
Kayaknya hari ini aku rada sial deh, aku lupa kalo hari ini aku harus latihan drumband untuk acara ulangtahun kota Bandung bulan depan.
"Sandra cepetan......kamu mau dihajar massa karena gitapati (Pemimpin lagu untuk sebuah marching band) telat datang", Lissa udah teriak teriak.
Latihan kali ini luarbiasa, tiga jam wow, hingga membuat kakiku rasanya kayak mo copot. Capek banget rasanya sampai aku memutuskan untuk duduk dulu di area parkir motor sebelum pulang sekolah. Aku lihat nenek sihir and the geng berjalan mendekatiku. Aduh apa lagi nih, aku mau menghindar tapi kayaknya udah terlambat.
"Wow ada yang lagi kecapekan nih?", kak Sinta mendekatiku
"Iya Kak, abis latihan marching band tadi, gimana kak, ada yang bisa Sandra bantu?", Kataku berusaha ramah.
"Iya San, gimana caranya supaya kamu pergi dari hidup Dewa?", kak Bela menyahut.
"Kak Bela, Sandra sudah memutuskan untuk menjauhi kak Dewa, kenapa kakak masih saja belum puas, terus kakak maunya gimana lagi? ...Sandra nggak ngerti", jawabku
Bela dengan wajah marahnya mendekati Sandra kemudian mendorongnya ke belakang. Sandra yang tidak siap langsung terhuyung ke belakang dan menabrak motornya hingga terjatuh. Saking kerasnya Bela mendorong Sandra hingga posisi Sandra jatuh terhimpit motor. Sinta yang tahu Sandra jatuh malah menekan stang motor yang menghimpit Sandra hingga tangannya terkilir hebat.
"Kak udah kak..... berhenti, tangan Sandra sakit banget, tolong Sandra kak?", rengek Sandra.
"Sinta, Bela udahlah jangan diteruskan, nanti kalo Sandra celaka .....kita bisa kena masalah", kali ini kak Ana yang melihat keadaanku langsung bertindak, sementara kak Bela dan kak Sinta pergi meninggalkanku.
"Kak Ana pergilah....nanti kak Bela dan kak Sinta marah sama kakak, .......udah Sandra nggak papa kok", aku berusaha agar kak Ana tidak mendapatkan masalah.
Ya Allah, gini amat ya nasib aku. Aku segera menelpon Lissa untuk minta bantuan dan untungnya dia masih ada disekitar sekolah bersama Rendi.
"Ya ampun San, kamu tuh abis perang sama siapa apa kok ya sampai jatuh gitu sih?", tanya Rendi.
"He eh aku tadi kecapekan terus pas mo ambil motor malah jatuh eh aku nya ketimpa", bohongku pada Lissa, karena aku nggak mau masalah jadi panjang.
"Sandra, kamu tuh ya hobi banget sih cari penyakit, kamu nyadar nggak sih itu tangan lagi dibutuhin bulan depan, coba pikirin gimana nih nasib gitapati kalo tangannya soak", Lissa mulai ceramah nggak jelas padahal tanganku lagi sakit banget.
"Udah Lissa, bawa dulu Sandra me klinik takut patah tangannya, jangan diceramahi dulu deh", kata Rendi menyelamatkanku dari ibu tiri ini.
Sampai di klinik benar saja tanganku patah dan harus digip. Aku pulang diantar Lissa sambil panjang lebar ibu tiri ini pidato. Untung ini hari Sabtu, jadi aku punya waktu dua hari buat istirahat.
"Sandraaaaa.......kamu kenapa?.....Kok tangan kamu malah pakai baju begitu sih, emang lagi tren ya tangan dibungkus kayak pepes?",mamiku mulai dengan khayalannya. Pepes ikan difitnah macem macem.
"Mamiku yang cantik, Sandra tadi jatoh terus ketimpa motor, nah gini jadinya ", jawabku berbohong, aduh nambah dosa aku.
"Makanya kamu tuh kalo mami suruh makan jangan cuma iya iya, kan jadi badan kamu nggak gede gede, berantem sama motor kan kalah jadinya", kata mamiku tambah nggak jelas.
" Mamiiiiiiii......aku udah baikan sama motor nggak berantem kok, cuma tadi bercanda aja jitak jitakan sama motor eh kebablasan jadi aku ketimpa motor", kataku menambah ketidakjelasan pembicaraan ini.
"Aduh San, aku pusing denger lawakan kamu sama mami kamu, udah ah aku pulang daripada nanti aku yang kudu minum obat sementara kan yang sakit kamu", Lissa menepok jidatnya sambil memonyongkan mulutnya persis ikan koki.
Senin pagi ini aku kesekolah sama papa. Aku hampir terlambat untuk upacara jadi aku segera ke lapangan upacara.
Selesai upacara aku tetap di lapangan karena kita akan latihan marching band lagi. Aku agak bingung gimana caranya aku pimpin lagi dengan satu tangan ya, ah pusing aku. Sementara Lissa cuma meledekku nggak ngasih solusi apapun.
