
Dewa hari ini sibuk banget mempersiapkan acara Idul Adha yang sudah kurang dari 7 hari. Beberapa hari Dewa nggak bertemu Sandra dan hari ini dia sangat kaget melihat Sandra dengan tangan yang masih digendong.
"San, kok tanganmu terkilir sampai parah gitu ?", tanya Dewa.
"Nggak papa kak, udah mo sembuh kok, eh kak bentar ya Sandra ada perlu sama kak Adam", sahutku menghindari perbincangan dengan kak Dewa. Bisa demo masal nih anggota badanku kalo nenek sihir Bela tahu aku deket deket kak Dewa terus bikin aneh aneh lagi.
Dewa merasa ada yang aneh dengan Sandra karena tidak biasanya Sandra bersikap seperti itu, pesannya dibalas singkat seakan malas bicara ditambah sifat periangnya yang entah menguap kemana. Bahkan beberapa hari ini Sandra sepertinya jarang mau meninggalkan kelas walaupun dispensasi untuk rapat OSIS.
Dewa melihat Sandra menemui Adam di kelasnya dan mendengar semua percakapannya dengan Adam.
"Kak Adaaaaam, yaaaaa please mau ya, aku bakal nangis guling guling kalo kak Adam nolak nih", kataku meminta kak Adam jadi partner host buat acara Idul Adha. "Kak Adam tinggal pilih aja, mau nemenin Sandra atau Sandra mundur jadi host dan keluar dari grup band", ancamku sampai hampir lolos air mataku.
"Astagfirullah Sandra, kamu kenapa....iya iya aku mau", kak Adam panik karena mungkin lihat Superwoman kayak ilang kekuatan.
'Sandra nggak papa kak, mungkin Sandra panik aja, maaf ya kak dan thanks kakak mau nemenin Sandra", jawabku berharap kak Adam meneruskan pertanyaan ada apa dengan diriku.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan kemudian Sandra pergi begitu saja.
"Dam, kenapa Sandra ya ?....Kok aneh gitu ?", tanya Dewa.
"Tau Wa, lagi PMS kali, aku juga rada aneh kok jadi baperan gitu", jawab Adam.
"Sebenernya aku yang akan dampingi Sandra dan kamu yang dampingi Lissa tapi liat dia seperti itu, ya udah nggak papa kamu aja yang dampingi Sandra ya Dam ?", Dewa memberikan penjelasan.
"Wa, aku boleh nanya nggak ? agak pribadi sih ini. Kamu ada rasa sama orang yang ngasih gelar kamu mister Frozen ya Wa?', tanya Adam berhati hati.
Dewa tersenyum sambil berkata," Oh jadi Sandra yang ngasih gelar itu ke aku ya ?". Sadar keceplosan Adam langsung menutup mulutnya sambil menepok jidatnya sendiri. "Nggak tahu Dam, aku bingung apa masih pantas aku menerima cinta dari seorang gadis sejak peristiwa itu", Dewa berbicara sambil menghela napasnya. "Ah sudahlah ayooooo mau pulang nggak ?".
Beberapa hari ini kesibukan sudah terlihat demi menyukseskan acara Idul Adha. Sandra sudah kembali mendapatkan kenormalan tangannya walaupun Sandra masih belum bisa menormalkan hatinya.
Sandra dan Lissa berda diruang OSIS sambil menyelesaikan cash flow acara.
"San, kemana ya contoh draf laporan keuangan kegiatan", tanya Lissa padaku
__ADS_1
"Oh ada di file punyaku, bentar aku ambil dulu kayaknya di atas deh filenya", Sandra menjawab sambil mengambil kursi untuk dinaiki. Tiba tiba terdengar suara pintu dibuka dan tanpa sengaja membentur kursi plastik yang dinaiki Sandra.
"Aaaawwwww", terdengar teriakan Sandra yang dibarengi suara bruuuuuk.
"Sandraaaaaaaa......", teriak Lissa langsung berdiri dan terlihat Sandra sudah berada dipelukan Dewa dan tubuh Dewa beradu dengan pinggir meja.
"Ya Allah kak Dewa, nggak papa kan?", Lissa berteriak karena melihat darah dari tangan kak Dewa. Kak Dewa melepaskan pelukannya dari tubuhku sambil bertanya,"Sandra, kamu nggak papa kan ?".
