DIA ADALAH KAKAK KELASKU

DIA ADALAH KAKAK KELASKU
Rahasia yang Diungkapkan


__ADS_3

Hari ini aku tetap hadir di sekolah karena rasa tanggungawabku atas tugas sebagai panitia qurban. Hatiku belum cukup tenang karena peristiwa kemarin dan hari ini saat penutupan acara aku lihat Lissa dan kak Adam yang berada di panggung, padahal setahuku kak Dewa yang seharusnya bertugas sekarang.


Aku menyelesaikan semua tugasku dan sedari tadi kak Adam menemaniku dan mengajakku berbicara kesana kemari tanpa sedikitpun mempertanyakan kejadian kemarin. Aku bersiap siap akan pulang karena aku merasa badanku kurang fit.


"Kamu nggak enak badan San?", tanya kak Adam.


"Nggak papa kok kak cuma pusing dikit", jawabku jujur.


"Tunggu disini ya, kakak ambil teh panas sekalian buat kakak juga", kata kak Adam.


"Iya kak, makasih" jawabku sambil meletakkan kepalaku dimeja karena aku merasa kepalaku berat banget dan aku pejamkan mataku sebentar untuk meredakan sakit sampai aku tertidur nggak ingat apa apa lagi.


Aku terbangun dan merasa ada kehangatan menyelimuti tubuhku. Aku regangkan badanku yang terasa agak sakit sambil mataku menyesuaikan cahaya. Kulihat sebuah jaket berada di bahuku yang terasa hangat tadi.


"Ya Allah, aku ketiduran hampir setengah jam", gerutuku sambil kupijat pijat kepalaku.


"Masih pusing ya?.....Ini obat sama teh angetnya minum dulu, tadi tehnya panas tapi jadi anget soalnya kamu tidurnya kelamaan", jawab seseorang yang kemarin sudah membuat porak poranda hatiku. Aku terima obatnya dan langsung aku minum


"Sandra, hari ini kamu nurut sama kakak ya? .... bisa nggak aku ijin minta waktu ke kamu untuk menjelaskan semuanya .... aku tahu Sandra marah sama kakak, tapi boleh ya tahan dulu marahnya ? ....Setelah kakak jelaskan semua nanti, kakak serahkan semua pada Sandra apapun keputusannya", kak Dewa bicara dan matanya menatapku.


"Kak, dimana kak Adam kok Sandra ditinggalin ?", tanyaku pada kak Dewa dengan tidak jelasnya karena sebenarnya aku galau dan bingung banget karena tiba tiba aku harus berdua dengan Kak Dewa setelah kejadian kemarin.


Kak Dewa mendekat dan kemudian menggenggam tanganku dan tangan kanannya menyentuh lembut pipi kiriku.


"Ini masih sakit, San ?........maafin kakak ya ?", pintanya kemudian. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya tapi semakin kuat tangan kak Dewa menahannya.


"Biarkan seperti ini dulu San, please......Sandra takut sama kakak ya?", tanyanya lagi.


"Enggak kak, Sandra lebih takut kalo ada hati yang tersakiti lagi karena ulah Sandra. Kalo cuma tangan dan pipi Sandra yang disakiti mungkin nggak masalah kak, karena semua pasti akan sembuh lagi. Tapi sakit yang Sandra rasakan karena Sandra menjadi sebab sakitnya hati perempuan lain karena sebuah alasan yang tidak pernah Sandra ketahui, itu lebih menyakitkan kak", kataku sambil menahan air mataku yang hampir lolos.


"Astagfirullahaladziim Sandra ..... berarti waktu tanganmu terkilir itu bukan karena kamu kepleset di kamar mandi kan ?....kenapa saat itu kamu diam aja San ?",kak Dewa berbicara sambil menunduk penuh penyesalan dan mencium kedua tanganku.


"Kenapa kakak bohongi Sandra ? .....dan kenapa kakak bilang sayang sama Sandra ?.....Kakak tahu nggak sakitnya hati Sandra dipermainkan sama kakak, please kak, hentikan semuanya, Sandra nggak kuat", tangisku pecah tak tertahankan. Kak Dewa berdiri dan seketika kemudian menarikku ke dalam pelukannya, aku berusaha melepaskan pelukan kak Dewa tapi semakin erat kak Dewa menahanku dalam pelukannya, sampai akhirnya aku berhenti meronta dan menangis sampai membasahi kemeja kak Dewa.


Beberapa saat kemudian aku sudah tenang dan kak Dewa melepaskan pelukannya.


"Udah ya nangisnya dan sekarang ikut aku", kak Dewa kubiarkan membawaku tanpa penolakan. Aku ingin tahu kebenaran dari semua ini.


Sampai di tempat parkiran.