Saat aku latihan, aku melihat kak Dewa memperhatikanku dari jauh. Aku berusaha tenang walaupun sebenarnya hatiku gundah juga. Aku lihat dari sorot matanya dia mengkhawatirkan keadaanku.
"Aduh kak, udah jangan bikin masalah soalnya nanti aku dikerjain lagi sama nenek sihir", gumamku dalam hati
Sampai akhirnya aku sebentar minta ijin istirahat karena tanganku agak nyeri.
"Jangan maksa Sandra, nih minum dulu", kak Dewa tiba tiba ada di sebelahku menyodorkannya minuman.
Melihat aku susah buka botol, kak Dewa mengambil lagi botol itu dan membukanya." Buka botol aja susah, masih maksa ikut latihan", katanya lagi.
"Makasih kak", kataku sambil berdiri dan memulai latihan lagi. Aku nggak mau cari masalah lagi. Aku juga masih canggung bicara dengan kak Dewa setelah kejadian di cafe kemarin.
Aku menghindari terus kak Dewa beberapa hari ini, bahkan hari ini Reno menjemputku pulang sekolah, karena Lissa yang memberi tahu Reno kalo aku sedikit kecelakaan jadi dia mau melihatku sekalian mengantarkan ku pulang.
__ADS_1
Dewa melihat Sandra dan Reno pulang bersama, ada perih di hati Dewa melihat hal itu. Tapi Dewa nggak bisa berbuat apa apa lagi. Dewa hanya mencoba menghubungi Sandra melalui pesan.
Dewa
Sandra, kamu kenapa menghindariku terus?
Sandra
Enggak kok kak
Dewa
Bohong..... Sandra biarkan aku jelaskan kesalahpahaman kemarin
Sandra
Nggak perlu kak
Dewa
Perlu banget San karena aku cinta sama kamu bukan Bela
Sandra
Sandra tidur dulu ya kak bye...
Dewa cuma bisa menghela napas karena dia tahu Sandra menghindarinya karena Bela.
POV Dewa
"Dewa, bangun nak, kamu nggak sekolah?", tanya Dina, mama Dewa sambil menggoyangkan lengan Dewa.
"Loh kok badan kamu panas banget ya?....Dewa kamu sakit ya?".
Sudah dua hari, Dewa dirawat dan selama itu Bela selalu menemani Dewa padahal Dewa tidak peduli.
"Dewa, mama pengen tanya sama kamu, kenapa sikapmu seperti itu kepada Bela?", tanya mama Dina
"Sikap yang mana mah, Dewa biasa aja kok", jawab Dewa seadanya.
"Wa, mama pernah muda dan mama tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih, tapi mama merasa kok kamu dan Bela tidak seperti itu ya?", tanya mama Dina hati hati kepada anak kesayangannya.
"Memang kenyataan nya aku dan Bela bukan sepasang kekasih kok ma", kata Dewa jujur
"Lalu kenapa kalian melakukan sesuatu yang kebablasan di hari itu, kalo kalian memang tidak pacaran kenapa kamu seperti pada Bela, Wa", tanya mama Dina menyelidik.
" Melakukan apa Ma, seribu kali Dewa cerita ke mama juga mama nggak pernah percaya sama Dewa, Bela hanya bersandiwara menjebak Dewa, Ma", Dewa mencoba bercerita.
"Tapi Wa, mama dan papa harus punya bukti untuk mematahkan pernyataan Bela di depan orangtua, mama sendiri nggak percaya kamu berbuat serendah itu....... mudah mudahan ya Wa, kalo kamu memang nggak salah pasti nanti ada jalannya", kata mama Dina sambil memeluk anaknya
"Aamiin mah, Dewa juga merasa sakit dengan keadaan in", Dewa berkata sambil tetap memeluk mamanya.
Terdengar pintu diketuk dari arah luar dan mama Dina langsung berdiri membukakan pintu.
"Assalamualaikum ", salam dari luar.
"Wa'alaikumsalam", kata Tante Dina menjawab.
"Eh silahkan masuk, pasti temennya Dewa ya, ayo nak", ajak mama Dina.
"Tante, perkenalkan saya Sandra dan ini Lissa, kami semua temen kak Dewa. Tante maaf tangan kanan Sandra lagi sakit jadi Sandra salam pakai tangan kiri, takut dikira ngga sopan Tante", jelas Sandra dengan sopan.
__ADS_1
"Nggak papa nak, ayo kalo mau ketemu Dewa", ajak mama Dina
Lalu bertiga mereka semua masuk ke kamar dimana Dewa dirawat.
"Siapa Ma ?", tanya Dewa sambil menengok.
"Sandra kamu kesini?", Dewa setengah berteriak sambil berusaha buru buru bangun sehingga tangan yang diinfusnya agak ketarik "awwww...".
"Ya Allah kak Dewa ....hati hati", Sandra mendekat sambil tangan kirinya memegang tangan Dewa yang kesakitan dan mengelusnya dengan perlahan. Dewa hanya diam seakan nyaman dengan sentuhan Sandra.
