
Hari ini Sandra melangkah ke sekolah dengan rasa malas dan tertekan. Kejadian kemarin sudah membuat Sandra ingin rasanya tidak lagi masuk sekolah.
"Sandra udah siap ....", tanya Lissa mengingatkanku harus segera ke lapangan karena hari ini drumband sekolah diminta bermain di Balai kota.
"Iyaaa bentar Lissa.....aku tinggal pakai sepatu masih 30 menit lagi kan?", aku menjawab sambil melihat jam.
"Ya udah aku tinggal siapin alat ya ..... ketemu di lapangan aja ya", kata Lissa
Aku coba buka partitur lagu sambil mengingat beberapa bagian yang rumit.
Aku dengar langkah kaki masuk ruang kelas.
"Lissa ......ngapain kesini lagi?", tanyaku sambil menoleh dan ternyata bukan Lissa yang datang tapi nenek sihir and the geng lagi.
"Eh kak Bela, ada apa ya kak?", aku bertanya sambil agak deg deg an karena pasti ni nenek sihir bakal cari masalah lagi.
"Kamu kenapa ya nggak berhenti menggoda tunanganku ya Sandra, kamu nih ngerasa sok cantik atau gimana sih?", tanya kak Bela mengintimidasiku.
"Kak, andaikata memang kak Dewa benar benar mencintai kakak dan kebahagiaan nya adalah kak Bela pasti kakak nggak akan sepanik ini?", aku mencoba melawan.
"Eh apa maksudnya ngomong begitu, aku memang tunangannya Dewa, ya jelas Dewa bahagia bersamaku", kak Bela dengan sombongnya menjawab.
"Ya sudah kalo gitu kakak nggak usah khawatir dengan hadirnya aku, kalo kakak yakin kak Dewa nggak akan berpaling dari kakak", kataku lebih berani kali ini.
Bela yang merasa tersinggung dengan perlawanan Sandra kemudian mengambil posisi akan menyerang Sandra dengan menggunakan vas bunga yang ada diatas meja guru.
Sandra berusaha menghindar lari keluar, tapi Bela malah melempar vas bunga itu dan mengenai dinding didepan Sandra.
"Aaaaw......", teriak Sandra ketika serpihan vas bunga ada yang terinjak karena Sandra lari tanpa menggunakan alas kaki. Darah segar mengucur dari telapak kaki Sandra. Lantai yang diinjak Sandra pun menjadi berbekas merah karena darah dari kaki Sandra.
"Rasain kamu .....itu akibatnya kalo kamu berani melawanku perempuan penggoda', kata Bela sambil tertawa.
Sinta dan Ana kemudian menarik Bela segera pergi dari tempat itu. Mereka tidak mau terkena masalah karena melihat Sandra sudah terluka.
Ada beberapa teman Sandra yang kebetulan tadi kembali ke kelas melihat keadaan Sandra dan membawanya ke UKS. Adam yang tidak sengaja juga berada di UKS bertemu dengan Sandra.
"Sandra kenapa kamu ......itu kaki kenapa kok luka sampai begitu", tanya Adam.
"Nggak sengaja jatuh kak, nginjek kaca tadi, tapi nggak papa kok", jawab Sandra sambil meringis.
"Kak Adam jangan ribut ya..... Sandra lukanya ngga papa kok, soalnya Sandra harus pimpin anak anak drumband ke Balaikota hari ini, takutnya malah anak anak khawatir sama Sandra", kata Sandra mengiba pada Adam.
"San, ini lukamu lumayan lho, nggak bisa didiemin, kamu nggak akan kuat untuk lama berdiri lama harus cepet ke dokter, disini kita cuma bisa balut sementara aja", kata Ratih anak PMR.
"Iya kak ..... terima kasih", kata Sandra sambil keluar ke lapangan.
"Aduh bandel itu anak .... terserahlah nanti kalo darahnya keluar lagi nah berakhir nggak bisa jalan deh", kata kak Ratih sambil geleng geleng kepala.
Adam yang melihat Sandra seperti itu cuma bisa melongo. Adam sudah terbiasa dengan keras kepalanya Sandra seperti itu. Lalu Adam kembali ke kelasnya.
Pasukan drumband sudah siap di lapangan dan terlihat banyak temen temen sudah menunggu kami untuk melihat GR drumband untuk acara di Balaikota. Setelah GR segera kami berangkat ke Balai kota.
Dewa dari tadi melihat dari jauh Sandra sedang memimpin lagu. Kesempatan untuk memandang wajah Sandra tidak Dewa sia siakan setidaknya rasa kangen Dewa sedikit terobati melihat orang yang disayangi.
Di Balaikota
__ADS_1
Sandra dan pasukan drumband nya akhirnya melakukan Aubade. Sebelum nya Sandra sebagai gitapati berjalan ke depan untuk berada di podium.
"Loh bukannya itu temen Dewa ya mah?", tanya seorang laki laki yang menjadi tamu di balaikota yaitu Pak Arga, Papa Dewa kepada istrinya.