"Kak, aku nggak mau naik ninja, aku takut", kataku melihat kak Dewa membawaku naik motor ninja yang tinggi bangeeeet, jujur aku takut jatuh.


"Percaya sama kakak ya San, nggak akan kenapa napa asal kamu nurut kakak, yuk naik, pegangan bahuku ya?", aku turuti perintah kak Dewa untuk naik ke atas motor ninjanya. Sebelum menjalankan motornya, kak Dewa membawa kedua tanganku untuk berpegangan sehingga aku harus memeluknya dari belakang.


"Jangan dilepas ya San, kalo kamu nggak mau jatuh dan percaya sama aku ya?", begitu perintah kak Dewa seraya tersenyum sebelum menutup helm full face nya.


Kami sampai di sebuah perkebunan jeruk dengan suasana yang sangat tenang hingga membuat siapapun yang merasakan ini akan merasa terlepas dari beban hidup. Begitu juga aku merasa sejenak melupakan persoalan yang aku alami.

__ADS_1


"Seger ya San udaranya ?" tanya kak Dewa yang kujawab dengan anggukan. "Kalo lagi pusing, aku suka kesini.....kamu suka nggak?".


"Sandra suka kak, tapi Sandra lebih suka lagi kalo kakak nggak lagi bohongi Sandra.......Hacciiiiu", kataku to the point diakhiri dengan bersinku.


"Ayuk kita masuk, disana aku punya villa kecil soalnya disini kenceng banget anginnya, takutnya nanti malah kamu sakit.....jangan khawatir San, aku nggak akan kurang ajar sama kamu lagian di villa ada mas Tarjo dan bibi Par, ibunya mas Tarjo" jelas kak Dewa yang menyadari kekhawatiranku.


"Assalamualaikum bik", salam kak Dewa pada seorang wanita setengah baya di dalam villa.


"Wa'alaikumsalam Den Dewa, hayoo masuk sini, diluar dingin", ajak bibi Par.


"Eh nona cantik ini siapa?...bibi belum kenal


"Saya Sandra bibi, temennya kak Dewa", jawabku sambil kucium tangan bini Par.


"Ya Allah non, nggak usah cium cium tangan bibi, jadi ngga enak bibi nih ", kata bibi Par.


"Bi, bibi usianya jauh diatas Sandra dan Sandra wajib menghormati orang yang lebih tua, siapapun beliau karena Allah nggak membeda bedakan kita", terangku sambil kupegang tangan bibi dan berakhir dengan bibi yang mencium kedua pipiku lalu memelukku sayang.


Dewa melihat semua itu tertegun sambil bergumam,"Ya Allah, gadis yang kusakiti hatinya ini benar benar seorang bidadari yang hatinya dipenuhi rasa kasih sayang untuk semua orang".


Dewa mengajakku berbicara di Balkon atas sambil melihat pemandangan dari atas sini. Pohon Pinus yang membuat seakan gunung ini berselimut hijau membuat siapapun tidak akan bosan untuk memandang ciptaan Allah yang luarbiasa. Kami duduk di kursi ayun yang disampingnya sudah ada cokelat hangat dan pisang goreng yang disiapkan oleh bibi Par.


"Sandra boleh aku mulai bercerita ya?", kak Dewa memulai pembicaraan dan aku anggukkan kepalaku.


"Saat aku kelas X, aku pernah hampir terluka karena dihajar seseorang, karena secara tidak sengaja motorku menyerempet motornya. Dia mengira aku menantangnya berkelahi, padahal aku nggak sengaja saat itu karena memang aku kurang hati hati. Pada saat mereka menghajarku ada seorang gadis melintas dan melihatku. Dia menolongku sampai hampir dilecehkan oleh orang orang yang memukuliku. Untung nya saat itu Adam datang tepat waktu", terangku pada Sandra


Flashback On kejadian masa lalu Dewa


Dirumah sakit Dewa segera menemui gadis itu untuk menanyakan keluarganya yang bisa dihubungi dan pada saat itu Dewa melihat gadis itu menangis histeris.


"Tenanglah nggak ada yang bisa menyakitimu lagi, aku temani kamu disini ya", Dewa berhasil menenangkan gadis itu dan tidak mau melepaskan genggaman tangan Dewa sampai tertidur.


flash back off


Dewa meneruskan ceritanya", gadis itu Bela, ya sejak hari itu Bela pindah sekolah dan karena rasa tanggungjawab dan hutang budi aku selalu bersama nya sampai lama kelamaan Bela semakin sulit jauh dariku, mungkin Bela sudah nyaman bersamaku. Kami bersama hampir dua tahun sampai aku kelas XII awal.


Walaupun selalu bersamanya tapi sulit sekali bagiku untuk menumbuhkan rasa cintaku pada Bela. Aku pernah jujur mengatakan kepada Bela tentang bagaimana perasaanku padanya sebenarnya.


