
Malam minggu ini seperti biasanya aku latihan band dengan grup ku yang kami bentuk sejak aku kelas VII, ada kak Adam, kak Sonny, Reno, Ditto dan Rendi . Kali ini Lissa ikut menemaniku karena aku tahu sebenarnya Lissa ada misi ingin dekat dengan Rendi.
"San, bener kamu kemarin dihukum sama Pak Arif buat upacara sendiri ? .....wah sayang aku nggak bisa liat momen menyenangkan penderitaanmu waktu itu ya", kak Adam berkata sekaligus mau membullyku. "Ih kak Adam, seneng banget ya liat orang susah, biarin nanti kalo Kak Adam susah, Sandra mau jadi orang pertama yang nertawain kakak", sahutku sambil memonyongkan bibirku. "Udah jangan dimonyong monyongin mulutnya tambah jelek tauuu.....aku dapat cerita dari Dewa, eh ngomong-ngomong kamu ada hubungan apa sama Dewa, ayo cerita masak aku sebagai sahabatnya Dewa sekaligus sahabatmu malah nggak tahu cerita kalian", kak Adam mulai mengintimidasiku. "Apa sih kak, Sandra nggak ada apa apa sama kak Dewa, itu sih isengnya Pak Arif aja ke kami berdua jadi seakan akan kayak ada apa antara Sandra sama mister Frozen itu", jelasku pada kak Adam. "Eh siapa yang kamu bilang mister Frozen San, si Dewa ya ?...Ya Allah Sandra, itu yang kamu kasih gelar mister Frozen itu sangat dikagumi banyak kaum hawa lho emangnya kamu nggak ada naksir naksirnya dikit sama Dewa", nah mulai kak Adam sok jadi pahlawan kesiangan. "Yang lain aja deh kak soalnya takut masa muda Sandra tidak berwarna nanti sama mister Frozen kayak gitu.....lagian kalo udah banyak fans nya gitu males ah Sandra, ntar kalah tenar kan tengsin juga, pasti gede kepala entar dia, secara kan Sandra itu cantik, imut, mandiri walaupun kurang pinter tapi itu dikiiiiiit kak pasti banyak cowok yang berharap sama Sandra", kataku menimpali semua perkataan kak Adam. "Halah kamu, mana ada cowok yang mau sama kamu selama ada kita yang kayak benteng Takeshi nya kamu", sambil sebuah kulit kacang yang nggak berdosa malah mendarat di kepalaku karena ulah seorang Adam tanpa rasa berdosa.
"Apaan sih ketawa ketiwi kalian berdua nih", tanya Rendi. "Noh si Sandra masak Dewa dibilang mister Frozen kan bisa ditimpukin cewek cewek se RT nih anak ampuuuun", kata kak Adam. "Wah edan kamu San, kayaknya kelamaan ngumpul ama kita, pandangan kamu terhadap cowok ganteng agak beda kiblat ya", Rendi mulai ikut menghakimiku. "Bentar deh kok kalian berdua kayak yang akrab banget sama mister Frozen padahal aku merasa nggak pernah liat kalian dekat sama kak Dewa?", kataku menyelidik. "Gini San, kak Dewa itu kakak sepupuku sementara kak Adam sudah sejak SD kenal dan bersahabat sama kak Dewa karena mamanya kak Dewa itu sahabatnya mama kak Adam", papar Rendi hingga sukses membuatku terbengong bengong hingga mulutku terbuka diatas batas kenormalan. "Dewa itu anaknya nggak banyak ngomong San, ya emang dia cueknya setengah mati tapi dibalik itu semua dia baik kok, nanti suatu saat kamu akan tahu kenapa Dewa seperti nggak peduli sama orang", bela kak Adam. Memang aku termasuk super woman soalnya di grup band ini aku adalah cewek satu satunya, tapi karena itu semua sayang sama aku. Entahlah ini karena aku kepedean atau karena semua cowok itu ketakutan hilang pemain keyboard yang nggak pernah nangis kalo digangguin.
Banyak temen cowok yang nggak berani mendekatiku karena ulah mereka semua, coba bayangkan setiap cowok itu pasti nangis kejer kalo setiap malam minggu, kami latihan dari jam 7 sampai jam 9 malam dan pulang latihan band semua personel cowok akan mengantarkan ku pulang. Dan catat, itu adalah sebuah aturan yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apapun. Alhasil ya udah nggak ada cerita waktu malam minggu untuk sekedar menikmati rasanya diapelin sama pacar
"Sandraaaaaa......tunggu aku bentar", Lissa memanggilku sambil berlari ke arahku. "Kamu kenapa terlambat Lissa?....aku pikir kami nggak masuk hari ini", kataku karena tidak biasanya Lissa terlambat ke sekolah. "Iya Sandra, tadi ada kecelakaan tepat didepan mobilku jadi kami harus nunggu dulu.....San, kenapa mukamu ? kok kamu kelihatan pucat gitu?....kamu sakit?.....udah jangan ikut upacara kalo gitu", Lissa mulai membombardir ku dengan semua ocehannya. "Nggak papa cuma rada meriang dikit kok, ayo cepet keburu telat udah pada baris nih anak anak", ajakku pada Lissa.
