
Acara Idul Adha dilakukan besok hari dan sekarang kami semua hampir tidak ada yang busa duduk tenang.
Kami semua sibuk dengan persiapan penyembelihan 8 ekor kambing dan 1 ekor sapi di sekolah. Ditambah lagi aku harus jadi host untuk acara sebelum penyembelihan besok.
'Kak, berarti besok Sandra harus pakai baju muslim ya?", tanyaku pada kak Adam.
"Pake baju apa aja juga nggak papa asal bukan baju renang San", kak Adam malah bercanda.
"Oh ya udah kalo gitu rok mini sama tanktop aja kali ya kak biar heboh acaranya", sahutku dengan jawaban tidak bermoral ku.
"Ya aku sih oke oke aja San, tapi aku nggak tahu ya boleh enggaknya sama kakak yang ada dibelakangmu itu", jawab kak Adam sambil cengengesan. Aku tidak menyadari kalo dibelakangku sudah ada kak Dewa yang sedari tadi sudah mendengarkan semua pembicaraan tidak ada ujungnya antara aku dan kak Adam. Mukaku udah kayak udang rebus, aku udah nggak berani nengok kebelakang.
'Boleh kok San, pake rok mini sama tanktop tapi cuma aku yang boleh liat jadi kamu aku kunciin di ruang OSIS ini sama aku, mau nggak ?", kak Dewa langsung ceramah.
"Enggak kok kak, Sandra cuma becanda aja", kataku sambil melotot pada kak Adam.
'Dewaaaaaa.......tolong ada yang mau menerkam aku nih sampai matanya mo keluar", adu kak Adam kemudian.
"Ish kak Adam baweeel, awas ya", ancamku sambil keluar dari ruang OSIS karena aku udah malu banget kayak abis digrebek hansip.
"Assalamualaikum mamiiiiiiii, Sandra pulang, mami dimana sih ngga usah ngajak petak umpet udah tua juga", teriakku sambil masuk rumah.
Alhasil telingaku kena jewer ibu suri ,"Ngomong apa barusan hah, gara gara nebus obat kamu kemarin jadi mami nggak beli skincare lagi nah ini akibatnya muka mami jadi agak expired", jelas mamiku seakan sebuah press conference unfaedah kepada wartawan.
"Mami, beliin baju muslim dong ",kataku tiba tiba.
"Alhamdulillah Ya Allah anakku akhirnya tobat..... San, kamu nggak abis kepentok apa gitu ya?", tanya mamiku seraya memegang dahiku, mungkin mami takut aku panas jadi menggigau. Ah aku tahu jalan pikiran ibu suri yang satu ini.
"Buat besok Sandra bawain acara Idul Adha di sekolah, masak iya Sandra pakai rok mini sama tanktop di acara kayak gitu", kataku senyum senyum pada mami karena aku malah ingat kak Dewa tadi.
"Yah kirain mami kamu beneran insyaf San, ah jadi rugi dong mami seneng barusan capek capek bahagia akhirnya tetap merasa tersakiti", jawab mami dengan drama queen nya yang menurutku nggak jelas sama sekali. Masak ada orang bahagia kok capek, hadeeeuh Ya Allah sadarkanlah emakku yang bergelar ibu suri ini.
Pagi pagi aku sudah sampai disekolah karena acara akan dimulai sekitar pukul 08.00. Semua panitia diminta berkumpul di depan lapangan. Aku lihat dari jauh baru ada kak Adam dan kak Dewa disana mungkin karena ini masih terlalu pagi. Baru pukul 06.15 dan aku sengaja datang pagi karena mau koordinasi naskah contekan buat nge host bareng kak Adam nanti.
"Assalamualaikum ", sapaku kepada semua.
"Wa'alaikumsalam, astaga Sandra ini kamu ...... AllahuAkbar nggak nyangka bisa juga jadi alim begini", goda kak Adam.
"Wa, boleh tolong panggilin penghulu nggak ? soalnya penganten nya udah siap nih, liat kan serasi aku sama Sandra", kata kak Adam.
Dewa melotot pada kak Adam sambil memukulkan tangannya pelan pada bahu kak Adam.
"Iyaaaah maksudnya aku yang jadi saksi nggak papa lah kalo kamu yang mau jadi penganten laki lakinya, aku ikhlas kok Wa, daripada dapat bini modelan Superwoman bar bar kayak gini nggak bisa diatur wkwkwkwk 😂",kak Adam melanjutkan omongan tidak bergunanya.
"Ah kak Adam, Sandra udah dandan cantik cantik gini tetap aja dibully, males ah Sandra, ya udah Sandra ganti baju seragam aja deh kan illfeel jadinya", kataku merajuk.
"Eh jangan Sandra, kamu cantik banget kok, pas banget baju ini kamu pakai, udah jangan diganti bajunya", kak Dewa menatapku berbicara seolah kami hanya berdua.