"Kak......kakak yang berdarah kenapa malah kakak nanya ke Sandra yang jelas Superwoman pasti nggak papa lah", teriak Lissa dengan tidak tahu tempatnya malah mengataiku.
Aku langsung berdiri diikuti kak Dewa dan aku lihat kak Dewa meringis sambil memegang tangan kirinya yang berdarah.
Tanpa meminta ijin, aku langsung membuka kancing baju kak Dewa dan....."San, kamu ngapain ?...gila kamu San, kak Dewa mau kamu perkosa", Lissa si lidah tak bertulang mulai kicauan unfaedahnya. "Maaf ya kak, aku mau lihat seberapa luka kakak jadi aku buka baju kakak, cuma lengan kirinya aja yang aku buka ya?", jelasku menimpali fitnah sahabatku yang pengen banget aku jadiin mantan sahabat kalau bisa.
"Nggak usah kamu capek capek perkosa, aku rasa Dewa dengan senang hati kok menyerahkan semua ke kamu San, bener nggak Wa?", sela kak Adam dengan menaikturunkan alisnya pengen banget rasanya aku jahit itu mulut kalo nggak dosa. Tapi Alhamdulillah kak Dewa sudah membantuku dengan melemparkan sebuah pena ke jidat orang yang mulutnya pengen aku jahit tadi .
Aku lihat kak Dewa terus menatapku saat aku obati lukanya yang Alhamdulillah enggak parah. Aduh kak, jangan gini, aku jadi semakin susah buat ngejauhin kakak nantinya, kataku dalam hati soalnya kok rasanya sakit ya padahal aku nggak luka.
Sudah selesai aku obati luka kak Dewa kemudian aku pakaikan kembali baju kak Dewa, saat aku akan mengancingkan baju kak Dewa.
"Aku nggak papa kok Bela, udah biar aku aja", kata kak Dewa sambil cepat cepat berdiri menjauhi kak Bela. Padahal tadi saat aku membantu membuka bahkan memakaikan baju dan hampir mengancingkan bajunya, kak Dewa diam saja bahkan terlihat kesulitan karena sakit. Terus kenapa sekarang jadi seperti nggak kenapa napa dengan bergerak sangat cepat.
Marsyabella Citra Yuslina atau Bela sudah memelototkan matanya padaku seakan mau menerkamku. Aduh urusan lagi nih aku sama nenek sihir and the geng.
"Ayo udah kita rapat udah hampir jam 13.00 nih", ajak kak Adam menyelamatkan situasi. Sepanjang rapat aku mencoba memperhatikan kak Dewa dan beberapa kali pun pandangan kami sempat beradu. "Ya Allah sesulit inikah aku menahan perasaanku pada tunangan orang?" gumamku dalam hati sambil kuhempaskan napas panjangku.
"San, kamu mau ngelahirin apa kok tarik napas, buang napas dari tadi, udah bukaan berapa San?", Ya Allah ini sahabat kok kebangetan ya laknatnya. "He eh mau ngelahirin anak vampir biar ngisep darah kamu terus diganti sama darah 🐈 kucing biar bisanya meong meong aja nggak ngerepotin kuping orang". jawabku lebih tidak berfaedah.
Rapat akhirnya selesai juga dan Lissa sudah duluan pamit pulang karena mau bareng sama Rendi.
Aku melangkah keluar gerbang sambil membuka aplikasi ojek onlineku, tiba tiba....
"San, boleh minta tolong nggak?....bantuin kakak bawa tas ini, isinya banyak banget sementara lengan kakak sakit", pinta kak Dewa padaku sambil menghentikan motornya tepat didepanku.
__ADS_1
"Iya kak, ngga papa, sini Sandra bawain, terus nanti mo dibawain kemana nih?", tanyaku
"Ayo kamu pulang sama aku aja, jadikan kamu bisa bawain tas aku ?", jawab kak Dewa yang sukses membuatku bingung. "Ayolah San, masa kamu nggak mau bantu aku, bener nih lenganku masih nyut-nyutan",
Aku yang merasa berhutang besar pada kak Dewa karena sudah menolongku tadi, tidak bisa lagi menolak keinginannya. Aduh "niat hati" maafkan aku ya karena aku harus mengingkarimu saat ini untuk niat sebuah usaha menjauhi kak Dewa. Ijinkan sekali ini mengkhianatimu demi membayar hutangku pada Kak Dewa.
