepergian Ersha dalam hidupnya membuat dia menjadi lelaki yang arogan ia membenci cinta. hadirnya Yumna almaeera melembutkan hatinya membuat Feroz yang dulu kembali,


sedangkan keluarga besar Roy mereka ingin rasanya menolak kenyataan bahwa Ersha Inara telah mengkhianati putra dari keluarga mereka tapi apa yang telah mereka lihat didepan mata adalah kenyataan nya. mereka kecewa tapi mereka tak pernah sekalipun mengusir Ersha dari hati mereka, bagi mereka Ersha pasti punya alasan kenapa dia melakukan itu semua kepada keluarga mereka.


"ko, please kamu ikut ya," dari kemarin Clarissa terus membujuk adik lelakinya untuk ikut ke acara pernikahan Feroz dan Yumna.


"ayolah dek, bagaimana pun Yumna itu adik tirinya mas Danu, adik iparnya mba. lagian kamu sendiri yang bilang, kalau Yumna ngingetin kamu sama Ersha.."


"oke.. baiklah, saya ikut, tapi saya ikut karena mba dan mba Yumna bukan karena nya" jawab ericko ketus


.


.


.


.


feroz dan yumna menikah dikampung halaman ibu Yumna yang tak lain ibu tiri dari Danu..


hotel mewah berbintang lima jadi tempat saksi ikrar suci dilafazkan..


bersanding diatas pelamin dengan wanita yang ia cintai membuat Feroz terus tersenyum bahagia


sementara di gedung yang sama mata penuh kebencian dan dendam terus memandangi nya dengan tajam,


muak, dia sudah muak pura pura tidak terjadi apa apa, dan pura pura bahagia atas pernikahan pria yang begitu dia benci.


"ericko.." saat baru beberapa langkah kakinya menjauh dari kerumunan orang orang yang ikut hanyut dalam kebahagiaan namanya dipanggil seseorang


"kamu mau kemana" tanya wanita itu


"saya mau keluar sebentar cari angin, di sini panas.."

__ADS_1


"mba ikut.., kata mas Danu tidak jauh dari sini ada pantai, kita kesana yuk.."


"kalau mba ikut Daffa sama siapa..? terus nanti kalau mas Danu cariin mba kayak mana?"


" Daffa sama ibu, mas Danu tadi lagi ngobrol sama teman temannya, udah ngg papa, kan kita cuma bentar.."


.


.


.


perahu perahu nelayan pulang setelah rutinitas nya mencari ikan seharian ditengah lautan..


beberapa pengunjung pantai menikmati keindahan senja, pemandangan sang matahari yang semakin lama semakin tenggelam oleh gelombang ombak dan tergantikan oleh gelapnya malam dan sapaan lembut rembulan begitu menenangkan..


Clarissa menyapukan pandangannya ke segala arah, dan disana berjarak 15meter dari tempat duduknya dan ericko.


tampak seorang pria duduk bersandar pada sebuah batang pohon kelapa,


ranting dedaunan kelapa melambai lambai ditiup sang bayu menampar lembut wajah pria itu, wajah yang bersembunyi dibalik siluet..


"mba seperti mengenal pria itu..." Clarissa menujuk ke arah pria yang dari tadi mencuri perhatiannya.


"yang mana.." ericko melihat kearah yang ditunjuk Clarissa


"sembarangan kamu.. udah ahh.. yuk pulang yuk, kasihan Daffa pasti nyariin maminya.." Clarissa mengibaskan pasir yang menempel pada roknya sementara ericko sudah berjalan meninggalkan nya..


"ericko tunggu..." dia mengejar adiknya yang semakin mempercepat langkahnya


"Ersha......." teriakkan itu seketika menghentikan langkah ericko dan Clarissa, mereka terdiam mematung, seseorang meneriakkan nama yang sudah lama tak terdengar ditelinga mereka


pandangan mereka beradu, tanpa dikomando mereka serentak melihat kearah sumber suara.


dan ternyata suara itu berasal dari pria dengan rambut panjang sebahu yang kehadirannya dari tadi mencuri perhatian Clarissa


"bumi... ya dia pasti bumi.." Clarissa berjalan mendekati pria itu,


"bumi..." Clarissa yakin pria yang kini dihadapannya adalah bumi, meskipun wajah pria itu berkumis dan berjanggut lebat , tapi dia masih mengenali wajah itu,


"kenapa kamu tinggalkan aku Ersha hiks hiks hiks" lelaki itu menangis meraung


"mas bumi... ini ericko.." tiada respon dari bumi


dia diam, tiada respon, matanya memandang nanar kearah langit jingga. baginya tiada siapapun disana, hanya dia dan Ersha


"dimana Ersha bumi.." Clarissa terus bertanya meskipun bumi hanya diam membisu

__ADS_1


"mas dimana mba Ersha mas,"sama seperti Clarissa ericko pun terus bertanya dimana Ersha


"percuma bumi tidak akan menjawab pertanyaan kalian.." seorang wanita paruh baya menghampiri mereka


"Tante Nia.." kata Clarissa dan ericko bersamaan


"bumi.. pulang yuk" Nia menghampiri anak semata wayangnya, jari jemarinya membelai lembut wajah putranya


"ersha masih mau menikmati senja dokter.." ada raut kesedihan di wajah Nia, sementara bumi masih terus menatap langit jingga yang mulai memudar dengan tersenyum seolah olah sedang bercengkrama dengan seseorang


"Tante ada apa dengan bumi ."tanya Clarissa, dengan heran, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bumi seperti orang yang telah hilang kesadarannya


Nia menatap ericko dan Clarissa bergantian. dia menghembuskan nafasnya berat


air matanya mengalir, dia seperti merenung jauh... sebelum akhirnya dia berbicara


"bumi tidak akan ingat siapa kalian, dia pun tidak ingat siapa Tante, dia hanya mengingat Ersha.." dia menghentikan ucapannya, dia menyeka air matanya


"Ersha dimana Tante.." Clarissa tidak mau tahu apa yang terjadi sama bumi, yang ia mau tahu, dimana Ersha


Nia hanya tersenyum,, dia memandang kearah bumi yang berjalan menjauh dari mereka


"bumi seperti itu karena dia tidak dapat menerima kenyataan bahwa Ersha. sudah tiada."


kalimat yang terlafaz dari mulut wanita paruh baya dihadapan mereka seketika mampu menghentikan waktu, menghadiahkan pukulan telak di ulu hati mereka, seakan menghantam tubuh mereka dengan batu besar..


"apa maksud Tante.." tanya ericko dengan emosi yang meledak ledak


sementara Clarissa dia tak mampu lagi berbicara, dia membisu,, hanya air mata nya yang mengalir deras


"Ersha sudah meninggal empat tahun yang lalu ericko.."


"nggak.. Tante pasti bohong.. Tante tolonglah hal seperti ini jangan dijadikan candaan"


"ko.." Clarissa memeluk erat adiknya,


" Tante Nia bohongi kita mba, mba Ersha ngg mungkin sudah meninggal, mba Ersha ngg mungkin ninggalin ericko. ini semua bohongkan mba.. "


"Tante mba Ersha mana, ericko mau bertemu sama mba Ersha, ericko rindu mba Ersha Tante,..."


" ericko cukup ericko" Clarissa menepis tangan ericko yang dari tadi terus mengguncang bahu Nia


.


.


..

__ADS_1


__ADS_2