"Heeem ..... Dewaaaaa inget aku masih disini, udah jangan main Romeo and Juliet disini ih, galau aku jadinya", kata kak Adam membuatku dan kak Dewa salah tingkah.
Akhirnya acara pembukaan selesai juga dengan sukses dan dilanjutkan dengan acara pemotongan hewan kurban.
__ADS_1
Aku duduk diruang OSIS sambil memikirkan kenapa apa benar sebenarnya kak Dewa sudah bertunangan dengan kak Bela, sementara kak Dewa bersikap seolah olah tidak pernah ada apa apa antara mereka. Aku seorang cewek dan aku menyadari kalo kak Dewa memberikanku perhatian khusus dan itu bukan perhatian pada teman biasa. Walaupun mungkin kak Adam mengatakan aku superwoman bar bar tapi kan aku juga bisa membedakan semua rasa ini. Sedangkan hatiku sendiri, Ya Allah kenapa aku juga nggak bisa menolak rasa ini padahal aku juga tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan kak Dewa kepadaku?. Aaaah pusing aku.
Tiba tiba pintu ruang OSIS dibuka dan masuklah nenek lampir and the geng.
"Sandra, kamu nggak bisa diajak ngomong baik baik ya ?", kali ini kak Santi bicara padaku.
"Kamu bisa nggak sih berhenti menggoda tunanganku, kamu nggak percaya ya padaku kalo Dewa adalah tunanganku?.....diem dan denger ya. Kak Bela menelpon seseorang dari HP nya.
"Assalamualaikum Tante"
"Wa'alaikumsalam Bela, ada apa nak kok tiba tiba telpon Tante?".
"Enggak tante, cuma mau nanya aja, Dewa dimana ya Tante?".
"Lah Dewa kan udah berangkat ke sekolah, masak nggak ketemu di sekolah Nak?"
"Mau titip pesen aja Tante supaya Dewa nggak lupa acara ulangtahun Bela besok kita makan malam dirumah"
"Yah masak sih Dewa lupa sama acara ulangtahun tunangannya, kamu tuh ada ada aja".
"Ya udah gitu aja Tante, terimakasih Assalamualaikum".
"Wa'alaikumsalam cantik, salam buat mama ya".
"Iya Tante"
Kemudian telpon ditutup oleh kak Bela.
"San, kita semua tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan Dewa dan kemarin kita sudah peringatkan kamu tapi kayaknya kamu malah nantangin kita ya?", kak Santi bicara padaku.
"Hari itu saat Dewa menolakku dihadapanmu, aku tahu kamu pasti menertawaiku. Aku benci sama kamu San, kenapa Dewa memperhatikan kamu yang seorang wanita murahan perebut tunangan orang daripada aku sendiri yang jelas jelas calon istrinya", kak Bela bicara padaku sambil menangis menahan emosi.
(Plaaak) satu tamparan mendarat di pipi kiriku dari tangan kak Bela.
"Bel jangan kelewatan nanti kita kena masalah lho", kak Santi yang sepertinya kaget dengan sikap kak Bela mengingatkan. Udah Bela ayo kita pergi dari sini, aku takut kalo kamu semakin emosi malah nanti kacau semuanya.
"Awas kamu sekali lagi menggoda Dewa, aku akan berbuat lebih dari yang sekarang", ancam kak Bela kepadaku sambil beranjak keluar dari ruang OSIS.
Aku langsung menangis saat semua keluar dari ruangan. Aku coba menghubungi Lissa karena aku butuh dia sekarang. Beberapa saat kemudian Lissa datang.
"Ya Allah Sandra kenapa ini, siapa yang melakukan semua ini padamu?".
Aku menceritakan semuanya pada Lissa dari awal sampai saat tadi dan ternyata mereka juga mengirim semua video dari awal mereka datang sampai pergi dan juga video pada saat kejadian tanganku terkilir akibat perbuatan mereka juga yang direkam oleh kak Ana.
Aku menangis sejadi jadinya karena hatiku sakit tapi aku juga merasa salah pada kak Bela.
"Aku nggak ngerti Lis, kenapa semua kayak gini jadinya, aku sayang sama orang yang salah Lissa", kataku sambil berurai air mata. Lissa hanya memelukku tak bisa menjawab ku. Sahabatku hanya mampu ikut menangis merasakan kepedihan ku.
"Sandra, aku baru menyadari kalian saling mencintai dari sikap kamu ke kak Dewa dan sebaliknya sikap kak Dewa kepadamu tapi semua ini pasti ada penjelasannya, kamu harus tanyakan semua pada kak Dewa jangan ambil keputusan sendiri San", Lissa menasehati ku dengan benar kali ini.
