
Setelah kejadian di Villa satu Minggu yang lalu, Sandra selalu menghindari pertemuan dengan Dewa. Bahkan Sandra memutuskan untuk memblok no WA Dewa.
Aku melihat dari jauh, ada dua orang sedang menghormat bendera dan aku tahu ini adalah hukuman kebangsaan dari guruku yang maha benar, siapa lagi kalo bukan Pak Arif. Wkwkwk 😂😂 aku juga kan mantan pejuang dari hukuman itu, jadi aku paham rasa capek plus malunya. Apalagi hari ini ada kelas yang mau latihan upacara bendera, iya kelasku dapat giliran bertugas senin depan.
Kami semua mendekat ke lapangan untuk memulai latihan, aku mendapatkan tugas sebagai pengibar bendera. Aku bersama Bima dan Rani berjalan mendekati tiang bendera dan aku merasa mengenali dua orang yang berdiri dengan jabatan narapidana dari Pak Arif.
"Kak Dewa......kok bisa kena hukuman Pak Arif, kayaknya nggak ada mungkin deh kakak nggak ngerjain tugas?", tanya Bima menginterogasi kak Dewa. Bima adalah anggota REMAS dan dia tahu seperti apa kak Dewa yang nggak mungkin menyentuh perbuatan maksiat yaitu nggak ngerjain PR.
"Ada yang sengaja nggak ngumpulin buku tugasnya padahal udah ngerjain biar dihukum Bim", sahut kak Adam sambil cengengesan melirikku.
"Kak Dewa....bener itu semua?, Sandra mau bilang ke Pak Arif kalo gitu", kataku pada Kak Dewa sambil sedikit berbisik.
"Jangan San, biarin aja, kakak pengen liat Sandra bentar aja, kakak kangen Sandra, please Sandra nggak usah perdulikan kakak ya .... yang penting kakak bisa liat Sandra walaupun kakak tahu Sandra nggak suka",bisik lirih kak Dewa kepadaku.
Hatiku merasa sangat sedih mendengar alasan kak Dewa disini. Akupun sebenarnya kangen banget sama kak Dewa tapi aku harus tahan diri, karena kak Dewa kan bukan milikku.
Akhirnya aku memilih diam sambil meneruskan latihan ini meskipun aku nggak konsen sama sekali. Dua kali bendera yang aku tarik salah ikat sampai Bima dan Rani udah keluar tanduk melihatku.
Aku meminta Lissa membawakan air mineral untuk kak Dewa dan kak Adam. Sedangkan aku menemui Pak Arif untuk menjelaskan bahwa kak Dewa membawa buku tapi tidak dikumpulkan, walaupun aku tak menjelaskan alasan kak Dewa.
"Iya Sandra, Bapak tahu kok, ini buku Dewa, bapak temukan di tasnya, tadi bapak buka tas Dewa karena bapak nggak percaya", kata Pak Arif sambil menunjukkan buku tugas kak Dewa.
"Tapi Dewa ingin bapak hukum sepertinya, jadi bapak pikir mungkin ada sesuatu hingga bapak lihat kelasmu sedang di lapangan juga. Selesaikan masalah kalian Sandra. Dewa anak baik dan segala yang dilakukannya pasti memiliki alasan yang kuat Sandra", Pak Arif malah menasehati ku panjang lebar seperti memahami apa yang terjadi antara kami.
Hari ini Lissa menemaniku untuk latihan band dengan grup ku seperti biasa.
"Sandra......wooooi konsen say, ini mau diulang berapa kali", teriak Rendi kesal denganku yang selalu membuat kesalahan pada beberapa nada.
__ADS_1
"Udah udah kita istirahat dulu deh ya", kata kak Adam. "San, ada apa....kamu dan Dewa kayak sama sama hancurnya. Aku jadi sedih banget liat kalian. Aku tahu masalah yang Dewa hadapi dan asal kamu tahu San, aku percaya Dewa tidak melakukan hal yang tidak senonoh seperti tuduhan Bela".
"Sandra nggak tahu kak, Sandra harus percaya sama siapa ?", kataku pada kak Adam.
"Iya kakak tahu....coba kamu ikuti aja kata hatimu ya, jangan sampai malah kamu masuk ke perangkap orang yang nggak suka sama kamu.......kakak sih berharap kebenarannya segera terungkap", kata kak Adam.
Lalu aku menanyakan perihal Reno kepada kak Adam dan ternyata baru aku tahu bahwa Reno adalah orang yang pernah menghajar kak Dewa di hari kak Dewa bertemu Bela. Reno adalah temanku satu SMP tetapi sekarang berbeda SMA. Reno menyukai ku tapi aku tidak punya perasaan apapun padanya. Reno sering sekali datang menemuiku tapi itu untuk sekedar menanyakan kabarku.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12.45 dan bel tanda akhir pelajaran sudah berbunyi. Aku bergegas pulang karena hari ini aku ada janji sama ibu suri mau ke mall beli sepatu.
