DIA ADALAH KAKAK KELASKU

DIA ADALAH KAKAK KELASKU
Kejadian yang menimpa Dewa


__ADS_3

Sudah dua hari Sandra terbaring di rumah dan Dewa hari ini bermaksud menjenguk Sandra. Dewa datang bersamaan dengan Lissa yang ternyata datang juga.


"Hai kak Dewa, kakak mau tengok Sandra juga ya", Lissa menyapa. "Ayo kak masuk bareng aja langsung ke kamar Sandra. Tadi mami Sandra telpon aku katanya mo keluar bentar katanya mo cek kantor bentar, sedangkan kondisi Sandra masih naik turun kak".


Berlahan Lissa membuka pintu kamar Sandra dan terlihat Sandra tidur berselimut tebal seperti kedinginan.


Sandra membuka matanya dan melihat ada Lissa dan kak Dewa masuk. Sandra berusaha duduk walaupun kesulitan hingga Dewa segera membantunya.


"Kamu tiduran aja nggak papa, jangan maksa", Dewa berbicara pada Sandra.


Lissa mendekati Sandra sambil menggodanya "Abis ini Putri tidur pasti sembuh pasti sembuh, kak.....obatnya udah ada disini".


"Dasar sahabat durhaka, kalo aku nggak sakit udah aku lempar kamu keluar jendela sekarang', gumam Sandra


Mereka mengobrol ringan sambil bercanda dan tiba tiba pintu diketuk dari luar. Lissa berdiri berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Eh Reno, masuk yuk, Sandra ada di dalam kok", kata Lissa.


Reno masuk mendekati Sandra tapi tiba tiba Dewa berdiri dengan sorot mata marah dan berkata," Kamu ngapain ke sini ?, kamu mau cari masalah lagi sama aku hah ?".


Aku kaget dengan sikap kak Dewa dan akhirnya aku setengah bangun berusaha memegang lengan kak Dewa untuk menenangkannya.


Melihat kondisi tidak kondusif, Lissa menarik tangan Reno keluar dari kamarku.


Melihatku kesulitan bangun, kak Dewa kemudian duduk di ranjangku dan menahan bahuku agar aku kembali merebahkan badanku.


"Maafkan aku Sandra membuat hatimu tidak nyaman lagi......maaaaf ya, aku selalu nggak bisa jagain kamu dengan baik", kata kak Dewa sambil memegang tanganku.


"Kakak nggak papa kan?", tanyaku lirih


"Sudahlah lain kali aku ceritakan, sekarang kamu istirahat ya ?", kak Dewa berkata sambil beranjak akan keluar. Aku langsung menahan tangan kak Dewa supaya tidak meninggalkanku karena sebetulnya aku takut kalo kak Dewa malah ketemu Reno diluar dan terjadi masalah. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu ada masalah besar antara Reno dan kak Dewa.


"Kak, kakak jangan pergi ya, temani Sandra dulu disini, Sandra pengen sama kakak, mau kan kakak disini dulu sampai Sandra tidur", Ya Allah maafkan kata kataku dan sikapku ini jika salah.


"Loh kok jadi manja gini ya.......iya Sandra, kakak mau banget nemenin Sandra, bahkan kalo mama Sandra mengijinkan, kakak mau nemenin Sandra malam ini juga loh ", kata kak Dewa menggodaku sambil menoel pipiku. "Sudah..... tidur ya, badanmu masih agak panas", kata kak Dewa kemudian. Aku membiarkan kak Dewa menggenggam tanganku setidaknya aku tahu dia nggak kemana mana. Dan yang lebih tepatnya, hatiku merasa nyaman saat tanganku berada dalam genggamannya. Ah rasa apa ini Ya Allah........aku masih berharap semoga rasa ini nggak salah.


Seminggu setelah kejadian dirumahku, kak Dewa kembali mengajakku ke kebun, tapi kali ini dengan Lissa, Rendi dan kak Adam. Kami semua naik mobil menuju kesana. Ternyata aku baru tahu kalo Rendi juga memiliki kebun yang tidak jauh dari kebun kak Dewa.


Sampai juga akhirnya kita semua.


"Dadah kak Dewa, Sandra......aku langsung ya", kata Rendi meninggalkan aku dan Kak Dewa

__ADS_1


'Eeeeeh kalian mau kemana, aku pikir kita mo bareng disini, gimana sih kok malah aku ditinggalin disini', kataku kali ini seperti adegan sinetron peran antagonis.


"San, Rendi mau ke villa sama Lissa nah aku harus jadi malaikatnya biar nggak ada setan yang ngeganggu kalo mereka cuma berduaan aja disana. Nah kalo kamu nggak akan ada setan ganggu, soalnya komandannya setan kan si Dewa", jawab kak Adam dengan tidak berfaedahnya.