"Enggak Lissa, aku udah nggak mau lagi berhubungan dengan Kak Dewa, bener kak Bela memang aku yang salah selama ini membiarkan rasa yang salah di hatiku", kali ini aku sudah sesenggukan karena tak lagi mampu menahan air mataku.
__ADS_1
Terdengar langkah beberapa orang ke arah ruang OSIS dan Rendi yang kaget melihatku langsung bertanya ", Sandra, kenapa mukamu ?", sepertinya Rendi melihat wajahku yang memerah bekas tamparan kak Bela.
Terlihat kak Dewa masuk tergesa gesa dan kak Adam sepertinya langsung menutup pintu melarang anak OSIS lainnya untuk masuk.
"Sandra, siapa yang melakukan ini pada kamu ?", tanya kak Dewa dengan menahan emosi karena terlihat kemarahan di matanya.
"Kakak nggak perlu tahu dan nggak usah lagi peduliin Sandra, toh kakak bukan siapa siapa Sandra", jawabku masih sambil menangis tanpa berani menatap mata kak Dewa.
"Iya memang aku bukan siapa siapa mu Sandra tapi kami harus tahu kalo AKU SAYANG KAMU SANDRA", kak Dewa berkata dengan suara tegas bergetar.
"Sudah kak Dewa...stooooop....... Sandra nggak mau denger apa apa lagi", teriakku sambil menahan tangisku lalu aku segera beranjak untuk keluar dari ruangan. Kak Dewa langsung menarik lenganku untuk menghentikan ku.
"Lepas kak, sakit", pintaku dengan air mata yang tak bisa kutahan lagi.
"Kak Dewa, lepaskan Sandra........Ayo Sandra aku antar pulang", Rendi yang mengerti situasi tidak kondusif langsung meminta kak Dewa melepaskan genggamannya dan menarikku segera keluar dari ruangan.
"Tapi Ren.......aku harus tahu apa yang terjadi", kak Dewa masih ingin meminta kesempatan bicara dengan Sandra.
"Kak Dewa, biarkan Sandra pulang dulu ya', pinta Lissa pada kak Dewa dengan memohon.
Dewa melepaskan tangan genggaman tangannya dari Sandra.
"Hati hati Ren, jaga Sandra antarkan sampai rumah, aku titip Sandra ya?", kak Dewa masih mengucapkan kata kata sambil menatap ku dan Rendi pergi.
Sampai rumah aku langsung masuk kamar dan untungnya mami sedang tidak ada dirumah sehingga aku tidak perlu press conference di hadapannya.
Ya Allah, sakit dan sedih banget hatiku.
Kenapa kak Dewa melakukan semua ini padaku ?........
Kenapa harus ada rasa cinta dari kak Dewa yang menyimpan luka untukku ?.........
Kenapa kak Dewa membohongiku sehingga rasa cintaku begitu terasa menyakitkan ?........
Di ruang OSIS
"Lissa, katakan pada kakak apa yang terjadi, siapa yang menampar Sandra", tanya kak Dewa.
"Kak, maaf Sandra adalah sahabatku dan Lissa nggak mau menceritakan masalah yang belum jelas. Gini kak, selesaikan semuanya dengan baik baik, Kakak katakan pada Sandra apa yang kakak rahasiakan karena Sandra berhak tahu apalagi setelah kata sayang terucap dari kakak tadi. Atau pilihan kedua kakak akan kehilangan Sandra karena membiarkan Sandra berpikir dengan kemauan nya sendiri", Lissa memberikan penjelasan yang kali ini sangat berfaedah sekali.
"Ya benar Kak, seseorang sudah menampar wajah Sandra tapi Sandra tidak membalasnya karena Sandra merasa dirinya lah yang bersalah. Sudah kakak puas kan sekarang menyakiti sahabatku ?", Lissa mengatakan semuanya dengan amarah yang ditahannya.
Lissa pergi meninggalkan segudang pertanyaan untuk Dewa dan Adam. Bahkan saat Adam mencegah Lissa pergi, Lissa menghempaskan begitu saja tangan Adam.
Terlihat kalut amarah di wajah Dewa dan Adam tahu jika sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja sekarang.
"Istighfar Dewa, jangan biarkan amarah menguasaimu, tenangkan dulu hatimu baru kita cari jalan keluarnya ya", Adam berusaha menenangkan sahabatnya.
"Astagfirullahaladziim Dam, aku nggak kuat kalo sampai Sandra malah yang tersakiti karena aku. Aku tahu pasti ini ulah Bela.....Ya Allah Sandra, maafkan aku", ucap Dewa.
"Sudah sekarang kamu jangan dulu lakukan apapun karena terbukti Bela sudah melakukan sejauh ini pada Sandra. Takutnya semakin Bela kamu benci maka semakin dia akan menyakiti Sandra", Adam menasehati Dewa yang terlihat sudah agak tenang.
__ADS_1