"Sandraaaa tunggu.....", seseorang memanggilku.
"Aduh apalagi nih Marsya and the bear.... eh and the geng...... apaan kak Bela?", tanyaku sambil waspada karena nenek sihir satu ini membahayakan jiwaku terkadang.
"Enggak kok, aku tahu sekarang kamu menjauhi Dewa ya jadi aku ucapkan terima kasih untuk tidak jadi duri dalam hubungan kami atau tepatnya perebut tunangan orang", kata kata mutiara Bela halus tapi cukup menyakitkan.
"Aku harap kamu pintar ya Sandra untuk terus menjauhi Dewa dan kalo enggak awas aja kamu....aku pasti bikin perhitungan sama kamu", ancam kak Bela.
Setelah perdebatan agak sengit akhirnya nenek sihir itu pergi dan aku memutuskan segera pulang ke rumah.
"Sandra, panggil papa ..... ayoooo kita makan, bilang papamu kalo mami udah laper jadi nggak pake lama mandinya", teriak ibu suri memberikan titah padamu.
"Paaaaah, cepetan mandinya itu kata mami ada yang gawat perlu dibicarakan di meja makan", kataku pada papa yang langsung ngabur ke meja makan pakai handuk.
Aduh abis deh aku ...abis ini pasti ada penyiksaan terhadap anak kandung.
"Sandraaaaaaaa...........siniiiiiiiii, kamu ngomong apa sama papa hah?", bener kan ibu suri sudah mode ngambek.
__ADS_1
Akhirnya hukuman cuci piring sama ngitung sendok harus aku terima demi menyenangkan ibu suri yang udah terlanjur aku bikin ngambek, padahal kalo dipikir pikir, aku nggak salah salah banget......kan tadi mami nyuruh papa cepet kebawah nggak kasih peringatan sama aku nggak boleh kasih alasan itu. Ah memang serba salah kalo jabatan masih anak.
"Allahu Akbar.....jam berapa iniiiiii......aduh telat lagi aku, mana Pak Arif lagi jam pertama.......ah udah deh hormat bendera aku", gerutuku gara gara nonton drakor tiga episode 🤦.
"Sandra, kamu tahu ini jam berapa?..... nggak usah banyak alasan, udah sana kamu laporan sama tiang bendera sampai istirahat", kata Pak Arif sambil nggak nyaring kalimat, sejak kapan tiang bendera bisa diajak ngobrol ya.
"Dewa, liat siapa yang upacara tuh?", Adam menarik tangan Dewa untuk bisa melihat keluar.
"Sandra, aduh ini anak coba kenapa lagi sih?.....Pasti pak Arif nih, aku mau ke Pak Arif dulu", Dewa mau berdiri tetapi sudah ditarik oleh Adam.
"Stttts diem sini, udah biarin aja, ambil hikmahnya jadi kamu bisa puas hari ini liatin Sandra dari sini, seenggaknya kangen kamu pasti terobati kan Wa",kata Adam sok bijak.
Ya Allah Sandra, aku hanya bisa melihat kamu dari sini sementara hatiku nggak tega liat kamu panas panasan disana.
Dewa kemudian berdiri sambil bawa air mineral dan berjalan ke arah Sandra, tapi dia melihat sekilas Bela sedang berjalan juga ke arah lapangan. Dewa menghentikan langkahnya.
"Dam, tolongin Sandra please, aku takut Bela bikin macem macem sama Sandra, soalnya barusan aku liat dia nyamperin Sandra ke lapangan", pinta Dewa ke Adam dan langsung Adam bergerak menuju lapangan.
Setelah beberapa saat Adam kembali ke kelas dan menyampaikan pada Dewa karena sepertinya Bela menyiram baju Bela pakai air mineral tapi Sandra bilang cuma ketumpahan air aja seragamnya.
"Wa, pinjem jaketmu dong, aku nggak bawa jaket", minta Adam
"Buat apa minjem jaket?", tanya Dewa
"Baju Sandra basah sampai .... em ....daleman nya keliatan Wa, kasihan takut nanti malu pas jalan ke kelasnya kalo belum kering", jelas Adam hati hati takut Dewa malah ngamuk. Dan benar ketakutan Adam terbukti.
"Keterlaluan si Bela..........", Dewa berkata sambil beranjak mau mencari Bela.
__ADS_1
"Eh Wa, jangan gitu, kamu justru bikin Sandra nggak aman kalo kamu sakiti Bela, udah biarin dulu sampai masalahmu ada titik terang nya, sini jaketmu tapi aku nanti bilang ini punyaku ya...... ?", kata Adam dan Dewa paham karena Sandra pasti akan menolak kalo tahu itu jaket miliknya.
"Sandra......aku hanya bisa melihatmu dari jauh sementara aku tahu kamu disana sendiri melawan Bela. Sandra .....aku sayang kamu dan aku nggak rela kamu terus tersiksa", Dewa bergumam sambil menutup wajahnya dengan helaan napas panjang nya.