"Kurang ajar, masa komandan setan gantengnya kayak gini Dam", jawab kak Dewa lebih tidak berfaedah lagi. Mereka langsung tancap gas tanpa mau meladeni kak Dewa.


Sandra dan Dewa masuk ke dalam villa dan disitu ternyata ada bi Par yang menyambut dengan bahagia.


"San, boleh aku lanjutkan cerita kemarin tapi jangan pingsan lagi ya, aku nggak mau liat kamu sakit terus karena aku", kak Dewa berkata sambil memandangku.


Aku mengangguk tersenyum sambil berpikir iya ya akhir akhir ini aku kena nasib sial terus apa karma suka ngeledek ibu suri ya.......


Kak Dewa yang melihatku senyum senyum malah bingung.


"Lah malah senyum senyum".


"Ih kakak....senyum nggak boleh, pingsan nggak boleh, ribet ih, udah ah Sandra mau pergi aja lah", kataku


"Kemana San", tanya kak Dewa bingung


"Ke Pesantren kak mo nyari ustadz ganteng yang bisa Sandra pacarin terus bikin adem hati Sandra", kataku santai


"Ya Allah Sandra......maafin kakak ya, jangan nangis, kakak nggak pernah membohongi Sandra tentang perasaan sayang kakak ke Sandra........", sejenak kak Dewa terdiam kemudian meletakkan tangannya di kedua pipiku dan berkata", Alleysandra Neyra Putri Prasetya, aku Dewa Danendra Praditya mengatakan dengan sejujur jujurnya dari dalam hatiku kalau aku mencintaimu dan menyayangimu" kak Dewa akhirnya mengucapkan kata kata yang aku takutkan itu.


"Jangan kakak, jangan katakan sesuatu yang hanya akan menyakiti kita berdua, biarkan saja hubungan kita seperti ini sebatas Sandra adik kelas kakak dan kak Dewa kakak kelas Sandra, itu sudah cukup untuk Sandra", kataku yang kali ini sudah disertai air hujan yang tidak bisa dibendung walaupun sama pawang hujan.


"Tidak Sandra, aku nggak bisa menahan perasaanku padamu. Tolong beri aku kesempatan dan waktu untuk menyelesaikan masalah ini ya San, please tunggu aku" minta Kak Dewa padaku.


Dan benar saat kak Dewa mendekatkan wajahnya padaku, aku sudah kuasa untuk menahan perasaanku, sesaat aku mendapati kewarasan hadir lagi langsung aku berdiri menjauhi kak Dewa.


"Maaf kak, aku tidak mau dianggap merebutmu dari seseorang, aku bukan pemilik hatimu kak, BPKBmu masih atas nama orang lain jadi sebelum balik nama kayaknya aku nggak berhak pegang setir nya deh", kataku sambil bercanda mencairkan suasana yang sudah sangat canggung.


Kak Dewa malah nggak bisa menahan tawanya, padahal tadi aku liat mukanya udah sangat sedih," Oke Sandra gini, aku pastikan secepatnya BPKBnya akan balik nama menjadi namamu jadi kamu boleh langsung menaikiku tanpa ijin dari siapa pun", jawab kak Dewa menimpali candaku.


"Astagfirullah kakak ih, pikirannya mesum", kataku sambil memukul lengan kak Dewa


"Waduh iya ya ......ketangkep basah aku berniat mesum sama kamu Sandra, biarin deh San, sekalian aku berharap kita diarak, terus disuruh kawin sekalian aku mau biar nggak capek hatiku menanggung sebuah ketidakbenaran keadaan dan kebohongan Bela", sebentar kak Dewa menghela napas panjang. "BPKB atas nama orang lain ini hasil pemaksaan San, dan itu nggak sah menurut sudut pandang manapun".


Flashback On


"Tante, Dewa bisa jelaskan apa yang terjadi", teriak Dewa panik.

__ADS_1


"Tapi kak......kakak sudah melihat seluruh tubuh Bela, tolong Kakak jujur sama mama", Bela histeris seperti sudah terjadi sesuatu antara dirinya dan Dewa sambil memeluk mamanya.


"Dewa......pulang kamu dan ajak orang tuamu datang untuk kita bicarakan hal ini nanti malam dengan om", teriak mama Bela penuh amanah.


Flashback Off


"Aku nggak tahu harus gimana San, karena malam itu Bela bungkam tidak mau bercerita apapun tapi dia hanya menangis histeris dan mengatakan bahwa aku telah melihat semua tubuhnya", Dewa berhenti bercerita dan menatapku


"Ya Allah kak, apa yang sudah terjadi sebenarnya antara kakak dan kak Bela", tanyaku sambil bergetar menahan tangis


"Demi Allah San, boleh aku jujur padamu.......aku memang melihat bagian atas milik Bela tapi aku langsung keluar dan mencari selimut saat aku melihat keadaannya seperti itu. Aku melemparkan selimut itu dan meminta Bela menutupi tubuhnya sebelum aku masuk lagi dan menggendongnya ke ranjang....sumpah San, itu yang terjadi", kak Dewa menjelaskan padaku. "Yang aku nggak ngerti akhirnya tanpa mau mendengarkan penjelasanku semua sepakat menikahkan ku dengan Bela nanti setelah kami lulus, dan saat itu direncanakan pertunangan antara aku dan Bela dua hari kemudian.