Benar saja, sampai lapangan semua sudah berbaris hingga aku dan Lissa harus ikut berbaris di barisan belakang.
Oh ternyata petugas upacara hari ini kelas kak Dewa ya. Aku lihat ada kak Adam yang ternyata baru aku tahu kalo dia adalah sahabat kak Dewa berada di sebelah barisanku sebagai komandan peleton kelas XI IPA.
Upacara sudah berlangsung sekitar 30 menit dan sialnya aku merasa kepalaku makin pusing dan keringat dingin mengucur di badanku. "Lissa, kepalaku pusing banget nih ", aku memegang tangan Lissa. "Ya Allah Sandra, itu muka kamu udah kayak mummy, kenapa kamu ?", tanya Lissa yang entah sedang mengasihaniku atau justru mau ngajak adu panco. Aku udah nggak ada tenaga buat melayani mulutnya yang nyaris tanpa saringan itu, bener bener kepalaku sakit dan aku semakin meremas tangannya, Sadar aku tidak baik baik saja, Lissa memanggil kak Adam. "Kak Adam, Sandra sakit kepalanya, mukanya pucet banget" , kata Lissa. Kak Adam langsung kebelakang dan membawaku ke arah UKS. "Dam, kenapa Sandra?", tanya seseorang yang kalo aku nggak salah tebak dia pemegang gelar mister Frozen. Dan setelah itu aku nggak lagi ingat apa apa karena yang aku tahu hanya ada bayangan hitam kemudian aku merasa melayang nggak tahu kemana.
__ADS_1
"Sandra, Sandra bangun nak .....ayo bangun", sayup sayup aku dengar suara Pak Arif dan Bu Dina guru kesenian ku.
"Sandra kenapa Bu ?", tanyaku bingung karena kok aku merasa seperti putri salju yang baru bangun dari tidur panjangnya karena dikelilingi banyak kurcaci, eh maksudku guru guru dan beberapa siswa juga.
"Kamu baru saja pingsan dan badan kamu panas banget, kamu sakit ya dari tadi?....aduh kamu tuh San, kalo sakit jangan maksa sekolah dong apalagi ikut upacara, bisa bahaya San, apalagi kan kamu punya bawaan sakit maag akut.", Bu Dina menasehati ku panjang lebar.
"Ya sudah, kamu istirahat sebentar nanti setelah ini kamu pulang ya", Bu Dina kemudian meninggalkanku di ruang UKS dengan beberapa siswi anggota PMR (Palang Merah Remaja).
Beberapa saat kemudian, aku lihat kak Adam masuk ke ruang tempatku istirahat. "Sandra, aduh kamu bikin aku sport jantung aja deh, nggak usah sok sok an kuat kayak Superwoman aja deh kalo sakit jadinya pingsan juga kan", kak Adam malah menceramahi ku. "Yah kak Adam, Superwoman kan tetep juga manusialah bisa sakit, kalo masalah pingsan yah anggap aja itu bonusnya", jawabku sambil mengumpulkan kekuatan dan sekaligus kesadaran ku. "He eh tapi bonusmu itu menyusahkan orang tauuu. Tuh si mister Frozen mu yang dapat deritanya gara gara bonusmu itu", kak Adam berkata sambil melirik pada kak Dewa yang sedari tadi diam berdiri disamping kak Adam. "Dam, udahlah nggak papa", elak kak Dewa yang sukses membuatku semakin bingung.
Aku turun dari ranjang sambil mencoba berdiri tapi kepalaku masih terasa sakit sampai aku hampir jatuh, tapi untungnya kak Adam langsung memegang tanganku sambil mendudukanku kembali. "Dewa, aku mau ambil motor, tolong jagain Sandra sebentar ya ,aduh mana anak anak PMR udah pada cabut, aku mo minta tolong mereka anterin Sandra ke depan".