"Iya Pa, itu Sandra, perempuan yang sebenarnya dicintai oleh anak kita, tapi mungkin tidak berjodoh dengan Dewa", kata mama Dina.
'Cantik ya Ma, dan dia sangat hebat bisa seperti itu", lanjut papa Arga.
"Iya Pa, dan Sandra anaknya sangat sopan dan baik. Mama pernah bertemu dan ngobrol dengannya hmmmm sayang sekali", terlihat wajah mama Dina sedih.
Di Sekolah
Ratih anak PMR yang tadi mengobati luka Sandra mendekati Adam dan Dewa.
"Adam, kamu tahu nggak Sandra ke balaikota sama siapa ya?", tanya Ratih.
"Nggak tahu juga, emang kenapa ?", jawab dan tanya Adam lagi.
"Aku dapat info dari Medina, temen Sandra sekelas yang tadi bawa dia ke UKS kalo Sandra kakinya luka bukan karena jatuh", jelas Ratih
"Sandra luka kenapa, terus seberapa parah lukanya Ratih?', tanya Dewa tiba tiba terlihat cemas.
"Lukanya lumayan serius Wa, apalagi tadi aku hanya kasih perban aja untuk mengurangi pendarahannya sementara lukanya ya masih terbuka", jelas Ratih
"Kata Medina tadi Bela, Sinta dan Ana keluar saat Sandra terluka di koridor depan kelasnya, kelihatannya sih Bela melempar vas bunga hingga hancur dan pecahannya terinjak oleh Sandra. Masalahnya luka Sandra nggak main main, kalo nggak segera ke dokter pasti darahnya keluar lagi, aku takut dia nggak bisa jalan Wa, makanya aku nanya Sandra sama siapa?", Ratih menerangkan semua.
Belum selesai Ratih bercerita, Dewa sudah lari dulu. "Dam, aku ke balaikota liat kondisi Sandra ya?", pamit Dewa.
"Tunggu Wa, aku ikut kesana", susul Adam kemudian.
Pertunjukan Aubade selesai dan diakhiri dengan tepukan riuh para penonton yang merasa terhibur. Sandra turun dari podium sambil terlihat menahan sakit. Sandra langsung duduk dan terlihat menangis tapi sambil ditahan dan menutup wajahnya. Dewa dan Adam yang baru saja sampai di balaikota menemukan posisi Sandra dan mendekatinya.
Dewa segera melepas sepatu mayoret Sandra yang agak panjang.
"Ya Allah Sandra, kakimu berdarah banyak sekali", Dewa melihat perban yang membalut kaki Sandra sudah berubah berwarna merah.
"Sakit banget kak huuuuu ......huuuuuu", Sandra sudah tak mampu menahan rasa sakitnya akhirnya menangis.
Dewa yang bingung cuma bisa menggenggam tangan Sandra yang sedang menahan sakit. Dari depan terlihat mama Dina dan papa Arga mendekati mereka.
"Om, Tante loh kok ada disini juga?", tanya Adam kepada orang tua Dewa.
"Iya kami diundang oleh walikota, eh kenapa ini kaki Sandra kok berdarah seperti itu?", tanya papa Arga.
"Ceritanya panjang Pa, sekarang yang penting Sandra mesti cepet dibawa ke dokter", kata Dewa. "Papa mobilnya sebelah mana?",
"Itu didepan ini langsung bisa papa telpon Pak Iman biar nunggu di lobby, ya udah kita bawa Sandra ke dokter sekarang Wa", perintah papa Arga.
"Sandra, kamu bisa jalan kan nak ?", tanya mama Dina
"Ma, biar Dewa gendong aja Sandra kayaknya nggak mungkin bisa jalan dia", Dewa menjawab.
"Enggak Kak, Sandra masih bisa kok jalan", Sandra mencoba untuk berdiri dan melangkah tapi mama Dina memberikan ijin anggukan kepada Dewa yang sudah siap mau menggendong Sandra karena memang Sandra sangat kesulitan berjalan.
"San, udah nurut kakak ya, jangan ngelawan", Dewa bicara ke Sandra sambil membopong Sandra ala bridal style ke mobil. Sandra tidak melawan bahkan dia langsung mengalungkan tangannya di leher Dewa. Rasa panik dan bahagia tercampur di hati Dewa saat melihat sang kekasih sudah berada dalam rengkuhannya. Sampai di mobil, Dewa mendudukkan Sandra dengan berlahan dan kemudian Dewa sendiri mengambil tempat di samping Sandra.
__ADS_1
Masih terdengar isakan kecil dari mulut Sandra."Sakit banget ya ?",Dewa menanyakan kepada Sandra sambil menghapus air mata Sandra.
Sandra hanya bisa mengangguk dan memegangi kakinya agar darahnya tidak berceceran.
Selesai menemui dokter, Sandra dibawa pulang oleh Dewa kerumahnya sesuai perintah papa Arga.
"Sandra, kamu kerumah om dulu ya, nanti papa dan mama kamu biar menjemputmu dirumah kami. Biar nanti nggak ada yang salah sangka dan kami bisa menjelaskan ke orang tuamu".