"Kak aku nggak bisa pegangan dong, tas kakak kan nggak ada? ", tanyaku bingung.
"San, tadi kan aku peluk kamu tanpa ijin pas kamu jatoh, nah sekarang nggak papa kok kalo kamu mau balas perbuatan aku ", terang kak Dewa memusingkan aku sehingga aku terdiam tidak bisa menjawab dan hanya bola mataku saja yang berputar putar tanda aku kehilangan arah alias bingung.
Seketika aku tersadar dan aku pukul lengan kak Dewa. "Sandraaaaa sakit", sambil kak Dewa neringis menatapku. "Eh iya maaf, aku lupa, kakak sih aneh aneh aja", kataku sambil berpegangan sedikit pada ujung baju di pinggang kak Dewa.
Kak Dewa membawaku ke rumahnya terlebih dahulu untuk menyimpan tasnya, padahal rumahku sudah terlewati jauh tadi.
Rumah besar dengan kesan mewah membuat aku kini paham siapa kak Dewa. Kak Dewa hanya menyimpan tasnya di pos security depan rumahnya lalu mau mengantarku pulang.
"Kak, Sandra naik ojeg aja deh dari sini, kasihan kak Dewa kan lagi sakit", pintaku pada kak Dewa.
"Mas Dewaaa sakit apa.....Ya Allah mas, kalo sakit istirahat aja jangan kemana mana nanti mama marah lho kalo tahu mas Dewa sakit tapi keluar rumah", security yang terlihat umurnya tidak jauh dari Dewa dan sempat kulirik namanya Tarjo sudah ceramah panjang lebar didepan kami sambil membawa tas Dewa.
"Mas Tarjo.....Dewa nggak papa lagian nggak mungkin aku biarkan Sandra yang udah aku bawa malah dianterin orang, nanti apa kata dunia?",jawab Dewa tak kalah panjang juga.
"Gini aja mas Dewa, biar Mas Tarjo yang anter bidadari cantik ini, aman kalo sama Tarjo neng, sampai rumah pasti selamat", sela Pak Tarjo
"Ya udah ayo Mas", kataku sambil bingung soalnya kok tangan mas Tarjo sudah menggandengku dan membawa kearah motornya didekat pos satpam.
Tak kusangka kak Dewa menjewer telinga mas Tarjo sambil berucap "Lepasin tangan Sandra atau mau hari ini terakhir kerja disini, aku aduin ke mama kalo mas Tarjo suka diem diem anterin mbak Inah pembantu sebelah".
"Ampun ampun mas, jangan doong, haduh Mas Dewa, jadi ilang deh kesempatan Tarjo buat dapat berkah boncengin bidadari hari ini, padahal bidadari nya udah mau", Mas Tarjo memelas berbicara dengan kak Dewa.
"Udah udah kak, kasihan mas Tarjo nya, maaf ya mas Tarjo itu peliharaan bidadari nya galak jadi takut gigit mas Tarjo nanti", selorohku pada Mas Tarjo. "Sandra, apa nggak ada yang bagusan dikit ya gelarku, kemarin kamu bilang aku mister Frozen sekarang peliharaan mu ", kak Dewa protes. "Ya udah kakak maunya apa dong gelarnya", kataku bingung padahal aku tuh selamanya nggak pernah bingung ngasih gelar ke orang, nah ini baru pertama kalinya aku bingung.
"Mas Dewa maunya gelar pangeran nya mbak Sandra.....iya kan Mas?", Mas Tarjo mulai mengusili kak Dewa hingga sepatu kak Dewa sudah hampir dilepas untuk didaratkan ke badan Mas Tarjo yang sudah buru buru kabur.
__ADS_1
"Kamu juga nih San, masa mau mau aja diboncengin sembarangan orang gimana coba kalo kamu diculik, aduh kamu tuh jangan suka langsung aja percayaan sama orang", kak Dewa ngomel panjang dan aku tetep diam karena entahlah sekarang ini rasanya jantungku lagi konser soalnya kak Dewa mungkin nggak sadar udah menggandeng tanganku menuju motornya. "Eh maaf San, sengaja eh nggak sengaja", ucap kak Dewa sambil memintaku naik motornya.
Akhirnya kak Dewa mengantarkanku pulang ke rumah dengan drama yang menurutku luarbiasa hari ini.