Sampai pada hari itu.......


flashback On


Hari ini Bela tidak masuk sekolah. Dewa mengetahui hal itu dan berniat untuk mencari tahu keadaan Bela. Dewa menuju rumah Bela dan kebetulan hari ini semua siswa dipulangkan pukul 10.00 karena ada rapat guru dadakan.


Sampai rumah Bela terlihat sepi sekali.


Kebetulan asisten rumah tangga dirumah Bela terlihat baru masuk rumah, sepertinya baru pulang dari pasar.

__ADS_1


"Assalamualaikum,.......Bela ada dirumah kah bik?", tanya Dewa


"Wa'alaikumsalam Den Dewa.....aduh bibi baru pulang bibi nggak tahu coba Den Dewa masuk aja soalnya tuan dan nyonya dari pagi juga keluar", sahut bibi.


Dewa segera mencari Bela dan terdengar suara bruuuk dari kamar Bela sehingga Dewa langsung berlari masuk kamar Bela tanpa mengetuk pintu. Terlihat Bela jatuh di kamar mandi mungkin terpeleset.


"Belaaaa, kamu nggak papa?", teriak Dewa dari balik pintu kamar mandi.


'Waaaa, tolong akuuuu......buka saja pintunya", teriak Bela dari dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi kemudian dibuka oleh Dewa. Terlihat Bela sudah di lantai dan Bela tidak menggunakan apapun.


Dewa segera keluar dan mengambil selimut untuk menutupi badan Bela kemudian menggendongnya ke tempat tidur.


Tidak lama kemudian terdengar pintu kamar Bela dibuka seseorang.


"Bela, Dewa, apa yang kalian lakukan?", ternyata mama Bela yang masuk kamar Bela.


"Maaaaa...,.Dewa mah.......", Bela tiba tiba menangis sesenggukan sambil memukul Dewa.


Flashback Off


"Stop kak jangan teruskan ceritanya, Sandra nggak kuat dengernya", aku menutup telingaku sambil menangis.


Dewa mendekat kemudian langsung memeluk Sandra.


"Sandra, kamu kenapa? ......Ya Allah Sandra badanmu panas banget", Dewa kaget saat merasakan hawa panas dari tubuh Sandra. Kemudian isakan Sandra tidak terdengar lagi karena Sandra pingsan seketika.


Dewa langsung menggendong Sandra ke sofa bed lalu memanggil Bu Par untuk membantunya.


"Masya Allah Den, kenapa non Sandra?", tanya Bi Par khawatir.


"Sandra dari tadi memang sakit Bi, tapi sepertinya ini badannya tambah panas, Ya Allah bi, gimana ini?", terlihat kepanikan di wajah Dewa.


"Sebentar Den, bibi ambilkan minyak angin", kata Bi Par.


Setelah beberapa saat bibi Par membalurkan minyak kayu putih di seluruh tubuh Sandra, terlihat Sandra mulai sadar.


"Alhamdulillah non Sandra sadar, sebentar ya Den, bibi bikin bubur dan teh manis", bibi Par pamit ke dapur setelah dirasa keadaan Sandra sudah aman.


Sandra masih bingung dengan keadaannya,"Kak, kenapa Sandra kok badan Sandra rasanya panas semua, astagfirullahaladziim", Sandra kaget karena melihat kancing bajunya terbuka dan merasa badannya terbalur minyak kayu putih


"Sandra tenang, bukan aku yang membuka bajumu dan membalurkan minyak kayu putih ditubuhmu, itu Bi Par yang melakukan......kamu boleh nanya nanti sama Bibi", Dewa menjelaskan kekhawatiran Sandra.


"Kak, ceritanya nanti aja diterusin ya, kepala Sandra pusing terus badan Sandra dingin rasanya kak", kataku pada kak Dewa


"Iya Sandra nggak papa, Sandra ijinkan Kakak peluk kamu ya biar kamu nggak kedinginan", kak Dewa memposisikan badannya menahan tubuhku dari belakang dan memelukku hingga menyalurkan hawa panas di tubuhku. Aku sudah tak mampu lagi mengelak karena tubuhku mengijinkan semuanya tindakan kak Dewa kepadaku.

__ADS_1


Ya Allah aku merasa nyaman sekali dalam pelukannya, apakah semua ini salah ?, entahlah aku nggak sanggup berpikir. Hatiku tidak rela melepaskan rasa yang ada pada kak Dewa tapi aku bimbang apakah ada hati yang tersakiti karena rasaku pada kak Dewa ini.


Dewa segera menelpon Adam, meminta Adam membawa mobil untuk menjemput Sandra. Dewa nggak tega bawa Sandra pulang naik motor.


__ADS_2