
Jam 13.00 aku segera berlari menuju ruang OSIS. Hatiku tidak cukup tenang hanya dengan mendengar Kak Dewa menyanggupi hadir pada rapat ini. Aku ingin segera memastikan agar nasib baikku hari ini bukan sekedar fatamorgana semata. Kulihat di ruang OSIS baru ada beberapa temanku saja tapi belum aku lihat wajah kak Dewa yang sudah membuatku hari ini merasa gundah gulana. Haduh aku berada menanti kehadiran kekasih hatiku saja.
"Assalamualaikum", salam seseorang di belakangku.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah Ya Allah", pujiku pada pemilik segala yang sudah menyelamatkan ku hari ini dari segala hujatan dan caci maki sebagai akibat kelalaian ku sendiri . Kak Dewa sempat menoleh padaku mungkin dia kaget aku mengucap hamdalah atas kehadirannya.
Rapat hari ini berjalan lancar dan dari tadi aku sudah sangat bosan mendengar ocehan Lissa yang tidak hentinya memandang takjub pada kak Dewa.
"Sandra, aduh tahu ketua REMAS bentukannya kayak oppa oppa Korea begini, aku aja dari kemarin yang temui dia", ocehnya tidak berhenti.
"Kok kamu tega sih San nggak ngajak aku ketemu pangeran padahal aku mau lho jadi princess nya".
"Astagfirullah sadar wooooooi, tadi siapa yang ganti profesi jadi sahabat durhaka dan meninggalkan ku saat aku sedang butuh butuhnya", sanggahku panjang lebar demi menghentikan fitnah fitnah tidak beradab dari Lissa yang ditujukan padaku.
"Iya maaf sahabatku sayang, jangan marah ya nanti cantiknya ilang lho", gayanya yang sok imut mencoba merayu ku. Cukup sudah hari ini jantung ku terasa berlari kencang tidak pada jalurnya dan aku sudah terlalu lelah untuk menanggapi ocehan sahabat yang entah akan berujung pada finish atau tidak.
"Sandra, mana tugas dari Pak Arif, sini aku bantu kalo ada yang susah?", tiba tiba saja kak Dewa menghampiri ku. Lissa sudah menatapku seakan meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi. AllahuAkbar seperti nya belum selesai penderitaan ku karena ulah Pak Arif hari ini. Kalau saja mengumpat orangtua tidak berdosa, maka akan kulakukan dengan senang hati saat ini.
__ADS_1
"Kak Dewa, kayaknya kakak dikerjain deh sama Pak Arif, Sandra nggak minta bantuan kak Dewa kok buat ngerjain tugas Sandra dari Pak Arif, tadi kan Sandra udah jelasin ke kakak kenapa Sandra temuin kakak di kelas kakak", jelasku panjang lebar sambil berharap Lissa bisa mencerna semua pembicaraan ku dan kak Dewa dengan kapasitas otaknya yang hanya mampu menangkap rumus keliling segitiga sama sisi. Menurutnya nama keponakannya yang juga Sisi membuat Lissa selalu ingat rumus itu.
"O gitu jadi janjian kita pulang bareng juga nggak ada ya San ?", tanya kak Dewa lagi. Astagfirullahaladziim makin kacau nih situasi karena aku lihat mata dan mulut Lissa sudah terbuka lebih lebar jauh dari ukuran normalnya dan aku sebagai sahabatnya sangat paham bahwa itu menandakan Lissa sedang terlampau tidak siap mendengar berita dari kak Dewa bahwa kami ada janjian untuk pulang sekolah bersama. Aku menjawab pertanyaan kak Dewa hanya dengan menggelengkan kepala sembari cengar cengir kuda.
"Kak, aku duluan ya", pamitku kemudian pada kak Dewa sambil kutarik tangan Lissa karena sepertinya ini akan panjang ceritanya karena aku harus mendongeng cantik untuknya demi menghapuskan semua pertanyaan dan fitnah yang aku tahu pasti dari tadi sudah bersemayam indah di hati sahabat cantik ku ini.
Lima hari berselang sejak rapat OSIS terakhir kembali kami disibukkan dengan pembentukan panitia dan semua rencana kegiatan menjelang Idul Adha.
"San, kok aku baru nyadar ya kalo selama ini ada kak Dewa itu ternyata bener bener dewa sejati ya, lah aku kok ya nggak pernah ngeliat dia ya?", cerocos Lissa sambil membereskan buku usai jam pelajaran terakhir hari ini.
"Ish, aku serius San, coba kamu sendiri kan nggak pernah lihat kak Dewa kan? kok aku jadi curiga jangan jangan memang dia detektif yang menyamar di sekolah kita ya ?", Lissa mencoba kembali mengarang cerita semau dia.