"Tapi Om, nggak papa Sandra pulang saja, Sandra sudah sangat merepotkan Om sekeluarga hari ini, Sandra minta maaf ya Om dan terimakasih atas segala kebaikan Om dan Tante", jawab Sandra dengan sopan.
"Om nggak terima penolakan Sandra", kata papa Arga.
"Iya nih Sandra please jangan bandel dulu deh nanti kalo udah sembuh baru keluarin deh jurus keras kepala mu", kata Dewa sambil mengacak rambut Sandra.
Sampai dirumah Dewa, Sandra meminta untuk jalan sendiri saja tapi Dewa tetap bersikeras menggendongnya karena dokter tadi juga tidak mengijinkan Sandra menggunakan kakinya untuk berjalan dulu supaya berhenti pendarahannya.
"Sandra, kalo Sandra nggak mau digendong Dewa, ya udah berarti Om yang akan gendong Sandra", Papa Arga sudah bersiap untuk mengangkat Sandra.
"Apaan sih papa ih, nggak nggak biar Dewa aja. papa cari kesempatan deh", kata Dewa ngomel ke papa Arga.
'Aduh kamu tuh Wa, Sandranya sendiri yang pengen papa gendong kok, ya kan San", goda papa Arga sambil menaikturunkan alisnya didepan Sandra.
Sandra yang kebingungan dengan drama ini langsung berucap," Om, biar Kak Dewa aja yang gendong Sandra ya".
"Ah kamu sih Wa, jadi hilang kesempatan papa buat gendong cewek cantik", kata Pak Arga menggoda lagi dengan berpura pura kecewa langsung masuk ke dalam rumah.
"Ih si papa aneh, kok bisanya memanfaatkan keadaan, lagian apa masih kuat coba gendong kamu San", Dewa menggerutu sendiri.
Kali ini Dewa segera meletakkan tangannya dibawah kaki Sandra dan satunya di bawah pinggang Sandra. Entah posisi yang agak sulit jadi menyebabkan Dewa secara tidak sengaja membuat kaki Sandra yang sakit malah menyentuh jok depan mobil. Sandra yang kaget karena merasa sakit menarik leher Dewa yang tadi menjadi tempat berpegangan dirinya. Dewa oleng karena nggak siap hingga jatuh dengan posisi bibirnya tepat menyentuh bibir Sandra. Kehangatan bibir Sandra yang dirasakannya untuk kedua kalinya membuat Dewa tidak langsung melepaskan diri. Sandra yang terkejut dengan serangan mendadak itu langsung menahan dada Dewa.
"Kakak .....", bisik Sandra.
"Maaf Sandra, aku kangen banget sama kamu, aku sayang kamu", Dewa mengatakan hal itu sambil sekilas mengecup bibir Sandra lagi.
Sandra sudah menghubungi orangtuanya dan mereka akan menjemput Sandra agak sore, karena mereka sedang perjalanan pulang dari Jakarta.
Adam akhirnya menyusul ke rumah Dewa diikuti oleh Rendi dan Lissa yang sudah khawatir dengan Sandra.
"Ya Allah Sandra, Alhamdulillah kamu masih hidup, aku takut banget", Lissa mendramatisir keadaan.
Sebuah jaket melayang ke arah Lissa,"Astagfirullahaladziim, dasar sahabat nggak ada akhlaknya, emangnya aku segitunya sampai kamu ngarepin aku innalilahi", Sandra sudah mulai keluar taringnya.
"Eh nggak gitu kali San, aku liat bercak darah kaki kamu di depan koridor aja serem, ketambahan kak Adam fotoin kaki kamu yang berdarah pakai angle yang pas untuk syuting film pembunuhan, ya aku jadi stress", Lissa membela diri sambil memperlihatkan foto dari kak Adam.
Pak Arga dan Bu Dina akhirnya ikut mengobrol dengan mereka semua.
"Sandra, om penasaran sebenernya kamu itu bisa luka separah itu kenapa sih?", tanya om Arga.
"Sandra ceroboh Om, tadi Sandra jatuh di depan kelas, eh nggak tahunya ada pecahan kaca", sahut Sandra berbohong.
"Sandra bohong Pa, nggak begitu ceritanya, San please udah jangan selalu kamu nutupin kejahatan orang lain", Dewa berkata sambil menatap Sandra.
"Sandra dilempar vas bunga sama Bela om dan untungnya Sandra nggak kena karena dia lari tapi pecahannya mengenai kaki Sandra, kamu jangan mengelak San, tadi Medina yang cerita semuanya", Kak Adam menjelaskan kejadian tadi.
"Tapi Bela nggak salah bersikap seperti itu karena mungkin Sandra juga salah kak Adam", bela Sandra untuk perbuatan Bela
__ADS_1
"Apapun alasannya tindakan Bela itu salah Sandra dan kamu nggak boleh diam saja kalo kamu disakiti orang lain", Papa Arga angkat bicara.
Akhirnya pembicaraan berlanjut dengan hal yang lain sambil menunggu Sandra dijemput orang tuanya.