Mama Dina melihat pemandangan ini jadi bingung karena baru kali ini Dewa mau disentuh oleh perempuan, padahal biasanya Dewa akan marah kalo Bela yang tunangannya itu memegangnya.
Sadar ada mama Dina, Sandra langsung melepaskan usapannya dari tangan Dewa dan berkata," maaf Tante, itu tangan Dewa berdarah", Sandra berbicara dengan mama Dina dengan takut.
"Nggak papa nak, Tante panggilin suster aja, itu Dewa kebanyakan tingkah sih", kata mama Dina sambil mengusap pipi Sandra.
Dewa meminta Sandra menemaninya saat suster membetulkan infusnya.
"Aduh sakit.....", kata Dewa sambil memegang tangan Sandra. Sandra yang merasa tidak enak ingin melepaskan pegangan tangan Dewa tapi malam Dewa lebih erat menggenggamnya.
"Perasaan kemarin pas awal dipasang infus, bahkan sampai pindah dua tempat karena bengkak, nggak ada drama aduh aduhan deh Wa, kok sekarang rame ya, emang sakit banget ya Wa?" tanya mama Dina menggoda Dewa.
Mama Dina tahu sepertinya perempuan inilah yang ada di hati putra kesayangannya dan bukan Bela.
Selesai sudah drama pasang infus eh salah benerin infus tapi Dewa tetap tidak mau melepaskan tangan Sandra.
"Jangan pergi Sandra, tolong tetap disini temani aku, aku kangen kamu", Dewa berkata sambil memandang wajah Sandra. "Siapa yang ngasih tahu kamu kalo aku ada di rumah sakit?".
"Kak Adam yang ngasih tahu kak', jawab Sandra
"Jadi harus aku masuk rumah sakit dulu ya San, supaya kamu mau bertemu aku?", tanya kak Dewa
"Bukan gitu kak, ada hati yang harus aku jaga, makanya kakak jangan gini supaya aku nggak dicap perempuan perebut milik orang", kataku pada kak Dewa
"Hatiku milikmu Sandra, aku menyerahkannya padamu ..... jadi kamu nggak ngerebut aku dari siapapun", kak Dewa mengatakan padaku dengan tegas.
Di luar terdengar sayup sayup suara orang lain sepertinya ada Rendi datang juga
"Eh kak Dewa, cepet sembuh ya?", kata Rendi.
Kami mengobrol tapi sepanjang obrolan tetap kak Dewa nggak mau melepaskan aku, sampai aku merasa nggak enak sama Rendi dan lissa.
'Kak, itu udah jangan dipegangi aja tangan Sandra, bahaya tuh yang satu udah soak masak satunya juga soak juga nanti repot gitapati invalid dua tangannya, lah mimpin lagu pakai apa dia, masak pakai kaki ?", kata kata tak ada faedahnya keluar lagi dari mulut Lissa.
"Eh Bela sudah datang......Bel, anter Tante cari makan yuk tante laper banget, itu biar Dewa lagi ada temennya lumayan ada yang jaga', kata Tante Dina mengeraskan suaranya.
Rendi cepat cepat berdiri dan keluar ",Iya Tante biar Rendi temenin Dewa dulu, silahkan kalo Tante dan Bela mau makan dulu".
Lissa dan Sandra paham sepertinya Tante Dina sengaja mengajak Bela keluar supaya Dewa bisa tetap bersama Sandra. Akhirnya Lissa pun keluar menemani Rendi di ruang tamu kamar Dewa.
"Kakak, Sandra pulang aja dulu ya, kak Bela kan udah dateng, Sandra nggak enak kalo ketahuan menemui kakak", kataku minta ijin pada kak Dewa.
'Iya terserah tapi sebelum nya aku mau copot dulu infus ini", kak Dewa berkata sambil duduk mau melepaskan plester infusnya.
'Ya Allah kak, jangan .....",cegahku sambil menahan tangisku. Kemudian seketika itu juga kak Dewa menarik ku dalam pelukannya.
Aku membiarkan kak Dewa melakukan nya padaku karena aku pun kangen sekali padanya. Entah salah atau benar rasaku ini, aku nggak tahu dan kenapa pelukan kak Dewa sangat nyaman sekali. Aku memberanikan diri melingkarkan tanganku di pinggangnya dan yang aku rasakan kak Dewa semakin erat memelukku.
'Awwww kak, sakit tanganku", kataku ketika tanpa sengaja kak Dewa mengeratkan pelukannya.
"Maaf Sandra, kakak lupa kalo tangan Sandra sakit", kata kak Dewa sambil mengusap tanganku yang sakit.
__ADS_1
"Boleh kakak cium kening Sandra", kak Dewa meminta ijinku dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah itu kami mengobrol kembali dan setelahnya aku pamit pulang pada kak Dewa. Aku nggak enak kalo kak Bela kembali dan aku masih disini.