"Nona cantik, denger aku ya, kak Dewa itu secara jabatan adalah ketua REMAS, nah kamu tahu nggak kemana tempat tongkrongan nya? .......secara perilaku dan arah pandang dia dan kita pasti beda jauh lah, kita ke kanan dia kekiri, kalo selalu nyerbu kantin dan cafe saat istirahat sementara dia duduk berdoa di masjid ya iyalah mana pernah ketemu?", jelasku pada makhluk yang mau ke masjid hanya saat ujian praktek agama saja.
"Satu poin lagi si kak Dewa itu masuk kategori siswa berprestasi yang nggak perlu belajar sampai mengorbankan masa muda kita hanya demi nilai minimal naik kelas wkwkwkk...", Lissa mendengarkan penjelasan ku yang hampir tidak ada faedahnya itu dengan serius seakan akan ini adalah pelajaran yang akan keluar di ujian nasional.
Rapat OSIS hari ini aku lihat dari grup anak REMAS udah bawa sekitar 6 orang tambahan. Demi menyukseskan acara Idul Adha ini memang kami harus kerja keras karena memang menurut kak Andi, semuanya harus terlibat dan tidak hanya menyerahkan pada anak anak REMAS seperti tahun tahun sebelumnya.
__ADS_1
"Nah kan coba liat San, semua cewek yang dibawa crew REMAS, mereka semua berhijab dan terlihat sangat anggun. Waduh aku jadi agak minder deh mana rok aku masih diatas lutut lagi plus ketambahan kelakuan yang udah kayak anak perawan lepas dari kandang lagi", kata kata mutiara sudah keluar dari mulut si Lissa tanpa ada saringan. Aku hanya diam dan menggerakkan bola mataku dengan malas karena penjelasan Lissa yang menurutku nggak perlu dibahas karena cuma akan membebani otakku yang cuma segini gini aja. Rapat OSIS sedang berlangsung tapi sepertinya sahabatku ini sibuk dengan mengomentari semua peserta rapat.
"Untuk pembawa acara di acara puncak sebelum penyembelihan hewan kurban, saya minta Sandra yang membawakan", kata kak Dewa membagi bagi tugas.
"Mampus aku, acara beginian aku harus jadi pembawa acara, kalo acara yang nggak ada hubungannya sama urusan agama mah aku siap siap aja', gerutuku dalam hati soalnya dari tadi kayaknya tidak satu orangpun yang berani mengajukan penolakan atas pembagian tugas ini. Kak Dewa sepertinya punya kharisma melebihi kak Andi yang notabene ketua OSIS dalam memimpin rapat karena tidak biasanya suasana rapat terlihat seperti pelaksanaan upacara bendera saat mengheningkan cipta. Memang kalo dilihat secara personal, kak Dewa lebih pendiam saat bersosialisasi tapi saat dia sudah bicara tak ada yang berani menyanggah ataupun sekedar bercanda menginterupsi pembicaraan dengan celotehan khas anak remaja yang jelas sekali kandungan manfaatnya sangat tidak layak wkwkwkkw........
Aku melihat aroma senyuman licik dari Lissa seakan menertawai nasib tugasku dari kak Dewa. Aku sudah tidak lagi mengharapkan bantuan dari nenek sihir nan licik yang sayangnya masih bergelar sahabatku ini.Tiba tiba terlintas ide cemerlang seakan ada lampu 50 Watt menyala di kepalaku.
"Kak Dewa boleh nggak kalo Sandra minta tolong Lissa buat mendampingi Sandra untuk membawakan acaranya nanti, ya semacam co host gitu". tanyaku menyela pembicaraan kak Dewa sambil melirik nenek sihir di sebelahku yang terlihat sudah kehilangan aura kebahagiaan saat sukses membullyku tadi.
"Oiya boleh aja San, setidaknya kalian bisa bergantian karena memang akan ada 2 acara sebelum penyembelihan dan sesudah penyembelihan, oke saya setuju", kata kak Dewa yang sukses membuatku tersenyum sangat manis kepada sahabatku yang kini wajahnya berbalut mendung walaupun nggak akan ada petir yang menyambar.
Tapi ternyata aku salah menduga, petir itu akhirnya menyambar juga," Dasar sahabat nggak punya akhlak, nggak seneng banget liat sahabatnya aman eh malah bawa main roller coaster". Walaupun sangat pelan tapi aku jelas mendengar semua gerutuan tidak bermutu dari sahabatku ini.
"Iya Lissa, ada yang mau disampaikan?", tanya kak Dewa mungkin tadi tidak sengaja mendengar Lissa berbisik saat suasana rapat hening.
"Oh enggak kak, iya Lissa siap mendampingi Sandra". jawab Lissa cepat setelah sadar kalo gerutuannya hampir saja terdengar oleh cowok yang sedang dianalisa olehnya. "Sukurin", sambil aku mengeluarkan 😛 untuk mengganggu kekagetan nya.
__ADS_1