"Udah sana ambil motormu ke depan biar Sandra, aku yang bantuin jalan", kata kak Dewa yang membuat aku dan kak Adam sama sama kaget. "Beneran nggak papa Wa ?, awas ati ati si Sandra belum suntik rabies", sempat sempat nya kak Adam mengataiku hingga sebuah lap piring yang tidak bersalah menjadi korban ku karena sukses aku daratkan ke kepalanya.
Sesaat setelah kak Adam pergi menjauh, kak Dewa duduk di kursi samping ranjang UKS . "San, masih pusing banget ya ?....kuat nggak jalan ?....kalo nggak kuat, aku ijin gendong kamu aja ya ?...itu muka kamu masih pucet banget".
__ADS_1
"InsyaAllah aku masih kuat jalan kok kak, maaf ya, kok Sandra jadi ngerepotin terus". kataku sambil mencoba berdiri dan berpegangan pada pinggir ranjang. "Nggak papa kok, yuk coba jalan, maaf ya, boleh aku pegangin kamu ?", ijin kak Dewa. Aku cuma mengangguk karena rasanya memang kepalaku masih nggak bisa diajak kompromi entahlah sebenarnya lagi ada perbaikan apa di dalam kepalaku sampai sakit begini.
Saat satu tangan kak Dewa meenyentuh lenganku, aku merasa ada satu desiran aneh di dalam hatiku, rasa yang hanya bisa memberikan ketenangan dalam hatiku. Aduh Jantung, apa kamu baik baik saja ya disana ? .....kok aku merasa cara kerjamu jadi rada aktif begini ya.
"Astagfirullah Sandra, badan kamu panas banget", kak Dewa terkejut saat tangannya menyentuhku. "Pantesan kamu lemes banget
Baru aku mau keluar UKS, tiba tiba Bu Dina dan Pak Arif datang mungkin mau melihat keadaanku. Kak Dewa menjelaskankan bahwa aku akan pulang diantar naik motor oleh kak Adam sekaligus menjelaskan keadaanku. Aku yang biasanya cukup aktif dalam bernegosiasi, kali ini rasanya nggak ada lagi tenagaku buat sekedar hanya berbicara.
"Dewa, kamu bisa bawa mobil kan ?, pakai aja mobil bapak buat anter Sandra pulang, bapak khawatir dia nggak kuat kalo naik motor melihat kondisinya lemes banget tuh. Mobil bapak ada di depan kok Wa, Yuk sekalian kita ke depan". perintah Pak Arif Tanpa aba aba kak Dewa langsung menggendongku ala bridal style dan aku yang kaget karena merasa melayang, langsung mengalungkan tanganku di lehernya. *Aku gendong aja ya kamu, rasanya nggak akan kuat kamu jalan sampai depan".
Kami semua berjalan beriringan dan aku hanya bisa meletakkan kepalaku di dada kak Dewa sambil memejamkan mataku, antara malu dan sungguh kepalaku nggak bisa diajak berdamai, entah ada perang apa di dalam sana, rasanya kayak mau pecah aja. Kak Dewa menurunkan tubuhku berlahan lahan di bangku belakang mobil supaya aku bisa tiduran.
"Loh Wa, kok bawa mobil Pak Arif ?", tanya kak Adam mendekati kami. Pak Arif menjelaskan semua kepada kak Adam sambil menyuruh kak Adam menemani kak Dewa mengantarkanku pulang ke rumah.
Sampai di rumah, kak Adam membantuku keluar dari mobil, tapi saat berdiri hampir saja aku terjatuh lagi dan saat kak Adam mau menggendongku tiba tiba "Dam, biar aku yang gendong Sandra, kamu ijin dulu ke mamanya Sandra untuk bawa Sandra langsung ke kamarnya", kak Dewa memberi perintah tanpa menginginkan adanya penolakan. Sambil mendekatiku kemudian kak Dewa kembali menggendongku. Akhirnya mami membuka pintu dan langsung mempersilahkan kak Dewa membawaku ke kamar, mami mendengarkan penjelasan kak Adam di ruang tamu.
__ADS_1
"Udah istirahat ya, jangan lupa makan dan minum obat", kata kak Dewa sambil meletakan tubuhku di atas tempat tidurku dan kemudian menyelimutiku. Kak Dewa menuliskan sesuatu di secarik kertas di meja belajarku dan berkata "San, ini nomor telpon ku ya, kalo kamu butuh apa apa jangan sungkan telpon aku ya, aku pulang dulu, cepet sembuh biar bisa cepet sekolah", pamit kak Dewa. *Aamiin, ya kak, makasih ya", jawabku sekenanya. Terdengar pintu kamarku ditutup berlahan. Dan aku langsung memejamkan mataku untuk beristirahat karena badanku kok kayak medan perang, panas bangeeeet.