
Akhirnya aku sampai juga di sekolah tanpa hambatan yang berarti 06.55. "Alhamdulillah, 5 menit lagi dan hukuman menantiku," gerutu ku dalam hati.
"Sandra, eh baru datang kamu, ih kamu tuh inget nggak jam pertama ini siapa," sapa Lissa sahabatku sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
Alissa Maharani Pertiwi, sahabatku dari mulai VII SMP sampai kini kita duduk di kelas XI SMA. Aku bersyukur punya sahabat seperti dirinya, yah walaupun terkadang aku harus bersabar menghadapi omelan omelan panjang dari bibirnya tanpa aku tahu kapan akan sampai pada ujungnya. Lucu, cantik, pintar dan bawel itulah gelar yang sudah aku anugerah kan kepada nya.
"Iyah aku inget kok, jamnya Pak Arif kan, guru tanpa ampuuuun," sahutku pada Lissa. Pak Arif itu guru matematika kami yang sebetulnya baik asal kita melihat dari sudut pandang tertentu. Nah masalahnya anak anak seusia kami jarang sekali mau melihat kebaikan orang dari sudut tertentu itu. Tidak ada ampun untuk anak anak yang bandel, nggak mau mengerjakan tugas dan berbuat keributan di kelas. Dan satu hal yang mungkin agak disesali oleh kami adalah beliau wali kelas kami. Entah memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa atau memang sebuah karma kelas XI IPA-1 yang menjadi penghuni dari siswa siswi yang cukup aktif dan memiliki kelebihan dalam hal membuat gundah gulana hati wali kelas itu, harus dipimpin oleh seorang komandan yang sangat disegani oleh seluruh awak sekolah SMA ini. Banyak alasan untuk anak dengan bakat khusus dan hiperaktif dalam mengeksplore jiwa mudanya untuk tidak mau bertemu dengan beliau. Wejangan dan nasehatnya sungguh kadang membuat kami semua merasa miris karena ujungnya kami tidak mungkin melepaskan diri dari jerat hukuman yang sebenarnya bisa dikatakan akan lebih membuat kami cinta tanah air, yaitu hormat bendera di lapangan.
"Selamat pagi semua, silahkan kalian kumpulkan tugas di meja saya sekarang dan kemudian siapkan kertas untuk kita coba berlatih soal!", perintah Pak Arif yang sukses membuat kami semua shock berat ditambah perasaan seperti mau berangkat perang jihad. Ya tidak akan mudah bagi kami semua untuk menyelamatkan diri dari soal yang entahlah sampai kapan tidak pernah bisa menyelesaikan persoalannya sendiri sehingga membuat kami repot untuk ikut berpikir untuk membantu bagaimana menyelesaikannya.
Thor kenapa ya kok kayaknya kamu makin keluar jalur mengomentari keadaan, coba thor tolong fokus ya.
Akhirnya selesai juga pelajaran hari ini dengan segala rasa bak roller coaster kalo udah ada mata pelajaran Pak Arif.
"Sandra, nanti pulang sekolah jangan lupa ada rapat OSIS ya tapi nanti aku mau ketemu Dina dulu bentar jadi kamu langsung aja ke ruang OSIS ya kita ketemu disana", kata Lissa mengingatkanku.
"Astagfirullah Lissaaaaa aku lupa belum nyari ketua REMAS ( Remaja Masjid ) padahal kemarin Kak Andi udah wanti wanti ke aku", kataku kemudian sambil aku mencari catatan rapat OSIS yang lalu.
"Mati aku, Kak Andi pasti ngamuk ini, aduh dimana sih catatan kemarin ya...ah aku lupa lagi nama ketua REMAS itu, aduh dia kelas berapa ya", kepanikan ku sudah diambang normal kayaknya soalnya Kak Andi, sang ketua OSIS itu tidak kalah diktator dari Pak Arif apalagi ini tugas seminggu yang lalu dan sialnya aku lupa lagi.
__ADS_1
"Lissa, please bantu aku dong", rengekku pada Lissa yang sudah siap akan keluar kelas.
"Ih kamu kebiasaan deh San, terus gimana dong mana aku dipanggil Pak Leo lagi sekarang. Eh tunggu itu ketua REMAS kan anak XII IPA 2 tapi namanya aku nggak tahu, udahlah kamu cari aja sana ke kelasnya mumpung masih istirahat", kata Lissa sedikit membuatku tenang.
"Berarti aku harus kesana sendiri dong", gerutuku pada Lissa dan sahabat yang tidak setia kawan itu cuma menaikkan pundaknya sambil memonyongkan mulutnya. Hadeeeuh kenapa ya hari ini nasibku gini amat. Mau tidak mau akhirnya aku mengumpulkan semua kekuatan superhero ku dan merapal semua doa yang aku ingat untuk melangkah ke kelas XII IPA 2.
Kelas XII IPA 2 berada di ujung dekat lapangan upacara dan itu lumayan jauh dari kelasku ini. Sambil berjalan aku merutuki kebodohan sendiri kok sampai lupa hal ini dan menjadikanku seakan menerima hukuman yang lebih sadis dari Pak Arif. Aku melewati beberapa kelas sehingga bakat alamku yang senang mengobrol dengan temen temen yang aku kenal dan berada tidak satu kelas denganku akhirnya tersalurkan juga.
Sampailah aku di kelas XII IPA-2, sambil aku dekati 2 anak perempuan di depan kelas itu. "Kak maaf aku ganggu ya, boleh nanya nggak kak", sapaku kepada kedua kakak kelas dihadapan ku dengan keramahan tingkat dewaku plus senyum tercantik ku sebagai bonus.
"Oh iya ada apa dek ?", tanyanya tidak kalah ramah.