"Kenapa kedua orang tua kak Dewa tidak mencari tahu kebenaran penjelasan kak Dewa?", aku memberanikan diri bertanya.


"Karena selama ini orang tuaku juga berpikir Bela adalah kekasihku dan itu juga karena ulah Bela yang selalu saja mencari kesempatan mendekati papa dan mamaku", kak Dewa menutup wajahnya sambil menghela napas panjang.


"Jadi semua tentang pertunangan itu benar ya Kak?", tanyaku ragu. "Artinya kak Bela selama ini nggak salah sudah mempertahankan apa yang menjadi miliknya dan Sandralah yang sudah berusaha merusak semuanya kak?", akhirnya kata kata itu benar benar terbukti menjadi sebuah kebenaran yang aku takutkan.


"Sandra....... denger kakak please, Ya Allah Sandra, kakak tidak pernah menodai Sandra sama sekali bahwa kakak berani sumpah untuk menciumnya saja kakak nggak pernah lakukan. Sandra, kakak pernah pegang tangan Bela, peluk Bela bahkan menggendong Bela seperti yang pernah kakak lakukan padamu tapi semua beda rasa Sandra. Saat kakak melakukan semua denganmu, kakak merasakan kehangatan dan kenyamanan dan itu bukan hanya rasa sayang tapi juga cinta dan rasa ingin memilikimu", kak Dewa menjelaskan semua padaku.


"Entahlah kak, Sandra bingung apa Sandra harus percaya sama kakak atau kak Bela, Sandra nggak tahu kak. Sandra nggak mau berada di pihak yang salah kak, maafin Sandra", Kataku


"Sandra nggak salah, kakak yang salah karena kakak jatuh cinta pada Sandra dalam keadaan seperti ini, kakak egois sudah hampir mencelakai Sandra karena hal ini", kak Dewa menjawab.


"Kak Dewa, boleh Sandra minta kakak jauhi Sandra, tolong kak, sebelum masalah ini kakak selesaikan sebaiknya kita hentikan semuanya, Sandra takut malah nanti makin sakit kalo kita terlalu dekat", pintaku pada kak Dewa


"Tapi kakak sayang sama Sandra, kakak maunya sama kamu bukan Bela, tolong San, jangan menjauh dari kakak", Dewa memohon kepada Sandra.


"Kalo kakak sayang sama Sandra, kakak jangan sakiti lagi hati Sandra dengan cinta yang sulit Sandra terima, kakak jangan egois karena kakak harus juga jaga perasaan mama papa kakak, mama papa kak Bela dan juga kak Bela", terangku walaupun sebenarnya itu hal yang sangat tidak ingin aku katakan.


"Lalu, siapa yang mau menjaga perasaanku San, apa aku harus terus berkorban buat orang lain.........", belum selesai kak Dewa bicara, aku sudah meletakkan jariku di bibirnya "Biar Allah yang jagain perasaan kakak, serahkan semua sama Allah ya Kak, kalo memang kata Allah tidak seharusnya seperti ini, maka Allah pasti akan dengan mudahnya membalikkan semuanya", kataku kemudian bijak. Ah aku sendiri bingung bagaimana kata kata itu tiba tiba meluncur dari mulut seseorang yang biasanya nggak pernah bisa berpikir bijak. Mungkin malaikat sedang bermain di sekitar sini dan membantuku bicara, ah entahlah.


Perasaanku rasanya diaduk aduk, aku nggak tahu harus gimana setelah mendengar semua ini, tapi yang jelas kok sakit ya rasanya. Mungkin ini adalah akhir dari kisahku dan kak Dewa.


"Kak, antar Sandra pulang ya...... sekarang", pintaku pada kak Dewa


"Kita naik motor ya San ?", aku hanya mengangguk.


Kali ini saat berada diatas motor, aku langsung memeluk kak Dewa dengan erat. Ada sebuah rasa yang ingin aku tumpahkan tapi nggak pernah bisa aku katakan. Kak Dewa tahu yang kulakukan dan di perjalanan dia kadang mengusap dan memegang tanganku yang melingkar di pinggangnya sembari menjalankan motornya dengan sangat berlahan seakan tidak ingin momen ini segera berakhir. Aku sempat menangis menyadari bahwa semua ini tak akan terjadi lagi.


"Mamiiiiiii, tolonglah anakmu yang patah hati ini", gumamku dalam hati tiba tiba teringat pelukan hangat mamiku yang bergelar ibu suri itu.

__ADS_1


__ADS_2