"Kakak tahu nggak ketua REMAS yang katanya dari kelas XII IPA-2 ini ?", tanyaku kemudian.
"Iya Kak, Kak Dewa nya ada nggak ya di kelas ?", tanyaku kemudian.
"Bentar ya aku cari dulu", kata kak Diah sambil masuk ke dalam kelasnya.
"Sandra, kamu sedang apa disini?", tanya seseorang yang sudah aku hapal suaranya karena baru tadi pagi membuat heboh kelasku dengan latihan soalnya. Iya Pak Arif wali kelas ku.
__ADS_1
"Ini Pak, mau ketemu Kak Dewa buat minta waktu ikut rapat OSIS untuk acaranya Idul Adha bulan depan Pak", jelasku pada Pak Arif.
"Ya nggak papa kok kalo kamu ketemu Dewa buat janjian bareng pulang sekolah boleh saja kok", jawab Pak Arif seakan membuatku seperti tertangkap basah mau ketemu pacarnya.
"Wa, ini Sandra mau minta tolong kamu buat bantuin bikin tugas dari saya sekalian anterin pulang ya ", kata kata itu meluncur bak anak panah menghujam jantungku. Oh my God ini nggak bisa aku biarkan. Aku belum kenal sama kak Dewa tapi sudah hancur imageku gara gara wali kelas ku ini yang mengarang bebas di depanku. Alhasil aku bengong dihadapan seorang laki laki yang baru aku tahu saat ini dan habis kata kataku untuk menghadapinya.
"Kalian saya kasih waktu untuk menyelesaikan masalah janjiannya ya", dengan seenaknya Pak Arif masuk ke kelas kak Dewa dan meninggalkan kami berdua yang saling terbengong bengong nggak jelas.
"Ya Dek, gimana, apa yang bisa aku bantu masalah tugas dari Pak Arif ?", tanya lelaki dengan tinggi 180 cm dan kulit cenderung putih kayak oppa oppa Korea dihadapan ku. Aku sadar dari raut mukanya ada kebingungan yang jelas terlihat disana. Mungkin cowok ini bingung apa aku belum sempet minum obat sehingga datang ke dia dengan alasan yang mungkin menurutnya sangat amazing.
"Astagfirullah salah apa aku hari ini nasibku gini amat ", gerutuku sambil menutup mukaku tapi sepertinya kata kataku terdengar jelas oleh kak Dewa hingga kulihat dahinya mengerut tanda dia mulai nggak paham ada masalah apa.
Aku menghela napas sambil mengontrol emosiku sebelum aku mulai bicara dengan kak Dewa. " Kak Dewa, kenalin aku Sandra, aku datang kesini karena aku disuruh ketua OSIS untuk meminta waktu Kak Dewa apa bisa hadir rapat OSIS hari ini ?", aku menjelaskan dengan hati hati mengenai kehadiran ku disini.
"Andi minta aku ikut rapat OSIS hari ini, kok ngedadak , emang ada apa, terus rapatnya jam berapa ya ?", pertanyaan yang udah kayak jalan tol panjangnya akhirnya keluar juga dari mulut kak Dewa.
"Gini kak, satu satu Sandra jawab ya, rapat nya pulang sekolah nanti, terus kak Andi minta kak Dewa datang karena masalah acara Idul Adha bulan depan kan kak Dewa ketua REMAS, nah kalo masalah ngedadak infonya", sejenak aku diam sambil mengatupkan kedua tanganku "Maaf banget ya kak, please, Sandra lupa karena sebenernya kak Andi minta Sandra ketemu kak Dewa udah seminggu yang lalu ", jelasku lirih dan berharap kak Dewa tidak marah. "Kak please maafin Sandra ya, Sandra tahu ini semua salah Sandra, tolong bisa ya kakak dateng rapat nanti ?", aku mencoba mengiba pada Kak Dewa tanpa berani menatap mata elangnya. Aku nggak tahu deh kalo kak Dewa menolak habislah aku sama Kak Andi. Hari ini kan rapat khusus membahas masalah Idul Adha dan nggak lucu kalo ketua REMAS nggak bisa hadir lah mau sama siapa membahasnya. Aku lihat raut muka kak Dewa berubah seperti orang berpikir dan menatapku dengan tatapan angkuh mengintimidasi dan jelas tanpa ada senyum.
"Kak Dewa, maaf banget ya, gini deh kakak dateng please rapat hari ini dan Sandra janji Sandra akan kerjakan apapun yang kakak perintahkan buat acara Idul Adha ya kak ?", Aku tetap mencoba membujuk kak Dewa dengan semua senjataku. Yah biarlah kalo aku harus capek bantuin dia daripada kak Dewa nggak mau datang rapat justru habis aku bakal dihujat semua pengurus OSIS. Ya Allah kenapa juga aku pakai acara lupa, heran aku kenal juga enggak tapi bisanya bikin susah aku aja. Bingung kan........
__ADS_1
'Ya sudah, nanti aku datang rapat OSIS, diruang OSIS kan? ", jawab kak Dewa tanpa kuduga. Ya ampun ini kayak oase di padang pasir terus ketambahan ada penari di atas onta yang menari pakai musik gambus. Kira kira nyambung nggak sih ya, ah bodo amat yang penting kali ini aku selamat.
"Beneran ya kak ? iya di ruang OSIS, makasih ya Kak Dewa", aku langsung lari menuju kelasku karena memang jam istirahat sudah usai 10 menit yang lalu. Terdengar kak Dewa meneriakkan salam karena aku lupa main selonong pergi aja dan aku menjawabnya. Malu juga sebenarnya aku tapi ya sudahlah gimana nanti aja yang penting sekarang aku lega dan nasibku sudah kembali pada jalurnya menjadi baik.